Bab Tiga Puluh Lima: Kembali ke Istana
Setelah Chuyang terbangun, ia mendapati bahwa Ziyan dan kakak beradik Jingfeng bersama dua lainnya telah kembali, dan semuanya menatapnya. Chuyang pun melihat dirinya sendiri, tak ada yang berbeda dari biasanya.
“Ada apa? Apa ada yang aneh pada diriku?” tanyanya.
Jing Fanhua tersenyum dan berkata, “Kami sedang melihat lautan energi ungu milikmu.”
“Lautan energi ungu?” Chuyang sedikit bingung, apakah itu sesuatu yang sangat bernilai?
Melihat Chuyang tampak ragu, Paman Ketiga Jing mengirim pesan lewat suara ke Chuyang. Setelah mendengar penjelasannya, Chuyang pun mengerti. Rupanya, meski tak tahu mengapa ia bisa membuka yuan, hasilnya ternyata baik.
Setelah itu, Paman Ketiga Jing memeriksa kondisi Chuyang dan memastikan tak ada masalah berarti. Ia lalu mengeluarkan daun berwarna perak. Dengan mengalirkan kekuatan spiritual, mereka semua muncul kembali di hutan sebelumnya.
“Kalian masih ingat apa yang terjadi setelah masuk ke sana?” tanya Chuyang.
Jing Fanhua dan yang lain menggeleng, menyatakan mereka sudah lupa.
Paman Ketiga Jing berkata, “Menurut pengalaman ayah dan ibumu yang sudah beberapa kali mengirim orang ke dalam, setiap orang memang akan lupa apa yang dialami di sana, namun manfaat yang didapatkan nyata adanya.”
“Saat kami masuk ke ranah rahasia itu, kami langsung muncul di sebuah ruangan. Tidak lama kemudian, kami melihatmu berada di atas alas duduk itu,” tambah Jing Xu.
“Ranah rahasia ini ditemukan oleh ayah dan ibumu tak lama setelah mereka tiba di Kerajaan Longyan. Belum sepenuhnya dieksplorasi, namun yang pasti, tempat ini tidak berbahaya.”
“Menurut dugaan ayahmu, ini mungkin adalah tempat seleksi murid dari sekte kuno. Jadi, meski gagal terpilih, tidak akan mengancam nyawa.”
“Lalu, apa saja yang kalian dapatkan?” tanya Chuyang.
“Ziyan berhasil mengumpulkan lautan energi hijau dan memperoleh satu teknik kultivasi. Jing Fanhua mengumpulkan lautan energi xuanhuang yang agak bercak-bercak, dan yang lain juga memperoleh sesuatu, walau tidak bisa dibandingkan denganmu,” jawab Paman Ketiga Jing sambil tersenyum.
Sebenarnya, yang paling banyak mendapat manfaat adalah Jing Fanhua.
Sebelumnya, dengan bakat dan watak Jing Fanhua, ia hanya termasuk di kalangan yang hidup seadanya dalam keluarga Jing. Namun kesempatan kali ini membuatnya langsung layak masuk daftar bibit unggulan keluarga.
Bisa dibilang, meski Jing Fanhua seekor babi pun, keluarga akan menghamburkan banyak sumber daya padanya.
Melihat keuntungan yang didapat Chuyang dan dua lainnya, Jingfeng hanya bisa menghela napas. Sebelum masuk, selain Chuyang, ia yang paling menonjol. Kini Ziyan telah membentuk lautan energi murni, Jing Fanhua juga mendapatkan lautan energi xuanhuang, meski agak bercak-bercak.
Sedangkan dirinya hanya mendapat sedikit peningkatan pada kekuatan darah. Ketika membentuk lautan energi, tingkatannya pun belum tentu bisa menyamai dua orang itu.
Melihat Jingfeng sedikit muram, Paman Ketiga Jing sepertinya membisikkan beberapa kata padanya, membuat semangat di mata Jingfeng kembali menyala.
Karena saat keluar sudah siang, mereka hanya berjalan sekitar tiga jam sebelum memutuskan beristirahat.
