Bab 28: Ada Pembunuh Bayaran
Malam telah larut ketika lagi-lagi Ronghua dibangunkan dari tidurnya.
“Nona kecil, bangunlah…”
Ronghua mendesah pelan, enggan membuka matanya. Ia melihat Jin Emas dan Jin Perak yang entah mengapa berdesakan di tepi ranjangnya, lalu mengerutkan kening. “Ada apa…” Namun, belum sempat ia melanjutkan, mulutnya sudah ditutup rapat oleh Jin Emas.
“Hush, jangan bersuara, ada orang di luar,” bisik Jin Emas lembut di telinganya.
Meski tak bisa melihat jelas ekspresi wajah Jin Emas, Ronghua bisa merasakan ketegangan luar biasa dalam suaranya, seperti sedang menghadapi bahaya besar. Seketika kantuk yang masih tersisa lenyap menguap.
Ia membuka lebar matanya, berusaha menembus gelap gulita di luar tempat tidur, namun tak melihat ataupun mendengar apa-apa.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” bisiknya dengan suara ditekan.
“Ada orang yang menyusup naik ke kapal…” Jin Perak, yang dikenal ceria dan tak bisa menahan mulutnya, buru-buru menjawab sebelum sempat dihalangi Jin Emas. Jin Emas hanya bisa menegur dengan mengetuk kepalanya, sambil tetap waspada dan memperhatikan reaksi Ronghua. Meski si Nona kecil itu jauh lebih tenang dari dugaannya, ia tetap khawatir jika Ronghua akan ketakutan dan berteriak hingga menarik perhatian penyusup.
Namun Ronghua bukan benar-benar anak enam tahun. Meski terkejut mendengar ucapan Jin Perak, ia tidak panik. Melihat sikap waspada kedua kakak beradik itu, Ronghua jadi teringat ucapan seorang perampok malam itu. Ternyata mereka memang bukan pelayan sembarangan yang dipekerjakan oleh Ibunda Cantik. Tapi dari mana sebenarnya Ibunda Cantik menemukan orang-orang seperti mereka? Pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban.
“Siapa yang menyusup ke kapal?” tanyanya pelan, tak mampu menahan rasa ingin tahu.
Jin Emas tetap diam, tak menjawab. Jin Perak yang lupa diri kembali menjawab, “Orang jahat.” Begitu kalimatnya selesai, dahinya kembali diketuk.
Biasanya, jika sudah seperti ini, Jin Perak pasti akan membalas atau bergumam kesal. Tapi kali ini, ia menahan diri, tahu situasi tak memungkinkan.
Melihat Jin Perak menahan kekesalannya, Ronghua hampir saja tertawa. Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.
Namun seketika itu pula, suasana di dalam kamar menjadi tegang. Ronghua merasakan udara seolah membeku, senyumnya membatu, seluruh tubuhnya kaku, tak berani bergerak sedikit pun.
Ternyata, baru saja pintu kamar terbuka tanpa suara. Seorang lelaki berpakaian hitam masuk dengan sigap, memanfaatkan gelapnya malam. Di tangannya, sebilah pisau melengkung berkilat tajam.
Jin Emas dan Jin Perak menatap lelaki itu dengan waspada, tubuh mereka tegang, seperti anak macan yang siap menerkam mangsa.
Tatapan lelaki berbaju hitam itu menyapu seisi kamar, lalu tertuju pada ranjang berjubah kelambu.
Ia melangkah mendekat.
Jantung Ronghua berdetak kencang. Tubuhnya tak bergerak, namun rasa tegang makin menjadi.
Saat lelaki berbaju hitam itu sudah hampir tiga langkah dari tempat tidur, Jin Emas melesat bagaikan bayangan, Jin Perak menyusul di belakangnya.
Lelaki itu segera mengayunkan pisaunya ke arah Jin Emas, namun Jin Emas dengan lincah menghindar. Lelaki itu bermaksud kembali menyerang, namun tiba-tiba pundaknya terasa berat. Sepasang tangan kecil mencengkeram kepalanya, lalu memutarnya dengan keras.
Ternyata, saat Jin Emas berhadapan langsung dengannya, Jin Perak sudah melompat ke pundaknya dan dengan cekatan mematahkan lehernya.
Ronghua hanya bisa terpaku menyaksikan kejadian itu. Gerak mereka sangat cekatan, kerja sama mereka pun luar biasa, tegas dan tanpa ragu, sekali serang langsung mematikan. Meski usia mereka masih sangat muda, kekuatan mereka tak kalah dari seorang pembunuh dewasa.
Begitu tubuh lelaki berbaju hitam itu jatuh ke lantai, suara dentingan senjata tajam terdengar dari luar, diikuti teriakan, “Ada penyerang! Ada penyerang!”