Bagian Dua: Fengxi Hitam
Negeri Bai, Kota Ruan.
Di sebelah barat kota terdapat sebuah rumah megah, kediaman keluarga Han, salah satu keluarga terpandang di Negeri Bai. Meskipun keluarga Han dikenal sebagai keluarga pendekar, ketenaran mereka bukan semata-mata karena keahlian bela dirinya, melainkan karena dua obat rahasia mereka yang terkenal di dunia persilatan: Serbuk Istana Ungu untuk luka luar dan Pil Hati Buddha sebagai penawar racun. Para pendekar hidup di ujung pedang, setiap saat terancam cedera dan keracunan. Maka dua obat mujarab ini menjadi incaran setiap insan dunia persilatan, karena bisa menyelamatkan nyawa dalam sekedip mata. Namun, kedua obat itu adalah resep rahasia keluarga Han yang tak pernah diajarkan kepada orang luar, dan mendapatkannya pun bukan perkara mudah! Karena alasan itulah, semua orang menaruh hormat pada keluarga Han, siapa tahu suatu hari nasib mereka bergantung pada kemurahan hati keluarga Han.
Hari ini adalah ulang tahun ke-60 kepala keluarga Han, Han Xuanling. Di depan kediaman, kereta dan kuda berlalu-lalang, tamu-tamu memadati halaman. Di taman, seratus meja jamuan telah tersaji, suara tawa dan percakapan memenuhi udara, suasana begitu meriah. Para pendekar dari seluruh Negeri Bai, tokoh-tokoh terhormat Kota Ruan, semua datang memberi selamat.
“Wah, meriah sekali!”
Tiba-tiba, terdengar suara nyaring yang mengatasi semua kegaduhan di taman. Para tamu mencari sumber suara, dan mereka melihat seorang gadis berbaju putih duduk bersandar santai di atap rumah, pakaiannya melambai-lambai tertiup angin, wajahnya tersenyum ceria menatap semua orang di bawah.
“Kau lagi!” Kepala keluarga Han, Han Xuanling yang tengah duduk dengan wajah berseri-seri, tiba-tiba bangkit berdiri, menatap tajam gadis berbaju putih di atap.
“Benar, aku lagi.” Gadis berbaju putih itu menjawab dengan senyum manis, “Tuan Han, hari ini hari ulang tahun Anda yang ke-60. Saya juga mengucapkan selamat, semoga umur Anda sepanjang Laut Timur dan setinggi Gunung Selatan.”
“Tak usah! Asal kau tidak muncul lagi di keluarga Han, aku pasti bisa panjang umur!” Han Xuanling melangkah ke tengah taman, mendongak dan menunjuk gadis itu, “Bai Fengxi, kau sudah berkali-kali mengambil obat rahasia keluarga Han secara paksa. Hari ini adalah hari bahagia, aku tidak ingin ribut denganmu. Segeralah pergi, kalau tidak aku tak akan segan-segan!”
“Eh? Jadi dia yang bernama Bai Fengxi?”
“Ternyata Bai Fengxi yang namanya terkenal di seluruh negeri masih begitu muda!”
“Apa maksud Tuan Han mengatakan dia mengambil obat secara paksa?”
...
Begitu Han Xuanling menyebut nama gadis itu—Bai Fengxi—para tamu langsung bangkit dari duduknya dan mulai berbisik-bisik.
“Tuan Han, jangan marah seperti itu. Meskipun aku mengambil obatmu tanpa izin, semuanya aku gunakan untuk menolong orang. Bukankah itu juga membuat keluarga Han semakin terkenal dan menambah pahala? Seharusnya kau berterima kasih padaku,” Bai Fengxi masih tetap tersenyum santai.
“Kau... kau masih saja membela diri!” Han Xuanling membentak, ingin sekali memuntir leher gadis itu untuk melampiaskan amarahnya! Terbayang semua obat yang diambil Bai Fengxi, hatinya terasa pilu. Serbuk Istana Ungu dan Pil Hati Buddha adalah obat rahasia keluarga Han, orang-orang rela membayar mahal pun belum tentu bisa mendapatkannya, tapi Bai Fengxi bisa mengambilnya satu botol demi satu botol tanpa membayar sepeser pun. Bagaimana dia tidak marah dan sakit hati? Apalagi gadis itu sangat lihai, keluar masuk keluarga Han sesuka hati, dan teman-teman pendekar yang diundang pun semuanya kalah oleh Bai Fengxi!
