Bab Ketiga Belas: Lengan Merah Melahirkan Putra

Setelah Kiamat Harapan Salju 2357kata 2026-04-01 08:47:11

Setelah semua orang pergi, Hongxiu melangkah mendekati Vinsen dan langsung duduk di pangkuannya. Sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal, ia berkata, "Menyebalkan sekali, kenapa harus membantu rubah betina kecil itu?"

Vinsen tersenyum pasrah. "Ini tuntutan pekerjaan, bukan karena aku ingin membantunya."

Hongxiu mendelik tajam ke arahnya tanpa berkata apa-apa, lalu mengerutkan kening dengan memasang ekspresi teranaiya. Dengan penuh kasih sayang, Vinsen mencubit hidung kecil Hongxiu dan berbisik, "Sudah sebesar ini tapi masih suka berkeliaran ke mana-mana, apa tidak takut tiba-tiba melahirkan? Sepertinya HPL-mu jatuh di sekitar hari-hari ini, bukan?"

Hongxiu memajukan bibirnya yang merona kemerahan dan berkata dengan nada bermanja-manja, "Tidak mau, tidak mau. Tinggal sendirian di rumah itu sangat membosankan. Lagipula, aku sudah sering keluyuran begini dan tidak pernah terjadi apa-apa."

urat-urat di dahi Vinsen mulai bermunculan satu per satu. Dengan lembut ia kembali membujuk, "Apa perutmu lapar? Mau makan apa? Akan kusuruh orang membelikannya untukmu."

Hongxiu memiringkan kepalanya sejenak untuk berpikir, lalu menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak begitu lapar sih, tapi tidak apa-apa kalau kamu mau membelikan makanan untukku sebagai teman bosan. Jangan beli banyak-banyak ya, cukup beli kue-kue dari Toko Yungaifang, bakcang buatan Keluarga Lao Ye, kacang marun goreng di tikungan jalan, kue dari Toko Yalanju, permen dari Rumah Romantis, cokelat dari Xiangqier, apel dari Raja Buah Lao Li, lalu setelah itu sekalian pergi ke supermarket untuk membelikan keripik kentang, kentang goreng, biji bunga matahari, manisan buah plum, jeli, dan sejenisnya."

Eh... Vinsen menjawab dengan suara lemah, "Bisa diulangi sekali lagi? Aku tidak mencatat semuanya."

Hongxiu menatapnya tajam penuh kejengkelan dan baru saja berniat untuk mengulanginya ketika tiba-tiba ia memegangi perutnya sambil merintih, "Aduh... gawat, Suami, anakmu mau keluar."

Mendengar itu, Vinsen langsung panik. Ia buru-buru meminta regu pengawal untuk menyiapkan mobil guna membawanya ke rumah sakit.

Vinsen mondar-mandir dengan cemas di depan pintu ruang operasi. Xiezi, Huoyao, Shanyao, Mujuan, dan yang lainnya yang menerima kabar tersebut langsung bergegas datang dan hanya bisa menunggu di samping sambil merasa cemas bukan kepalang.

Waktu berlalu detik demi detik. Sudah tiga jam berlalu, namun bayi itu belum juga lahir. Saat itu, seorang perawat keluar dari ruangan. Vinsen langsung menarik tangannya dan berseru, "Kenapa belum lahir juga?"

Perawat itu menoleh ke belakang dan menyadari bahwa orang di hadapannya adalah Vinsen. Ia langsung merasa gugup dan ketakutan, lalu berkata terbata-bata, "Pem... Pemimpin... Ber... Besar... Nyonya... Beliau..."

Melihat perawat itu kesulitan merangkai kata selama setengah hari, Vinsen kehilangan kesabarannya dan berkata dengan nada mendesak, "Ada apa dengan dia? Apakah persalinannya sulit? Masuklah dan katakan pada dokter untuk melakukan operasi caesar padanya. Ibu dan anak harus sama-sama selamat, kalau tidak, aku akan menembak mati dokternya!"

Mendengar ancaman itu, wajah sang perawat langsung pucat pasi. Ia buru-buru berbalik dan berlari masuk kembali ke ruang operasi.

Hanya berselang sepuluh menit kemudian, perawat itu keluar sambil menggendong seorang bayi. Kali ini ia telah kembali tenang dan berkata kepada Vinsen sambil tersenyum, "Selamat, Pemimpin Besar, ibu dan anak selamat. Bayinya adalah seorang tuan muda."

Mendengar kabar tersebut, Vinsen langsung diliputi kegembiraan luar biasa. Ia buru-buru mengambil bayi yang berada di dalam gendongan sang perawat. Eh... kenapa bayi yang baru lahir ini terlihat begitu jelek?

Orang-orang di sekitar langsung mengerumuni Vinsen untuk mengucapkan selamat. Vinsen sendiri memasang wajah penuh kebahagiaan, lalu bertanya kepada perawat dengan tersenyum, "Apakah aku boleh masuk untuk melihat istriku?"

Perawat itu mengangguk cepat menandakan boleh.

Sambil menggendong bayi itu, Vinsen berjalan memasuki ruang rawat dengan hati berbunga-bunga. Segala sesuatu di dalam ruangan telah dibenahi dengan rapi, namun corak wajah Hongxiu saat itu tampak kurang menyenangkan.

Melihat Vinsen berjalan masuk, ia tidak lagi mampu menahan diri dan langsung memaki dengan gemas, "Vinsen, apa yang kamu katakan pada mereka di luar sana? Ibumu ini bahkan belum sempat mulai mengejan, ketika seorang perawat kecil pergi ke toilet lalu kembali dan mengatakan kepada dokter bahwa kamu memerintahkan mereka untuk melakukan operasi caesar padaku, dokter langsung menyayat perutku saat itu juga. Aduh... bekas luka sebesar ini, kapan bisa hilangnya?"

