Tujuh belas
Halaman (1/3)
Yu Chudai sama sekali tidak panik. Tatapannya kepada Gao Longqi tenang tanpa riak, tak lagi setegang malam ketika ia dipanggil untuk menemani tidur di Istana Qianhua.
Kasihan sekali Yang Mulia Kaisar. Agaknya, satu-satunya cara untuk menunjukkan wibawa hanyalah dengan menanggalkan pakaian seorang wanita.
Gao Longqi: “...”
Entah mengapa, ia merasa tatapan Yu Chudai kepadanya agak aneh.
Baru sehari tak bertemu, nyalinya sudah tumbuh tanpa batas.
Tak ada sedikit pun ketakutan atau kegentaran dalam tatapan wanita itu.
Kalau ia tidak salah lihat, bahkan sepertinya ada sedikit rasa iba?
...Pasti hanya ilusinya.
Tak lama kemudian, Gao Longqi mengupas “rebung” Yu Chudai hingga yang tersisa hanyalah kemben dalam.
Tatapan Yu Chudai masih sebening mata air.
Justru Gao Longqi yang merasa tidak terbiasa.
Duduk di sampingnya, ia menatap wanita itu. “Selir Yu, apa kau tahu arti malu?”
Yu Chudai mengedipkan mata, otaknya berpikir cepat.
Gao Longqi tidak mampu melakukan hal itu... Ini rahasia tingkat tertinggi.
Coba pikir, adakah pria mana pun di dunia ini yang ingin orang lain tahu bahwa dirinya tidak mampu menjalankan kewajiban seorang lelaki?
Tentu saja tidak.
Apalagi Gao Longqi, seorang penguasa gila yang merasa dirinya luar biasa, keras kepala, sewenang-wenang, dan suasana hatinya sulit ditebak!
Jika ia mengetahui bahwa Yu Chudai tahu tentang kelemahannya yang tak terkatakan, ia pasti akan murka karena malu lalu menguliti wanita itu hidup-hidup.
Karena itu, Yu Chudai harus berpura-pura tidak tahu apa-apa. Bahkan ia harus bekerja sama demi menjaga harga diri malang sang Kaisar.
Dalam keadaan seperti ini, biasanya seorang wanita akan bereaksi bagaimana?
Yu Chudai berusaha keras mengingat perasaan takut ketika menemani Gao Longqi tidur dua malam lalu.
Tiga menit kemudian, ia akhirnya mengerti.
Terkadang, ketenangan hati yang terlalu kokoh belum tentu merupakan hal baik.
Sejak awal, ia memang tidak mudah larut dalam ketegangan. Kini ia juga tahu bahwa Gao Longqi hanyalah tombak berlapis perak dengan batang lilin—tampak gagah di luar, tetapi tak berdaya meski memiliki niat. Karena itu, semakin mustahil baginya untuk merasa tegang.
Tidak bisa. Demi menyelamatkan nyawa, ia harus berhasil.
Yu Chudai mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya dengan susah payah.
Ia menutupi dada dengan kedua tangan, menggeliat malu-malu dua kali, lalu menatap Gao Longqi dengan tatapan yang sengaja dibuat menghindar. Sambil menggigit bibir, ia berkata dengan suara manja, “Hamba... sungguh malu...”
Gao Longqi langsung tertawa terbahak-bahak.
Ia tahu wanita itu sedang berpura-pura, tetapi tingkahnya benar-benar menghibur.
Gao Longqi mengangkat Yu Chudai dan mendekapnya, lalu berguling sekali bersama wanita itu. Keduanya kembali terjatuh di atas ranjang.
Ranjang kayu itu berderit keras, lalu bergoyang hebat.
Khawatir ranjang tersebut akan dirubuhkan Gao Longqi, Yu Chudai buru-buru memeluknya. Sebagian besar perabot di Taman Hehuan sudah tua, tentu tidak sebanding dengan barang-barang pilihan kerajaan di Istana Qianhua.
Gao Longqi membenamkan kepala di lekuk lehernya dan menarik napas dalam-dalam.
Yu Chudai: “...”
Sekali lagi ia memastikan, orang ini benar-benar jelmaan anjing.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Gao Longqi terkekeh pelan dan bertanya, “Harum sekali. Kau memakai apa?”
Memang benar, aroma dingin yang bening dan menusuk itu sama seperti yang ia cium sebelumnya. Jadi, aroma yang menenangkan dan akrab itu bukan khayalannya malam itu.
