Bab 023: Prajurit Tempur Tingkat Dua Ganda
Sejak senja, Chen Ning telah mulai berlatih jurus Macan Perkasa, berlanjut hingga tengah malam pukul dua belas. Danau yang semula kering di alam bawah sadarnya, kini mulai tampak lembab. Namun, untuk mengisi danau itu hingga penuh dengan kekuatan bela diri dan mencoba menyalakan simpul aliran energi berikutnya, ia masih harus menempuh perjalanan panjang.
Latihan gila-gilaan di sore hari membuat Chen Ning mampu berlatih jurus Macan Perkasa tanpa henti selama enam jam kali ini, hasil yang cukup memuaskan. Biasanya, seorang prajurit Kekaisaran menjalani pelajaran pagi, latihan di sore hari, lalu malamnya berlatih jurus Macan Perkasa beberapa jam saja sudah kelelahan. Pada saat seperti itu, mereka seharusnya sudah berbaring tidur, terlelap di alam mimpi.
Namun, Chen Ning tak kunjung mengantuk. Bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan mudah? Ia memiliki dua aliran energi, sementara orang lain tiap kali hanya menyalakan satu simpul, ia harus menyalakan satu simpul di masing-masing aliran hitam dan putih—dua sekaligus. Itu berarti, ia mesti berupaya dua kali lipat dari yang lain.
Siang hari, Chen Ning berlatih, begitu pula yang lain. Malam, paruh pertama ia berlatih jurus Macan Perkasa, yang lain pun sama. Maka, agar bisa mengejar ketertinggalan, Chen Ning harus mencuri waktu lebih banyak.
Meski kelelahan, Chen Ning belum terlelap. Ia gelisah di ranjang, bangkit tiba-tiba, mengenakan seragam militer, lalu diam-diam keluar.
Sebenarnya, sejak pukul sebelas malam, markas telah memberlakukan jam malam. Artinya, dilarang berkeliaran atau melakukan aktivitas di luar maupun dalam ruangan. Di tengah malam, selain para penjaga, hanya ada regu patroli yang mondar-mandir.
Chen Ning menghindari para penjaga dan patroli, kemudian menyelinap ke belakang markas. Di sana terhampar hutan lebat, di sampingnya berdiri gedung Kamar Hitam, tempat aneka binatang buas ditahan, seperti serigala dan beruang. Tak heran, suara auman binatang kadang terdengar menyeramkan di malam hari, membuat tempat itu jarang didatangi siapa pun saat larut.
Inilah yang dicari Chen Ning, tempat sepi untuk berlatih fisik secara diam-diam, demi bisa terus melatih jurus Macan Perkasa.
"Bug! Bug! Bug!"
Ia mulai memukulkan tinju dan mengayunkan kaki ke batang pohon besar setebal pelukan dua orang, menghasilkan suara benturan berat yang tenggelam di antara auman binatang dari gedung Kamar Hitam.
Awalnya Chen Ning masih menahan diri, namun lama-lama ia semakin larut, menghantam dan menendang tanpa ragu, suara benturan pun semakin keras.
Akhirnya, dua prajurit jaga di gedung itu mencium gelagat aneh. Berbekal senapan, mereka diam-diam mendekat dan dari kejauhan melihat Chen Ning tengah berlatih. Mereka saling pandang.
Andai yang berlatih tengah malam begini prajurit biasa, sudah pasti langsung ditangkap. Tapi Chen Ning adalah anggota kelompok elit, murid langsung sang Jagal. Kelak mereka punya kans jadi perwira. Maka kedua penjaga tak berani gegabah. Satu tetap mengawasi dari jauh, satu lagi bergegas melapor pada Jagal—bagaimanapun ini muridnya.
Jagal belum tidur, ia sedang membaca surat dari atasan yang mengabarkan bahwa Legiun Phoenix Abadi tengah bertempur di zona bencana melawan zombie dan mengalami banyak kerugian. Panglima Legiun Phoenix Abadi meminta akademi-akademi seperti Akademi Burung Biru, Naga Merah, dan Flamingo mempercepat pelatihan prajurit, mengalirkan darah segar ke legiun itu untuk menjaga kekuatannya.
