Bab Dua Puluh Delapan: Penerimaan
"Lihat, ini judulnya: Orang Tiongkok Menjatuhkan Tim Bertahan Tangguh. Lihat, bukankah ini fotomu saat kemarin kamu memblokir si Monyet Besar itu?" Lin Yu menunjuk ke foto sambil tertawa riang. "Dan ini lagi, ini fotomu saat kau menabrak si Pria Jahat itu!"
"Kalau mau menyebutkan julukan, pilih waktu saat tidak ada orang Tiongkok di sekitar, ya. Kalau ada yang marah, aku nggak mau tanggung jawab!" Xudu melirik sekilas pada Lin Yu. Gadis kecil ini benar-benar polos dan tak tahu bahaya.
Meski media membesar-besarkan semuanya, Xudu tahu betul dirinya masih sangat kurang dasar. Kalau saja ia langsung bermain sejak awal, bisa dipastikan para pemain Detroit sudah mempelajari gaya mainnya. Saat itu, tinggal satu orang terus menempelnya, ia pasti langsung mandek. Ia tak pandai menggiring bola, tak bisa bekerja sama dengan rekan setim, dan juga belum menguasai teknik pick and roll—benar-benar memusingkan.
Untungnya, Xudu sadar bahwa semua teknik butuh dasar yang kuat. Jika dasarnya bagus, ia bisa mengembangkan teknik lain.
Bus tim segera tiba di jalur khusus staf. Xudu membawa Lin Yu masuk ke arena basket, membuat para wartawan di luar menunggu sia-sia. Dalam bayangan mereka, tokoh misterius seperti Xudu pasti datang dengan mobil bagus, atau minimal naik taksi—mana mungkin pemain NBA mau duduk di bus tim?
Sayangnya, hari itu mereka bertemu dengan seseorang yang memang lebih suka naik bus tim. Soalnya, kalau naik taksi, ia tak tahu harus bilang ke mana, takut supir taksinya menipunya.
Setelah berganti pakaian, Xudu melirik jam. Belum juga pukul delapan. Ia pemanasan sebentar, lalu kembali ke pojoknya untuk berlatih menggiring bola. Saat pemain lain dari tim 76ers datang, mereka sudah mendengar suara bola memantul dari ruang latihan. Begitu masuk, mereka melihat Xudu sudah berlatih. Mereka baru sadar, setiap latihan, Xudu pasti yang paling awal datang, tapi juga paling dulu pulang. Orang ini seperti seorang pengembara, hanya saja kini si pengembara selalu diikuti oleh seorang ekor kecil.
Ekor kecil itu tentu Lin Yu. Ia duduk di bangku, kedua kakinya mengayun-ayun, menonton Xudu berlatih. Melihat Xudu mulai latihan, yang lain pun perlahan memulai pemanasan.
"Hai, Xu, apa kabar!" Saat Xudu sedang asyik latihan, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
Xudu mengenal orang itu—ia pemain tim 76ers. Sesuai yang diajarkan Lin Yu, ia harus memanggilnya Miller. Tapi nama depannya apa, ia lupa. Namun, ia bisa mengerti maksud perkataannya.
"Halo... ha... hallo!" Xudu berpikir sebentar bagaimana mengucapkan salam, akhirnya terbata-bata menjawab.
"Tadi malam kamu benar-benar hebat. Kami semua tidak tahu kamu punya jurus seperti itu!" Miller memandang Xudu dengan gembira. Andre Miller memang orang yang baik. Banyak yang bilang ia seperti planet di liga NBA: memang bukan bintang utama yang bersinar sendiri, tapi bisa bertahan lama di antara bintang-bintang.
Tubuhnya kuat, kemampuan lompatnya sedang, kecepatannya cukup, dan tak terlalu suka berebut jadi pemimpin. Itulah kenapa ia disukai banyak orang, terutama di tim 76ers.
Andre adalah pilihan kedelapan di putaran pertama NBA Draft tahun 1999. Ia bermain tiga tahun di Cleveland, lalu pindah ke Clippers setahun, kemudian ke Denver selama empat tahun, lalu akhirnya ditukar ke 76ers.
