Bab Empat Puluh Lima: Teh Asing
Waktu pun berlalu sepuluh hari, kehidupan di rumah mayat begitu padat dan bermakna. Setiap pagi, aku bangun lebih awal untuk berlatih mengolah napas, lalu berlatih Silat Delapan Trigram di bawah bimbingan Paman Sembilan hingga siang hari, dan pada sore harinya belajar membuat jimat bersamanya. Jika ada orang yang meminta Paman Sembilan memeriksa feng shui, aku juga ikut untuk belajar.
Dalam sepuluh hari singkat itu, kemajuanku sungguh pesat. Silat Delapan Trigram yang kupelajari hampir mencapai tingkat sempurna, dan jumlah jimat yang kupelajari pun bertambah hingga tiga puluh enam jenis. Mulai dari jimat dasar seperti pembersihan diri dan meringankan tubuh, jimat penenang rumah untuk feng shui, jimat penarik rezeki, jimat kekayaan, jimat keberuntungan, juga jimat asmara, jimat keselamatan, jimat penolak bala, jimat penetral tahun buruk, jimat permohonan, jimat penyembuhan, jimat pemanggil angin, jimat pemanggil hujan, dan sebagainya.
Ada pula jimat pelindung untuk bertempur seperti jimat cahaya emas dan jimat api merah. Semuanya berjumlah tiga puluh enam jenis, menambah banyak kemampuanku. Aku benar-benar puas dengan kehidupan latihan yang setiap harinya menunjukkan kemajuan.
Feng shui pun begitu, setelah dibimbing Paman Sembilan, kemampuanku sangat meningkat. Dalam sepuluh hari itu, inti energi kedua di tubuhku perlahan berubah menjadi napas murni. Namun, pada tahap ini, yang terpenting adalah mengolah energi di dalam tubuh, sementara menyerap energi dari luar menjadi hal sekunder. Nanti, saat membuka delapan saluran utama, baru membutuhkan banyak energi. Untuk saat ini, dua belas butir energi yang kusempan di ruang tak dikenal itu belum terpakai.
"Jia Le, pernahkah kau mencicipi teh asing? Esok hari, Tuan Ren di kota mengundang Paman untuk minum teh. Kau ikut saja bersama Paman," kata Paman Sembilan.
Tuan Ren? Teh asing? Aku langsung teringat, apakah ini awal kisah "Guru Mayat Hidup"?
"Baik, Paman!" jawabku.
Beberapa hari belakangan, Qiusheng selalu pulang ke kota membantu bibinya menjaga toko jika ada waktu senggang. Dari sini aku tahu kenapa kemajuan Qiusheng sangat lambat, pikirannya memang tidak tertuju pada latihan. Sementara itu, Wen Cai lebih parah lagi. Selama beberapa hari terakhir, karena aku, Qiusheng dan Wen Cai jadi sedikit lebih giat, namun semangat mereka hanya sebentar. Begitu merasa tak banyak kemajuan, mereka pun menyerah dan kembali ke kebiasaan lama.
Qiusheng dan Wen Cai telah menjadi murid Paman Sembilan lebih dari lima tahun. Qiusheng sedikit lebih baik, sekarang berada di tahap akhir Pengolahan Inti, sedangkan Wen Cai baru di tahap awal. Terutama Wen Cai, saat berlatih ia sulit untuk berkonsentrasi, padahal itu adalah pantangan besar dalam berlatih. Berlatih bukan hanya melatih tubuh, tetapi juga hati. Jika hati tak tenang, sekeras apa pun usaha, hasilnya tetap sia-sia. Apalagi Wen Cai memang jauh dari kata rajin.
Keesokan harinya, aku dan Wen Cai mengikuti Paman Sembilan berjalan ke kota.
"Kakak, apa kau pernah minum teh asing? Aku sebenarnya tak ingin ikut, tapi guru memaksaku. Bagaimana kalau nanti aku mempermalukan diri sendiri?" tanya Wen Cai cemas.
Aku tersenyum dan menjawab pelan, "Teh asing itu sebenarnya tak jauh beda dengan teh kita, hanya rasanya jauh lebih pahit. Sebenarnya, istilah teh asing itu sebutan kita saja. Nama aslinya adalah kopi, dalam bahasa asing disebut coffee, maknanya sama. Sebagian besar orang Tiongkok pun tak terbiasa minum kopi. Biasanya, agar rasanya lebih enak, kita menambahkan susu dan gula."
Saat aku menjelaskan, Paman Sembilan juga mendengarkan dengan seksama. Ia tampak lega. Sebenarnya, alasan ia mengajak Wen Cai adalah agar Wen Cai bisa mencoba terlebih dahulu, kalau terjadi sesuatu yang salah bisa segera dikoreksi. Aku yang baru datang, tidak enak dijadikan tumbal, jadi Wen Cai lah yang harus maju. Tak disangka aku ternyata cukup tahu soal ini, membuat Paman Sembilan merasa lebih tenang.
