47 Keharuman Bunga Plum yang Dingin

Coba Dunia Qing Lingyue 9833kata 2026-04-01 08:48:02

"仁已 delapan belas tahun, bulan sebelas tanggal lima belas, Raja Bai menyerbu ibu kota dan mengepung gerbang istana. Beruntung pasukan bantuan Raja Xi tiba tepat waktu, Raja Bai kalah lalu menggorok lehernya sendiri. Ibu kota terbebas dari bahaya. Kaisar, yang tersentuh oleh kebijakan dan kebajikan Raja Xi, meninggalkan surat wasiat untuk turun takhta, lalu menghilang tanpa jejak. Namun, Raja Xi menolak takhta dengan rendah hati dan berkata: 'Wajib membersihkan dunia sebelum menjemput Kaisar kembali!'"

Pertempuran sengit yang berlangsung selama sembilan hari, puluhan ribu nyawa yang melayang, ibu kota yang terendam dalam salju berdarah... serta begitu banyak kisah berliku dan tersembunyi di balik bayang-bayang, di tangan para sejarawan, semua itu hanya diringkas dalam beberapa kalimat singkat tersebut.

"Wang Changyou telah menggorok lehernya sendiri."

Di depan Istana Qilong, Lan Xi berdiri di atas undakan batu yang tinggi, memandang ke seluruh ibu kota yang terhampar di bawah kakinya.

"Sebelum mati, dia berkata: 'Telah setia kepada Raja, namun mengkhianati budi tuan Bai, tiada muka untuk hidup di dunia ini!'"

"Changyou..." Lan Xi berbisik pelan. Setelah terdiam lama, ia menghela napas, "Makamkan dia dengan layak... atas nama setiawan Kerajaan Bai!"

"Baik!" Ren Chuanyu menunduk.

"Sudah musim dingin yang membeku." Lan Xi tiba-tiba berbisik, berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap jauh seolah ingin melihat hingga ke ujung langit.

Ren Chuanyu berdiri diam di belakangnya, pandangannya tertuju pada punggung sang tuan, dalam rasa hormat yang disertai secercah pemikiran mendalam.

"Chuanyu, lihatlah istana ini, tampak tak berujung, dan sekarang ia ada di bawah kaki kita."

Sesaat kemudian, Lan Xi berkata dengan nada datar, wajahnya tetap menampilkan senyum tipis yang anggun dan sempurna, suaranya tenang seolah baru saja memetik buah di pinggir jalan.

"Bukan hanya istana, ibu kota, kelak seluruh dunia akan berada di bawah kaki Raja!" Ren Chuanyu menundukkan kepala dan berkata dengan hormat.

"Benarkah." Seolah bertanya balik, namun nadanya menunjukkan ketenangan seseorang yang memegang kendali penuh.

Ren Chuanyu melangkah maju dua langkah, matanya diam-diam menyapu wajah sang tuan yang tidak terbaca, mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, namun berkali-kali menelannya kembali. Matanya menyapu istana yang megah dan khidmat, memandang jauh ke ibu kota yang perkasa. Beberapa bulan lalu mereka masih berdiri di Panggung Wulin Kerajaan Feng, tetapi hari ini mereka telah tiba di ibu kota dan berdiri di istana kekaisaran! Orang di hadapannya lebih dari sekadar ini; ia seharusnya mendaki puncak Gunung Cangmang, ia seharusnya menjadi penguasa dunia!

Maka, hatinya yang sempat ragu pun menjadi mantap. Ia mengepalkan tangan dan berkata dengan sangat tenang dan sungguh-sungguh: "Raja, mohon nikahi Nona Feng sebagai... selir!" Suaranya sangat pelan, namun maknanya begitu teguh.

Mendengar kata-kata itu, tatapan Lan Xi yang tadinya menerawang akhirnya kembali. Ia melirik sekilas ke arah menteri di sampingnya yang sedang menunduk. Sepasang mata hitam pekat itu tetap tenang tanpa dasar, senyum tipis di wajahnya pun tidak pudar sedikit pun.

"Nona Feng adalah keturunan keluarga Feng. Jika Raja dapat menikahinya, maka di mata dunia, Raja akan menjadi kaisar yang tak terbantahkan!" Suara Ren Chuanyu terdengar tenang namun penuh semangat, seperti seseorang yang menempuh perjalanan jauh dan tiba-tiba melihat jalan pintas menuju tujuannya.

Lan Xi menatapnya lama. Akhirnya, senyum anggun di wajahnya tampak sedikit lebih dalam. Senyum itu membuat sepasang mata hitamnya tampak lebih kelam dan bersinar, namun tak seorang pun mampu menebak maknanya. Sambil menatap Istana Qilong yang megah di hadapannya, ia perlahan membuka suara: "Chuanyu, kau sangat setia kepada diriku. Demi dunia milikku, kau tidak mengenal lelah dan telah mencurahkan seluruh tenaga, sungguh kau telah bekerja keras!"

"Raja..."

Lan Xi melambaikan tangan, mengisyaratkan agar ia tidak perlu melanjutkan lagi. Ia menyipitkan mata, menatap papan nama besar di depan istana, suaranya yang datar terselip desahan yang sulit dipahami: "Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya? Namun, berkaca dari masa lalu, di Istana Qilong ini, sudah tak terhitung batu giok putih yang hancur..."

Akhir bulan sebelas sudah bisa dikatakan sangat dingin. Kerajaan Bai, yang terletak di bagian paling utara Dinasti Dong, menjadi "Kerajaan Putih" yang sesungguhnya. Salju selalu turun paling awal, menutupi segalanya hingga sejauh mata memandang hanyalah hamparan putih bersih.

Di istana, meski para pelayan telah menyapu salju di lorong-lorong istana, salju di atas atap dan dahan pohon sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mencair.

"Putri." Pinlin, yang seluruh tubuhnya terbungkus jubah bulu tebal, memanggil pelan Langhua yang sudah berdiri di depan istana selama hampir dua jam.

