Bab 43 Prajurit di Bawah Peti Mati Kayu
Dari tempat persembunyiannya, Lin Tian mengamati suasana di sekitar api unggun melalui cahaya yang berkerlap-kerlip. Ia penasaran dengan peti mati kayu itu, yang sebelumnya belum ada, entah kenapa tiba-tiba muncul. Orang-orang di belakang kepala perampok itu, saat mendengar suara ketukan dari dalam peti, wajah mereka berubah pucat dan ketakutan, bahkan beberapa mulai gemetar hebat.
Hal ini makin membuat Lin Tian ingin tahu apa sebenarnya yang tersembunyi dalam peti mati itu, sampai-sampai mereka ketakutan seperti itu. Kepala perampok itu mendorong tutup peti dengan percaya diri, Lin Tian tetap tidak mengerti apa isinya. Hingga tiba-tiba, seseorang melompat keluar dari dalamnya. Orang itu berkulit pucat, tampak seperti mayat, namun matanya hidup, gerakannya pun gesit dan bebas. Ia bahkan memancarkan aura yang sangat kuat, setidaknya setara dengan tahap akhir penegakan dasar, atau mungkin lebih kuat lagi.
“Apa lagi ini?” gumam Lin Tian terkejut. Selain wajahnya yang pucat tanpa darah, orang itu tak berbeda dengan manusia biasa. Kepala perampok itu tersenyum percaya diri, “Pergi, lihat ada apa di sana.”
Orang itu berjalan ke arah yang ditunjuk kepala perampok. Lin Tian segera bergerak menjauh, namun orang itu seolah bisa melacak keberadaannya. Begitu Lin Tian bergerak, ia pun langsung berbalik mengejar.
Lin Tian terkejut, orang itu sudah naik ke bukit pasir, melaju cepat ke arahnya. Kecepatannya setidaknya setara dengan tahap akhir penegakan dasar. Tak lama, jarak mereka hanya tinggal lima-enam langkah. Lin Tian berbalik dan melempar belati.
Belati itu menancap keras di tubuh orang itu, terdengar suara ‘bung’, seperti menghantam karung pasir yang empuk. Melihat itu, Lin Tian mengira belatinya sudah membuat lawannya luka parah.
Namun saat Lin Tian hendak menghantam dengan tinjunya, orang itu mencabut belati dan membuangnya begitu saja tanpa berkata-kata. Ia pun melancarkan tinju ke arah Lin Tian. Kedua kekuatan itu beradu, sama kuatnya, meski Lin Tian sudah menyiapkan tenaga penuh, lawannya hanya mengayun santai. Akibatnya, mereka berdua mundur beberapa langkah. Lin Tian segera mengambil belatinya kembali.
Namun ia terkejut, belati itu tidak berlumuran darah. Padahal baru saja ia membunuh orang dan belatinya masih berbau darah. Kini tak ada setetes pun. Ia bergumam bingung, “Ini manusia, atau makhluk apa?”
Saat itu terdengar suara di benaknya, “Itu adalah mayat yang berubah, lebih tepatnya prajurit kerangka hasil olahan ajaran sesat, yang hidup dengan menghisap darah.”
Itu suara Wuhen dari dalam belati. Lin Tian terperanjat, “Lalu... bagaimana ini? Lawannya sangat kuat, aku tak sanggup melawan lama. Ada cara mengatasinya?”
Roh jahat Wuhen berpikir sejenak lalu berkata, “Aku sudah menjadi roh. Nanti, saat belatimu kembali menancap di tubuhnya, aku akan langsung masuk ke tubuhnya dan menghancurkan semua perintah yang mengontrolnya.”
“Perintah? Maksudmu, di dalam tubuhnya ada perintah?” Lin Tian terkejut, tapi juga senang, karena setidaknya ada cara menghadapi prajurit kerangka itu.
Wuhen tak sempat menjelaskan lebih lanjut, karena lawan sudah menyerang. Lin Tian menangkis dengan satu pukulan, prajurit kerangka itu juga membalas dengan pukulan. Di saat bersamaan, Lin Tian melempar belati dengan tangan satunya. Belati itu kembali menancap ke tubuh musuh.
