Bab 154 Penutup
"Hari ini, orang tua ini juga akan memberikan penjelasan kepada para pemimpin sekte sekalian, tetapi kompetisi akbar perekrutan murid ini sampai di sini saja," kata Li Fengsheng sambil menggelengkan kepala dan menghela napas.
Saat ini, semua orang telah lama menghabiskan seluruh energi primal mereka. Selain Ye Xingchen, yang lain bahkan tidak memiliki sisa tenaga sekadar untuk berdiri.
Tanpa pilihan lain, kompetisi akbar ini pun menemui akhirnya. Karena belum mencapai hari terakhir, penentuan juara didasarkan pada perolehan kristal monster terbanyak.
Pada akhirnya, Luo Ying tanpa ragu berhasil mendapatkan gelar murid langsung Li Fengsheng. Tentu saja, hasil ini membuat banyak orang merasa terkejut, karena jumlah kristal monster pada Luo Ying ternyata tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan yang ada di tangan Mo Ying'er.
Meskipun sulit dipercaya, kenyataan ada di depan mata. Tidak seorang pun yang berani membantah, bagaimanapun juga Li Fengsheng telah mengangguk mengakuinya.
Setelah serangkaian ucapan tersebut, kompetisi akbar perekrutan murid pun resmi berakhir.
Satu per satu orang mulai membubarkan diri, tentu saja tidak sedikit perpisahan yang terjadi. Namun, anggukan persetujuan yang diberikan oleh Huan Moqing di luar dugaan mengejutkannya, mengingat sebelumnya ia masih merasakan permusuhan yang samar dari pemuda tersebut.
Adapun Yue Ruheng hanya meliriknya sekilas, mendengus dingin, lalu berbalik pergi. Ye Xingchen tidak merasa heran dengan reaksi seperti itu, sebagai Tuan Muda Istana Bulan Biru, ia tentu masih harus menjaga sedikit harga diri. Dendam sebelumnya tentu diingatnya dengan sangat jelas, tetapi Ye Xingchen sama sekali tidak mempedulikan hal tersebut.
Si Kembar Es dan Api maju ke depan dan memberikan pelukan persahabatan yang erat kepada Ye Xingchen. Mo Bing tampak tersenyum lebar, sebaliknya Zhuo Yan justru terlihat sedikit malu-malu.
Setelah mengantar kepergian keduanya, Chu Fengli menatap Ye Xingchen dalam-dalam. Entah apa alasannya, tanpa meninggalkan sepatah kata pun ia berbalik pergi, hanya menyisakan siluet punggungnya yang mempesona.
Luo Ying tidak berbicara, juga tidak menoleh kepadanya. Mengingat hari ini akan dilangsungkan upacara pengangkatan guru, ia tidak akan meninggalkan Gunung Dewa Pedang secepat itu. Ia hanya merasa bingung di dalam hatinya: Mungkinkah dia tidak kembali ke Paviliun Pedang Bayangan?
He Qiushui juga pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Saat menghadapi Bai Jingkong sebelumnya, wanita itu tidak terlihat mengambil tindakan, entah apa yang dipikirkan oleh wanita tersebut. Sambil menggelengkan kepala tanpa berdaya, Ye Xingchen tidak berkata apa-apa lagi.
Yang tersisa pada akhirnya tinggal Dewi Xuelin seorang diri. Saling bertatapan, ada terlalu banyak hal yang ingin diucapkan di antara mereka berdua, hingga kata-kata itu justru sama sekali tidak dapat terucap.
Lalu setelah sekian lama, Dewi Xuelin berbisik pelu, "Aku harus pergi."
Suaranya mengisyaratkan sedikit keengganan untuk berpisah. Suara yang begitu ringan itu berhasil membuat tatapan mata Ye Xingchen sedikit bergetar.
Ia tertegun sejenak, lalu dengan lembut menggenggam tangan kecil sang dewi, dan berkata dengan sungguh-sungguh penuh ketulusan, "Aku pasti akan datang mencarimu."
Kalimat singkat itu merangkum semua yang ingin ia ungkapkan; ada rasa bersalah, ada rasa penyesalan, dan ada kelekatan.
"Hmm."
...
Alam Dewa, Istana Dewa Tianyan.
Di tengah lautan api yang tak bertepi, berdiri sebuah istana yang agung dan megah. Di bawah naungan cahaya api yang memenuhi langit, istana itu tetap memancarkan wibawa suci yang tak boleh dilanggar.
Kelima istana dewa masing-masing memiliki ruang kecil milik mereka sendiri, dan bangunan istana itu sendiri terletak di dalam ruang tersebut.
Tempat di mana Istana Dewa Tianyan berada adalah dunia kecil buatan ini, yang dinamakan Wilayah Api Tianyan.