"Ada apa?" Suara Langhua datar dan tanpa kehidupan.

"Putri, kembalilah ke dalam istana." Pinlin berkata dengan hati yang perih. Sang putri yang dulunya segar dan lincah bagaikan kuncup bunga, kini berubah menjadi seperti kayu mati di musim dingin, tanpa semangat sedikit pun.

"Aku sudah menatap pohon ini selama tujuh hari. Salju di dahan tidak mencair, justru membeku menjadi es yang tebal." Tatapan Langhua kosong menatap sebatang pohon gundul di depan istana.

"Putri..." Pinlin mulai bicara, namun suaranya tercekat. Tenggorokannya terasa sesak hingga tak ada lagi yang bisa diucapkan. Apa yang harus dilakukan? Pertama Jenderal Xiu, lalu Baginda Raja... kabar duka ini datang satu demi satu, tetapi Putri... bagaimana mungkin Putri sanggup menanggungnya?! Putri yang begitu baik hati, yang akan menangis lama hanya karena burung nuri peliharaannya mati, kini saat mendengar kabar kematian Jenderal Xiu dan Baginda Raja, ia tidak meneteskan air mata sedikit pun. Ia hanya seperti boneka kayu yang lamban bereaksi, seolah tidak mengerti apa yang dikatakan oleh pelayan yang melapor. Ia hanya mengerjapkan mata dengan bingung, lalu duduk dan berdiri dengan kaku, matanya menatap kejauhan tanpa fokus, seperti boneka yang hanya bisa bernapas!

"Pinlin, jangan sedih."

Pinlin tiba-tiba merasakan sentuhan dingin di wajahnya. Ia baru sadar bahwa entah kapan sang putri telah berjalan ke hadapannya, mengulurkan tangan untuk menyeka air mata yang mengalir tanpa suara di wajahnya.

"Pinlin, jangan menangis..."

Langhua mengulurkan tangan memeluk Pinlin yang menangis tanpa suara. Air mata ini pasti mengalir untuk dirinya, bukan? Meskipun hatinya sudah hancur berkeping-keping, meski darah dan nanah mengalir, air mata itu sudah tidak bisa keluar lagi. Yang tersisa hanyalah rasa sakit yang menusuk tulang siang dan malam... serta kebencian tanpa ujung!

"Putri... Putri... Anda harus sembuh... Pinlin ingin Anda sembuh..."

Suara Pinlin terputus-putus karena tangis. Dibandingkan dengan rasa sayang dan rindu yang telah pergi, suara ini terasa jauh lebih nyata dan hangat...

"Pinlin, aku akan sembuh, aku akan sembuh." Langhua memejamkan mata, "Hanya saja tempat ini... terlalu dingin, dingin yang menusuk hingga ke tulang!"

Dua hari kemudian, Putri Langhua menghilang dari istana Kerajaan Bai. Istana gempar, seluruh negeri dikerahkan untuk mencari, namun jejaknya tidak ditemukan. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang mendengar kabar tentangnya.

Sementara pasukan Feng Mo meraih kemenangan berturut-turut, Pasukan Penakluk Langit milik Kaisar juga tidak beristirahat sejenak pun.

Tanggal dua belas bulan sebelas, Huang Chao memimpin Pasukan Penakluk Langit bergerak menuju Kota Liang di Wilayah Raja.

Tanggal delapan belas bulan sebelas, Huang Chao tiba di Kota Liang dan bertempur sengit selama tujuh hari dengan penjaga kota—putra dari Jenderal Besar Dong Shufang—yaitu Dong Taoye. Akhirnya, Pasukan Penakluk Langit menembus Kota Liang, Dong Taoye melarikan diri ke Kota Liao.

Tanggal dua puluh tujuh bulan sebelas, Huang Chao menyerang ke Kota Liao dan bertempur lagi dengan Dong Taoye. Karena perbedaan kekuatan yang mencolok, Kota Liao jatuh. Dong Taoye ingin mati bersama kota tersebut namun dicegah oleh jenderal keluarganya. Huang Chao memasuki kota, menyayangkan kemampuan Dong Taoye dan sempat mengutus orang untuk mencarinya, namun nasibnya tidak diketahui, dan sejak itu tidak ada lagi jejaknya.

Awal bulan dua belas, jenderal besar Pasukan Feng Yun, Qi Shu dan Cheng Zhi, bersama jenderal besar Pasukan Mo Yu, Qiao Jin dan Ren Chuanyun, masing-masing memimpin lima puluh ribu tentara, terbagi menjadi dua jalur menuju Kota Qing dan Kota Pou, dengan alasan: "Membantu kedua kota menahan musuh!"

Pertengahan bulan dua belas, ibu kota dilanda salju lebat semalam suntuk. Keesokan paginya, segalanya telah berubah menjadi hamparan putih.

Sepuluh mil di pinggiran ibu kota terdapat "Taman Fang", yang dibangun oleh Kaisar Guan di masa lalu. Kaisar Guan adalah raja bijak yang terkenal dari Dinasti Dong. Sifatnya hemat, sehingga meski Taman Fang adalah istana peristirahatan kekaisaran, tempat itu tetap sederhana, tanpa kemewahan, dan elegan. Kaisar Guan sepanjang hidupnya menyukai bunga plum. Di sebuah lereng alami di sebelah timur Taman Fang, ditanami banyak pohon plum. Seolah ingin bersaing dengan bunga dari langit, bunga plum merah mekar dalam semalam, dahan demi dahan mekar seperti kembang api yang meledak, merah dan putih berselingan, es dan api berpadu, menciptakan dunia kristal yang berkilauan.

"Xi'er, kau sudah keluar terlalu lama, berapa lama lagi kau akan berdiri di sini?" Jiuwei memanjat puncak lereng dengan napas terengah-engah, meninggalkan jejak kaki yang dalam di salju.

Di bawah sebatang pohon plum merah di puncak lereng, seseorang berdiri dengan tenang. Pakaian santai berwarna putih polos membuatnya hampir menyatu dengan dunia salju, hanya rambut hitam panjangnya yang sesekali terangkat oleh angin dingin, melambai di udara.

