Bab Dua: Lin Fiya
Dalam pandangan Zhao Ruo, Xiang Qi hanyalah adik kecil yang tak bisa bersikap serius. Xiang Qi pun tak pernah berpikir secara berlebihan bahwa perempuan itu menyukainya.
Mendadak Xiang Qi teringat bahwa ia masih harus menyelesaikan urusan dengan Liu Tianming. Ia langsung membentak dengan lantang, “Liu Tianming, kasih kau tiga detik buat keluar! Satu, dua, tiga!”
“Siap, bos. Jangan teriak-teriak gitu dong, bikin jantungku deg-degan.” Liu Tianming pun muncul dengan patuh, tertawa sambil menggaruk kepala.
Xiang Qi melirik sekilas ke arah Liu Tianming, lalu berjalan keluar sambil berkata santai, “Malam ini kamu yang traktir makan.”
“Bos, kau nggak punya perasaan, ya. Aku protes keras!”
“Protes ditolak,” sahut Xiang Qi. “Ayo cepat, nanti malam aku kenalin kamu sama cewek.” Inilah kelemahan Liu Tianming. Selama Xiang Qi sudah tahu titik lemahnya, mau tak mau Liu Tianming pasti akan mentraktir.
Mata Liu Tianming langsung berbinar hijau, lalu ia pun mengikuti Xiang Qi dengan penuh semangat.
“Cantiknya gimana?”
“Lebih dari lima puluh ribu, kurang dari seratus ribu.”
“Lumayan juga, terus… dadanya besar nggak?”
“Kayaknya sih nggak sebesar bola basket.”
Melihat kedua orang itu menghilang di pintu studio, para perempuan di dalam saling berpandangan dan tersenyum pasrah. Memang dua orang itu benar-benar badut di studio ini.
Setelah makan malam bersama Liu Tianming, Xiang Qi membawa dua kantong besar makanan pulang, semuanya hasil “pemerasan” tadi. Satu untuk dimakan bersama, dua lagi dibungkus untuk dibawa pulang. Mengingat wajah Liu Tianming yang seolah ditinggal mati istri, Xiang Qi nyaris tertawa sendiri. Dasar bocah, mengerjaimu itu gampang sekali.
Linhai adalah kota tua. Setelah kawasan baru selesai direnovasi, rumah-rumah lama terutama di sekitar Gerbang Wangjiang tetap dipertahankan sebagai peninggalan sejarah, tidak masuk dalam rencana pembangunan. Rumah keluarga Xiang Qi terletak di dalam sebuah rumah empat sisi yang dulunya dihuni tiga keluarga. Salah satunya pindah, tersisa dua keluarga. Di dalam, pagar kayu dan ukiran menghiasi rumah-rumah kayu, memunculkan suasana penuh budaya. Namun bagi Xiang Qi yang berhati duniawi, semua itu tak banyak berarti.
Di tengah halaman ada pohon huai tua yang besar, butuh tiga orang dewasa untuk memeluknya. Konon katanya pohon itu sudah berumur seribu tahun lebih, mungkin sudah menjadi roh. Tapi selama bertahun-tahun tinggal di situ, Xiang Qi belum pernah melihat ada siluman perempuan menyelinap ke kamarnya.
Halaman dipenuhi batu-batu biru dan barang-barang aneh, ada yang dari kayu, ada dari batu, ada alat penumbuk padi, ada juga alat pembuat kue tahun baru. Semua khas daerah Jiangnan. Banyak benda yang bahkan Xiang Qi sendiri tak tahu namanya.
“Entah si gadis kecil Lin Feiya sudah pulang belum, harusnya dia sudah pulang sekolah.” Xiang Qi melirik ke arah rumah Pak Lin. Dari pintu gerbang, terdengar suara langkah kaki. Saat ia menoleh, benar saja, itu Lin Feiya.
Orang tua Lin Feiya merantau, di rumah hanya tinggal dia dan kakeknya. Sebagai tetangga lama selama lebih dari sepuluh tahun, Xiang Qi dan ibunya selalu memperhatikan Lin Feiya dan kakeknya.