"Wow, Kakak tahu banyak sekali. Kalau begitu, aku jadi tak terlalu khawatir. Tapi aku tetap agak malas pergi. Tuan Ren itu, wajahnya saja sudah bikin mual," keluh Wen Cai.
Aku tertegun, penasaran seperti apa rupa Tuan Ren hingga membuat Wen Cai berkata seperti itu.
Setelah jalur pertukaran dengan luar negeri terbuka, banyak barang asing mulai masuk, termasuk restoran Barat yang kini sudah menjadi pemandangan umum di kota-kota makmur. Namun, kebanyakan warga hanya tahu sedikit tentang restoran Barat, sebagian besar hanya ikut-ikutan demi terlihat modern.
Bagi kebanyakan orang, pergi ke restoran Barat dan melihat hal-hal baru sudah cukup untuk dijadikan bahan pamer di depan orang lain. Undangan Tuan Ren kepada Paman Sembilan ke restoran Barat ini pun mungkin ada tujuan seperti itu.
Setibanya di kota Ren, orang-orang yang melihat Paman Sembilan langsung menyapanya dengan hangat—bukti betapa dihormatinya ia di sini.
"Eh, Paman Sembilan, kau punya murid baru ya? Yang ini tampan juga!" seru seorang penjual ikan yang kami lewati, mengulang apa yang dikatakan orang-orang sebelumnya. Paman Sembilan pun sabar menjelaskan, "Ini keponakan seperguruan saya, hanya sedang berkunjung."
"Oh, sudah punya tunangan belum? Mau aku kenalkan? Ada keponakanku yang sangat cocok," tawar si penjual.
Pada masa ini, meski sebagian orang memandang rendah para pendeta Tao, itu hanya terjadi di keluarga-keluarga kaya. Di kalangan rakyat jelata, kedudukan pendeta Tao, terutama yang sehebat Paman Sembilan, sangatlah tinggi. Karena aku adalah keponakan seperguruan Paman Sembilan, tentu saja aku tidak kekurangan peminat, apalagi aku bertubuh tinggi dan jauh lebih tampan dibanding Wen Cai. Wajar saja jika ada yang ingin menjodohkanku.
Paman Sembilan hanya menggeleng dan membawa kami melanjutkan perjalanan.
Restoran Barat itu terletak di pusat utama jalan kota Ren, menjadi tempat paling mencolok di sana, didirikan oleh tiga keluarga terbesar: Ren, Huang, dan Qian. Keluarga Ren sendiri memang sudah agak meredup. Beberapa dekade lalu, mereka menguasai seluruh kota, tetapi kini mulai tersaingi oleh keluarga Huang dan Qian.
"Selamat datang, silakan masuk. Apakah sudah memesan tempat?" tanya manajer restoran begitu kami masuk. Harus diakui, restoran itu memang terlihat mewah, dan aula utamanya penuh sesak. Dari sini saja sudah terlihat banyak orang kaya di kota Ren. Wajar saja, feng shui di kota ini sangat baik, siapa pun yang mau berusaha pasti hidupnya tak akan terlalu buruk.
Manajer restoran jelas tidak mengenal Paman Sembilan, ia meneliti kami dari atas ke bawah lalu bertanya. Wen Cai dengan cuek menjawab, "Kenapa, Tuan Ren tidak memesankan tempat untuk kami?"
Entah kenapa, Wen Cai memang selalu meremehkan Tuan Ren. Namun, manajer restoran langsung berubah sikap seratus delapan puluh derajat begitu mendengar nama itu, karena Tuan Ren memang salah satu pemilik restoran ini. Ia pun tersenyum ramah, "Oh, jadi ini tempat yang dipesan oleh Tuan Ren. Silakan, mari saya antar."
Restoran ini terdiri dari tiga lantai. Manajer langsung membawa kami ke sebuah ruang pribadi di lantai tiga. Di dalam, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun sudah menunggu. Begitu melihat Paman Sembilan masuk, ia segera bangkit menyambut, "Paman Sembilan, akhirnya kau datang juga. Silakan duduk."
Tampaknya inilah Tuan Ren. Setelah kulihat dua kali, aku pun mulai memahami kenapa Wen Cai begitu tidak suka padanya. Memang, penampilan mereka sama-sama unik, dan Tuan Ren ini berwajah tirus serta dagu lancip, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda orang kaya. Sekilas saja sudah terlihat sifatnya yang licik dan perhitungan, tipikal orang yang memanfaatkan siapa pun demi keuntungan sendiri.
Mungkin dulu Tuan Ren pernah membuat Wen Cai kesal, sehingga Wen Cai membawanya sampai sekarang.
"Eh, Paman Sembilan, anak muda ini sepertinya asing. Apakah dia murid barumu?"