Bab 42: Beramai-ramai Datang untuk Menertawakan Tang Rong
Di ibu kota, rahasia adalah hal yang mustahil untuk disimpan, apalagi bagi kediaman Adipati Weiyuan yang beberapa hari terakhir ini tengah menjadi sorotan.
Kabar bahwa Tang Rong babak belur dihajar orang menyebar secepat angin. Para pemuda dari keluarga terpandang yang selama ini tidak menyukainya merasa mendapatkan hiburan yang luar biasa. Perlu diketahui, mereka telah hidup di bawah bayang-bayang Tang Rong selama bertahun-tahun; setiap kali mereka membuat kesalahan, para tetua di rumah pasti akan menggunakan Tang Rong sebagai pembanding.
"Si munafik itu akhirnya kena batunya juga!"
Beberapa pemuda pesolek berkumpul di Kedai Teh Huiyou di pusat kota untuk minum teh. Kedai ini adalah usaha patungan antara Tang Mo, Yan Shimao, dan beberapa rekan lainnya. Bisnisnya tidak terlalu ramai, pengunjungnya kebanyakan hanyalah kelompok pemuda pesolek ini. Saat ini, salah satu dari mereka tampak sangat bersemangat, "Entah pahlawan mana yang melakukannya, dengar-dengar dia menjerit-jerit kesakitan?"
"Aku dengar dia sampai berlutut memohon ampun, menangis memanggil ayah ibunya, dan dua tulang rusuknya patah."
"Lho, bukannya aku dengar matanya sampai buta? Wah, haruskah kita menjenguknya?"
Ucapan itu disetujui oleh semua orang. Para pemuda pesolek itu pun membeli dua kati kue lalu berbondong-bondong menuju kediaman Adipati Weiyuan. Karena mereka adalah tamu yang membawa buah tangan—lagipula mereka adalah anak cucu pejabat tinggi atau pangeran—penjaga gerbang kediaman Adipati tidak berani menyinggung mereka. Sebelum sempat melapor ke dalam, mereka sudah memaksa pelayan untuk mengantarkan mereka masuk guna 'menjenguk' Tang Rong.
Tang Rong sebenarnya enggan menemui mereka karena tahu mereka hanya ingin menertawakannya, namun ia tidak punya pilihan. Tak lama kemudian, suara tawa meledak dari dalam kamar Tang Rong; orang-orang itu tertawa sampai air mata mereka keluar.
Mereka tidak memiliki rasa segan seperti Tang Mo.
"Kakak Tang, kau ceroboh sekali. Kau kan terkenal dengan bela dirimu yang hebat, bagaimana bisa jadi seperti ini?"
"Mungkin karena pengeroyoknya terlalu banyak. Kakak Tang pasti kewalahan melawan banyak orang sekaligus, pasti tadi terjadi perkelahian sengit."
"Aku dengar waktu itu Kakak Tang baru keluar dari kedai arak. Mungkin karena mabuk jadi tenaganya tidak keluar. Sayang sekali, Kakak Tang harusnya belajar ilmu bela diri sambil mabuk."
"Hahahaha!"
Sekelompok orang itu tertawa dengan pongah, namun mereka sengaja memasang wajah seolah-olah mereka adalah saudara baik Tang Rong. Wajar saja jika sesama saudara saling bercanda, apalagi mereka sudah menyiapkan rencana lain. "Kakak Tang sedang tertimpa musibah, harus banyak istirahat."
"Benar, pemulihan tulang dan otot butuh seratus hari, jangan sampai lalai."
"Aduh, sebentar lagi ada banyak jamuan makan, Kakak Tang pasti tidak bisa hadir."
Tang Rong terdiam sepanjang waktu, kukunya mencengkeram telapak tangan hingga berdarah. Seseorang melihat Tang Gang datang, lalu buru-buru berkata, "Kakak Tang, kami semua khawatir melihat musibahmu. Tenang saja, kami pasti akan berusaha mencari para bajingan itu."
"Benar, dendam ini pasti akan kami balas untukmu."
"Beristirahatlah dengan baik, kami akan menjengukmu lagi nanti."
Setelah keluar, mereka memberi hormat kepada Tang Gang lalu melenggang pergi dari Halaman Chunhua dengan angkuh. Senyum di sudut bibir Tang Gang menghilang seketika. Ia melangkah lebar memasuki kamar. Tang Rong segera bersuara, "Ayah, mereka semua datang hanya untuk menertawakan anakmu ini."
"Aku tahu."
Justru karena tahu, itulah yang membuatnya murka. Di luar sana sudah mulai tersebar desas-desus bahwa pewaris Adipati Weiyuan hanyalah tong kosong yang tidak becus, sampai-sampai dipukuli habis-habisan oleh preman jalanan. Reputasi Tang Rong berkaitan erat dengan martabat kediaman Adipati, dan sebagai ayahnya, ia pun ikut menanggung malu. "Kakekmu adalah panglima perang yang hebat, namun cucunya bahkan tidak bisa melawan beberapa preman jalanan."
"Untuk menghadapi kecurigaan di luar, kita hanya bisa berdalih bahwa kau sedang mabuk."
Tang Gang menarik napas dalam-dalam. Mabuk hingga masuk ke kamar pengantin yang salah dan meniduri adik ipar, lalu mabuk hingga dihajar tanpa bisa melawan. "Aku harap tidak akan ada 'mabuk' yang ketiga kalinya."