“Siapa suruh kau menyimpan resep itu begitu rapat sehingga tak ada seorang pun yang tahu, dan selain di keluargamu, di tempat lain pun tidak ada Serbuk Istana Ungu maupun Pil Hati Buddha. Meskipun kau orangnya kurang menyenangkan, tapi obatmu sangat disukai. Setiap kali aku ambil pasti langsung habis, jadi aku terpaksa kembali lagi. Sayangnya harganya terlalu mahal, aku terlalu miskin, jadi setiap kali aku harus mengambil tanpa izin.” Bai Fengxi berkata santai sambil mengayunkan tangannya, lalu mencondongkan kepala dengan ekspresi seolah sedang berunding, tapi gerakannya membuat orang khawatir dia akan jatuh. “Bagaimana kalau kau tulis saja resepnya untukku, biar aku racik sendiri. Dengan begitu, kau tak perlu melihatku lagi.”
“Tak pernah kulihat orang sekeras kepala dan tak tahu malu sepertimu!” Han Xuanling membentak keras, “Bai Fengxi, aku peringatkan, cepat pergi! Dan jangan pernah muncul lagi di keluarga Han!”
“Tidak bisa.” Bai Fengxi malah berdiri di atas atap, lalu melompat ringan turun ke hadapan Han Xuanling, membuat Han Xuanling mundur beberapa langkah.
Bai Fengxi memandang Han Xuanling dengan senyum lebar, “Aku ke sini memang mau minta sedikit obat lagi. Tak disangka ternyata kau sedang mengadakan pesta besar. Aku sendiri sudah sehari semalam tak makan. Jadi aku putuskan sekalian mengucapkan selamat ulang tahun, lalu makan dulu, baru pergi.”
Selesai bicara, ia langsung berjalan menuju meja jamuan, sambil tersenyum dan mengangguk pada para tamu, seolah berjalan santai di taman rumah sendiri. Para tamu pun menyingkir, sebagian karena terpesona nama besarnya, sebagian lagi karena merasa tak enak menghalangi seorang gadis secantik itu.
“Usir dia sekarang juga!” Han Xuanling sudah begitu marah hingga wajahnya memerah lalu membiru.
Begitu perintahnya keluar, dua pengawal bertubuh besar segera melangkah maju, wajah mereka garang, langsung menuju Bai Fengxi yang baru saja duduk di sebuah meja.
Kedua pengawal mengulurkan tangan seperti elang menangkap anak ayam, hendak meringkus Bai Fengxi. Namun, dengan satu gerakan ringan lengan bajunya, kedua pengawal itu langsung terpelanting ke tanah tanpa bisa melawan.
“Wah, arak ini luar biasa! Ini pasti arak tua berumur seratus tahun!” seru Bai Fengxi, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menuang arak langsung ke mulutnya, lalu mengelap bibir dan menyanjung rasanya.
Kemudian ia mengambil kaki babi panggang, menggigit besar seolah-olah mulutnya bisa menampung potongan sebesar itu, sambil mengunyah dan mengangguk puas, “Hmm... kaki babi lima bumbu ini sungguh harum! Juru masaknya hebat!”
Melihat itu, para tamu dalam hati bertanya-tanya, bagaimana mungkin mulut sekecil itu menggigit sebesar itu? Apakah gadis santai ini benar-benar Bai Fengxi yang namanya menggema di seluruh negeri?
Sambil makan, Bai Fengxi bahkan mengajak para tamu, “Silakan, silakan makan dan minum! Ini pesta ulang tahun ke-60 Tuan Han, siapa tahu kapan ada kesempatan lagi!”
“Kau mengutuk ayahku, ya?” tiba-tiba suara anak muda terdengar, seorang bocah tiga belas atau empat belas tahun melompat maju dan menuding Bai Fengxi.
“Adek kecil, aku mengutuk ayahmu? Kapan?” Bai Fengxi membelalakkan mata, bingung, sambil mulutnya penuh makanan, tangan kanan memegang kaki babi, tangan kiri ayam panggang.
“Kenapa kau bilang ‘tak tahu ada kesempatan lagi’? Itu artinya kau mengutuk ayahku!” seru anak itu marah.