Dulu waktu kecil, Lin Feiya selalu menempel pada Xiang Qi. Mereka sering tidur di ranjang yang sama. Setelah agak besar, mulai tahu perbedaan laki-laki dan perempuan, jadi tak terlalu lengket lagi. Kemudian Xiang Qi sering keluyuran, hubungan mereka pun jadi agak renggang. Namun Xiang Qi tetap menganggapnya seperti adik sendiri. Tumbuh bersama sejak kecil, Xiang Qi diam-diam menyimpan perasaan khusus di hatinya.
Lin Feiya membawa tas sekolah, mengenakan seragam biru sederhana. Rambut hitamnya tergerai di bahu, dikepang beberapa bagian kecil. Meski tak banyak berdandan, ia punya pesona alami yang sulit diungkapkan. Wajah oval, kulit putih, mata bening, gadis Jiangnan sejati.
Melihat Xiang Qi, Lin Feiya malah memalingkan wajah dengan tidak senang.
Xiang Qi merasa sedikit canggung. Ia mendekat, mencubit kepangan kecil Lin Feiya sambil tertawa, “Bagus juga, sekarang kepangmu lebih rapi, tak seperti dulu, rambutmu berantakan kayak singa betina.”
“Sudah kubilang, jangan sentuh rambutku!” Lin Feiya melotot ke arah Xiang Qi. Meski marah, ia justru terlihat lebih manis.
Xiang Qi diam-diam menghela napas. Dulu hubungan mereka baik sekali. Ia sering bolos sekolah, Lin Feiya beberapa kali menasihati, tapi selalu diabaikan. Sejak itu Lin Feiya enggan bersikap ramah padanya. Setelah dewasa dan mulai bekerja, Xiang Qi menyesali masa lalu dan ingin memperbaiki hubungannya, namun rasanya sulit kembali seperti dulu, saat mereka masih polos dan akrab.
Mereka berjalan semakin jauh, Xiang Qi merasa sangat menyesal.
Ia menyerahkan kantong makanan pada Lin Feiya, memaksakan senyum, “Bawa pulang, ini tadi kubeli di luar, jadi malam ini kalian tak perlu masak.”
Lin Feiya menolak keras, namun Xiang Qi tetap menyelipkan ke tangannya dan berbalik pergi.
Melihat punggung Xiang Qi yang terlihat kesepian, Lin Feiya termenung di tempat, dadanya terasa sesak.
“Ibu, jangan masak makan malam, aku bawa makanan,” seru Xiang Qi ke dalam rumah.
“Kamu pasti minta dari Xiao Liu lagi, ya?”
“Kalau bukan dari dia, dari siapa lagi?” Xiang Qi menjawab dengan santai.
“Kamu ini, bawakan juga ke Kakek Lin, dia pasti baru pulang nanti malam.” Ibu Xiang Qi menghela napas.
“Aku sudah antar satu buat mereka. Yang ini untuk Ibu.”
“Aku baru bawa kurma dari desa, besok bagikan ke Xiao Liu, jangan terus-terusan minta darinya.”
“Iya, aku akan kurang-kurangi.” Xiang Qi asal jawab, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.
Ibu Xiang Qi hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum pahit. Nasihatnya memang tak pernah mempan.
“Feiya sudah pulang, kan? Bawakan juga sedikit padanya.”
“Iya, sudah tahu. Di mana?” Xiang Qi melihat kurma di atas meja, mengambil satu lalu memasukkan segenggam ke kantongnya, langsung melesat keluar.
“Anak itu, kalau disuruh antar ke Xiao Liu saja tidak serajin ini.” Ibu Xiang Qi melihat punggung putranya, tersenyum sambil menggeleng.
Linhai berada di Jiangnan. Sekitar jam enam atau tujuh sore, hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala, tapi halaman kecil itu tetap sunyi. Dari kamar Lin Feiya tampak cahaya lampu temaram, mungkin ia sedang belajar. Dulu waktu SMA, Xiang Qi hampir tak pernah mengerjakan PR. Hampir tidak ada yang seperti Lin Feiya, masih belajar hingga larut malam.
Ia membuka pintu kayu yang sudah agak lapuk. Lin Feiya sedang menulis di meja kayu dekat jendela. Akhir musim panas, udara masih panas, Lin Feiya hanya memakai kaos tanpa lengan berwarna biru muda. Lengan rampingnya seperti terbuat dari giok putih, wajah bulat bersih memantulkan cahaya kuning lampu. Dari samping, ia tampak diam dan cantik, hidungnya mancung, alisnya indah, dan kulit di lehernya seputih salju, membuat Xiang Qi tak bisa berkata-kata.