Baru selesai membaca, Jagal mendengar laporan soal anggota elit yang tengah malam membuat ulah di hutan belakang.
Mendengar itu, Jagal mengerutkan dahi, lalu bersama prajurit menuju hutan belakang. Dari kejauhan, ia melihat Chen Ning terengah-engah masih berlatih, tinju dan kakinya menghantam batang pohon hingga berbunyi berat. Kedua punggung tangannya sudah berlumuran darah, namun ia tetap tak berhenti.
Jagal tersenyum tipis. "Dasar anak ini, energinya luar biasa. Kalian dengarkan baik-baik, mulai sekarang kalau giliran jaga dan lihat dia tengah malam berlatih di sini, pura-pura saja tidak tahu. Biarkan saja ia berbuat sesukanya."
"Siap, Mayor Jagal!"
Chen Ning gila-gilaan berlatih tiga jam lagi, baru pulang ke asrama dengan tubuh nyaris rubuh. Sesampai di asrama, ia kembali berlatih jurus Macan Perkasa hingga menjelang pagi, lalu mandi dengan puas.
Baru setengah jam tidur, suara peluit tanda bangun menggema di luar.
Dalam tidur lelap, Chen Ning menendang selimut, melompat bangun...
Pagi pelajaran, sore latihan, latihan mati-matian, awalnya gagah, lama-lama lemas, ditambah lagi dicambuk. Malamnya, diam-diam berlatih, memaksimalkan jurus Macan Perkasa.
Seminggu berlalu dalam kegilaan seperti itu.
Bagi orang lain, Chen Ning tampak seperti mesin latihan dan sasaran pukulan, bahkan Xiao Zihao dan kawan-kawannya kerap menertawakan Chen Ning, tanpa tahu bahwa kekuatan bela dirinya bertambah hari demi hari. Dalam satu minggu, danau di alam bawah sadarnya sudah terisi penuh.
Malam itu, di asrama, Chen Ning akhirnya bersiap menyalakan simpul kedua dari aliran hitam dan putihnya.
Instruktur Jiang Qing pernah berkata, jika danau mental telah penuh terisi kekuatan, maka saatnya mencoba menyalakan simpul berikutnya. Biasanya, simpul tingkat rendah lebih mudah dinyalakan, tapi makin tinggi simpul, makin sulit menyalakannya.
Selain itu, berhasil maupun gagal, kekuatan di danau itu akan terkuras habis.
Ingin mencoba lagi, harus mengisi kembali danau dengan latihan keras.
Chen Ning duduk bersila, masuk dalam meditasi. Dalam sadarnya, ia melihat danau mental, dua aliran energi hitam dan putih menjulang di kedua sisi danau, masing-masing dengan dua belas simpul. Hanya simpul terbawah yang menyala, bak dua menara dua belas lantai, lantai dasar yang bercahaya.
"Jurus Macan Perkasa, berputarlah!"
Dalam batinnya, Chen Ning berseru keras. Seketika danau yang tenang itu bergolak, pusaran muncul di tengahnya, dua sekaligus.
Kedua pusaran itu membesar, menyedot air danau, hingga dua arus deras membumbung seperti naga air ke langit.
Kedua naga air itu menubruk aliran hitam dan putih di sisi danau mental!
Dua kekuatan besar menerjang tubuh Chen Ning, mengaliri seluruh otot, tulang, dan uratnya. Seketika ia merasa seluruh tubuhnya seperti ditusuk ribuan jarum baja.
"Ah!"
Sekuat apa pun mental Chen Ning, ia tak dapat menahan rintih kesakitan, wajahnya terpelintir, keringat dingin mengucur deras, namun ia mengatup gigi, menahan derita.
Dua naga air itu dengan gigih menghantam simpul kedua aliran hitam dan putih.