“Kau salah paham, Dek.” Bai Fengxi meletakkan makanan, membungkuk ke depan anak itu, “Aku tidak bermaksud mengutuk ayahmu tidak bisa ulang tahun lagi, hanya saja dengan sifat pelitnya, pasti ayahmu tak akan mau menggelar pesta semewah ini lagi.”
Setelah bicara, kedua tangannya yang berminyak menepuk kepala anak itu. Anak itu menghindar ke kiri dan kanan tapi tetap saja kepalanya terkena tepukan berminyak hingga dahi terasa lengket.
“Pu’er, mundurlah.” Han Xuanling melangkah maju, menarik anaknya dan melindunginya. Lalu menatap Bai Fengxi, “Bai Fengxi, dalam hal ilmu bela diri aku memang bukan tandinganmu dan sudah banyak obat rahasia keluarga Han yang kau ambil. Tapi hari ini, kau tidak akan bisa mengambilnya begitu mudah!”
“Oh?” Bai Fengxi mengedarkan pandangan ke para tamu, banyak di antara mereka pendekar ternama, “Tak salah, hari ini di rumahmu banyak ahli.”
Lalu ia menoleh pada Han Xuanling, berkata santai, “Tuan Han, aku punya seorang teman yang lukanya parah, butuh sebotol Serbuk Istana Ungu dan sebotol Pil Hati Buddha. Berikan saja padaku, toh keluarga Han punyanya banyak. Dengan begitu aku tak perlu bertindak, jadi suasana tetap menyenangkan.”
Nada bicaranya santai, seolah hanya meminta uang receh.
“Bai Fengxi, Tuan Han sudah sangat bersabar padamu. Pergilah sebelum semua pendekar di sini mengeroyokmu!” tiba-tiba seseorang memotong, tubuhnya pendek kecil, mata sipit berputar tajam.
“Aku juga ingin pergi, tapi Tuan Han harus memberiku obat dulu.” Bai Fengxi mengangkat tangan, seolah tak berdaya.
“Hm! Mau baik-baik tidak mau, malah memilih cara kasar! Tuan Han, biar aku Wei An yang mengajarinya!” Wei An melangkah maju, kedua tangannya membentuk cakar menyerang dada Bai Fengxi.
Wei An melihat Bai Fengxi masih muda, mengira namanya hanya besar karena cerita yang dibesar-besarkan, padahal kekuatannya mungkin tidak sehebat itu. Ia sendiri sudah menguasai jurus delapan bagian, yakin bisa menang, dan jika berhasil mengalahkan Bai Fengxi di sini, namanya akan melambung, juga bisa merebut hati Han Xuanling dan mungkin mendapat beberapa botol obat rahasia. Itu keuntungan ganda!
“Wah, ahli Cakar Elang! Hebat sekali!” Bai Fengxi berseru, namun wajahnya tetap santai. Tubuhnya berputar ringan, menghindari serangan dengan kecepatan luar biasa, kemudian dengan satu ayunan lengan baju kanan, ia menangkis pergelangan tangan Wei An. Wei An segera menarik tangan, lalu mengubah serangan ke bahu kiri Bai Fengxi, seluruh tenaga dikerahkan untuk jurus itu.
“Aku tak pernah bermusuhan denganmu, kenapa main keras begitu?” Bai Fengxi melihat kekuatan serangan itu, matanya menyipit. Namun bukannya menghindar, ia malah menyambut serangan. Cakar Wei An mendarat di bahu kiri Bai Fengxi, Wei An sempat senang, tapi tiba-tiba merasakan tangan itu seolah mencengkram kapas, tak berdaya. Seketika, tangan kanan Bai Fengxi menempel di tangan Wei An, dan—“Krak!”—tulang pergelangan tangan Wei An patah!
“Aaa!”
Wei An menjerit kesakitan, dan dalam sekejap Bai Fengxi menarik lengan bajunya, tubuhnya melesat mundur, sementara Wei An jatuh berlutut di tanah. Hanya dalam waktu singkat, Wei An kalah telak.
“Bai Fengxi, kau terlalu kejam!” Belum sempat kata itu hilang, sudah banyak orang mengelilingi Bai Fengxi, ada yang menghunus pedang, ada yang menebaskan tangan, semua menyerang Bai Fengxi. Ada yang membela Wei An, ada yang membela Han Xuanling, ada yang sekadar tak suka pada sikap arogan Bai Fengxi, dan ada pula yang hanya ingin ikut-ikutan. Ada juga yang ingin menguji, benarkah Bai Fengxi sehebat kabar burung.