"Jiuwei, temani aku melihat bunga plum sebentar. Lihatlah betapa indahnya mereka mekar." Suara Xiyun sedingin salju, matanya terpaku pada setangkai bunga plum, namun seolah menembus pohon itu untuk melihat sesuatu yang lebih dalam dan jauh.

"Xi'er..." Jiuwei ingin bicara, namun tidak tahu harus berkata apa. Melihat orang di bawah pohon plum itu, akhirnya ia hanya berjalan mendekat, menyampirkan jubah salju di tangannya ke bahu Xiyun, lalu berdiri berdampingan dengannya, memandang pohon plum merah yang sama.

Sejak memasuki ibu kota, Raja Feng pada hari kedua langsung pindah ke Taman Fang untuk "beristirahat karena sakit", hanya karena "tubuhnya yang lemah" sehingga tidak bisa kembali ke istana. Sementara Raja Xi "sibuk siang malam", sibuk menata urusan pemerintahan dan menghibur rakyat ibu kota yang selamat dari bencana, hingga tidak punya waktu untuk menjenguk Raja Feng yang sedang sakit. Jika dihitung, keduanya sudah hampir sebulan tidak bertemu.

"Orang bilang bunga plum merah seperti api, tapi apakah kau tidak merasa bunga plum merah ini lebih seperti bunga darah?" Xiyun mengangkat tangan seolah ingin menyentuh bunga di ujung dahan, namun di tengah jalan ia menariknya kembali dengan sia-sia.

"Xi'er, kau masih menyalahkan diri sendiri?" Jiuwei menoleh, menatap Xiyun, lalu mengangkat tangan untuk menyapu salju yang jatuh di pelipisnya.

"Jiurong dan Linji sudah sampai di rumah, kan?" Tatapan Xiyun beralih dari bunga plum, memandang jauh ke hamparan cakrawala.

"Xi'er, itu bukan salahmu." Tangan Jiuwei mendarat lembut di bahu Xiyun, "Tragedi Gunung Luoying bukanlah salahmu, juga bukan salah Linji dan yang lainnya. Hanya karena... mereka... terlalu cemas menyelamatkanmu!"

"Sebagai seorang raja, harus bertanggung jawab atas segalanya." Sudut bibir Xiyun terangkat, menampilkan senyum tipis yang samar, "Entah itu jasa atau kesalahan, tidak ada yang boleh dihindari!"

"Xi'er..." Tangan Jiuwei di bahu Xiyun sedikit menekan, "Jika benar-benar ingin mencari penyebabnya, maka itu juga..." Sampai di sini, kata-kata Jiuwei tertelan kembali.

"Apakah harus menyalahkan Raja Xi?" Xiyun menoleh menatapnya, senyumnya tidak tampak seperti senyum, sedihnya tidak tampak seperti sedih.

"Aku tidak berhak mengambil kesimpulan, hanya saja... Xi'er..." Jiuwei mendekap bahu Xiyun, keduanya saling berhadapan, tatapan mata saling bertemu. Mata Jiuwei yang penuh energi kini memancarkan cahaya tajam, "Kalian sudah sampai di titik ini, apakah kau masih akan terus berjalan dengannya? Mengapa... mengapa kau bersikeras tidak mau mengambil jalan lain?"

"Jiuwei..." Xiyun menghela napas pelan.

Jiuwei menatapnya lekat, seolah ingin menanamkan keyakinan di matanya ke dalam hati Xiyun, tetapi Xiyun hanya menunduk diam. Sesaat kemudian, Jiuwei tertawa mencela diri sendiri dan melepaskan tangannya.

Saat itu, di lereng bukit plum terjadi keheningan total, hanya terdengar suara angin dingin yang menari membawa kepingan salju dan merontokkan kelopak bunga plum. Keduanya berdiri diam, satu menatap kejauhan, satu menatap langit, salju memantulkan cahaya awan, jernih dan bersih.

"Jiuwei, kau sangat ingin mewujudkan keinginanmu, ya?"

Lama sekali kemudian, terdengar suara Xiyun yang agak rendah.

"Tentu saja." Jiuwei memejamkan mata, seolah tersengat oleh cahaya salju yang menyilaukan, "Kami telah menantinya selama lebih dari tiga ratus tahun... tiga ratus tahun... dari generasi ke generasi... itu bukan lagi sekadar keinginan, di dalamnya terkandung terlalu banyak hal..."

"Aku mengerti." Xiyun menatap Jiuwei dengan lembut, tidak melewatkan rasa sakit mendalam yang melintas di wajahnya.

"Kau mengerti, tapi kau tidak mau melakukannya!" Jiuwei membuka mata, tatapannya tajam dan cerah, terselip sedikit teguran.

Xiyun mendengar itu, memegang keningnya dan menghela napas panjang.

"Xi'er, aku..." Jiuwei merasa menyesal.

Desahan itu panjang dan pelan, seolah ada begitu banyak beban berat yang mengalir keluar bersamanya, hingga siapa pun yang mendengar akan merasa iba.

Xiyun melambaikan tangan pelan, menatap Jiuwei dengan pandangan tenang dan lembut.

"Raja Xi memperlakukanku seperti ini, mungkin semua orang berpikir aku harus memusuhinya. Dengan kekuatan Kerajaan Feng dan seratus ribu Pasukan Feng Yun, jika aku bergabung dalam perebutan dunia ini, siapa yang menang belum tentu tahu, mungkin aku benar-benar bisa menjadi kaisar wanita yang tiada duanya! Hanya saja... pemandangan seperti itu, berapa banyak darah dan nyawa yang harus dikorbankan? Mahkota kaisar wanita itu, berapa banyak keluarga yang hancur, berapa banyak istri dan anak yang terpisah, berapa banyak tangisan hati yang hancur yang meleleh di dalamnya? Hal seperti ini, aku tidak mau!"

Xiyun berbalik, menatap lurus ke depan, matanya terang dan teguh.

