Bab Ketiga: Adik Perempuan
Senja yang suram itu akhirnya diredakan oleh salju yang berhenti turun. Aroma samar bunga plum menembus jendela, menyebar di dalam ruangan. Dalam rasa lelah yang berat, Li Ang perlahan tersadar. Ia lalu melihat adiknya yang meringkuk di sampingnya. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan wajahnya: pucat, namun garis-garis wajahnya indah seperti lukisan, dengan semburat merah muda di pipi yang membuat siapa pun ingin melindunginya.
“Aku...” Menatap adiknya yang masih terlelap, Li Ang berbisik, “Aku hanya bisa membunuh, aku tidak tahu bagaimana merawatnya.” Tiba-tiba pintu terbuka, angin dingin menerobos masuk, dan seorang lelaki tua berbaju hijau membawa kotak makanan masuk ke dalam.
Li Ang menguatkan diri, ingin turun dari ranjang, namun baju di tubuhnya digenggam erat oleh tangan adiknya, takut membangunkannya, ia pun tetap berbaring.
“Nona sepertinya sangat menyayangi Tuan Muda,” ujar lelaki tua berbaju hijau sambil berjalan ke meja, membuka kotak makanan, dan menghidangkan semangkuk bubur daging hangat di depan Li Ang. Menatap Qing Zhi yang meringkuk di samping Li Ang, ia bergurau.
“Paman menertawakan saya,” Li Ang tersenyum tipis, suaranya rendah. Ia teringat tatapan takut Qing Zhi padanya saat Zhai Shaoting tewas.
“Kenapa tidak membangunkan Nona untuk minum bubur?” Lelaki tua itu melihat Li Ang tampak begitu murung, ia pun tak banyak bicara lagi, “Kalau begitu, saya pamit dulu. Nanti akan ada yang mengambil mangkuk dan kotaknya.”
“Tunggu, Paman,” Li Ang menahan lelaki tua itu sebelum ia pergi. Ia ingin tahu siapa yang telah menyelamatkannya. “Jenderal berjubah hitam itu...”
“Tuan saya bernama Guo Nu, seorang jenderal dari Pasukan Kuda Hitam.” Begitu menyebutkan nama tuannya, lelaki tua itu langsung menunjukkan kebanggaan di wajahnya.
“Pasukan Kuda Hitam!” Menatap punggung lelaki tua itu yang pergi, Li Ang bergumam. Pasukan pengawal kaisar yang hanya berjumlah seribu orang itu terkenal sebagai tentara terkuat di negri, tak pernah kalah selama seratus lima puluh tahun terakhir. Di hati rakyat Qin, mereka adalah legenda.
Tiba-tiba, sentuhan lembut di ujung bajunya membangunkan Li Ang dari lamunannya. Ia menunduk dan menemukan adiknya telah terjaga entah sejak kapan. Ia masih terlihat takut dan hanya diam menatapnya, tak berani bicara. “Ayo minum bubur,” ujar Li Ang akhirnya, tak tahu harus bicara apa, ia perlahan menyendokkan bubur ke mulut adiknya.
Di lorong yang dingin dan berangin, lelaki tua berbaju hijau berjalan ke ruang kerja tuannya. Kini ia mengerti mengapa tuannya menolong remaja bernama Li Ang itu. Wajah dan sikapnya sangat mirip dengan Tuan Muda kedua yang telah tiada. Ia teringat pemuda yang ia besarkan sejak kecil, selalu tampak pendiam dan tangguh. Ia pun mengusap matanya dengan tangan.
Di ruang kerja, pintu terbuka lebar ditiup angin, hawa dingin masuk menerpa seisi ruangan. Guo Nu menghela napas, lalu menatap pelayan tua Wang Sheng yang masuk. “Sheng Bo, menurutmu, haruskah aku menolongnya?”
“Andai Tuan Muda kedua masih hidup, beliau pasti akan menolong anak itu,” jawab Wang Sheng tanpa ragu. “Dan Tuan, jika memang tak niat menolong, tidak akan membawa mereka ke sini.”
“Adik,” Guo Nu mendesah sedih, lalu memadamkan sumbu lilin dan berdiri meninggalkan ruang kerja. Di luar, cahaya bintang temaram, salju tebal beterbangan diterpa angin. “Saat berumur empat belas, dia juga pernah membunuh demi amarahnya...” gumamnya, lalu sosok Guo Nu pun lenyap di tengah badai salju.