Seketika, taman berubah jadi arena pertempuran; orang-orang berloncatan, meja dan kursi berhamburan, cahaya pedang berkilatan. Namun Bai Fengxi tetap tersenyum, dengan satu ayunan tangan kiri menampar wajah seseorang, tangan kanan menepuk bahu orang lain, kaki menendang seseorang hingga terpental keluar, kaki lainnya menciduk hingga ada yang jatuh tersungkur, sambil sesekali terdengar gelaknya yang renyah.
“Ah, tinjumu lambat sekali!”
“Bodoh! Coba serang dari kiri, siapa tahu aku kena!”
“Dungu! Apa aku bilang, kau malah benar-benar melakukannya!”
“Wah, kakak, kakimu bau sekali, jangan disodorin ke sini!”
“Waduh, bulu di lenganmu banyak amat, biar aku cabut ya!”
Di antara suara canda tawa, terdengar pula rintihan, suara piring pecah, taman pun berantakan. Namun Bai Fengxi melenggang di tengah kerumunan, bebas dan santai, sambil menampar, mencubit, bahkan mencabut bulu ketiak atau rambut orang-orang. Para pendekar Negeri Bai bagaikan monyet yang sedang digoda, tak satupun mampu keluar dari kendalinya.
“Cukup, tangan ini sudah bersih, aku tak mau main lagi!”
Begitu kata itu terucap, seutas kain putih melesat seperti naga menari, meliuk-lintuk, melilit orang-orang satu per satu, membuat mereka tersungkur ke tanah.
“Plak! Plak!”
Setelah semua orang terjatuh, Bai Fengxi menarik kain itu ke lengan bajunya, menepuk tangan santai, “Tuan Han, para pendekar yang kau undang tak lebih hebat dari lap pembersih tanganku.”
“Bai Fengxi, kau... kau...” Han Xuanling sampai tak bisa bicara, melihat para pendekar yang datang untuk merayakan ulang tahunnya kini tergeletak memar di tanah, sementara Bai Fengxi hanya ingin membersihkan tangan dari minyak di tubuh mereka. Bagaimana ia tidak marah?
“Tuan Han, jangan marah, aku tak memukul terlalu keras kok,” Bai Fengxi berkata santai, “Mereka saja yang main keroyokan. Mereka cuma luka ringan, istirahat tiga-lima hari juga sembuh.”
“Tak marah? Tak memukul terlalu keras?” Han Xuanling nyaris tak peduli lagi pada harga dirinya, “Ulang tahunku jadi berantakan, kau suruh aku tidak marah?! Tangan Wei An patah, itu belum cukup parah?!”
“Tuan Han, itu bukan salahku,” Bai Fengxi mengibaskan tangan, “Kau yang membuat aturan, siapa pun harus membayar seribu keping emas untuk obatmu. Aku miskin, mana punya emas? Kalau saja kau mau memberiku obat untuk menolong orang, aku tidak akan membikin keributan. Jadi, pada dasarnya, kau terlalu serakah dan pelit!”
“Sedangkan Wei An itu, huh!” Ia mendengus dingin, lalu menatap tajam pada Wei An yang masih meringis di pinggir, hingga Wei An langsung terdiam. “Di warung teh luar kota, hanya karena si kakek terlambat menuangkan teh untukmu, kau pukul hingga muntah darah! Memamerkan kekuatan bukan sifat pendekar sejati! Aku hanya membuatmu merasakan bagaimana rasanya tak berdaya!”
“Baik! Baik! Semuanya kau yang benar! Merampas obat orang benar! Merusak pesta orang benar! Melukai orang juga benar! Apa kau kira benar-benar di dunia ini tak ada yang bisa mengalahkan Bai Fengxi? Kau pikir dirimu tak terkalahkan?” Han Xuanling gemetar, darah mendidih, matanya berkilat. “Hari ini aku akan memanggil seseorang yang bisa mengalahkanmu!”
“Oh? Siapa? Siapa pendekar yang kau undang?” Bai Fengxi justru tertarik.
“Cepat, suruh pelayan memanggil Tuan Muda Fengxi dari belakang!” Han Xuanling memberi perintah, dan pelayan segera bergegas.
“Fengxi? Hei, Fengxi Hitam? Kau undang Fengxi Hitam untuk melawanku?” Bai Fengxi menatap Han Xuanling dengan tatapan aneh.
