Bangkit dari kehampaan, mekar di tengah kesunyian. Seberkas kabut yang telah lama membeku, memantulkan suramnya fajar. Lautan luas berlalu sekejap, dunia kembali melantunkan kisah siapa yang menjadi l
“Ah, jangan, Yun Jia, kembalilah!”
Chu Yang berteriak keras, berjuang bangkit dari ranjang, tangan kanannya terulur ke depan, seolah ingin meraih sesuatu. Namun tiba-tiba, ingatan itu pun surut bagai gelombang pasang yang mundur. Chu Yang duduk di atas ranjang, memandang sekeliling dengan kebingungan, tak tahu apa yang terjadi.
Yang ia ingat hanyalah di akhir mimpi itu, di sebuah tempat gersang tanpa setitik rumput pun, seorang perempuan yang luar biasa cantik, dengan tekad bulat menerjang ke tengah lautan pasukan kerangka yang jumlahnya jutaan. Dalam situasi seperti itu, mustahil ia bisa selamat.
“Paduka Putra Mahkota? Paduka Putra Mahkota?”
Sebuah suara lembut terdengar di telinga Chu Yang.
Chu Yang menarik napas, menenangkan diri, lalu menoleh ke arah suara itu. Ia melihat seorang gadis bertubuh semampai dan berwajah manis, membawa beberapa ramuan, berdiri cemas di samping ranjang Chu Yang.
“Zi Yan, apakah sudah waktunya?”
“Benar, Paduka Putra Mahkota, sesuai perintah Anda, saya membangunkan Anda setiap enam jam sekali. Ini sudah yang ketujuh kalinya,” jawab gadis itu, terlihat mengkhawatirkan Chu Yang, tetapi tetap menjawab pertanyaannya lebih dulu.
“Letakkan saja ramuan itu, kau boleh pergi sekarang. Di kebun obat kerajaan masih ada beberapa tanaman, petiklah dan bawa ke sini.”
“Baik,” jawab Zi Yan, menatap Chu Yang dengan sedikit cemas lalu berkata, “Paduka, urusan berlatih tidak bisa dipaksakan, kesehatan Anda tetap yang utama.”
Chu Yang hanya tersenyum tipis dan membalas, “Aku tahu batasanku, jangan khaw