Saat istirahat, Chuyang beberapa kali ingin meneliti botol giok itu, namun setelah pengalaman sebelumnya, ia agak ragu.
“Huh,” Chuyang menghela napas panjang. Meskipun auranya menakutkan, paling juga cuma pingsan sebentar, siapa takut?
Lalu Chuyang menyalurkan energi spiritual ke botol giok itu. Saat itu, aura spiritual di sekujur tubuhnya bergejolak, ia pun bersiap menghadapi ancaman entah dari mana datangnya.
“Tiga Metode Xuanqian.” Lagi-lagi, Chuyang membaca tulisan yang sama.
Namun kali ini, semuanya berjalan normal, tak ada perubahan apapun.
Apa ini hanya kebetulan?
Dengan waspada, Chuyang melanjutkan membaca ke bawah.
Metode Pemadatan Darah: Menggunakan darah binatang aneh untuk menghantam titik darah di seluruh tubuh, bisa meningkatkan kualitas darah.
Selain itu, ada pula penjelasan tentang jalur meridian khusus, di mana terdapat beberapa titik darah yang harus ditembus dengan darah binatang aneh, lalu akan memperoleh manfaat.
“Apa maksudnya kualitas darah?” Chuyang berpikir lama tapi tak menemukan jawabannya.
Namun karena ada caranya, ia pun berniat mencoba.
Chuyang lalu membaca metode kedua, yaitu Metode Mengendalikan Energi.
Metode ini menjelaskan tentang teknik untuk mengendalikan energi spiritual.
Chuyang menghafal mantra itu, lalu melanjutkan membaca ke bawah. Namun metode ketiga tidak bisa ia lihat dengan jelas, tertutup kabut putih.
Saat itu, Chuyang pun keluar dari kondisi meditasi.
Metode Pemadatan Darah belum bisa ia coba, sedangkan metode mengendalikan energi, boleh juga dicoba.
Dengan niat itu, Chuyang mulai mengucapkan mantra, memusatkan pikiran, energi spiritual pun mengalir deras.
“Hah? Siapa itu?” Jing Fanhua melihat aura spiritual berhembus di sampingnya, buru-buru menjauh. Tapi tetap saja terlambat, pakaiannya robek di banyak bagian, seluruh kaki kirinya telanjang, dan bagian lain pun compang-camping, kulitnya tampak samar-samar.
Mendengar suara itu, Chuyang pun terkejut, segera mengalihkan kendali energi ke arah lain. Namun kali ini, malah terdengar jeritan lain.
Ternyata seluruh pakaian Jing Xue tercabik. Kedua kakinya yang jenjang benar-benar terbuka, perutnya yang rata tanpa lemak, puncak dadanya samar terlihat, bahkan punggungnya pun benar-benar terekspos.
Jing Xu di belakang hanya sempat melirik sekilas sebelum buru-buru memalingkan wajah.
Sedangkan Jing Fanhua justru beberapa kali melirik, lalu membandingkan reaksi Jing Xu dan Jingfeng saat melihatnya dan Jing Xue, lalu menghela napas dalam hati.
Ternyata, imut tak ada artinya di hadapan yang seksi.
Chuyang pun buru-buru menghentikan teknik pengendalian energi, menengadah menatap langit.
Jing Xu menghindari pandangan dari Jing Yue, pura-pura mencari pelaku.
Paman Ketiga Jing menatap Chuyang dengan curiga, lalu mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Jing Yue dan Jing Fanhua, melihat Chuyang menengadah, tidak mencurigainya, mengira Chuyang sedang menghindari suasana canggung.
Sementara dalam hati Chuyang, ia sangat gelisah, jangan sampai ketahuan.
Kalau dia bilang sedang berlatih mantra, apakah mereka percaya?
Chuyang merasa, kemungkinan besar mereka akan mengira ia hanya mencari-cari alasan untuk melecehkan dua gadis itu.
Sekitar satu batang dupa kemudian, Jing Fanhua dan Jing Yue sudah berganti pakaian. Kedua pakaian itu milik Paman Ketiga Jing, terlihat kebesaran dan longgar, tapi setidaknya bisa dipakai.