Di sini tidak ada makhluk hidup, tidak ada pula pepohonan dengan rerumputan hijau yang subur. Yang ada hanyalah lautan api yang membentang luas. Suhu di tempat ini bahkan cukup untuk membakar separuh Alam Dewa, karena kobaran api yang menyala itu adalah Api Dewa Pemusnah Dunia yang legendaris!
Di luar istana.
Dua orang pengawal yang mengenakan zirah merah menyala berjaga di tempat ini. Keduanya sama-sama memegang tombak panjang, dengan raut wajah tampan yang senantiasa tampak begitu serius di mana pun dan kapan pun.
Jangan dikira mereka hanyalah sekadar pengawal, faktanya kekuatan kedua orang itu telah lama melangkah ke Alam Pemusnah Bumi. Formasi penjagaan seperti ini di dalam Alam Dewa yang luas ini, dikhawatirkan hanya kelima istana dewa saja yang memilikinya.
Tiba-tiba, angin dingin yang menusuk tulang berhembus dari arah tidak jauh di depan. Sesosok bayangan berjubah ungu tanpa disadari telah muncul di hadapan mereka berdua.
Itu adalah seorang pria dengan postur tubuh tinggi semampai, jubah ungu berkibar di udara, berdiri dengan tangan di belakang punggung. Kehadirannya memancarkan aura yang sangat suram dan mengerikan, bagaikan sesosok Asura.
Hanya saja, wajah pria tersebut tertutupi oleh sebuah topeng aneh. Di atas topeng itu terdapat gambar wajah hantu yang cukup unik. Jika diamati dengan cermat, mungkin akan terasa sedikit menyeramkan, tetapi sekilas pandang topeng itu tampak seperti mainan anak kecil belaka.
"Siapa di sana!"
Saat pria ber-jubah ungu itu muncul, keduanya langsung bereaksi seketika. Dua batang tombak meluncur menusuk secara bersamaan, dengan ujung tombak berhenti tepat di dekat tenggorokan pria tersebut.
"Ini adalah wilayah istana dewa, orang yang tidak berkepentingan cepat enyah!"
Menghadapi bentakan mereka, pria itu tampak tidak mendengarnya. Dari balik topeng wajah hantu justru terdengar suara tawa yang aneh.
Suara tawa itu sangat menyeramkan, gelombang suaranya saja sudah cukup untuk membuat bulu kuduk merinding.
"Siapa yang berani datang membuat kekacauan di istana dewa?!"
Tepat ketika keduanya bersiap untuk menghabisi penyusup tersebut, sebuah suara tua yang berwibawa tiba-tiba terdengar dari luar gerbang istana.
Mendengar suara ini, ekspresi wajah keduanya langsung berubah. Mereka menarik kembali tombak mereka, lalu berbalik ke arah lelaki tua berjubah merah di belakang mereka dan berkata dengan hormat, "Tetua Qin!"
Lelaki tua itu mengenakan jubah merah menyala, sangat cocok dengan identitasnya sebagai seorang tetua Istana Dewa Tianyan. Wajahnya yang tua dan keriput menandakan tanpa perlu berpikir lagi bahwa ia adalah sesepuh tua yang telah hidup selama puluhan ribu tahun.
Lelaki tua ini adalah Qin Zhu, tetua pelaksana Istana Dewa Tianyan, seorang tokoh perkasa yang telah melangkah setengah langkah ke Alam Pemecah Langit!
Hanya saja, yang membuat kedua pengawal itu terkejut adalah, saat ini Qin Zhu—yang kekuatannya cukup untuk masuk dalam jajaran lima puluh pendekar teratas Alam Dewa—tengah membelalakkan kedua matanya, menatap dengan penuh ketakutan yang luar biasa ke arah pria aneh yang berdiri di belakang mereka.
Telapak tangannya yang keriput mulai bergetar hebat, peluh dingin telah membasahi keningnya yang renta. Butuh waktu lama baginya sebelum akhirnya mampu melontarkan kalimat yang memancarkan ketakutan dari lubuk jiwa terdalam:
"Tu-Tuan Ye!"
Mendengar ucapan tersebut, pria itu mengulurkan sebelah tangannya yang ramping untuk melepas topengnya. Wajah yang tampan namun tampak mempesona sekaligus ganjil muncul di hadapan pandangan Qin Zhu.
Sambil melempar begitu saja topeng di tangannya, pria mempesona itu menghela napas pelan dan berkata, "Huh, sungguh membosankan."
