Bab Delapan Puluh Enam: Aku, Hitam Besar, Akan Kembali
Tuan Putri Wang tidak berkata apa-apa.
Perihal perjodohan ini, Kakek Tua Ming memang pernah membicarakannya dengannya. Awalnya, ia tidak setuju, ia tidak ingin buru-buru menjodohkan Ming Hui. Namun Kakek Tua Ming berkata, Ming Hui harus kembali ke keluarga Ming. Daripada menyerahkan urusan perjodohan pada kakak dan kakak iparnya, lebih baik selagi ia masih ada, ia sendiri yang memilihkan jodoh untuk Ming Hui, seseorang yang telah ia lihat tumbuh besar.
Ia berkata, watak seseorang sudah bisa dilihat sejak kecil. Huo Yu, yang sejak kecil berada di sisi Gao Ziying, tidak tumbuh menjadi anak yang menyimpang. Satu-satunya kekurangan adalah ia belum cukup matang dan lihai, tapi ia masih muda, dan segalanya masih bisa dikejar.
Huo Yu adalah calon suami yang dipilihkan Kakek Tua Ming untuk Ming Hui.
Karena itu, Kakek Tua Ming berhasil meyakinkan Tuan Putri Wang. Sebelum Ming Hui menceritakan mimpi buruk itu, Tuan Putri Wang juga mengira Huo Yu adalah pilihan terbaik yang bisa mereka carikan untuk Ming Hui.
Namun mimpi itu terlalu menakutkan, hingga Ming Hui bahkan curiga dirinya dalam mimpi itu tewas di tangan Huo Yu.
Memikirkan hal ini, telapak tangan Tuan Putri Wang basah oleh keringat, ia menghela napas panjang.
Setiba di Vihara Huizhen, Ming Hui berganti pakaian dan bersiap menjenguk Nyonya Tua Jiang dan Nyonya Jiang Muda.
Belum sempat keluar, dari luar terdengar suara nyaring bak lonceng perak, “Kak Ming sudah pulang?”
Ming Hui mengerutkan alis. Ia sudah delapan, sembilan hari tidak ada, tapi kedua putri keluarga Sun itu rupanya belum pergi juga.
Ming Hui memberi isyarat agar Buci menyimpan hadiah-hadiah yang hendak dibawa untuk kedua nyonya Jiang, lalu menyilakan kedua putri Sun masuk.
“Putri Ketiga Sun, Putri Keempat Sun,” sapa Ming Hui dengan sopan sedikit menjaga jarak.
“Kak Ming, jangan terlalu sungkan. Kami hanya ingin melihat-lihat halaman ini. Mungkin Kak Ming tak tahu, selama Kak Ming tak ada beberapa hari ini, halaman ini selalu terkunci. Kami ingin masuk saja tidak bisa,” ujar Putri Ketiga Sun setengah menggoda.
Ming Hui dalam hati tak habis pikir, ini kan memang tempat tinggalku, tentu saja saat aku pergi harus dikunci.
Dari mana datangnya orang-orang bodoh yang sengaja datang hanya untuk dicemooh seperti ini.
“Jangan ditertawakan, Putri Ketiga Sun. Di halaman ini ada banyak barang berharga. Kalau aku tidak ada, siapa tahu kalau ramai-ramai malah ada yang hilang satu dua barang, kan repot. Bukankah begitu, Putri Ketiga Sun?”
Putri Ketiga Sun tertegun, tak menyangka Ming Hui benar-benar tak memberinya muka, langsung membalas begitu saja. Ia pun hanya bisa tersenyum kecut, “Sebenarnya kami hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Kak Ming. Selama beberapa tahun ini, nenek tinggal di vihara, semua berkat Kak Ming yang merawatnya, kami...”
Belum selesai ia bicara, Ming Hui sudah memotong, “Putri Ketiga Sun, Anda keliru. Saya hanya bertapa di vihara, tidak ada urusan melayani Nyonya Tua Jiang. Sebaiknya jangan bicara seperti itu lagi, nanti bisa menimbulkan salah paham.”
Wajah Putri Ketiga Sun bergetar, aduh, apa tidak tahu sopan santun sedikit? Ia berkata begitu hanya untuk basa-basi, agar pembicaraan mengalir. Kenapa orang bermarga Ming ini malah mematikan semua topik? Lalu, apa yang harus dikatakannya selanjutnya?
Putri Keempat Sun melihat kakaknya kerepotan, segera menolong, “Tapi nenek memang memperlakukan Kak Ming berbeda, lihat saja, halaman ini begitu indah, Kak Ming bisa tinggal tiga tahun di sini, sering mendapat bimbingan nenek, kami benar-benar iri.”
“Oh, kalian tidak tahu? Keluargaku menyumbang uang dupa, seribu tael, lho. Kebetulan aku mau pindah, jadi halaman ini akan kosong. Kalau kalian mau, sumbang saja seribu tael juga, siapa tahu bisa tinggal di sini.”
Kini giliran wajah Putri Keempat Sun yang berubah.
Andaikata keluarga Marquis Guangyuan bisa mengeluarkan seribu tael perak, mana mungkin mereka masih bertahan di sini?