Yu Chudai merasa bingung. “Harum? Aku tidak memakai wewangian apa pun.”
Gao Longqi tidak memanggilnya untuk menemani tidur. Dari mana pula ia bisa memakai wewangian?
Terakhir kali ia memakai sesuatu yang harum adalah ketika mandi sebelum menemani Kaisar tidur. Saat itu ia menggunakan sedikit sari mawar, tetapi benda itu bukan minyak wangi atau bedak khusus untuk meninggalkan aroma. Kegunaan utamanya adalah melembapkan kulit. Setelah dibilas, aromanya pun sangat samar dan tak akan tercium kecuali dicium dengan saksama.
Gao Longqi bergumam pelan, “Mulai sekarang juga tidak boleh memakai apa pun. Aku benci bedak dan wewangian murahan.”
Yu Chudai: “...Oh.”
Memangnya aroma sari mawar itu murahan di mana?
Ia sangat menyukainya.
Kaisar anjing itu benar-benar banyak sekali tingkahnya.
Sebelumnya ia pilih-pilih makanan karena dianggap tidak cukup lezat, sekarang ia mulai pilih-pilih aroma pula.
Seolah-olah memang ada aroma tertentu di lehernya yang membuat Gao Longqi kecanduan. Bibir pria itu terasa panas ketika menyusuri bekas gigitan sebelumnya, sementara embusan napasnya membuat kulitnya terasa geli.
Sebenarnya aroma apa itu?
Yu Chudai tidak mungkin mencium lehernya sendiri, jadi ia mengangkat tangan dan mendekatkan pergelangan tangannya ke hidung.
...Tidak mencium apa-apa.
Gao Longqi tidak tidur semalaman dan kini mulai mengantuk.
Ia menarik tangan Yu Chudai yang terus bergerak, lalu menggenggamnya.
Tangan wanita itu dingin dan lembut, terasa sangat nyaman.
“Jangan bergerak. Diam.”
Yu Chudai merasa kesal. Lagi-lagi kalimat itu.
Apa hanya itu yang bisa ia katakan ketika tidur?
Kalau merasa terganggu, ia bisa tidur sendirian. Untuk apa datang mencarinya jika kemudian melarangnya bergerak dan berbicara? Sungguh seenaknya tanpa alasan. Manusia macam apa ini?
Namun...
Tubuhnya begitu hangat.
Jari-jari tangan yang menggenggam tangannya sedikit kasar, tetapi entah mengapa membuatnya merasa aman.
Yu Chudai tak kuasa menahan kuap. Rasa kantuk yang pekat menyergapnya.
Lagipula ia tidak mungkin melarikan diri. Lebih baik menikmatinya saja.
Ia merapat ke dalam pelukan Gao Longqi, memejamkan mata, dan segera terlelap.
Di luar kamar, Jiexiang dan Xiaoshouzi saling berpandangan, lalu keduanya tersenyum penuh pengertian dengan raut penuh kasih.
Ck, ck. Suara ranjang yang berderit tadi terdengar sangat jelas dari luar.
Yang Mulia sungguh perkasa!
Selir Yu yang begitu lembut, apakah sanggup menahannya?
Aduh, meskipun Yang Mulia sangat menyayangi sang selir, beliau tetap harus memperlakukan bunga nan rapuh dengan lembut.
* * * * * *
Kelopak mata Yu Chudai bergerak-gerak sebelum perlahan terbuka. Seketika, cahaya menyilaukan menerpa pandangannya.
Ia menyipitkan mata dan mengangkat tangan untuk menghalangi sinar yang menyilaukan itu.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Di luar jendela, matahari tengah terbenam. Cahaya senja berpendar cemerlang, dan semburat mentari keemasan tepat jatuh di atas ranjang.
Ia hanya berniat tidur sebentar pada siang hari, tetapi tanpa sadar tertidur hingga waktu seperti ini?
Yu Chudai merasa pening karena silau cahaya keemasan itu. Ia mengalihkan pandangan dari jendela, lalu ketika membuka mata kembali, wajah seorang pria sudah berada sangat dekat dan tercermin di matanya.
Ia tertegun sejenak.
Baru saja terbangun, pikirannya masih berkabut. Untuk sesaat, ia bahkan tidak dapat membedakan apakah dirinya sedang berada di rumah keluarga Nan Hui atau di tempat lain.