"Perang selalu membawa penderitaan dan kesedihan bagi rakyat. Aliansiku dengan Raja Xi sudah bisa menjamin rakyat dari kedua kerajaan terhindar dari penderitaan perang. Jika demi dendam pribadi aku mencabut pedang untuk saling berhadapan... maka aku, Feng Xiyun, tidak pantas menjadi Raja Kerajaan Feng! Menjadi seorang raja bukanlah demi ambisi kekuasaan pribadi, melainkan mengusahakan ketenteraman bagi seluruh rakyat. Hanya itulah yang pantas disebut sebagai raja!"

"Jiuwei, aku juga punya keinginan."

Suara Xiyun sangat pelan dan tipis, seolah tertiup angin akan hilang, hingga Jiuwei tanpa sadar memusatkan perhatian penuh. Namun pada saat itu, ia tidak bisa melihat ekspresi Xiyun. Wajah yang tenang itu seolah tertutup kabut tipis, wajah di balik kabut itu tampak samar dan halus.

"Meskipun bukan keinginanku, namun karena terlahir di keluarga raja, karena sudah menjadi raja, maka harus menanggung tanggung jawab yang seharusnya dimiliki seorang raja!" Xiyun mengangkat tangan kanannya sedikit, jari-jarinya menekuk pelan seolah memegang sesuatu yang tak terlihat di telapak tangannya, "Jadi... ada beberapa hal yang meskipun tidak disukai, harus tetap diletakkan di posisinya, ada beberapa hal yang meskipun sangat dihargai, harus direlakan!"

"Xi'er..." Jiuwei menghela napas, menatapnya dengan rasa hormat dan iba, "Dibandingkan denganmu, aku justru terlalu egois dan sempit."

"Kau juga hanya sedang menjalankan tanggung jawabmu." Xiyun menggeleng, tatapannya beralih dari lereng bukit ke depan, di mana terhampar hamparan salju yang luas, "Hati manusia selalu berubah-ubah. Saat ini aku begitu yakin akan tanggung jawabku, namun... seiring berjalannya waktu, seperti bumi yang tertutup salju putih ini, mungkin aku juga akan kehilangan arah asalku. Dan saat itu tiba... perang adalah yang paling kejam. Di tengah darah dan api, akan ada banyak hal yang hilang!"

"Selama sebulan ini kau bersembunyi di istana peristirahatan dan tidak mencampuri urusan ibu kota, apakah ini juga bagian dari 'kerelaan'-mu?"

"Di sini begitu tenang dan sunyi, lagi pula ada bunga plum yang begitu indah. Apakah Jiuwei tidak menyukainya?" tanya Xiyun datar.

"Hmm, aku menyukainya." Jiuwei hanya bisa menjawab demikian.

"Heh..." Xiyun tertawa pelan, matanya tertuju pada kelopak bunga yang merah merona, menatapnya dengan linglung.

Lama kemudian, ia tiba-tiba berkata: "Lihatlah bunga plum ini, merah merona, bukankah terlihat penuh sukacita?"

"Hmm?" Jiuwei menatapnya dengan bingung, tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba mengatakan hal itu.

"Bunga plum ini mekar dalam semalam, jangan-jangan ini pertanda kabar gembira." Xiyun mengulurkan jari untuk memainkan salju di antara putik bunga plum, lalu melihatnya mencair di telapak tangannya.

"Kabar gembira?" tanya Jiuwei balik, namun sesaat kemudian seolah teringat sesuatu, ia tertegun.

"Nona Feng memiliki bakat dan kecantikan yang luar biasa, ditambah perasaan yang dalam. Bisa menikah dengan orang seperti itu juga merupakan sebuah keberuntungan, bukan?" Xiyun menekuk jarinya, memetik setangkai plum merah. Dengan putaran pergelangan tangan, kelopak bunga berguguran seperti hujan merah ke atas salju.

"Kau setuju?" Jiuwei menatapnya lekat.

"Keluarga Feng sejak Kaisar Pertama, Kaisar Cheng, Kaisar Guan, Kaisar Yan, Kaisar Zhi, Kaisar Yi, Kaisar Qi, hingga Kaisar Zhao, delapan generasi semuanya menikahi wanita keluarga Feng sebagai permaisuri. Oleh karena itu, keluarga Feng menciptakan legenda 'Permaisuri Feng'. Di mata orang-orang Dinasti Dong, wanita keluarga Feng sama dengan permaisuri, maka suami dari wanita keluarga Feng sudah selayaknya adalah kaisar. Saat ini, meskipun ia memenangkan hati rakyat dengan tindakan bijak, namun Dinasti Dong telah memerintah selama tiga ratus tahun lebih. Ada hal-hal yang sudah mengakar kuat di hati rakyat yang tidak mudah digulingkan. Namun, jika ia bisa mengambil wanita keluarga Feng, maka itu bisa memberikan pengaruh yang halus!"

Xiyun menatap dahan plum gundul di tangannya, pandangannya sedikit kabur, namun suaranya tetap tenang dan jernih.

"Lebih dari itu, keluarga Feng tidak hanya melahirkan permaisuri, tetapi juga pernah melahirkan tiga perdana menteri, empat jenderal, enam sejarawan, dan sebelas gubernur. Bisa dikatakan keluarga dengan pejabat terbanyak. Di Dinasti Dong, selain keluarga kekaisaran dan tujuh keluarga raja kami, mereka adalah keluarga terbesar dan paling terhormat. Sampai masa Kaisar Jia, kaisar yang setelah kematiannya disebut oleh sejarawan dengan kata-kata tajam sebagai kaisar yang dungu, ia memecahkan legenda 'Permaisuri Feng' dan menjadi satu-satunya kaisar dalam sejarah yang menikahi rakyat biasa sebagai permaisuri."