“Fluktuasi aura spiritual tadi hanya berlangsung belasan detik, memotong ruang, sepertinya itu arus ruang kecil. Kemungkinan besar hanya kecelakaan,” jelas Paman Ketiga Jing pada semua orang.
Arus ruang memang sering terjadi, biasanya setelah meteorit hancur akan tersisa debu, sebagian melayang di udara.
Ketika debu itu menyerap habis aura di sekitarnya, ia akan pecah dan membentuk arus ruang. Namun arus seperti itu tidak mematikan, bahkan jika terkena langsung, hanya akan melukai kulit saja.
Mendengar kesimpulan tersebut, Chuyang pun bernapas lega.
Sungguh memalukan, ia hanya ingin mencoba keampuhan mantra itu, malah menimbulkan kejadian seperti ini.
Meski mantranya ampuh, konsumsi energinya sangat besar. Dalam belasan detik saja, dua pertiga kekuatan spiritualnya terkuras habis.
Nanti saja jika sudah pulang, baru dipelajari lebih lanjut.
Agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
Tiga hari berikutnya, Jing Fanhua dan Jing Xue selalu waspada.
Namun hingga kembali ke Kerajaan Longyan, kejadian serupa tak pernah terjadi lagi.
Keduanya pun merasa tenang, mengira itu memang hanya kebetulan.
Sesampainya di Kerajaan Longyan, Paman Ketiga Jing hanya melapor sebentar pada Raja Jing dan Jing Yan, lalu buru-buru kembali ke keluarga Jing, sepertinya ada urusan penting.
Empat sekawan Fenghua, Xue, Yue, dan Jing Xu pun tinggal beberapa hari di ibu kota, lalu pergi juga.
Sebelum pergi, Jing Xu memberikan Chuyang sebuah kartu spiritual, hanya mengatakan jumlahnya lebih dari lima ribu batu spiritual tingkat atas, selebihnya silakan Chuyang cek sendiri.
Jing Fanhua menatap Chuyang dengan enggan, memintanya untuk jangan melupakannya.
Mendengar itu, Chuyang merasa merinding, jangan-jangan ia benar-benar menaruh hati padanya.
Walaupun ia telah dua kali menyelamatkan Jing Fanhua, tak perlu sampai harus membalas budi dengan menyerahkan diri, bukan?
Meski dalam hati sedikit kesal, Chuyang tetap tersenyum ramah, tidak menolak secara terang-terangan.
Menurut Chuyang, senyum adalah penolakan paling halus.
Tapi bagi Jing Fanhua, tidak ditolak adalah jawaban terbaik.
Dalam perjalanan pulang ke keluarga, Jing Fanhua membatin: Hmph, Ziyan, memang kakimu lebih panjang, tubuhmu lebih bagus, bakatmu pun lebih tinggi, tapi aku, Jing Fanhua, tidak akan kalah!
Semakin dipikirkan, hati Jing Fanhua makin tak nyaman. Ia menghibur diri, “Tak apa, aku hanya lebih muda, nanti kalau sudah besar, tubuhku belum tentu kalah dari Ziyan. Selain itu, lautan energi yang ku bentuk juga tidak buruk, asalkan aku rajin, kelak pasti bisa merebut kembali Kakak Chuyang.”
Awalnya Jing Fanhua sudah putus asa, karena baik tubuh maupun bakat, ia kalah dari Ziyan, hanya wajah mereka yang setara.
Namun usai membentuk lautan energi xuanhuang, harapan pun kembali muncul.
Chuyang yang telah dua kali menyelamatkannya, meninggalkan kesan mendalam di hati Jing Fanhua. Sebab inilah pertama kali ada lelaki yang, tanpa mempedulikan nyawanya, menyelamatkan dia. Ia juga tidak pernah menyalahkan, malah memberinya batu spiritual.
Kini, dalam pandangan Jing Fanhua, Chuyang benar-benar bersinar laksana cahaya terang.