Bab Tiga Puluh Tiga Algojo! Jagal!
“Komandan Pengawal Baju Sutra.” Huang Quan perlahan melangkah keluar dari samping Li Zheng, menatap Feng Siniang.
“Komandan, itu jabatan tinggi.” Mata Feng Siniang menatap Li Zheng, jelas masih penuh curiga. “Menurutku dia bukan orang baik.”
“Memang, tidak ada orang baik di Pengawal Baju Sutra.” jawab Huang Quan, lalu ia berjalan ke sebelah Feng Siniang, sekilas melirik Li Zheng. “Bukankah yang terluka itu bilang akan memberimu tiga ribu keping emas sebagai uang tebusan? Kau bisa menagihnya dulu.”
Mata Feng Siniang langsung berbinar. Ia menatap Li Zheng. “Tuan Li…”
“Meski Pasukan Macan dan Macan Tutul tidak ada hubungannya dengan Pengawal Baju Sutra, untuk uang sebanyak ini, bukan masalah!” sahut Li Zheng, senyum di wajahnya menandakan perhitungan yang matang. “Selama Nyonya Feng mau membantuku mencari beberapa orang, semuanya bisa dibicarakan.”
“Tuan Li memang tepat mencari orang ke sini. Di Kota Air Pahit ini, tak ada rahasia yang luput dari… eh, maksudku, dari perempuan ini.” Feng Siniang menatap Li Zheng sambil menggosok-gosokkan tangan dan tertawa manja. “Hanya saja… tiga ribu keping emas bukan jumlah kecil, Tuan Li…”
“Tenang saja, Nyonya Feng.” Li Zheng mengeluarkan sebuah kantong kain tebal dari balik pakaiannya, menumpahkan sepuluh butir batu mata kucing bundar ke atas peti mati kosong di sampingnya. “Tiga ribu keping emas, lebih malah.”
“Jadi, siapakah yang ingin Tuan Li cari?” Feng Siniang menarik pandangannya dari batu-batu itu, tersenyum semanis bunga, tapi suaranya tetap dingin.
“Ini gambar mereka.” Li Zheng mengeluarkan sebuah gulungan kain bersulam dari tangannya, melemparkannya pada Feng Siniang. Ia tersenyum, “Kalau sudah ketemu, beri tahu aku. Harganya bisa dibicarakan.”
Li Zheng menatap Huang Quan yang diam, lalu berjalan keluar dari aula, tubuhnya lenyap dalam kegelapan.
“Pengurus Peti Mati Huang, sebenarnya dulu kau itu siapa?” Setelah Li Zheng pergi, Feng Siniang menatap Huang Quan di sisinya, wajah cantiknya menyiratkan kekhawatiran.
“Aku dulu… juga tentara.” Suara Huang Quan terasa getir saat menatap Feng Siniang yang cemas, “Tipe yang membunuh banyak orang, bahkan tak mengampuni orang tua dan anak-anak.”
“Maaf… aku sudah terlalu lama menyembunyikannya.” Huang Quan menunduk, wajahnya yang pucat seperti mayat tak berani menatap Feng Siniang. “Aku… hanya… tidak ingin… kau tahu… tentang masa laluku…”
Huang Quan belum selesai bicara, tiba-tiba ia menoleh ke arah ruang dalam, dari sana terdengar suara lirih seseorang.
“Orang tua dan anak-anak, ya?” Li Ang yang pucat bersandar di tiang pintu, tersenyum pahit pada dirinya sendiri. “Aku juga begitu.” Suaranya begitu pelan, nyaris tak terdengar jelas.
“Mengapa kau keluar?” Huang Quan menatap Li Ang yang berusaha tegak, menahan diri agar tidak roboh. Seolah ia melihat bayangan masa lalunya.
“Aku tidak suka berbaring, apalagi seperti mayat yang tak bisa bergerak.” Li Ang mengenakan jubah hitam, membuat wajahnya yang tanpa warna semakin pucat, seolah tercetak dari cetakan yang sama dengan Huang Quan.
Li Ang menunduk menatap tangannya sendiri: mungkin sama seperti orang yang telah dibunuh takkan bisa hidup kembali, tangan yang berlumuran darah juga takkan pernah bersih. Begitulah pikirnya. Penyesalan atau pengakuan dosa, baginya hanyalah hal sia-sia.
“Menjadi tentara dan membunuh adalah hal yang wajar.” Tiba-tiba Li Ang mengangkat kepala, menatap Huang Quan. “Di medan perang, tak ada tua, kecil, atau perempuan, yang ada hanya musuh. Hanya kau mati, atau dia mati. Sesederhana itu.”
“Apa yang kau tahu?” Mendengar kata-kata dingin itu, Huang Quan berteriak marah. Wajahnya yang pucat kini memerah aneh, matanya seperti menyala. “Aku dan saudaraku membunuh tawanan yang tak berdaya, bukan di medan perang. Tahukah kau, kami hanyalah jagal, sekumpulan tukang sembelih. Kau paham? Kau tahu apa?!”