"Sejak saat itu, keluarga Feng yang selalu diselimuti cahaya mahkota permaisuri mulai tergelincir dari puncak tertinggi Dinasti Dong, dan Kekaisaran Dong yang kuat juga mulai merosot. Namun, tidak peduli seberapa jauh keluarga Feng merosot, di hati orang-orang, marga Feng adalah simbol keagungan dan perlambang keluarga permaisuri. Di mata para tetua dan bangsawan yang kolot dan percaya takhayul, mungkin mereka masih merasa bahwa karena Kaisar Jia tidak menikahi wanita keluarga Feng, keberuntungan negara pun merosot! Jadi sekarang, tiba-tiba muncul seorang Raja yang bijak, dan ia adalah raja yang menikahi wanita keluarga Feng, menurutmu apa yang akan mereka pikirkan?"

"Xi'er, kau—setuju?"

Jiuwei tidak peduli dengan legenda keluarga Feng. Ia meraih tangan Xiyun yang memegang dahan plum, menatapnya lekat, namun tidak bisa melihat emosi apa pun dari wajah yang tenang itu.

"Hal yang sekali dayung dua tiga pulau terlampaui seperti ini, bagaimana mungkin ia melewatkannya." Xiyun membuang dahan plum di tangannya, menepuk-nepuk tangan seolah menepuk sesuatu yang tersangkut di telapak tangannya, "Dan pernikahan ini menguntungkan bagi pihak mana pun, bagaimana mungkin tidak terwujud!"

Jiuwei terdiam.

Lereng salju seketika kembali hening. Angin dingin bertiup, kelopak bunga plum bercampur butiran salju melayang-layang di udara, jatuh jauh di kejauhan.

Jiuwei diam-diam menatap Xiyun. Secercah rasa sedih dan penyesalan yang melintas di matanya yang jernih tampak begitu jelas. Ia mengangkat tangan untuk menyapu kelopak bunga dan salju yang jatuh di bahunya, lalu dengan lembut mendekapnya: "Xi'er, apakah benar-benar menyerah? Kau dan dia..." Jari-jarinya dengan lembut menyisir rambut tebalnya, menyandarkan kepala Xiyun di bahunya, "Xi'er..." Ingin mengatakan sesuatu, namun tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya hanya bisa memeluknya lebih erat, menyampaikan kepedulian tanpa kata.

"Jiuwei, kau tidak perlu khawatir." Xiyun bersandar di pelukannya, wajahnya memunculkan senyum tipis, setipis kepingan salju yang jatuh, "Aku, Feng Xiyun, adalah keturunan Raja Feng. Di dalam darah wanita keluarga Feng kami..." Pandangannya menatap langit biru, biru yang begitu jernih, terpantul cahaya salju hingga tampak menyilaukan. Ia menundukkan kelopak mata, menyandarkan kepala di bahu, menghela napas panjang, dan tidak lagi bicara.

Jiuwei memeluknya lebih erat tanpa kata.

Pada saat ini, keduanya saling menyandar, tanpa jarak, tanpa ambiguitas. Di tengah dinginnya salju ini, mereka saling memberikan kehangatan!

Menjelang akhir bulan dua belas, Raja Feng yang telah "sembuh dari sakitnya" kembali ke ibu kota.

"Melihat keadaan saat ini, mau tidak mau aku harus merasa hormat padanya!"

Karena tidak ingin mengganggu rakyat, Xiyun hanya menaiki kereta kuda biasa untuk memasuki kota secara diam-diam. Di dalam kereta, Jiuwei membuka sedikit tirai, menatap ibu kota di kedua sisi jalan dan menghela napas pelan.

Saat memasuki kota hari itu, daging dan darah berserakan, segalanya berantakan, dan hati rakyat dipenuhi ketakutan. Namun kini, hanya dalam waktu sebulan, semuanya telah berubah total. Jalanan rapi dan bersih, bangunan diperbaiki dengan baik, spanduk kedai di pinggir jalan berkibar, papan nama tampak cerah, toko-toko semua buka, teriakan penjual dan tawaran pelanggan terdengar di telinga. Wajah setiap orang memancarkan ketenangan, tidak lagi tampak ketakutan seperti saat kota itu runtuh.

"Aku tidak pernah meragukan kemampuan tata kelolanya." Xiyun melirik pemandangan di luar kereta dan berkata datar.

"Jadi, kau bisa merelakannya dengan tenang?" Jiuwei menoleh menatapnya.

Xiyun diam, jari-jarinya menjepit gelang giok di pergelangan tangan, memutarnya perlahan. Matanya sebening cermin, memancarkan cahaya.

"Tahun akan berakhir, tahun yang baru akan segera dimulai!" Suaranya dingin dan tegas, terdengar seperti dentang emas.

Jiuwei menatapnya dengan keraguan, namun tidak lagi bertanya. Ia duduk diam di sampingnya, kereta kuda melaju menuju istana.

Akhir tahun lagi. Di dalam ibu kota, suasana meriah dan ramai. Setiap rumah menggantung lentera, menempelkan bait musim semi, mengenakan pakaian baru, menyiapkan minuman lezat, memanggang kue merah, dan menyalakan petasan. Seluruh keluarga berkumpul untuk merayakan hari terakhir tahun ini.

Dibandingkan dengan kemeriahan rakyat, istana yang luas justru tampak agak dingin. Meskipun pelayan istana telah menggantung lentera istana dan pita warna-warni sesuai musim untuk menghias seluruh istana agar tampak meriah dan megah, namun dua tuan di istana saat ini—satu sibuk siang malam di aula emas dan ruang belajar timur untuk mengurus urusan negara, satu lagi sejak memasuki istana langsung berdiam diri di Istana Fengying untuk memulihkan diri dan tidak pernah keluar istana—tampak seolah melupakan hari apa hari ini. Jadi, meski para pelayan menerima hadiah lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, mereka tidak merasa lebih bahagia.

Matahari musim dingin terasa hangat, membuat orang merasa malas, anggota tubuh terasa lemas dan mengantuk.

