Bab 52: Kedatangan Permaisuri Bijak
Ronghua masih bermalas-malasan di tempat tidur sebelum akhirnya bangun. Setelah menikmati sedikit kudapan, ia membentangkan kertas dan mulai berlatih menulis di kamarnya, sementara Nenek Qiu mengawasi di samping, sesekali memberikan petunjuk. Di kehidupan sebelumnya, tulisan tangan Ronghua dengan pena cukup baik, tetapi kalau dengan kuas, tulisannya sangat buruk, seperti cakar ayam, benar-benar tidak layak dilihat. Dulu tidak terlalu penting, jadi ia tidak pernah berlatih. Tapi sekarang, tidak ada pena, ia hanya bisa menggunakan kuas. Ia memang bisa menulis, tapi masa harus memperlihatkan tulisan yang buruk? Ia juga tidak mau jadi buta huruf, jadi ia memutuskan untuk berlatih dengan tekun. Lama-kelamaan, ia malah jadi menikmati prosesnya. Ia sangat berharap, suatu hari nanti, ia bisa menulis kaligrafi indah seperti tulisan kecil berhias bunga milik Nenek Qiu.
Belum selesai satu lembar kertas, dari luar sudah mulai terdengar suara panggilan. Yang datang pertama adalah Selir An, lalu Selir Wang dan Selir Min, disusul oleh Selir De dan Selir Liu...
Berturut-turut, sampai lima enam kali dipanggil, tiba-tiba sudah ada tujuh delapan nyonya istana yang datang.
Ronghua jadi kehilangan fokus, lalu menatap Nenek Qiu dengan wajah merengut, “Nenek, sudah berapa hari begini? Tidak ada habis-habisnya. Tidak bisakah mereka semua disuruh pergi saja?”
Nenek Qiu hanya bisa tersenyum pahit, “Bukan tidak pernah disuruh, tapi Putri juga lihat sendiri, mereka pura-pura tidak dengar, berpura-pura bodoh, kita bisa apa lagi?”
Ronghua memasang wajah serius, mengangkat tinjunya, “Kalau begitu, pakai tongkat besar saja, usir keluar mereka.” Kalau tidak mau menurut, terpaksa pakai kekerasan.
Nenek Qiu tertawa terbahak-bahak, mengelus kepala Ronghua, “Itu tidak bisa. Orang-orang ini, meski kita tidak ingin mendekat, sebaiknya juga jangan jadi musuh. Kalau mereka mulai memakai tipu muslihat, kita bisa-bisa tidak sempat berjaga. Kalau hanya menimpa Nyonya saja tidak apa, tapi kalian masih kecil, masih harus tinggal lama di istana, tidak boleh ceroboh.”
Ronghua terdiam sejenak, lalu bergumam, “Sebenarnya Nyonya juga tidak suka, kan? Hanya karena kami, beliau terpaksa menahan diri…”
Nenek Qiu tersenyum lembut dan mengangguk pelan, “Sejak dulu Yang Mulia sangat menyayangi Nyonya. Saat awal masuk istana, dulu juga pernah seperti ini. Tapi waktu itu, Nyonya berkepribadian dingin, jarang bersikap ramah pada mereka. Kalau mereka tidak mau pergi, beliau sendiri yang pergi, lama-lama mereka pun malas datang lagi.”
Namun sekarang, Nyonya selalu tersenyum ramah menghadapi mereka.
Ronghua mengendus pelan, hatinya terasa perih.
“Yang Mulia Selir Xian datang…”
Tiba-tiba, dari luar aula terdengar suara pemberitahuan.
Ronghua dan Nenek Qiu sama-sama terkejut mendengarnya.
“Kenapa Selir Xian datang? Dan memilih waktu seperti ini…” Nenek Qiu mengernyitkan dahi dan bergumam.
“Nenek,” Ronghua menarik lengan bajunya, “Kita juga ikut lihat saja…” Di istana belakang, selain Nyonya mereka, juga ada empat selir utama: Selir Zhuang, Selir Xian, Selir Shu, dan Selir De. Selir Zhuang, Selir Shu, dan Selir De beberapa hari lalu sudah datang berkunjung, dan Ronghua sudah bertemu mereka. Usianya sedikit lebih tua daripada Nyonya mereka, kecantikan mereka memang sedikit di bawah Nyonya mereka, tapi dari kepribadian dan sikap, mereka memang pantas menyandang gelar itu—anggun, lapang hati, dari keluarga terhormat. Hanya Selir Xian yang belum pernah ia temui. Konon kecantikannya setara dengan Nyonya mereka, tapi kali ini ia sengaja memilih waktu seperti ini untuk datang. Orang yang cermat pasti tahu, maksudnya bukan semata-mata untuk berkunjung, kurang menunjukkan kelapangan hati.
Nenek Qiu juga penasaran, segera menyetujuinya.
Kamar Ronghua terletak di aula timur. Keluar kamar, mereka melihat di pintu menuju aula luar, dua kepala kecil berdesakan, berusaha mengintip keluar dengan sungguh-sungguh.
Dasar bocah, bukannya di kamar belajar yang baik, malah keluar mencari keramaian.
Ronghua menyipitkan mata, melangkah cepat, dan “plak-plak” menepuk kedua kepala itu.