Bab 125: Rekor Kemenangan Sempurna
Pada hari pertama ujian bela diri, Chen Ning berhasil menyapu bersih sepuluh pertandingan tanpa cela, memastikan langkahnya ke tahap seleksi kedua keesokan harinya.
Penampilan Chen Ning membuat teman-temannya bersorak gembira, terutama karena ia menumbangkan setiap lawan hanya dengan satu tendangan, termasuk mereka yang memiliki tingkat kekuatan prajurit kelas lima. Hal ini membuat Jian Qing dan Bai Yuhao terkejut, karena mereka merasa Chen Ning telah menjadi jauh lebih kuat.
Niu Mowang dengan bangga memberitahu yang lain bahwa beberapa hari lalu Chen Ning baru saja menembus level prajurit kelas enam, yang memicu bisik-bisik kekaguman dari rekan-rekannya.
Bai Yuhao sendiri sebenarnya baru saja mencapai level prajurit kelas enam berkat latihan teknik keluarga dan bakat alaminya. Meski kini setara dengan Chen Ning, ia merasa dirinya tidak akan sanggup mengalahkan lawan kelas lima dengan satu tendangan semudah itu.
Ia teringat saat mereka pertama kali berlatih teknik Huben di Pangkalan Qingniao. Saat itu, Bai Yuhao berhasil menembus empat titik nadi bela diri sekaligus dan langsung menjadi prajurit kelas empat, sementara Chen Ning hanya mampu menembus satu titik dan menjadi prajurit kelas satu. Sekarang, setelah dirinya naik dua tingkat dan dipuji sebagai jenius, ia menyadari bahwa Chen Ning telah melompat enam tingkat sekaligus dan berulang kali mengalahkan musuh yang lebih kuat. Baginya, Chen Ning adalah sosok yang benar-benar luar biasa.
Melihat kesuksesan Chen Ning, Bai Yuhao mengusulkan agar mereka merayakannya dengan makan malam. Liu Ruyan, salah satu teman mereka, langsung menimpali, "Tidak perlu mencari tempat lain, restoran Shiweitian milik keluarga Liu adalah tempatnya. Biar aku yang menjamu kalian semua sebagai perayaan untuk Chen Ning."
Chen Ning dikelilingi teman-temannya saat menuju restoran. Liu Ruyan sangat dermawan, menyajikan berbagai hidangan mewah, namun mereka sengaja membatasi minuman keras karena Chen Ning harus tetap bugar untuk pertandingan hari esok yang diprediksi akan jauh lebih berat.
Saat sedang makan di aula restoran Shiweitian yang tersohor di Kota Zhuque, rombongan Liu Ming tiba-tiba masuk. Rupanya, Liu Ming juga datang untuk merayakan keberhasilannya menyapu bersih sepuluh pertandingan hari itu.
Pertemuan mereka terasa canggung. Liu Ming, yang merasa memiliki pendukung, menatap Chen Ning dengan angkuh dan mendengus dingin sebelum masuk ke ruang pribadi bersama teman-temannya.
Bai Yuhao, yang mengetahui perseteruan antara Chen Ning dan keluarga Liu, merasa heran. "Dia hanya prajurit kelas lima, aneh sekali dia bisa menang sepuluh kali berturut-turut hari ini."
Jian Qing menimpali dengan tenang, "Aku memperhatikan lawan-lawannya; mereka semua hanya prajurit kelas dua atau tiga. Tingkatannya jauh berbeda dengan lawan-lawan Chen Ning."
Ucapan Jian Qing memicu kekhawatiran di antara mereka. Jelas ada kecurangan dalam ujian ini: lawan-lawan tangguh dikelompokkan agar saling mengeliminasi, sementara lawan-lawan lemah sengaja dipasangkan dengan mereka yang memiliki koneksi seperti Liu Ming. Mereka khawatir Chen Ning tidak akan kalah oleh kemampuan lawan, melainkan oleh intrik kotor, yang akan sangat melukai hatinya.
Namun, Chen Ning tetap tenang. "Tidak apa-apa. Lakukan yang terbaik dan serahkan sisanya pada takdir. Fokus saja memenangkan setiap pertandingan, sisanya dipikirkan nanti."
Keesokan harinya, Chen Ning kembali menghadapi sepuluh pertandingan melawan lawan-lawan berkekuatan kelas empat hingga lima. Dengan gaya bertarung yang bersih dan cepat, ia kembali menendang lawannya keluar arena dan mencatat sepuluh kemenangan sempurna.
Pada hari ketiga, hari terakhir babak penyisihan, Chen Ning kembali menyapu bersih sepuluh pertandingan melawan lawan-lawan kelas lima. Catatan waktunya dalam memenangkan pertandingan adalah yang tercepat dari semua peserta. Prestasinya ini pun sampai ke telinga para perwira tinggi, termasuk Mayor Jenderal Qin Que, Mayor Jenderal Duan Canglong, Kolonel Liu Luanlin, dan Kolonel Bai Chongshan, bahkan masuk dalam daftar kandidat unggulan Panglima Besar Xiao Ke.
Setelah babak penyisihan, 200 peserta terbaik dari Kota Zhuque terpilih untuk melaju ke babak semifinal.
Babak semifinal hanya berlangsung satu hari. Setiap peserta harus menjalani dua pertandingan sistem gugur untuk menyisakan 50 orang terbaik. Lawan pertama Chen Ning adalah Mo Dongsheng, seorang prajurit kelas enam yang juga belum pernah kalah.
Begitu naik ke arena, Mo Dongsheng menantang Chen Ning dengan sombong. Mengingat nasihat instruktur Tukang Daging untuk tidak meremehkan musuh dan mengerahkan seluruh kemampuan, Chen Ning langsung menerjang dengan serangan badai. Mo Dongsheng, yang tidak mampu menahan serangan brutal Chen Ning, akhirnya terlempar keluar arena dengan mulut berdarah dan tidak bisa kembali bertanding.
Sorak-sorai pun pecah. Penonton yang terpikat oleh aksi Chen Ning kini telah menjadi penggemarnya. Di kursi kehormatan, para perwira turut terkesan. Qin Que memperkenalkan Chen Ning sebagai anak didik kesayangan Tukang Daging dan kapten di Legiun Phoenix Abadi.
Namun, di sisi lain, Kolonel Liu Luanlin tampak cemas karena putranya, Liu Ming, akan menghadapi lawan yang tangguh. Secara diam-diam, ia telah menyuap lawan putranya dengan 500 koin emas agar mengalah. Liu Ming pun berhasil menang.
Saat pengundian babak kedua, Chen Ning mendapati lawannya adalah Liu Ming. Ia tersenyum tipis. Mengetahui lawannya adalah Chen Ning, wajah Liu Ming pucat pasi. Liu Luanlin pun mengirim anak buahnya, Liu Gao, untuk menyuap Chen Ning sebesar 1.000 koin emas agar sengaja kalah.
Chen Ning menolak dengan tegas. Liu Gao mencoba mengancam bahwa posisi juara ujian bela diri sudah diatur untuk Xiao Zhuo, keponakan Panglima Besar Xiao Ke, sehingga percuma bagi Chen Ning untuk berjuang. Chen Ning tidak menggubris dan tetap melangkah menuju arena, meninggalkan Liu Gao yang masih memperingatkannya akan murka keluarga Liu jika ia tetap keras kepala.