“Hm! Apa kau takut?” Han Xuanling menyangka Bai Fengxi gentar.
“Bukan begitu.” Bai Fengxi menggeleng, menatap Han Xuanling dengan sorot mata penuh belas kasihan, “Tuan Han, bagaimana kau bisa mengundang Fengxi Hitam?”
“Beberapa hari lalu, Tuan Muda Feng datang ke Kota Ruan, mengunjungi rumah kami. Tentu saja aku menyambut tamu agung seperti itu. Bai Fengxi, kalau berani, jangan lari!”
“Haha... mana mungkin aku lari,” Bai Fengxi tertawa terbahak-bahak, lalu menatap Han Xuanling, “Mengundang dewa itu mudah, mengusirnya yang sulit, Tuan Han, kau tahu itu?”
“Huh! Mengusirmu saja aku masih bisa!” Han Xuanling memandang Bai Fengxi dengan penuh benci.
“Aduh, bahkan membedakan siapa dewa wabah saja tak bisa, entah bagaimana kau bertahan sampai sekarang,” Bai Fengxi menggeleng, menghela napas.
Saat itu, dua pelayan muda berpakaian hijau masuk ke taman, berusia sekitar empat belas-lima belas tahun, bersih dan tampan, wajah keduanya identik, masing-masing membawa sebuah bungkusan.
Mereka memberi hormat di tengah taman.
“Tak perlu sungkan. Di mana Tuan Muda Fengxi?” tanya Han Xuanling.
Namun kedua pelayan itu tidak menoleh padanya, malah menghadap Bai Fengxi dan berkata serempak, “Tuan sedang membersihkan wajah dengan air ketiga, harap tunggu sebentar.”
Mereka lalu mengusir para pendekar dari tanah kosong di tengah taman, dengan cekatan mengatur mereka ke pinggir, menyingkirkan meja dan kursi, menata ruang kosong. Setelah itu, satu pelayan membawa kursi kayu merah, satu lagi menyiapkan meja teh. Mereka membersihkan kursi dan meja dengan sapu bulu, lalu meletakkan bantalan sutra di kursi, mengeluarkan cangkir batu giok dan teko zamrud, menuang teh panas, semuanya dilakukan dengan kecepatan luar biasa, selesai dalam sekejap.
Kemudian mereka menggelar karpet merah dari pintu taman sampai ke depan kursi, dan berdiri di kiri-kanan kursi.
Selama mereka menyiapkan semua itu, para pendekar, termasuk Han Xuanling, hanya bisa melongo. Bai Fengxi pun diam menatap, wajahnya menyimpan senyum misterius.
Beberapa saat berlalu, Fengxi Hitam juga belum muncul. Han Xuanling ingin bertanya, tapi melihat ekspresi para pelayan yang serius, ia pun mengurungkan niat.
“Ah, mengantuk...” Bai Fengxi menguap lebar, lalu tiba-tiba berseru, “Rubah hitam, kalau kau tak keluar sekarang juga, aku bakal menguliti kau hidup-hidup!”
“Perempuan, kau selalu saja kasar,” sebuah suara jernih, sejuk seperti angin, terdengar begitu merdu, tenang dan elegan.
Bersamaan dengan suara itu, seorang pemuda muncul di pintu taman. Rambutnya digelung dengan mahkota batu giok putih, ikat kepala bermata bulan hitam, jubah hitam longgar, pinggang berhiaskan sabuk permata putih, wajah tampan berseri dengan senyum tenang, melangkah ringan di atas karpet merah.
Semua pendekar terpesona; orang seperti ini seolah lahir dari istana permata, hanya orang seperti ini yang layak disebut Fengxi Hitam, salah satu dari Empat Tuan Muda Terbesar di dunia!
Tanpa sadar, mereka menoleh pada Bai Fengxi. Tapi melihat gadis berpakaian putih itu berdiri anggun, seperti bunga teratai tertiup angin, bebas dan santai, mereka pun sadar: Bai Fengxi, dengan gayanya sendiri, juga tak kalah istimewa.
Fengxi Hitam duduk di kursi empuk, pelayan kiri segera menyodorkan cangkir teh. Ia membuka tutup cangkir, meniup uap perlahan, mencicipi, lalu menggeleng, “Terlalu kental, Zhongli, lain kali kurangi tiga lembar teh.”