Bagi seorang point guard, mengatur permainan jauh lebih penting daripada mencetak angka. Allen Iverson, misalnya, adalah contoh point guard yang sebenarnya shooting guard. Ia memang bermain di posisi point guard, tapi nalurinya selalu menyerang.
Dibanding Iverson, kemampuan menyerang Miller memang jauh di bawah. Tapi dalam hal mengatur serangan, Iverson harus banyak belajar. Dalam hal organisasi, passing, dan distribusi bola, Miller termasuk yang terbaik di liga.
Pandangannya luas, tidak egois, tidak ceroboh, dan saat genting percaya pada rekan setim—ia juga tipe pemain yang bisa dipercaya. Kalau saja ia punya tembakan tiga angka, pasti harganya lebih tinggi lagi—meski saat ini pun gajinya sudah cukup besar (pada musim 2007-2008, Miller mendapat 10,77 juta dolar, termasuk golongan jutawan).
Kelebihan Miller adalah ketenangan, pandangan luas, teknik lengkap, tidak mementingkan statistik pribadi, tubuh sehat, dan tidak pernah menimbulkan masalah untuk tim—ia adalah pemain tim yang sempurna. Saat ia di lapangan, tim biasanya menang delapan poin lebih banyak daripada saat ia duduk di bangku cadangan. Ia adalah point guard yang sangat berharga.
"Eh, terima kasih," jawab Xudu dengan agak malu lewat terjemahan Lin Yu.
"Tapi dribbling-mu sangat kurang, kamu belum pernah latihan dasar-dasar?" tiba-tiba Andre bertanya serius pada Xudu. Menurutnya, Xudu benar-benar lemah dalam menggiring bola.
Setelah diterjemahkan Lin Yu, Xudu tidak marah, karena ia tahu Andre bermaksud baik padanya.
"Aku memang belum pernah latihan. Aku baru benar-benar tahu apa itu basket belum sampai tiga bulan. Setelah tiba di sini, aku cuma lihat Kevin beberapa kali menggiring bola." Xudu menggaruk kepala, bicara pada Lin Yu yang jadi tertegun mendengarnya.
Orang ini benar-benar baru pegang bola tiga bulan? Tapi sudah bisa main sampai seperti ini, sungguh menakutkan.
Mendengar terjemahan Lin Yu, Andre pun tercengang. Baru tiga bulan pegang bola, tanpa pelatih formal, bahkan non-formal pun tidak, tapi sudah bisa main seperti ini—ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa.
Setiap hari ia melihat Xudu berlatih di pojok itu. Awalnya Andre mengira Xudu sedang berusaha mengejar ketertinggalan, makanya ia ingin mengajarinya supaya lebih mantap dasarnya.
Tapi setelah mendengar penjelasan tadi, ia sadar telah salah sangka. Anak muda di depannya ini bukan hanya berbakat, tapi juga sangat ulet. Latihan tiga bulan bisa jadi seperti ini, jelas bukan hanya karena bakat.
Kebetulan pelatih Cheeks yang lewat juga mendengar percakapan itu. Ia baru sadar, sejak Xudu datang, ia belum pernah meminta asisten pelatih membantu Xudu. Bakat sebesar ini hampir saja ia sia-siakan.
"Tuan Maurice, menurut Anda bagaimana?" Andre tersenyum memandang Cheeks yang datang mendekat.
"Andre, jangan goda aku lagi. Aku tahu aku salah. Gara-gara hasil tim yang buruk, aku jadi lalai. Untung kita masih punya pemain muda berbakat dan berpotensi besar. Aku akan segera mengatur latihan dasar dan pelatih pertahanan buat Xu," kata Cheeks sambil tersenyum. Melihat penampilan Xudu kemarin, ia sendiri belum yakin, apakah Xudu akan jadi bintang, planet, atau hanya meteor? Tapi apapun itu, selama Xudu bertahan, timnya mungkin bisa berprestasi lebih baik musim ini. Meski sedang membangun ulang tim, mereka tetap harus mencari posisi yang bagus.
"Sebelum pelatih baru datang, biar aku yang ajari kamu dasar-dasar dulu," ujar Andre sambil tersenyum pada Xudu.
Setelah diterjemahkan oleh Lin Yu, Xudu tentu saja sangat senang. Tawaran seperti ini justru yang ia harapkan, mana mungkin ia menolak?