Namun Lin Tian sendiri merasakan kesakitan. Lawan kali ini sudah mengumpulkan tenaga, kekuatannya hampir dua puluh ribu, membuat Lin Tian terlempar dan berguling di tanah, lengannya mati rasa dan nyeri. Sementara prajurit kerangka itu hendak mencabut belati, roh jahat dalam belati melesat masuk ke tubuhnya, mengacak-acak sisa kesadaran di dalamnya.
Prajurit kerangka itu berguling di tanah, memegangi kepala, tampak sangat menderita. Lin Tian bangkit perlahan, tubuhnya mulai pulih berkat bantuan Buddha giok di dalam dirinya. Melihat Buddha itu mampu memperbaiki luka, Lin Tian sedikit lega.
Prajurit kerangka itu perlahan kehilangan kesadaran bertarung, pikirannya kosong, lalu akhirnya terjatuh dan terpejam, seperti sedang tidur. Lin Tian mencabut belatinya dengan ragu, “Bagaimana, sudah selesai?”
“Aku hanya menghancurkan semua perintah dalam dirinya, sekarang ia sudah tertidur,” jawab Wuhen. Lin Tian menarik napas lega, bersyukur pernah menaklukkan Wuhen. Kalau tidak, hari ini ia mungkin sudah mati di tangan makhluk itu.
Orang-orang yang menunggu di kejauhan mengira Lin Tian pasti sudah mati. Sampai sebuah sosok muncul di puncak bukit pasir, memandang kepala perampok. Kepala perampok itu curiga, “Siapa kau?”
Orang-orang mulai penasaran, mengira yang datang pasti tokoh penting, karena kalau bukan, mana mungkin bisa lolos dari serangan prajurit kerangka. Ketika Lin Tian turun dari bukit pasir, semua orang tertegun.
Kepala perampok tidak percaya, “Kau? Bagaimana bisa? Lalu prajurit kerangaku?”
Lin Tian tersenyum, “Maksudmu mayat itu? Sekarang sedang tidur.”
Kepala perampok tidak menerima, “Mustahil! Mana mungkin dia tidur? Ia prajurit kerangka, hanya patuh pada perintahku. Selama belum membunuhmu, ia takkan tidur!”
Lin Tian menyeringai, “Begitu? Sayang sekali, sekarang benar-benar sedang tidur.” Kepala perampok cepat-cepat mencabut pedang melengkungnya, menatap Lin Tian dengan gentar, “Kau... siapa sebenarnya? Apa yang kau lakukan pada orang-orangku?”
Lin Tian tersenyum, “Empat orangmu, dua sudah mati, dua lagi sedang tidur. Prajurit kerangamu juga tidur.”
Wajah kepala perampok seketika gelap. Orang-orang memandang Lin Tian dan kepala perampok itu dengan tak percaya. Mereka yang tadi mengejek Lin Tian, kini hanya tersisa satu orang kepala perampok.
Namun suasana perlahan berubah menjadi riuh. Jika Lin Tian bisa mengalahkan prajurit itu, berarti kepala perampok pun pasti bisa ditaklukkan. Kepala perampok, sambil terus mundur dan menggenggam pedang, mengancam, “Tunggu saja, aku takkan melepaskanmu!” Setelah berkata begitu, ia berlari secepat mungkin, sambil sesekali menelan pil.
Lin Tian awalnya ingin mengejar, tapi melihat lawan kabur begitu cepat, ia mengurungkan niat dan menoleh pada para tawanan.
“Kakak, sudah kuduga kau hebat, pasti bisa mengatasi mereka!”
“Benar-benar pahlawan muda, luar biasa!”
“Hebat, memang benar orang Tianling!”
“Bagus, akhirnya kami selamat!”
Mereka semua bersorak. Seorang pemuda dari Yufeizong menatap Lin Tian dengan mata berbinar, entah apa yang dipikirkannya. Sampai akhirnya, Lin Tian memotong tali yang mengikat mereka dengan belatinya, mereka beramai-ramai mengucapkan terima kasih, tapi Lin Tian berkata, “Kalau kalian tidak ingin tertangkap lagi, lebih baik segera pergi dari sini.”