“Kamu ke sini mau apa?” Lin Feiya menatap Xiang Qi, sedikit berkerut kening.
Jantung Xiang Qi berdebar. Kerutan di kening Lin Feiya justru menambah pesonanya.
“Ibu suruh aku kasih kamu kurma.” Xiang Qi meletakkan kurma di meja Lin Feiya, lalu melirik ke buku catatannya. Ternyata soal geometri ruang.
“Oh, terima kasih pada bibi dariku,” jawab Lin Feiya, melirik Xiang Qi lalu kembali menunduk menulis.
Xiang Qi mencondongkan tubuh ke meja, memainkan boneka babi kecil yang sudah agak usang tapi masih bersih dan lucu.
“Kamu belum mau pergi?” tanya Lin Feiya, menatap Xiang Qi.
“Nanti juga pergi,” Xiang Qi terkekeh, lalu melihat ke tengah meja. Ada tempat pensil ukiran kayu yang ia buat ketika belajar pertukangan di usia enam belas tahun. “Kamu masih simpan ini?”
“Apa?” Lin Feiya menoleh, melihat tempat pensil itu. Bulu matanya bergetar, lalu ia menunduk pura-pura acuh. “Kalau beli baru kan harus keluar uang.”
Xiang Qi sedikit kecewa. Hanya karena hemat, jadi masih dipakai?
“Soal itu sulit? Perlu kubantu?” Xiang Qi menyembunyikan kekecewaannya dengan tertawa.
“Tidak perlu.” Lin Feiya menggeleng.
“Aku lumayan jago geometri ruang, siapa tahu bisa membantu.” Xiang Qi menunduk melihat soal, langsung paham letak masalah, lalu menunjuk, “Tarik garis bantu dari sini ke sini, pasti selesai.”
“Sudah kubilang tidak perlu!” Lin Feiya menutup buku, menatap Xiang Qi dengan marah. Bahkan ia sendiri tak tahu kenapa begitu marah. Tak diragukan, Xiang Qi punya otak cemerlang, tapi masa SMA-nya ia buang sia-sia, membuat Lin Feiya sangat kecewa. Kini Xiang Qi juga tidak punya pekerjaan tetap. Lin Feiya benar-benar marah, mengapa Xiang Qi tak pernah mau berubah. Hampir setiap hari ia ingin bertanya, “Kau masih kakak Xiang Qi yang dulu?”
Belum pernah Xiang Qi melihat Lin Feiya semarah ini. Ia terdiam, lalu berkata, “Aku pulang dulu, jangan belajar terlalu malam.”
Xiang Qi keluar dari kamar Lin Feiya, menutup pintu, lalu berjalan mondar-mandir di halaman, duduk di bangku batu di bawah pohon huai tua, menatap langit penuh bintang. Perasaan sedih dan kenangan masa lalu membanjiri hatinya. Ia mulai paham, kenapa Lin Feiya tiba-tiba sangat marah.
Xiang Qi tiga tahun lebih tua dari Lin Feiya. Waktu SD dan SMP nilainya selalu bagus. Jadi kalau Lin Feiya tidak bisa, Xiang Qi pasti membantu. Tapi setelah masuk SMA, musibah menimpa keluarga, Xiang Qi kehilangan orang yang paling ia sayangi. Ia mulai terpuruk, kecanduan internet, merokok, minum, hingga jadi berandalan. Ia pun makin jauh dari Lin Feiya, dari sahabat kecil menjadi nyaris seperti orang asing.
Orang yang kembali ke jalan benar sangat berharga. Xiang Qi menarik napas dalam-dalam, mematikan rokok yang sudah separuh dibakar, lalu mengumpat sambil tersenyum pahit, “Sialan, sudah janji berhenti merokok.”
Hatinya masih berat, tapi perlahan lebih lega. Ia berjalan menuju kamarnya, samar-samar mendengar suara tangis dari arah kamar Lin Feiya. Ia berhenti sejenak.
Xiang Qi terdiam lama di tempat, lalu menggigit bibir dan kembali ke kamarnya.
–– Tetaplah rendah hati, diam-diam saja membaca, jangan sampai ada yang tahu.