Saat danau hampir kering, kedua simpul itu serentak menyala, menggelegar dan memancar terang.
Seribu li jauhnya, di ibu kota Kekaisaran Huaxia, Kota Naga Biru, Panglima Agung Xiao Ke sedang bermain catur dengan penasihat militernya. Mendadak, wajah Xiao Ke berubah, seolah merasakan sesuatu. Ia bangkit, berjalan ke jendela, menatap langit selatan.
Dalam sorot mata terkejut Xiao Ke dan tatapan penasihat yang terpana, tampak semburat cahaya ungu membumbung tinggi dari langit selatan.
Penasihat tak tahan berkata, "Langit, apakah ini tanda lahirnya calon Dewa Bela Diri sejati?"
Xiao Ke mengangguk. "Tampaknya benar, hanya saja entah itu milik Kekaisaran kita atau negeri asing."
Penasihat berbisik, "Milik kita atau negeri asing tak masalah, yang penting masih manusia. Jangan sampai itu milik negeri zombie."
Xiao Ke mengangguk. "Betul, jika itu bayi baru lahir negeri zombie, maka nasib umat manusia kian berbahaya."
Xiao Ke pun memerintahkan, "Sampaikan ke seluruh legiun provinsi selatan, cermati baik-baik, cari tahu di mana calon Dewa Bela Diri ini lahir. Jika makhluk asing, pastikan ia dimusnahkan sebelum tumbuh besar!"
"Siap, Panglima Agung!"
...
Chen Ning sama sekali tak tahu, kemunculan aliran ganda di tubuhnya telah menggemparkan sang Panglima di ibu kota yang jauh.
Saat ini, ia masih tenggelam dalam kegembiraan berhasil menyalakan simpul kedua aliran hitam dan putih. Kini ia telah mencapai kekuatan prajurit dua tingkat ganda.
Keesokan pagi, Chen Ning bangun, menuju kantin untuk sarapan sebelum ke kelas.
Baru saja memasuki pintu kantin, beberapa orang langsung menghampirinya. Mereka adalah rekan seangkatan Chen Ning, namun tak satu pun yang lolos ke kelompok elit, hanya menjadi prajurit biasa. Pemimpin mereka berwajah pucat, tersenyum dingin, bernama Huang Haifu.
Huang Haifu adalah putra pelayan keluarga Xiao Zihao. Ketika Xiao Zihao mendaftar militer, Huang Haifu pun ikut. Jika yang lain adalah pelayan belajar, maka Huang Haifu adalah pelatih tempur bagi tuan mudanya.
Dulu ia memang penjilat Xiao Zihao. Kali ini ikut wajib militer, ia gagal masuk kelompok elit, hanya kelompok biasa. Namun ia tahu tuan mudanya berseteru dengan Chen Ning, dan semalam ia sempat mendengar Xiao muda menyinggung pedang Tang Longya milik Chen Ning, nada bicaranya mengandung rasa iri.
Maka, demi mengambil hati tuan muda, pagi itu ia mengajak beberapa teman menunggu Chen Ning di kantin, bermaksud merebut pedang Tang Longya milik Chen Ning. Menurutnya, di barak tentara berlaku hukum rimba. Chen Ning hanya prajurit tingkat satu, bahkan lebih lemah dari dirinya yang sudah tingkat dua. Merebut pedang itu, Chen Ning bisa apa? Mau mengadukan ke instruktur pun, pasti bakal ditertawakan!
Huang Haifu sudah menyelidiki kekuatan Chen Ning—hanya prajurit tingkat satu. Maka dengan pongah ia berkata, "Serahkan!"
Chen Ning terkejut, "Serahkan apa?"
Huang Haifu menunjuk pedang Longya di pinggang Chen Ning. "Serahkan Longya-mu! Sampah sepertimu tak layak memilikinya. Serahkan baik-baik, kalau tidak, jangan salahkan kami kalau telurmu dihancurkan!"
Chen Ning menyeringai dingin. "Hanya kalian berempat?"