“Cahaya kunang-kunang terbang... bunga tidur... sepasang demi sepasang...” Dalam lantunan lembut lagu anak-anak, Li Ang perlahan menurunkan adiknya yang telah tertidur pulas, menyelimutinya dengan hati-hati, lalu duduk bersandar pada ranjang. Ia teringat segalanya. Dulu ia tidak takut mati, namun kini ia memiliki adik, seseorang yang harus ia jaga. Karena itu, ia harus tetap hidup.
Namun, membunuh tetaplah kejahatan besar di zaman manapun, apalagi yang ia bunuh adalah putra bangsawan. Memikirkan Zhai Shaoting yang ia bunuh, Li Ang hanya bisa tersenyum pahit. Malam musim dingin datang lebih cepat, dalam gelap gulita, angin menusuk masuk dari celah pintu. Akhirnya ia meringkuk dan memejamkan mata.
Di ruang depan kediaman Guo, seorang pejabat dari Kementerian Hukum duduk dengan dahi berkerut. Ia memang bersimpati pada pemuda yang membalas dendam untuk ibunya itu, namun yang dibunuh adalah keponakan Menteri Urusan Pegawai. Kalau saja tidak bertemu dengan patroli Pasukan Kuda Hitam, mungkin Li Ang sudah lama meringkuk di penjara. Memikirkan itu, ia menggelengkan kepala.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki. Ia berdiri memberi hormat pada lelaki bertubuh kekar berjubah hitam yang datang. “Salam hormat, Jenderal Guo.”
“Ini bukan barak militer, tak perlu terlalu formal,” balas Guo Nu, mempersilakan duduk. “Apa yang membawamu kemari malam-malam begini?”
“Maafkan saya, Jenderal, saya hanya menjalankan perintah atasan...” Pejabat itu tampak tertekan menghadapi tatapan tajam Guo Nu, lalu menyerahkan surat resmi dari kementerian.
Guo Nu membaca surat itu dengan seksama, keningnya berkerut. Lama ia terdiam sebelum akhirnya menutup surat itu. “Orang itu, tidak akan aku serahkan. Pulanglah, urusan ini akan kutangani sendiri.”
“Kalau Jenderal sudah berkata demikian, saya tentu tidak berani membantah. Saya pamit.” Pejabat itu menerima keputusan dengan cepat, memberi hormat, lalu pergi bersama bawahannya. Saat keluar dari kediaman Guo, salah seorang anak buahnya bertanya, “Tuan, mengapa kita tidak langsung mengambil orangnya? Bagaimana nanti kita memberi laporan?”
“Pasukan Kuda Hitam telah melayani keluarga kekaisaran seratus lima puluh tahun. Siapa pun yang menyandang gelar jenderal pasti berasal dari keluarga bangsawan militer. Jika mereka mau turun tangan, siapa yang bisa menghalangi?” Pejabat itu menggelengkan kepala. “Tiga puluh tahun terakhir, memang para menteri lebih berkuasa, tapi...” Sampai di situ, ia tiba-tiba terdiam dan tak bicara lagi.
Pagi harinya, angin kencang yang bertiup semalaman akhirnya berhenti. Li Ang membuka mata dan menatap keluar jendela. Dalam samar cahaya fajar, terdengar suara salju tipis yang jatuh ke tanah. Ia melirik adiknya yang masih terlelap, lalu perlahan turun dari ranjang, mengenakan jubah panjang, dan membuka pintu, membiarkan angin pagi yang dingin menerpa wajahnya, berusaha menenangkan diri.
Tiba-tiba dari halaman sebelah terdengar suara benturan keras. Li Ang menutup pintu pelan-pelan, lalu mengikuti suara itu. Di tengah tanah bersalju yang luas, ia melihat perwira berjubah hitam yang menyelamatkannya sedang melatih diri memukul tonggak kayu besar.
Melihat Li Ang mendekat, Guo Nu menghentikan latihannya. Li Ang pun berhenti, menundukkan kepala dan berkata pelan, “Jenderal, ada satu permintaan dari saya!” Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menundukkan kepala pada orang lain.
Melihat anak muda itu menunduk, Guo Nu sempat tertegun, lalu tertawa lepas. “Hanya membunuh seekor lintah, kenapa harus takut? Adik perempuanmu, kamu sendiri yang harus menjaganya.”