Mendengar itu, barulah mereka sadar, kekuatan spiritual mereka masih tersegel, wajah-wajah mereka kembali cemas. Suasana jadi sunyi. Lin Tian yang melihat isi hati mereka tersenyum, “Tersegel kekuatan spiritualnya? Biar kubuka segelnya.”
Mereka sangat gembira. Lin Tian mengulurkan tangan ke perut salah satu orang, tepat di dantiannya, di sana memang ada energi yang menyumbat aliran spiritual. Lin Tian langsung menyedot energi itu keluar.
Begitu ia menarik tangannya, orang itu berseru kaget, “Kekuatan spiritualku kembali!” Yang lain pun segera maju meminta bantuan. Lin Tian mengulurkan kedua tangannya untuk membantu mereka satu per satu. Dalam waktu singkat, belasan orang telah terbebas dari segel.
Setelah berterima kasih, mereka langsung kabur, takut kepala perampok tadi kembali dengan bala bantuan. Setelah membebaskan pemuda itu, pemuda tersebut tetap diam di tempat. Lin Tian tersenyum heran, “Yang lain sudah pergi, kenapa kau masih di sini?”
Tiba-tiba pemuda itu berlutut, membuat Lin Tian terkejut, “Apa yang kau lakukan?”
“Tolong... selamatkan guruku!” Suaranya tegas dan penuh harap. Lin Tian mengangkat alis, “Berdirilah dulu, ceritakan tentang gurumu.”
Setelah Lin Tian membantunya berdiri, pemuda itu berkata, “Guruku ditangkap mereka, dijaga oleh orang lain. Soalnya, guruku sudah mencapai tahap Jindan. Orang-orang itu sebenarnya tak sanggup menahannya.”
“Dijaga orang lain? Tahap Jindan? Maksudmu masih ada perampok lain?” tanya Lin Tian penasaran.
“Benar. Perampok-perampok ini tersebar di padang pasir, khusus menangkap orang untuk dijadikan prajurit kerangka. Aku dan guruku awalnya ke sini mencari sesuatu, tapi akhirnya ikut tertangkap. Kumohon, selamatkan guruku!”
Lin Tian mengeluh, “Tapi kekuatanku tidak cukup untuk menyelamatkan gurumu.” Bukan karena ia tidak mau, tapi kemampuannya memang terbatas. Jika orang setingkat Jindan saja bisa ditangkap, berarti lawan juga minimal Jindan, sedangkan Lin Tian sendiri mungkin sudah mati sebelum bertarung.
Pemuda itu berkata, “Tidak harus kuat.” Lin Tian heran, “Tanpa kekuatan, bagaimana bisa menyelamatkan?”
Pemuda itu menjelaskan, “Guruku ditangkap oleh prajurit kerangka. Jika kau bisa mengalahkan prajurit kerangka, pasti bisa menyelamatkan guruku.”
Lin Tian memang bisa mengatasi prajurit kerangka, tapi semua tergantung pada tingkatannya. Ia jadi berpikir keras. Pemuda itu segera menambahkan, “Selama kau bisa menyelamatkan guruku, aku rela melakukan apa saja!”
Melihat ketulusan pemuda itu, Lin Tian terharu. Di saat bahaya, seorang murid masih memikirkan gurunya dan rela menghadapi apa pun demi menolongnya. Setelah berpikir sejenak, Lin Tian berkata, “Baiklah, aku akan membantumu menyelamatkan gurumu.”
Pemuda itu sangat gembira, “Terima kasih, Kakak.” Lin Tian tersenyum masam, “Jangan panggil aku Kakak, aku tidak sehebat itu. Panggil saja Lin Tian, kau siapa?”
“Aku Feiyun, dari Yufeizong. Aku yatim piatu, guruku yang mengasuhku, jadi ia memberiku nama Feiyun,” jawabnya.
Lin Tian tersenyum, “Feiyun, namamu bagus. Lalu, bagaimana dengan kekuatanmu?”
Feiyun malu-malu, “Umurku enam belas tahun, sudah tahap pertengahan penegakan dasar.”
Lin Tian terperanjat, “Kau sudah tahap pertengahan penegakan dasar?”