Melihat wajah aslinya, kedua pengawal itu langsung berlutut ke tanah seketika. Kedua mata mereka menatap seolah-olah baru saja melewati batas tepi jurang kematian. Dengan suara yang sangat bergetar, mereka berucap serempak:
"Tu-Tuan Ye, saya tahu kesalahan saya, saya pantas mati seribu kali!"
"Sepertinya topeng ini sama sekali tidak berguna. Lupakanlah, lupakan." Pria mempesona itu melambaikan tangannya, dari awal hingga akhir ia bahkan tidak melirik kedua pengawal itu sedikit pun.
Sebab di matanya, bahkan Tetua Qin yang berdiri di hadapannya ini tidak lebih dari sekadar semut belaka. Orang yang bisa membuat dirinya merasa segan di dalam Istana Dewa Tianyan ini hanyalah satu orang saja.
Yaitu Penguasa Istana Dewa Tianyan—Dongfang Fengdie!
"Tu-Tuan Ye, entah apa kedatangan Anda yang mulia..."
Melihat situasi itu, Qin Zhu buru-buru mengalihkan pembicaraan, namun ucapannya belum selesai diucapkan sudah dipotong oleh pria itu.
Kemudian, pria itu menyipitkan kedua matanya sedikit dan berkata, "Qin Zhu, penglihatanmu bagus juga ya, mengenalku bahkan saat aku mengenakan topeng."
"Ti-Tidak berani, tidak berani." Punggung Qin Zhu terasa dingin, ia buru-buru menggelengkan kepalanya. Pria mempesona di hadapannya ini adalah penguasa dari salah satu dari lima istana dewa, Istana Dewa Asura, salah satu tokoh terkuat di seluruh Alam Dewa—Ye Lingxiu!
Istana Dewa Asura dan Istana Dewa Tianyan sama-sama merupakan bagian dari lima istana dewa. Kekuatan kedua belah pihak tentu tidak jauh berbeda, dan Penguasa Istana Asura ini adalah sosok yang ketenarannya sejajar dengan penguasa istana mereka sendiri. Mengatakan bahwa ia mampu menutupi langit dengan satu tangan di Alam Dewa sama sekali tidak berlebihan.
"Oh ya, kedatanganku tentu saja untuk menemui Fengdie. Entah di mana penguasa istana kalian berada sekarang?" Ye Lingxiu tiba-tiba bertanya.
"Penguasa istana sedang bermeditasi di dalam istana dewa," jawab Qin Zhu cepat.
"Dia sendirian?" tanya Ye Lingxiu yang tampak sedikit gembira.
"Benar."
"Ha, ha, kalau begitu itu sungguh luar biasa!" Ye Lingxiu tertawa terbahak-bahak.
Qin Zhu ragu-ragu sejenak, lalu berkata dengan suara yang sangat pelan, "Penguasa istana telah memberi perintah... selama bermeditasi... si-siapa pun tidak boleh mengganggu."
"Oh?" Alis Ye Lingxiu berkerut. Tekanan mengerikan yang luar biasa seketika menimpa tubuh Qin Zhu, menyebabkannya langsung berlutut ke tanah tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Fengdie tidak ingin diganggu oleh orang luar, tetapi aku dan dia adalah pasangan takdir alam, apakah kau mengerti?" ucap Ye Lingxiu dengan ekspresi wajah yang sedikit dingin.
"Me-Mengerti!"
Qin Zhu berlutut di tanah, tubuhnya yang tua bergetar hebat. Di bawah langit ini, satu-satunya hal yang mampu membuat seorang tokoh setengah langkah Alam Pemecah Langit merasa ketakutan sedemikian rupa hanyalah para penguasa dari kelima istana dewa.
"Bagus kalau mengerti, aku ampuni nyawamu untuk saat ini."
Setelah meninggalkan kalimat tersebut, sosok Ye Lingxiu berubah menjadi embusan angin suram dan lenyap seketika.
Tekanan yang menimpa tubuhnya telah hilang, Qin Zhu baru bisa berdiri dengan susah payah. Sambil menyeka keringat dingin di keningnya, ia berkata kepada dua orang pengawal yang masih berlutut tak berdaya di sisi lain, "Kalian berdua, bangunlah."
Keduanya buru-buru bangkit berdiri, hingga detik ini kaki mereka masih gemetar.
"Tetua Qin..."
"Tidak apa-apa." Qin Zhu melambaikan tangannya, lalu tersenyum pahit sambil menghela napas, "Penguasa istana pasti akan menegurku lagi."
Penguasa Istana Asura, Ye Lingxiu, sudah bukan sekali dua kali datang ke tempat ini. Namun setiap kali datang, ia selalu pulang dengan wajah cemberut, dan pada akhirnya dirinya sendiri yang akan kena tegur oleh penguasa istana.
Aduh, memang begini nasib hidupku!