Ren Chuanyu berjalan sepanjang jalan, sesekali mengangguk dan tersenyum kepada pelayan yang berpapasan dengannya, sesekali menatap lentera istana dan pita yang tergantung di taman, serta pohon plum musim dingin yang dipangkas dengan indah... Tahun baru ya? Orang biasa pasti sangat menantikan hari ini, bukan? Hari yang penuh reuni dan sukacita, tetapi orang-orang seperti mereka sepertinya sudah lupa. Dulu di Fengdu, meski istana mengadakan pesta besar, namun Raja... Tuan Lan Xi yang memiliki etika sempurna, tidak pernah menghadiri pesta reuni apa pun di istana Kerajaan Feng!

Setelah pelayan melapor di depan ruang belajar timur, ia membuka pintu dan memintanya masuk.

"Chuanyu menghadap Raja."

"Bangunlah."

Lan Xi menutup dokumen di tangannya, menghela napas lega. Dokumen di meja menumpuk tinggi, namun akhirnya semua selesai diperiksa. Ia mengangkat mata menatap orang yang berdiri di depannya: "Urusan ibu kota sudah hampir selesai, bagaimana persiapan di pihakmu?"

"Kapan saja bisa." Ren Chuanyu menjawab dengan sangat hormat.

"Hmm." Lan Xi mengangguk puas, "Beri tahu mereka, jam dua siang di Istana Dingtao."

"Baik."

"Turunlah."

"Hamba mohon pamit." Ren Chuanyu membungkuk dan mundur. Namun baru berjalan beberapa langkah, ia tiba-tiba berbalik, menatap Raja yang duduk di kursi atas, dan berkata dengan agak ragu, "Raja..."

"Ada apa lagi?"

"Hari ini... adalah tahun baru." Nada bicara Ren Chuanyu berusaha sedatar mungkin.

"Hmm?" Tatapan Lan Xi tiba-tiba menyapu.

"Tahun baru adalah hari raya yang paling dinanti oleh rakyat. Rakyat ibu kota semua menantikan untuk menyambut tahun baru bersama Raja." Ren Chuanyu mengingatkan dengan penuh arti.

"Benarkah?" Lan Xi tentu mengerti maksud Ren Chuanyu. Setelah terdiam lama, ia berkata, "Feng Wei selalu mengeluh bosan, biarkan dia menyiapkan pesta perayaan di istana. Adapun rakyat... pada tengah malam, aku dan Raja Feng akan naik ke menara gerbang kota untuk merayakannya bersama rakyat!"

"Baik!" Ren Chuanyu menjawab. Urusan tahun baru seperti ini bagi rakyat biasa mungkin sangat penting, tetapi baginya, ini hanyalah kesempatan bagi rajanya untuk menunjukkan sikap "dekat dengan rakyat". Hanya saja... hatinya juga merasa sedikit bersemangat, bagaimanapun ini adalah pertama kalinya sejak mengikuti Raja, sang Raja merayakan tahun baru bersama orang lain!

Setelah Ren Chuanyu mundur, Lan Xi yang berada di ruang belajar menatap bekas tinta merah pada dokumen dengan linglung.

"Tahun baru ya?"

Gumamannya terdengar lemah dan rapuh. Begitu ia mendorong jendela yang berukir, yang terlihat adalah warna merah yang menyilaukan mata. Seketika itu juga, tanpa peringatan, sutra merah berubah menjadi danau darah yang datang menutupi seluruh istana. Sepatu sutra putih menginjak karpet merah darah, seketika berubah menjadi sepatu darah. Ia merangkak dengan tertatih-tatih, mengulurkan tangan ingin meraih gaun berwarna hijau yang mengapung di genangan darah, namun hanya mendapatkan tangan yang penuh darah, yang mengalir perlahan dari sela-sela jarinya, kembali ke genangan darah... Wajah yang pucat pasi tanpa kehidupan, rambut hitam panjang yang menyebar ke seluruh tubuh seperti rumput laut, sosok hijau itu tenggelam dan timbul di danau darah, jauh dan dekat...

"Brak!" Tanpa sadar, tangannya dengan cepat menutup jendela. Ia melangkah dengan langkah yang agak tidak stabil, namun akhirnya kembali ke depan kursi. Pada saat itu, ia seperti orang yang sudah lama menyelam dan akhirnya tiba di tepi pantai, bernapas terengah-engah, jatuh terduduk di kursi karena lemas. Ia mengangkat tangan menutupi matanya rapat-rapat, seolah ingin menghalangi warna darah yang seperti pasang surut air laut, ingin menekan getaran di seluruh tubuhnya. Namun, gelombang darah itu terus datang tak henti-hentinya, semakin menumpuk semakin pekat, berlapis-lapis, akhirnya mengental menjadi warna hitam yang dalam dan tak berdasar!

"Ibu Suri..." Gumaman itu sangat kecil dan rapuh, sedikit saja ditarik, suaranya akan putus.

Meskipun istana memiliki banyak bangunan, jika dilihat dari menara tertinggi di pusat istana, Menara Bahuang, yang terlihat adalah delapan istana: Qilong, Diuyan, Jinghai, Jitian, Xieyi, Jinsheng, Fengying, dan Youyue. Kedelapan istana itu disusun mengikuti delapan sudut Menara Bahuang, dan semua bangunan, aula, paviliun, koridor, dan taman lainnya mengelilingi kedelapan istana tersebut sebagai pusatnya, lalu mengelilingi Menara Bahuang. Istana kekaisaran tampak seperti matahari bulat yang megah.

Delapan istana besar itu pada tahun-tahun awal Dinasti Dong adalah tempat tinggal Kaisar Pertama dan tujuh jenderal besar. Saat itu, kedelapan orang tersebut memiliki hubungan persaudaraan yang sangat erat. Sang Kaisar berkata: "Dunia saja bisa kita bagi bersama, apalagi sekadar istana!" Di dalam istana, selain kaisar, permaisuri, selir, pelayan, dan pengawal, ternyata tinggal orang lain. Ini bisa dikatakan belum pernah terjadi dalam sejarah, tetapi kedelapan orang itu memang pernah tinggal bersama di istana ini. Hanya saja kemudian ketujuh jenderal menikah satu demi satu, lalu pindah dari istana untuk mendirikan kediaman di ibu kota, bahkan kemudian mendirikan kerajaan sendiri. Kedelapan orang itu pun berpisah ke ujung dunia.