“Baik, Tuan Muda,” pelayan kanan, Zhongli, membungkuk hormat.
Fengxi menutup cangkir, pelayan kiri mengambilnya dan meletakkan kembali di meja.
Walau ada ratusan orang, taman itu hening, mereka semua terpaku pada sang tuan muda, terpukau oleh wibawanya yang lembut dan anggun.
Akhirnya Fengxi menatap para tamu, membuat hati mereka berdebar, seolah sorot matanya mampu menembus relung hati terdalam.
“Sudah lama kita tak bertemu, wanita,” sapa Fengxi dengan senyum, sorot matanya lembut.
Para tamu mengikuti arah pandangnya; ternyata Bai Fengxi sudah duduk di kursinya sendiri. Namun, dibandingkan sikap anggun Fengxi, penampilannya jauh berbeda: ia duduk miring, kaki terjulur ke kursi lain, rambut terurai hingga menyentuh lantai, mata tertutup seolah hendak tidur.
Mendengar panggilan Fengxi, ia membuka mata sedikit, menguap panjang, lalu merentangkan tangan, baru berkata, “Rubah hitam, setiap kali kau bikin ribet, aku bisa tidur sepuasnya. Sungguh buang-buang waktu!”
Gaya Bai Fengxi memang jauh dari elegan, tapi di mata orang-orang justru terlihat alami dan bebas, seolah ia memang terlahir seperti itu.
“Setahun tak bertemu, kau tetap tak berubah,” kata Fengxi dengan nada menyesal.
Mendengar itu, Bai Fengxi tiba-tiba duduk tegak, wajah malasnya hilang, dan dengan satu tendangan, kursi yang tadi dipakai menahan kaki meluncur deras ke arah Fengxi, namun ia masih sempat berkata, “Tolong, aku punya nama! Jangan panggil wanita ini, wanita itu. Kalau sampai ada yang mengira aku pasanganmu, itu sudah cukup sial! Apalagi kalau harus benar-benar terkait, itu bencana terbesar di dunia!”
Namun, Fengxi tetap santai. Dengan satu gerakan tangan, kursi yang meluncur deras itu berhenti di tangannya, lalu ia meletakkannya kembali tanpa suara.
Para tamu pun mengaguminya, dalam hati mengakui mereka tak akan bisa berbuat seperti itu.
“Aku hanya ingin mengingatkanmu, jangan sampai suatu hari kau lupa bahwa kau seorang wanita,” kata Fengxi tenang, lalu melirik, “Mau jadi wanitaku? Begini saja penampilanmu, mana bisa!”
“Tuan Muda Fengxi,” Han Xuanling maju selangkah, mengingatkan kedua orang yang sedang asyik berbincang itu bahwa ia tuan rumah di sini.
“Oh, Tuan Han, ada keperluan apa?” Fengxi menoleh, tetap tersenyum hangat, “Apa Tuan ingin aku berkenalan dengan para pendekar Negeri Bai?”
“Tuan Muda, soal yang saya bahas tempo hari...” Han Xuanling memberi kode.
“Oh, saya mengerti!” Fengxi berseru, “Tuan ingin aku menghajar Bai Fengxi, dan memintanya mengembalikan semua obat yang diambilnya, atau menggantinya dengan emas!”
“Haha...” Bai Fengxi tertawa, “Obatnya sudah aku pakai, soal emas, satu keping pun aku tak punya. Rencana Tuan Han gagal total.”
“Bagaimana ini, Tuan Han?” Fengxi menoleh, seolah bingung.
“Mudah saja, asal dia minta maaf di depan umum dan menyerahkan kedua tangannya, maka semua masalah selesai!” Han Xuanling menatap Bai Fengxi dengan dendam membara.
“Wah, kejam sekali!” Bai Fengxi mengangkat tangan, menatapnya sejenak, lalu tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan Fengxi, mengulurkan kedua tangan, “Rubah hitam, kau mau memotong tanganku?”
Fengxi memandang tangan itu lalu menghela napas panjang, “Betapa malangnya aku mengenal pembawa masalah sepertimu!”
Kemudian ia berdiri, memberi salam hormat dalam-dalam pada Han Xuanling.
“Jangan, jangan!” Han Xuanling membalas, bingung.
