Bab 60 Berpura-pura
Kaisar bersama Permaisuri Xian telah pergi ke Istana Huayang, para selir yang lain pun tak berani berlama-lama tinggal dan segera ikut meninggalkan tempat itu. Hanya Li Meiren yang masih tertinggal, karena Xu Jinhua memang sengaja menahannya. Sudah beberapa tahun mereka tak bertemu, Xu Jinhua memang ingin berbincang dengannya, sekalian mencari tahu beberapa hal—tentu saja, jika Li Meiren bersedia bicara jujur. Awalnya, Kaisar tidak mengizinkan Xu Jinhua menahan Li Meiren, namun karena Xu Jinhua bersikeras, akhirnya ia pun mengalah. Selama ini Xu Jinhua dikenal cerdas, seharusnya ia tak akan mudah terbuai oleh kata-kata manis Li Meiren.
"Eh? Ke mana semua orang? Kenapa tak ada seorang pun?" Bibi Qiu melongok ke aula luar yang kosong melompong, tampak kebingungan. Setelah Kaisar datang, ia sempat pergi ke dapur kecil untuk memastikan makan malam sudah siap disajikan, tak disangka ketika kembali, semua orang sudah menghilang.
"Mereka semua sudah pergi," kata Ronghua sambil mengendus-endus, samar-samar mencium aroma masakan dari ruang sebelah. Sepertinya ada ayam goreng kesukaannya.
"Kaisar juga sudah pergi?" Bibi Qiu tercengang. Kalau para selir pergi, itu masih wajar, tapi bagaimana mungkin Kaisar pun…
"Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi?" Ia memandang Xu Jinhua dengan cemas.
"Ada utusan dari Istana Huayang, katanya Putri Changping sedang sakit," jelas Xu Jinhua.
"Ada-ada saja, apa sakitnya parah?" Bibi Qiu tampak menyesal. Tak disangka, baru sebentar ia meninggalkan ruangan, sudah terjadi begitu banyak hal. Sungguh disayangkan, ia jadi tak sempat melihat keramaian tadi.
Xu Jinhua tertawa pelan, "Hanya pura-pura, mana mungkin serius." Melihat raut tegang Qiaozhu ketika masuk, matanya pun berkedip-kedip tak tenang, jelas sedang menyembunyikan sesuatu. Jika memang benar terjadi sesuatu, nyawanya pasti terancam, ia tentu akan panik dan ketakutan, tak mungkin masih sempat tegang seperti itu.
"Tapi, hamba lihat Permaisuri Xian benar-benar tak tahu apa-apa," kata Amber setelah berpikir sejenak, "Beliau sampai gugup sendiri dan tak menyadari keanehan sikap dayang itu. Kurasa semua ini ulah si putri kecil."
Bibi Qiu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, "Putri Changping itu baru sepuluh tahun, kan? Tapi sudah lihai sekali rupanya."
Amber mengangguk, "Memang begitu. Ibunya saja penuh taktik, apalagi anaknya yang selalu menirunya. Tapi semoga saja rencananya tak berbalik merugikan diri sendiri. Bagaimanapun, Kaisar selalu memperhatikan."
Xu Jinhua justru tampak santai, "Tak sampai seperti itu. Semua hanya trik kecil, Kaisar pasti tak akan mempermasalahkannya."
"Meiren, aku lapar," keluh Ronghua yang sedari tadi menginginkan ayam goreng. Melihat mereka asyik mengobrol, ia jadi tak sabar, langsung memegangi perut dan berseru.
"Sudah tahu, dasar anak rakus," Xu Jinhua menatapnya sambil tersenyum geli, lalu menoleh pada Li Meiren yang berdiri kaku di sudut tanpa sepatah kata, dan kembali tersenyum, "Ayo, Shanhu, makan bersama. Kau pasti juga lapar, kan?"
Namun Li Meiren menggeleng takut-takut, "Hamba mana berani duduk semeja dengan Nona…"
Xu Jinhua memandangnya, senyumnya perlahan menghilang, "Kau tahu, di sini tak banyak aturan seperti itu."
Li Meiren tetap ragu-ragu, "Hamba tak berani, hamba tidak lapar."
Sorot mata Xu Jinhua yang biasanya cerah kini sedikit meredup, "Kau sudah banyak berubah. Dulu tidak seperti ini sifatmu."
Li Meiren terdiam, lalu tersenyum getir, "Sudah bertahun-tahun berlalu, Nona pun tak ada di sini. Hamba sendirian, mau tak mau harus berubah."
Amber yang mendengar itu ikut merasa sedih, langsung menarik tangan Li Meiren dan menyeretnya ke ruang makan, "Nona bilang makan bersama, ya makan bersama! Jangan banyak bicara!"
Li Meiren sempat berontak, tapi akhirnya tak mampu melawan.
Meja makan yang biasanya riuh di Istana Changle malam itu terasa sunyi. Melihat Li Meiren duduk dengan wajah muram dan sedih, Ronghua pun kehilangan selera, bahkan ayam goreng kesukaannya hanya disentuh sedikit.
Setelah makan malam, Bibi Qiu membawa Ronghua dan Muchao pergi, menyisakan Xu Jinhua, Amber, dan Li Meiren. Mereka menyalakan dupa, menyeduh teh, seolah siap berbincang sepanjang malam.