Bab Lima Puluh Sembilan: Tuan Besar Huang
Setelah berhasil mengendalikan Pamanda Jiu, Awei tak lupa menunjukkan kesetiaannya kepada sepupunya sendiri. Melihat Pamanda Jiu yang sama sekali tidak melawan, Jiale pun kehilangan niat untuk bertindak. Jika Pamanda Jiu ingin melawan, semua orang di sini pun takkan mampu menandinginya.
“Bawa pergi!”
Melihat kasus ini sudah jelas, Awei tak sabar ingin membawa Pamanda Jiu kembali, memaksa pengakuan darinya, lalu segera menutup kasusnya.
“Tunggu, bolehkah aku bicara beberapa patah kata dengan mereka?”
Pada saat itu, Pamanda Jiu tampak tidak terlalu khawatir akan keselamatannya. Dengan fasilitas kantor polisi yang seadanya, bagi Pamanda Jiu keluar masuk ke sana tak ubahnya seperti masuk ke rumah sendiri.
“Jangan bilang aku tidak berperasaan, kalau ada wasiat, cepat katakan.”
Pamanda Jiu pun mendekati Jiale. “Jiale, Tuan Ren dibunuh oleh mayat hidup. Sekarang racun mayat sudah masuk ke tubuhnya, kemungkinan ia akan berubah menjadi zombie malam ini. Yang mengkhawatirkan, kita belum tahu dari mana asal zombie yang lain. Begini, Jiale, malam ini kau datang ke kantor polisi menemuiku. Wencai, kau cari Qiusheng, malam ini kalian berdua harus melindungi Tingting. Jangan sampai terjadi sesuatu pada dirinya.”
Jiale mengangguk tegas. Bukan hanya Pamanda Jiu, dirinya pun kini merasa bingung. Mereka sudah membunuh Ren Weiyong lebih awal, namun Tuan Ren tetap saja mati di tangan zombie. Kalau tak ada dalang di balik ini semua, Jiale mana mungkin percaya. Musuh bersembunyi dalam gelap, mereka justru terang-terangan. Tanpa Pamanda Jiu, Jiale benar-benar tak tenang. Bagaimanapun juga, ia harus membebaskan Pamanda Jiu dulu.
“Cukup, cukup, kalau mau bicara, nanti saja di kuburan. Ayo pergi.”
Awei tak sabar lagi, langsung membawa Pamanda Jiu pergi. Jenazah Tuan Ren juga dibawa keluar oleh polisi yang lain.
Pandangan Jiale berkeliling ke seluruh ruangan; para kerabat keluarga Ren, juga beberapa keluarga besar lainnya di kota.
Tuan Qian, Tuan Huang, hmm!
Tuan Huang ini tampak mencurigakan. Tuan Ren sudah meninggal, meski orang lain punya banyak pikiran, mereka tetap menahan diri, hanya orang ini yang masih bisa tersenyum, bahkan senyum licik seolah rencananya berhasil. Meski menundukkan kepala, mana mungkin luput dari pengamatan Jiale.
Setelah banyak orang pergi, di aula hanya tersisa Ren Tingting dan para pelayan keluarga Ren.
Jiale menoleh pada Wencai. “Wencai, kau cari Qiusheng, suruh dia kembali mengambil beberapa barang, malam ini kita bersama-sama melindungi Tingting.”
Wencai melirik Ren Tingting, lalu langsung menyanggupi, “Kakak, aku pergi sekarang.”
Setelah Wencai pergi, barulah Jiale menghampiri Ren Tingting. “Tabahkanlah hatimu. Kematian Tuan Ren tidak sesederhana itu. Kau mungkin juga dalam bahaya. Malam ini, aku akan suruh Qiusheng dan Wencai datang ke rumah untuk melindungimu, kau harus lebih berhati-hati.”
Mendengar suara Jiale, Ren Tingting perlahan mengangkat kepalanya. Hari ini ia tidak memakai riasan. Wajahnya bahkan lebih lembut dan elok dari sebelumnya. Hanya saja, matanya merah karena menangis, air matanya jatuh bak bunga pir di musim hujan, pakaiannya pun berkabung, menambah kesan lembut dan mengundang simpati. Jiale yang melihatnya pun merasa iba.
Melihat Jiale di depannya, Ren Tingting seolah menemukan sandaran. Meski baru berusia enam belas tahun, ia bukan gadis polos. Ia mungkin tak mengerti niat para sepupu dan Awei, tapi siapa yang benar-benar tulus padanya, siapa yang punya niat tersembunyi, Ren Tingting jelas tahu.
Sejak pagi sampai sekarang, hanya ucapan Jiale inilah yang benar-benar membuatnya tenang.
“Uwa…”
Tiba-tiba Ren Tingting memeluk Jiale dan menangis semakin keras. Jiale jadi serba salah, ia pun menepuk-nepuk punggungnya, menenangkan dengan suara lembut. Setelah lama, barulah Ren Tingting sedikit tenang.
Menyadari dirinya masih memeluk Jiale dan telah membasahi bajunya dengan air mata, Ren Tingting merasa malu.