“Aku akan memperjuangkan keadilan bagimu. Hidup atau mati, semua akan diputuskan sesuai hukum,” ujar Guo Nu sambil menepuk bahu Li Ang. “Tapi, kalau ada pejabat berani bertindak curang, pedangku juga tidak akan diam saja.” Ia tersenyum, “Pergilah jaga adikmu. Dia sebenarnya sangat menyayangimu.”
“Terima kasih atas pertolongan Jenderal. Lalu... tentang jasad ibu saya...” Sebelum pergi, Li Ang kembali menahan langkahnya. Suaranya lirih dan penuh penyesalan. Ia memang bukan anak kandung perempuan tua itu, tapi ia melihat sendiri wanita itu tewas di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa memaafkan dirinya.
“Tenanglah, pejabat kota sudah mengurus pemakamannya di luar kota. Setelah semua urusan selesai, pergilah ke sana untuk memberi penghormatan,” jawab Guo Nu. Ia pun memahami betul rasa sakit kehilangan orang tersayang.
Hari-hari pun berlalu, Li Ang tetap tinggal di sana. Dalam perhatiannya yang diam-diam, adiknya mulai tak lagi takut pada orang asing dan perlahan tersenyum kembali. Namun, tiap kali ia bertanya, “Di mana ibu?” Li Ang hanya bisa terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
Waktu berlalu, sudah setengah bulan sejak kejadian itu. Melihat adiknya yang makin dekat dengannya, Li Ang pun teringat kasus yang menimpanya. Ia sangat ingin terus merawat adiknya, namun saat hendak mencari kejelasan, Guo Nu datang.
“Besok, pengadilan akan memeriksa kasusmu,” ujar Guo Nu setelah duduk. “Selama adikmu bersaksi di pengadilan tentang kejahatan si bangsawan, kau tidak akan mengalami masalah.”
“Tidak bisa,” potong Li Ang tegas. “Aku tidak akan membiarkan Qing Zhi pergi. Dia baru tujuh tahun, aku tidak ingin siapa pun tahu apa yang terjadi padanya.”
“Baiklah, kalau itu keputusanmu, aku tidak akan memaksa.” Guo Nu menatap Li Ang dengan kagum. “Tapi dengan begitu, meski yang membunuh ibumu adalah Zhai itu, kau tetap akan dihukum karena dianggap membunuh tanpa sengaja. Mungkin kau akan dihukum beberapa tahun pengasingan di perbatasan.”
“Hidupku ini sudah milik orang lain, Jenderal. Tanpa pertolonganmu, aku pasti sudah dihukum mati.” Li Ang tersenyum tipis. “Sekarang hanya harus diasingkan, itu sudah untung.” Ia lalu menahan tawanya, berdiri dan membungkuk pada Guo Nu. “Aku tak punya siapa-siapa lagi kecuali adikku. Mohon jaga dia untukku.”
“Mengurus anak seperti itu tidak mudah,” gumam Guo Nu, memandangi gadis kecil yang bermain salju sendirian di luar. Ia lalu menoleh pada Li Ang, “Pergilah temani dia membuat manusia salju. Setelah besok, kalian tak akan bertemu selama bertahun-tahun...” katanya sembari menggeleng, lalu ia beranjak pergi.
“Terima kasih.” Menatap punggung Guo Nu yang menjauh, Li Ang menunduk, berbisik pelan. Hutang budi yang ia terima begitu besar, namun yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mengucapkan terima kasih.
“Kakak, temani aku bikin manusia salju!” Qing Zhi menarik ujung baju Li Ang dengan tangan kecilnya.
“Iya.” Li Ang tersenyum lembut melihat lesung pipi mungil di wajah adiknya.
Tak lama, tiga manusia salju berdiri di tengah halaman. “Ini kakak, ini aku, dan ini ibu,” ujar Qing Zhi sambil bertepuk tangan. Ia lalu memandang Li Ang yang terdiam, dan dengan serius bertanya, “Kakak, benarkah ibu pergi ke tempat yang sangat jauh? Kenapa belum juga kembali?”
“Iya, sangat jauh,” jawab Li Ang tertegun, lalu berjongkok, memandang adiknya yang menggosok tangan merahnya. “Nanti, dengarkan baik-baik kata Paman Guo, ya?”
Setelah berkata begitu, ia menggendong Qing Zhi yang masih bingung, dan bersama-sama mereka menghilang di balik butir salju yang turun seperti garam.