Senyum di wajah Vinsen langsung membeku seketika. Orang-orang lain yang berada di belakangnya ingin tertawa namun tidak berani, sehingga mereka hanya bisa menahan diri hingga bahu mereka bergetar hebat dengan susah payah.

Namun, Vinsen bagaimanapun juga telah menjadi pemimpin begitu lama, badai macam apa yang belum pernah ia lewati? Seketika itu juga ia tersenyum tipis, berjalan duduk di sisi ranjang Hongxiu, dan berkata dengan suara lembut, "Bukankah ini semua kulakukan karena aku mengkhawatirkanmu dan takut kamu menderita? Masalah bekas luka biarlah jadi bekas luka, bukankah kondisi medis sekarang bisa menghilangkannya?"

Setelah dibujuk dengan hati-hati selama beberapa saat, ekspresi wajah Hongxiu akhirnya mereda. Ia merebut bayi dari gendongan Vinsen dan berkata dengan nada manis, "Suami, menurutmu siapa nama yang bagus untuk anak kita?"

Xiezi yang berdiri di belakang buru-buru menyela, "Namai saja Wen Hongsheng, sederhana, mudah diingat, dan yang terpenting memiliki makna yang mendalam."

Hongxiu menatapnya tajam dan langsung menolak mentah-mentah, "Tidak mau, tidak bagus."

Mujuan juga ikut meramaikan suasana dan berkata sambil tersenyum manis, "Kalau begitu bagaimana kalau Wen Feile? Terdengar sangat berselera sastra."

Hongxiu menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan berkata berulang kali, "Jangan, jangan. Kalau anakku sudah besar nanti bersikap sok intelektual seperti itu, aku pasti akan menghajarnya sampai babak belur. Suami, coba kamu yang beri nama."

Vinsen mengerutkan kening dan berpikir sejenak dengan cermat, lalu berkata dengan suara dalam, "Anak ini terlihat begitu jelek, namai saja Wen Zi (Nyamuk kecil). Mirip nyamuk, benar-benar jelek."

Mendengar itu, Hongxiu langsung murka dan berseru dengan nada manja kesal, "Di sebelah mana bagian yang jelek?! Bukankah dia anak kandungmu? Waktu kecil kamu pasti lebih jelek daripada dia, Huh! Tidak usah kamu yang memberi nama. Nak, mulai sekarang namamu adalah Wen Qiang (Kuat). Dari namanya saja sudah ketahuan kalau dia anak yang sangat kuat."

Semua orang terdiam memandangi Hongxiu yang sedang asyik berbicara sendiri sambil mendekap bayinya. Dengan sifat keibuan yang sedang meluap-luap saat ini, orang-orang semakin tidak berani mencari masalah dengannya.

Tiba-tiba, Hongxiu mengangkat sedikit kepalanya dan berkata pelan, "Sebentar lagi aku mau menyusui anakku. Apa kalian semua berniat menonton pertunjukan langsung?"

Semua orang saling berpandangan. Dalam hati mereka memuji kehebatan Ratu Hongxiu, sementara di luar mereka buru-buru mencari alasan untuk meninggalkan ruang rawat. Dalam sekejap, di dalam ruangan itu hanya tinggal Vinsen seorang diri. Sambil menyusui bayinya, Hongxiu berbisik, "Sekarang situasi di dalam negeri sudah stabil, dan aku juga sudah melahirkan anak ini. Apakah sudah waktunya kamu pergi mencari istri tua kesayanganmu itu?"

Vinsen tersenyum tipis dan berkata lembut, "Yuqian, aku memang harus menemukannya kembali. Tapi kamu juga tidak perlu cemburu begitu, dia tidak memiliki banyak trik licik sepertimu. Sekalipun berhasil dibawa kembali, dia pasti hanya akan menjadi pihak yang ditindas olehmu."

Hongxiu mencebikkan bibirnya, mendelik tajam ke arah Vinsen, dan mencibir kesal, "Ada apa dengan diriku memangnya? Kenapa kamu berbicara seolah-olah aku ini begitu kejam? Apa aku sejahat itu? Lagipula, aku tidak punya pikiran licik seperti itu."

Mendengar itu, Vinsen tertawa kecil dan tidak dapat menahan diri untuk sedikit menjatuhkannya, "Sebaiknya pertanyaan itu kamu tanyakan pada Dashan dan He Yutian saja. Coba lihat mereka berdua, sekarang sudah kamu didik jadi seperti apa?"

Dengan sikap acuh tak acuh dan nada meremehkan, Hongxiu berkata, "Apakah ini bisa disalahkan padaku? Kedua anak bodoh itu sendiri yang tidak becus. Coba katakan, kapan tugas yang kuberikan pada mereka pernah diselesaikan dengan sempurna? Sudahlah, tidak usah membahas mereka lagi, aku langsung kesal setiap kali membicarakannya. Oh ya, tadi kamu bilang anakku jelek di sebelah mana? Coba jelaskan yang jelas padaku, apa dia bukan anak kandungmu? Kenapa kamu tega menyebutnya jelek? Kalau aku tahu sejak awal, seharusnya aku biarkan kamu membuangnya ke tembok saja. Katakan, di sebelah mana anakku terlihat jelek? Kalau kamu tidak bisa memberikan alasan yang jelas, urusan kita tidak akan selesai hari ini."

Vinsen...