“Terima kasih.”
Jiale tidak mempersoalkannya. Saat ini pikirannya masih tertuju pada Tuan Huang. Ia pun bertanya pada Ren Tingting, “Tingting, kau tahu di mana kediaman Tuan Huang?”
Tuan Huang?
Ren Tingting tampak bingung. Jiale pun agak menyesal bertanya, sebab Ren Tingting mungkin tak lebih mengenal kota ini daripada dirinya sendiri.
“Guru, rumah Tuan Huang satu jalan dengan kita. Keluar rumah belok kanan, tak jauh dari sana, ada papan nama bertuliskan ‘Huang’. Itu rumahnya.”
Salah satu pelayan di belakang Ren Tingting menjawab. Jiale mengucapkan terima kasih, lalu bergegas pergi.
“Tingting, sebelum Qiusheng dan Wencai datang, jangan pernah keluar rumah.”
Setelah berpesan, Jiale pun meninggalkan rumah keluarga Ren. Dulu, Pamanda Jiu pernah berkata, di kota ini keluarga terbesar adalah Ren, Huang, dan Qian. Jika Ren Fa mati, siapa yang paling diuntungkan? Para kerabat mungkin punya niat, tapi keluarga Ren masih punya Tingting. Orang luar boleh saja tega, tapi tidak dengan keluarga sendiri.
Di saat seperti ini, reputasi sangat penting, apalagi bagi keluarga besar yang sangat menjaga kehormatan, setidaknya secara lahiriah tetap harus terlihat baik. Jadi, yang paling diuntungkan bukan para kerabat, melainkan Tuan Huang dan Tuan Qian.
Terutama Tuan Huang.
Tuan Qian bisa menjadi salah satu dari tiga orang terkaya di kota Ren karena ia menguasai rumah bordil terbesar, Yi Hong Lou. Di luar itu, bisnisnya tidaklah banyak. Namun Tuan Huang berbeda.
Bisnisnya tersebar di seluruh penjuru kota, banyak pula yang tumpang tindih dengan keluarga Ren. Seperti restoran barat, mereka berinvestasi bersama. Namun karena keluarga Ren lebih berkuasa, bisnis apapun Huang selalu ditekan. Pebisnis, pada dasarnya rakus akan laba. Keuntungan di kota Ren pun sudah hampir habis dibagi.
Bagi keluarga Huang, saingan terbesar justru keluarga Ren. Jika keluarga Ren tumbang, Huang akan menjadi keluarga paling berkuasa di kota ini.
Memikirkan itu, kecurigaan Jiale pada Tuan Huang semakin besar. Tapi Ren Fa dibunuh zombie, jelas itu bukan perbuatan Tuan Huang sendiri, mungkin ia bekerja sama dengan seseorang.
Teringat tatapan samar yang muncul beberapa hari lalu, Jiale seolah mengingat sesuatu.
Jangan-jangan benar si ahli fengshui itu?
Kecurigaan Jiale pada ahli fengshui itu memang tak pernah hilang. Hari ini, ia berniat menanyakannya pada Ren Fa, tapi Ren Fa keburu meninggal. Sekarang, ia harus menyelidiki keluarga Huang terlebih dulu. Jika lewat Tuan Huang ia bisa menemukan petunjuk, urusan berikutnya akan lebih mudah.
Keluar rumah, belok kanan, tak jauh kemudian ia melihat kediaman keluarga Huang.
Pintu gerbang masih terbuka. Jiale melongok ke dalam, belum berani masuk karena tak ada alasan yang jelas, juga takut menimbulkan kecurigaan. Ia memilih cara sederhana, menunggu di luar.
Jika benar Tuan Huang bekerja sama dengan ahli fengshui itu, tentu ia takkan menampungnya di rumah sendiri. Apalagi hubungan mereka dengan keluarga Ren bermasalah, Tuan Huang pasti menghindari kecurigaan Ren Fa.
Hampir setengah hari menunggu, akhirnya sore hari Tuan Huang keluar rumah.
Sebelum pergi, ia sempat menoleh ke kiri dan kanan, lalu naik ke dalam tandu dan berangkat ke arah selatan.
Jiale segera mengikuti, berjalan ke selatan hingga melihat Tuan Huang berhenti di depan sebuah rumah di pinggiran kota.
Jiale mengamati sekeliling rumah itu, tampak biasa saja.
Tuan Huang maju, mengetuk pelan pintu. Tak lama kemudian, seorang lelaki tua keluar membuka pintu. Jiale mengamati, pria itu sudah berumur enam puluh tahun, mengenakan jubah pendeta Tao, wajahnya tampak muram dan licik. Melihat ini, kecurigaan Jiale pada Tuan Huang semakin kuat.
Pendeta tua itu mempersilakan Tuan Huang masuk, lalu menutup pintu kembali.
Jiale memperhatikan situasi sekitar, memastikan tak ada orang, lalu dengan cekatan memanjat tembok belakang rumah, mengintip ke dalam halaman.