Kakek buyut mereka sudah terbaring sakit, kemungkinan tidak akan bertahan tahun ini. Jika beliau wafat, gelar Marquis Guangyuan akan dicabut. Harta keluarga yang bisa dijual sudah habis, tinggal satu rumah saja. Tanpa gelar marquis, seluruh keluarga harus menanggung kesulitan.
Dulu, setiap kali keluarga datang ke Vihara Huizhen, masih bisa menyisakan beberapa puluh tael setelah biaya perjalanan. Tapi tahun itu, entah kenapa semua paman dan om tidak bisa bicara sehari penuh, baru keesokan harinya bisa bicara lagi.
Sejak itu, para pria di keluarga tak berani datang. Kini keadaan benar-benar sulit, akhirnya mereka mengirim kedua putri ini.
Melihat Ming Hui di vihara hari itu, kedua saudari itu sampai menggertakkan gigi iri. Harusnya merekalah cucu kandung Nyonya Tua Jiang, mengapa yang boleh menemani nenek malah Ming Hui?
Setiap perayaan, hadiah dari istana, nenek bisa menggunakan apa? Semua kain sutra, permata, nenek tak pakai, biksuni juga tak perlu, akhirnya semua jatuh ke tangan Ming Hui.
Awalnya, mereka datang mau meminta uang, tapi setelah melihat Ming Hui, mereka berubah pikiran.
Halaman rumah Ming Hui begitu besar, dari luar saja sudah tercium wangi-wangian.
Mereka pun berunding, ingin Ming Hui membujuk Nyonya Tua Jiang agar mereka boleh tinggal bersama.
Dari luar saja sudah kelihatan besar, bertiga tinggal pasti cukup. Soal nanti, selama mereka kompak, apa sulitnya menyingkirkan Ming Hui?
Sayangnya, baru buka mulut, Ming Hui sudah tahu maksud mereka.
“Setengah hari di perjalanan, aku agak lelah, jadi tidak bisa menemani kedua putri Sun berbincang. Sudah larut, silakan pulang.”
Putri Ketiga dan Keempat Sun benar-benar enggan pergi, masih banyak yang ingin mereka bicarakan. Ada apa dengan Nona Besar Ming ini, kok tidak seperti yang mereka duga?
Setelah menyingkirkan kedua putri Sun, Ming Hui merasa lima hari terlalu lama. Ia tidak ingin terlibat urusan keluarga Sun yang berantakan, lebih baik cepat-cepat pindah.
Ia menyuruh Duo Duo keluar, menyampaikan pada Wang An bahwa tiga hari lagi ia akan pindah.
Di dekat Vihara Huizhen ada sebuah desa kecil. Selama tiga tahun ini, Wang An menyewa sebuah rumah di sana, kalau Ming Hui butuh sesuatu bisa langsung mencarinya.
Saat Duo Duo keluar, kucing hitam juga ikut pergi. Tapi ketika Duo Duo kembali, kucing hitam tidak ikut.
“Si Hitam sedang bersama beberapa kucing lain, entah sedang apa.”
Ming Hui mengangkat alis, apalagi kalau bukan berpamitan.
Kalian tunggu di desa, kakakku pasti akan kembali.
Sore hari, Ming Hui menemui dua Nyonya Jiang, memberitahu rencana pindah. Pagi itu, kedua putri Sun sudah mencari Ming Hui, Nyonya Tua Jiang sudah tahu.
Dulu, waktu ia meninggalkan kediaman Marquis Guang'an, kedua cucu perempuan itu belum lahir. Biasanya yang datang cucu laki-laki. Sebelumnya, Nyonya Tua Jiang bahkan belum pernah bertemu mereka. Hanya saja, tiga cucu lelaki itu pernah melihat Ming Hui di sini, jadi mengira ia suka pada gadis kecil, lalu mengirimkan dua putri itu.
Akhir-akhir ini, kedua putri Sun sering menangis, mengadu, bahkan bersumpah akan mati di sisi nenek. Nyonya Tua Jiang benar-benar jenuh. Kini Ming Hui hendak pindah, ia mengira karena kedua cucu perempuannya, sehingga merasa makin bersalah.
Malam itu juga, Nyonya Tua Jiang dan Nyonya Jiang Muda menutup pintu dan berdiskusi lama.
Keesokan harinya, setelah kelas pagi, kedua nyonya memanggil Ming Hui masuk ke ruang terdalam. Putri Sun juga ingin ikut, tapi ditahan oleh dua pendeta perempuan, Qingfeng dan Qingyun.
Ming Hui heran, tak berani bertanya, hanya duduk manis di atas alas meditasi.
“Hui'er, selama ini kami para wanita tua bisa merasakan muda kembali berkat kehadiranmu. Tapi kau sudah dewasa, tentu tidak mungkin selamanya tinggal di vihara. Keluargamu hendak menjemputmu pulang, itu baik. Hanya saja, setelah kau pergi, entah kapan kita bisa bertemu lagi,” kata Nyonya Tua Jiang.
Ming Hui tersenyum, “Jangan khawatir, Nyonya. Kalau ada waktu, aku pasti datang menjenguk kalian.”