Tang Rong memejamkan mata. Memikirkan tumpukan masalah yang menunggu untuk diselesaikan, Tang Gang tidak ingin berlama-lama lagi dan pergi dengan penuh amarah.
Di luar, ia berpapasan dengan Tang Mo dan Xin An yang baru saja menemani sang nenek melihat-lihat. Melihat wajah keduanya yang tampak ceria, amarahnya semakin menjadi-jadi. Ia melampiaskannya pada Tang Mo, "Sepanjang hari tidak ada kerjaan, kenapa tidak segera melapor ke Pasukan Garnisun Utara?"
Tang Mo menangkupkan tangan, "Anak ingin menemani Nenek ke rumah kebun untuk beristirahat sejenak, baru setelah kembali saya akan melapor. Saya sudah berdiskusi dengan Nenek, kami berangkat lusa."
"Kakakmu sedang kena musibah, kau malah memikirkan untuk bersenang-senang?"
Tang Gang hampir mati menahan amarah, pikirnya, anak ini memang tidak berguna dan tidak bisa diandalkan. Tang Mo menanggapi, "Luka Kakak hanya terlihat parah. Jika kita sendiri bersikap santai dan membiarkan orang luar melihat bahwa Nenek masih bisa pergi berlibur, mereka akan berasumsi bahwa luka Kakak sebenarnya tidak serius."
"Rumor itu menakutkan. Jika kita sendiri sampai panik hingga tidak berani keluar rumah, rumor di luar sana hanya akan semakin merugikan Kakak."
Tang Gang mendengus, namun merasa perkataan putranya ada benarnya. "Menurutmu, apa tindakan terbaik untuk masalah kakakmu ini?"
Tang Mo berpikir sejenak lalu kembali menangkupkan tangan, "Ibu kota sudah lama damai, wajar jika Kakak sedikit lengah. Katakan saja saat terjadi perkelahian, sudut matanya tidak sengaja tergores. Sepuluh atau lima belas hari juga akan sembuh."
"Tapi tadi putra dari kediaman Pangeran Changping dan para pemuda bangsawan lainnya sudah melihat kondisi kakakmu."
Tang Mo menyesal. Tadi di jalan pulang, ia dan Xin An sempat berbelok untuk melihat ikan. Seandainya ia tahu, ia akan bergegas pulang agar bisa menonton keributan itu.
"Mereka semua hanyalah pemuda pesolek ibu kota, tidak akan ada yang menganggap serius ucapan mereka. Nanti saya akan mencari orang untuk bicara dengan mereka."
Tang Gang baru teringat, orang di depannya ini pun seorang pesolek yang punya pengaruh di kalangan mereka. "Kalau begitu, segera lakukan."
Setelah masuk ke dalam, Tang Mo dengan wajah masam menuangkan secangkir teh, "Menurutmu, apakah hati orang tua itu memang sudah bengkok sejak lahir?"
Sudah minta tolong, tapi sikapnya begitu.
Xin An duduk dengan tenang sambil menyesap tehnya, "Pilih kasih itu tidak ada logikanya. Seperti ayah dan ibuku yang pilih kasih padaku, apa pun yang kulakukan pasti dimaafkan. Untuk apa kau pusing memikirkan itu?"
"Kau punya ibu yang memihakmu, itu sudah cukup."
Ia meletakkan cangkir tehnya, "Aku justru penasaran, apakah dia akan menggunakan alasan yang kau berikan?"
"Menyalahkan ibu kota yang tidak aman berarti menyinggung Pasukan Garnisun Utara, karena patroli ibu kota adalah tanggung jawab mereka. Nanti saat kau ingin menancapkan kaki di sana, akan lebih sulit."
"Kesulitan itu bukankah juga sebuah kesempatan bagiku?"
Tang Mo sama sekali tidak khawatir. Selama ini Tang Rong selalu menginjaknya untuk membangun citra pemuda anggun, mengapa ia tidak boleh menginjak Tang Rong untuk mendapatkan posisi di Pasukan Garnisun Utara?
"Sayang sekali tadi tidak sempat melihat keributannya."
Sambil berkata demikian, ia membuka laci di samping meja rias Xin An dan mengambil lembaran uang kertas dari sana. "Aku pergi sebentar, mau ke tempat Paman Kedua, malam nanti aku akan menemui beberapa orang untuk makan malam, jangan menungguku."
"Kau bersiaplah untuk keberangkatan lusa nanti."
"Pergilah."
Xin An merasa antusias untuk pergi ke rumah kebun, namun ia agak keberatan dengan kebiasaan Tang Mo yang menyimpan uang pribadinya di laci meja riasnya. "Kau tidak takut aku menghabiskan semua uang pribadimu?"
Tang Mo tertawa, "Ambil saja kalau suka. Uangku tidak seberapa dibanding maharmu yang berlimpah. Nanti kalau habis, aku tinggal menunggu kau yang menghidupiku."
"Kau tidak malu?"
Tang Mo mengangguk dengan serius, "Siapa yang tidak ingin mendapatkan sesuatu tanpa bekerja? Aku pergi bekerja dulu, supaya kau tidak merasa rugi menghidupiku nanti."
Xin An tertawa, "Benar-benar tidak tahu malu."