Ia teringat masa kecilnya. Ayahnya sehari-hari sibuk mengurus urusan pemerintahan, ibunya sibuk menangani berbagai urusan rumah, sementara kakaknya berangkat pagi dan pulang larut karena bersekolah.
Sering kali, ia hanya sendirian di kamar.
Pada tahun-tahun itu, hal yang paling ia takuti adalah tertidur hingga senja ketika sedang tidur siang.
Setiap kali terbangun mendadak dan membuka mata, seluruh dunia memang tampak terbenam dalam cahaya matahari yang megah dan berkilauan. Namun pada saat seperti itu, ia selalu merasa kesepian dan gelisah tanpa alasan, seolah-olah di seluruh dunia hanya tersisa dirinya seorang.
Tetapi kali ini berbeda.
Sisa cahaya matahari menyelimuti Gao Longqi, melapisi wajahnya yang tegas dan penuh sudut dengan serpihan emas.
Matanya terpejam dalam tidur. Tanpa ancaman tatapan kelam yang biasa menghiasi wajahnya, Yu Chudai memanfaatkan kesempatan itu untuk mengamatinya dengan saksama.
Raut wajah Yang Mulia benar-benar sangat indah, tiada banding.
Konon, ketika dewi kuno Nüwa menciptakan manusia, pada mulanya ia membentuk mereka dari tanah liat dengan tangan. Namun kemudian Nüwa merasa lelah, sehingga ia menyipratkan lumpur ke tanah dan menjadikannya manusia. Jika mengikuti legenda itu, wajah Gao Longqi pasti dibuat khusus oleh Nüwa dengan penuh perhatian karena sang dewi menyukainya, hingga hasilnya begitu menakjubkan.
Namun, pemilik wajah itu sendiri sama sekali tidak menghargainya. Dalam keseharian, ia selalu memasang raut muram. Kalaupun sesekali tersenyum, senyumnya dingin atau mencemooh. Orang lain yang melihatnya hanya akan merasa ngeri, mana sempat memikirkan ketampanannya?
Cahaya senja hari ini menimpa wajah kerasnya dan menambahkan kehangatan yang jarang terlihat. Ia tampak jauh lebih menawan dibandingkan malam itu, ketika Yu Chudai melihatnya di tengah malam yang diselimuti uap pemandian air panas.
Tanpa diduga, dari lubuk hatinya ia merasa bahwa Gao Longqi yang seperti ini juga cukup baik.
Bagi Yu Chudai, kemampuan membaca pikiran lebih sering terasa seperti siksaan. Mengetahui terlalu banyak justru membawa penderitaan.
Daripada terus-menerus merasa jijik oleh hasrat Kaisar Nan Hui atau para cendekiawan dan pelajar lelaki, ia lebih rela memilih Gao Longqi.
Meskipun ia tahu pria itu adalah orang gila yang mengerikan, anehnya ia tidak dapat membaca pikirannya. Jadi, sekelam apa pun pemikiran Gao Longqi, ia tidak akan pernah mengetahuinya.
Karena itu, ketika berada di sisinya, hatinya dapat benar-benar tenang.
Sampai suatu hari nanti... mungkin Gao Longqi akan membunuhnya dengan tindakannya sendiri.
Namun ia tidak takut. Umur hidupnya memang telah ditakdirkan singkat, sehingga tak ada yang perlu ditakutinya.
Kematian hanya berlangsung sesaat, sedangkan selama tujuh belas tahun terakhir, ia setiap saat telah bersiap menghadapinya.
Tatapan Yu Chudai perlahan bergerak, hingga akhirnya berhenti pada bibir Gao Longqi.
Bentuk bibir pria itu sangat indah, dengan ketebalan yang pas. Namun yang paling membuatnya iri adalah warnanya—merah segar secara alami, tanpa memerlukan sedikit pun pemulas bibir.
Tanpa sadar, ia mengangkat tangan dan menyentuhkan telunjuknya dengan lembut ke bibir bawah pria itu.
Sama sekali berbeda dari bayangannya.
Ia mengira, dengan wajah setajam pahatan pisau, tubuh pria ini pasti terasa dingin dan keras ketika disentuh.
Namun kenyataannya, bibirnya hangat... dan ternyata cukup lembut.
Gao Longqi sedikit mengernyit, lalu tiba-tiba membuka kedua matanya.
Halaman (3/3)