“Tuan Han, biar aku yang meminta maaf untuknya. Memang dia mengambil obat tanpa izin, tapi semua untuk menolong orang, bukan untuk kepentingan pribadi. Itu juga menambah pahala untuk keluarga Han. Bukankah sebaiknya Tuan Han memaafkan kelakuan anak muda ini?”
“Itu... dia...” Han Xuanling ragu, tak enak menolak Fengxi Hitam, tapi juga sulit memaafkan Bai Fengxi.
“Soal obat yang diambil, Tuan Han hitung saja berapa nilainya, biar aku yang ganti,” lanjut Fengxi.
Mendengar itu, Han Xuanling mulai tergoda. Dia memang bukan orang jahat, hanya sangat cinta harta, sehingga membuat aturan mahal untuk obatnya.
Melihat keterpikatannya, Fengxi menoleh ke para tamu lain, “Tadi dia memang kurang sopan pada para pendekar, tapi itu hanya candaan. Mohon semua berbesar hati, jangan diambil hati, aku juga meminta maaf untuknya.” Ia kembali memberi hormat.
Semua tamu buru-buru membalas hormat. Siapa yang tak bangga mendapat salam hormat dari pendekar nomer satu seperti Fengxi Hitam? Mereka pun segera memaafkan, dalam hati kagum pada kelapangan dada Fengxi.
Namun Bai Fengxi hanya berdiri di samping, senyum tipis di wajahnya seolah semua itu sudah biasa.
“Karena semua sudah memaafkan, aku mengundang semua pendekar minum arak bersama di Zui Xian Lou malam ini, bagaimana?” tawar Fengxi.
Para tamu pun bersorak gembira.
Seorang pria bertubuh besar melangkah maju, membungkuk pada Fengxi, “Kami memang bukan siapa-siapa, tapi hari ini bisa bertemu ‘Bai Fengxi dan Fengxi Hitam’ adalah keberuntungan besar. Jika Tuan sudi, biar saya, Zhan Zhiming, yang jadi tuan rumah dan mentraktir semua pendekar malam ini!”
“Bagus!” semua orang serempak berseru, “Tuan Muda, mohon terima undangan kami!”
“Baik, aku terima,” jawab Fengxi sambil tersenyum. Matanya sempat bertemu dengan Bai Fengxi, bertukar pandang, seolah ada rahasia di antara mereka.
Bai Fengxi berputar, menuding dua pelayan tadi, “Obatnya di tubuhmu atau di tubuhnya?”
Kedua pelayan menoleh pada Fengxi, dan Fengxi berkata, “Zhongyuan, berikan padanya.”
Pelayan kiri, Zhongyuan, mengeluarkan kotak kayu merah dari bungkusannya dan menyerahkannya pada Bai Fengxi.
Bai Fengxi membuka kotak itu, seisi taman terpesona oleh kilau permata di dalamnya: mutiara sebesar ibu jari, pohon willow emas, ukiran batu akik, telapak Buddha dari karang merah, kristal hijau sebesar telapak tangan—semuanya barang mewah.
Namun sebelum para tamu puas memandang, Bai Fengxi sudah menutup kotaknya, lalu berjalan ke Han Xuanling, “Tuan Han, harta di kotak ini nilainya tak kurang dari seratus ribu emas, cukup untuk menebus semua obat yang pernah kuambil. Bagaimana, beri aku lagi sebotol Serbuk Istana Ungu dan Pil Hati Buddha?”
“Ini... semua untukku?” Han Xuanling melongo, menatap kotak, menatap Bai Fengxi, lalu menatap Fengxi, masih ragu. Ia memang kaya, tapi menerima harta sebanyak ini sekaligus tetap saja membuatnya terkejut.
“Anggap saja aku membayar hutangnya, dan mohon Tuan Han tambahkan dua botol obat lagi,” ujar Fengxi.
“Tentu... tentu saja bisa!” Han Xuanling mengangguk berulang kali, dan buru-buru menerima kotak dari tangan Bai Fengxi, tangannya sedikit gemetar.
“Kalau begitu, aku ambil obatnya dulu.” Bai Fengxi tersenyum, tubuhnya melesat, dan sekejap menghilang dari taman.
“Ya,” Han Xuanling mengangguk pelan, lalu seolah baru sadar, melompat sambil berteriak, “Tunggu! Bai Fengxi, tunggu! Aduh... obatku... akan habis lagi!”
Han Xuanling pun berlari mengejar Bai Fengxi, suaranya masih terdengar jauh, penuh rasa pilu.