“Kalau kau merasa diri jagal, tukang sembelih, dan menganggap dirimu berdosa, kenapa tak mati saja? Untuk apa masih hidup?” Ucapan Li Ang tajam dan dingin. Ia sendiri tak tahu kenapa, mendengar nada berdosa Huang Quan mengingatkannya pada masa lalu…
Kala itu di sebuah desa hancur yang penuh asap mesiu menyengat, ia dan anak buahnya membebaskan keluarga para teroris yang telah mereka bunuh—para orang tua, anak-anak, dan perempuan. Mereka bahkan membagikan makanan dan air. Tapi akhirnya, orang-orang itu mengambil senjata dan menembak dari belakang. Ia menyaksikan satu per satu anak buahnya mati, hingga hanya dia yang selamat.
Malam hari, ia yang terluka menyelinap kembali ke desa itu, seperti serigala haus darah, membantai semua yang masih hidup: orang tua, anak-anak, perempuan, tak seorang pun dibiarkan hidup. Sepulangnya, atasannya menutupi kejadian itu, namun ia berubah menjadi jagal tanpa belas kasihan di mata semua orang, tukang sembelih berdarah dingin.
Sejak itu, tugas paling kejam dan gelap selalu diserahkan padanya. Di mata orang lain, ia hanyalah mesin pembunuh tanpa darah dan air mata, tanpa perasaan.
Ia tak punya keluarga, teman, apalagi rekan. Selalu sendiri, tanpa seorang pun yang peduli.
Itulah masa lalunya.
...
Huang Quan menatap wajah Li Ang yang dingin dan penuh cemooh diri, juga rasa sakit di sorot matanya. Ia tertegun, tak bisa berkata apa-apa lagi. Pemuda yang sedingin mata pisau itu mengingatkannya pada sang jenderal yang telah mati.
“Prajurit punya keadilan sendiri, jenderal pun demikian.” lirih Huang Quan, kenangan masa lalu kembali berkelebat dalam benaknya, seolah tak pernah menjauh atau memudar.
Melihat dua pria yang tiba-tiba terdiam itu, wajah cantik Feng Siniang berubah kesal. Ia mendadak berteriak pada mereka, “Hei, kalian berdua, melamun saja! Mengira aku ini mayat?!”
Suara Feng Siniang membuyarkan lamunan Huang Quan. Ia mendongak dengan canggung, menatap Feng Siniang.
“Mau lihat apa lagi, peduli apa aku kau jagal atau tukang sembelih, yang kutahu kau cuma Huang si Pengurus Peti Mati!” Feng Siniang melotot pada Huang Quan, lalu beralih pada Li Ang. “Kau sudah sadar, berarti sudah sehat. Ada orang bodoh yang bayar tagihanmu, urusanmu setelah ini bukan urusanku. Kalau sudah sembuh, ambil barangmu di penginapan. Kalau tak tahu jalan, tanya padanya.”
Selesai bicara, Feng Siniang memasukkan batu mata kucing ke dalam saku, lalu melenggang pergi bak angin.
“Dia selalu begitu?” tanya Li Ang pada Huang Quan, memandang baju merah yang menjauh.
“Tenang saja, Siniang itu suka bicara kasar, tapi hatinya lembut. Selama orang-orang Kekaisaran belum tiba, tak ada yang bisa mengambil nyawamu.” jawab Huang Quan sambil tersenyum pada Li Ang.
“Kau sangat peduli padanya.” Li Ang menatap sorot hangat Huang Quan setiap menyebut Feng Siniang.
“Bagiku, selain kau, hanya dia yang mau menatap wajah tua dan kejamku ini.” Huang Quan melangkah tanpa suara ke sisi Li Ang. “Kau mirip sekali dengan jenderalku dulu, sama-sama suka menyiksa diri, sama-sama pandai menyembunyikan luka.”
“Kalian memang gila.” Huang Quan membantu Li Ang berdiri, mengumpat, dan matanya yang suram jadi berseri.
“Lebih baik jadi gila daripada hidup segan mati tak mau.” jawab Li Ang tenang pada Huang Quan yang tak melepaskannya.
“Hahaha!” Mereka saling menatap dan tertawa, suara tawa bergema di aula penuh peti mati, membuat bulu kuduk meremang.
“Kau tak takut aku membunuhmu?” Kata Huang Quan yang kini tenang, menatap Li Ang dengan sorot hitam nan dingin.
“Coba saja.” Li Ang menatap mata Huang Quan, tersenyum, sorot matanya liar bagai binatang buas.
Huang Quan tak menjawab lagi, hanya membantu Li Ang masuk ke kamar yang penuh aroma pahit, memasukannya kembali ke dalam tong kayu. “Tiga hari lagi, aku jamin kau sudah sehat. Saat itu, aku akan tunjukkan padamu apakah aku bisa membunuhmu atau tidak.” katanya sebelum pergi.
“Aku tunggu.” jawab Li Ang lirih, lalu memejamkan mata. Di depan pintu, Huang Quan menghentakkan kaki dengan kesal sebelum meninggalkan ruangan.