Persahabatan dan pencapaian kedelapan orang itu adalah legenda yang lebih besar dari sekadar mitos, yang tidak bisa dilampaui oleh siapa pun. Meskipun hari ini Kekaisaran Dong sudah berubah total, kedelapan orang itu tetap tak tersentuh bagaikan dewa. Dan kedelapan istana ini, yang berdiri sendiri namun dihubungkan oleh koridor panjang, adalah bukti dari tindakan "berbagi dunia" saat itu!

Hanya saja... apakah persahabatan seperti itu benar-benar bisa bertahan selamanya? Mengapa kedelapan orang yang dulunya bersaudara itu akhirnya berpisah? Kaisar Pertama yang membagi dunia yang berada di bawah kakinya kepada orang lain, apa sebenarnya yang ia pikirkan di dalam hatinya? Apakah kekaisaran duniawi benar-benar bukan hal yang paling penting baginya? Lalu apa yang paling penting? Jika persahabatan kedelapan orang itu adalah yang paling penting, mengapa harus ada tindakan pembagian kerajaan dan perpisahan? Mengapa kedelapan orang itu tidak bisa tetap tinggal bersama di ibu kota...

Berjalan di koridor yang berliku-liku, melihat pagar koridor yang panjang dan berkelok-kelok tanpa ujung, Ren Chuanyu untuk pertama kalinya melamun. Di kedua sisi koridor ditanami berbagai pohon bunga. Di musim dingin yang paling banyak adalah bunga plum merah yang merah membara. Aroma bunga yang samar bercampur dengan angin musim dingin bertiup, dingin dan harum.

"Bukankah ini Tuan Jiuwei?"

Orang yang berpapasan dengannya membuat Ren Chuanyu secara refleks bersuara, sekaligus memasang senyum ramah di wajahnya. Tatapannya tenang namun menyimpan kewaspadaan. Ia tidak akan melupakan tatapan tajam dan menusuk tulang di Panggung Wulin hari itu.

"Ternyata Tuan Penasihat Ren." Jiuwei juga membalas dengan senyum ramah.

"Tuan menyiapkan hidangan apa lagi untuk Raja Feng?" Tatapan Ren Chuanyu melirik nampan di tangan Jiuwei, di mana terdapat sebuah cawan porselen yang tertutup rapat.

"Hari ini hari raya, tentu koki istana sudah menyiapkan makanan untuk Raja Feng. Jiuwei hanya memetik bunga plum putih yang baru mekar pagi ini untuk merendam secangkir 'Dingin Harum' agar Raja Feng bisa menyegarkan mulutnya," jawab Jiuwei dengan sopan dan beretika.

"Oh?" Ren Chuanyu menyipitkan mata dan tersenyum, mengucapkan kata demi kata perlahan, "Omong-omong, sejak Tuan merawat 'kebutuhan sehari-hari' Raja Feng, tubuh Raja Feng tidak hanya sehat, tetapi juga tampak berseri-seri. Ini sungguh jasa Tuan yang membuat Raja kami sangat terhibur dan membuat kami para menteri merasa sangat tenang!"

"Kau!" Wajah Jiuwei berubah saat mendengar itu, menatap orang di depannya yang tersenyum ramah dan tidak berbahaya, namun sepasang matanya menyembunyikan kelicikan ular dan kelicikan rubah! Orang ini... Jiuwei memasang wajah dingin dan menatap tajam orang di depannya.

"Di istana, selain kaisar, orang luar sulit untuk tinggal. Namun, Tuan bisa tinggal lama di Istana Changli, itu menunjukkan bahwa Raja Feng memandang Tuan dengan cara yang berbeda... sangat disayangi!" Kata-kata yang sangat ringan, namun menekan kuat pada beberapa kata terakhir. Wajahnya tetap tenang dan ramah, tatapannya menyapu dengan santai, namun saat mendarat, rasanya lebih berat dari seribu kati!

"..." Jiuwei diam membisu.

Keduanya berdiri dengan jarak tiga kaki. Di kejauhan ada pelayan yang sibuk, tetapi di sini suasananya sunyi seperti mencekik. Angin dingin bertiup, menerbangkan kelopak bunga dan ujung pakaian, namun tidak bisa menggoyahkan tatapan keduanya yang saling berhadapan.

"Selalu mendengar bahwa Tuan Penasihat Ren adalah orang yang cerdas dan hebat, hari ini akhirnya aku percaya."

Lama kemudian, Jiuwei tiba-tiba tertawa. Satu tangan memegang nampan, tangan lainnya menyapu rambut di pelipisnya. Matanya tampak terbuka namun tertutup. Pada saat itu, pesona terpancar, wajah biasa itu memiliki daya tarik yang memikat banyak orang.

"Di mana, Chuanyu bodoh, masih harus banyak belajar dari Tuan." Ren Chuanyu juga tersenyum dengan elegan.

"Tidak berani." Jiuwei menoleh ke luar koridor. Setangkai bunga plum musim dingin menjulur miring, bersandar di pagar koridor. Ia mengangkat tangan menyentuh dahan plum itu dengan santai dan elegan, "Hanya saja, Jiuwei sudah hidup beberapa tahun lebih lama, ada satu hal yang bisa aku beri tahu kepada Penasihat."

"Chuanyu mendengarkan dengan saksama." Ren mengangguk dan tersenyum, matanya menatap orang di depannya, hatinya juga merasa sedikit kagum karena bisa tetap tenang seperti itu.

"Siapa yang mahir menggunakan pisau akan mati oleh pisau, siapa yang mahir bersiasat akan mati oleh siasat!" Jiuwei mengucapkan kata demi kata dengan berat, tiba-tiba menoleh. Tatapannya seperti pedang yang keluar dari sarungnya, dingin, tajam, dan menusuk lawan.

Ren Chuanyu tersentak oleh tatapan itu. Baru saja akan bicara, ia tiba-tiba membelalakkan mata, tidak percaya menatap Jiuwei. Ia melihat tangan yang menjauh dari dahan plum, melihat untaian energi merah seperti benang yang melilit di sela-sela jarinya, dan dahan plum yang merah membara itu seketika layu!

"Kau..." Ren Chuanyu terkejut dan tergagap.

"Ada apa dengan Penasihat?"

Jiuwei tersenyum lembut, tertawa lembut. Tatapannya menyapu wajah Ren Chuanyu yang pucat karena kaget. Mata tajamnya lebih dingin, pergelangan tangannya diayunkan, untaian benang merah di sela jarinya bergerak, meliuk-liuk seperti lidah ular perlahan menuju Ren Chuanyu. Sementara Ren Chuanyu berdiri kaku dengan tangan dan kaki yang dingin, hanya bisa menonton benang merah itu mendekat sedikit demi sedikit tanpa bisa bergerak selangkah pun.

"Kau... kau adalah..."

Kata-kata baru keluar setengah, lehernya terasa sesak, napasnya tersendat, seketika suaranya hilang. Untaian benang merah itu melilit lehernya lapis demi lapis, perlahan mengencang. Ia mengulurkan tangan untuk meraih lehernya, namun tidak ada apa-apa yang tertangkap. Lingkaran benang merah itu semakin kencang. Wajahnya perlahan berubah merah, lalu dari merah menjadi putih, dari putih menjadi biru, dari biru menjadi ungu! Ia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, namun sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara. Tenggorokannya seperti dijepit oleh tang besi, dadanya terasa sakit, kepalanya berdengung, anggota tubuhnya perlahan melemah, segala sesuatu di sekitarnya menjadi kabur, lingkaran cahaya di depan matanya berkedip, perlahan menghilang, akhirnya berubah menjadi kegelapan total... Pada saat itu, seolah mendengar suara pintu kematian yang terbuka, angin dingin yang suram bertiup, dirinya tenggelam ke dalam jurang kegelapan yang tak berujung...

"Demi Jiurong, aku benci tidak bisa melemparkanmu ke neraka!" Suaranya halus namun jelas, setiap kata menusuk tulang seperti pedang es. "Tetapi Xi'er... demi Raja Feng, aku mengampunimu. Jika nanti kau berani menyakiti Xi'er lagi, aku pasti akan membuatmu lebih menderita daripada kematian!"

Lehernya tiba-tiba terasa longgar. "Hah!" Akhirnya bisa bernapas lagi! Sensasi di sekujur tubuh perlahan kembali, pemandangan di depan mata perlahan menjadi jernih. Koridor tetap elegan, bunga plum merah tetap harum, orang di depannya pun tetap tersenyum seperti angin. Ia mengangkat tangan menyentuh lehernya, tidak ada apa-apa, hanya kulit yang hangat... Apakah tadi semua hanya halusinasi?

"Kau..."

"Wah, sudah membuang banyak waktu, tidak boleh membuat Raja Feng menunggu lama. Lain hari kita mengobrol lagi dengan Penasihat, Jiuwei pamit dulu." Jiuwei menyibak rambut yang berantakan tertiup angin, dengan tenang melewati Ren Chuanyu.

"Kau... tunggu..." Ren Chuanyu berbalik ingin memanggilnya, namun pihak lain seolah tidak mendengar.

Punggung itu kurus dan tegak, pakaian hijau bersih, rambut panjang sepinggang, diikat longgar dengan pita. Angin bertiup, ujung pakaiannya berkibar dengan elegan, namun pada saat itu ia merasa sangat aneh. Orang itu dikelilingi oleh aura dingin yang mencekam.

"Kau... kau adalah anggota suku Jiuluo?!" teriaknya.

Namun punggung itu tetap berjalan tanpa terburu-buru, bahkan langkahnya tidak sedikit pun berantakan, perlahan menjauh dan menghilang di ujung koridor.

Koridor kosong, pelayan istana di luar koridor tampak seperti bunga, bunga plum merah sedang mekar, dan dirinya berdiri utuh di koridor. Apakah tadi semua benar-benar halusinasi? Tapi... ia mengangkat tangan menyentuh dadanya, detak jantung yang cepat adalah bukti ketakutan tadi. Pandangannya beralih, dan seketika terpaku. Setangkai bunga plum yang bersandar di pagar sudah layu dan menghitam!

"Plak!" Beban di bahunya membuatnya terkejut. Ia menoleh dan melihat He Qishu berdiri di sampingnya.

"Chuanyu, kenapa kau melamun di sini?" He Qishu menatap Ren Chuanyu dengan heran. Ekspresi melamun, bahkan bisa dikatakan ketakutan seperti ini, sangat jarang terjadi padanya.

"Qishu." Ren Chuanyu menghela napas lega, tubuhnya yang tegang seketika benar-benar rileks. Saat itu ia baru sadar bahwa telapak tangannya penuh dengan keringat.

"Wajahmu..." He Qishu menatapnya dengan curiga, alisnya mulai mengernyit karena kebiasaan. "Apakah terjadi sesuatu?"

"Tidak... tidak apa-apa, aku baru saja mau mencarimu."

"Mencari aku?"

"Hmm... perintah Raja..."

Keduanya berjalan bersama, melewati koridor, menembus taman, dan tenggelam dalam bangunan istana yang dalam.

Sekelompok pelayan istana lewat membawa lentera istana dan menggantungnya satu demi satu.

"Wah! Bunga plum ini mekar dengan baik, kenapa hanya dahan ini yang layu?" seorang pelayan berseru heran.

"Cepat petik saja! Hari-hari seperti ini bukan pertanda baik!"

Dahan layu yang bersandar di pagar koridor tampak sangat mencolok dengan latar belakang bunga merah di seluruh pohon di luar koridor. Angin dingin bertiup, beberapa kelopak plum layu jatuh berguguran.