Bab 69: Itu Bintang Jatuh, Cepat Lari!
Zhang Chengbao tak diragukan lagi adalah seorang jenius. Jika saja Chen Tianzhu, sang Penumpang Waktu, tidak ikut campur, mungkin saja dia bisa menjadi bapak kecerdasan buatan generasi ini. Sayangnya, Chen Tianzhu yang mampu melihat masa depan merebut segalanya dari tangannya.
Namun pada akhirnya, Chen Tianzhu tetap menyesal. Ia berniat mengembalikan semua yang telah ia ambil dari orang-orang yang buah pemikirannya telah ia curi, bahkan ia rela menghancurkan sendiri Grup Xuan Zhong yang ia bangun dengan susah payah.
Ia juga sangat sadar bahwa hanya mengandalkan wasiat saja belum tentu mampu membatasi orang seperti Xiao Yi. Maka ia sekalian menggunakan seluruh hak akses Zona Rahasia Dua dan aturan tersembunyi ketiga dari Dunia Paralel sebagai syarat.
Dan seperti yang ia duga, demi syarat itu pun Xiao Yi terpaksa membantu mewujudkan keinginan terakhirnya.
Orang pertama yang ingin ia kompensasi adalah Zhang Chengbao. Saat ini, Zhang Chengbao sudah terhanyut dalam kekaguman. Ia menatap kode-kode program itu dan berbisik, “Indah sekali, sungguh luar biasa indah. Orang seperti apa yang bisa menulis program secantik ini? Kenapa bisa seindah ini?”
Zhang Chengbao benar-benar tenggelam dalam versi terbatas program kecerdasan buatan yang diberikan Sun Ming padanya. Ia meneliti dengan seksama hampir setengah jam, barulah ia berkata pada ketiganya, “Maaf, aku terlalu hanyut sampai lupa menyuguhkan minum untuk kalian.”
Xiao Yi melambaikan tangan, “Tidak usah minum, kami masih ada urusan hari ini, jadi mungkin harus pergi lebih awal. Program kecerdasan buatan ini kami tinggalkan di sini saja.”
Pak Zhang mengerutkan dahi, “Mana bisa begitu? Barang semahal ini tidak bisa sembarangan diberikan pada orang luar.”
Xiao Yi tersenyum, “Anda bukan orang luar, kan? Meski benda ini berharga, masih punya kekurangan besar. Sun Ming datang menemuimu justru untuk mengatasi kekurangan itu. Kalau tak diberi waktu cukup untuk meneliti, bagaimana bisa menemukan masalahnya?”
Zhang Chengbao tampak ragu, “Baiklah, kalau kalian percaya padaku, sistem ini bisa kutahan dulu. Setelah aku atasi masalahnya, aku hubungi kalian lagi.”
“Itu tidak bisa!” tiba-tiba wajah Xiao Yi menjadi serius.
Zhang Chengbao langsung tegang, apakah mereka berubah pikiran?
Siapa sangka Xiao Yi berkata, “Karena Anda sudah membantu dan bahkan berperan penting, tentu kami tak mau merugikan Anda. Setelah Anda atasi masalah dalam program itu, kita langsung ajukan hak kekayaan intelektual bersama. Keuntungannya nanti kita bagi dua sama rata!”
Zhang Chengbao dibuat terkejut dan gembira sekaligus oleh ucapan Xiao Yi. Ia bertanya tak percaya, “Hanya karena memperbaiki beberapa masalah, kalian mau bagi hasil lima puluh lima puluh denganku? Apakah kalian tahu betapa berharganya sistem ini? Sistem ini bisa laku dengan harga sangat tinggi, banyak perusahaan teknologi akan berebut, kalian tahu? Begitu bocor, Grup Xuan Zhong pasti akan mengundang kalian jadi wakil direktur, kalian tahu?”
Xiao Yi hanya terdiam.
Pak Zhang asal bicara, tapi ternyata benar juga.
Sun Ming tergagap, “Pa... Pak Zhang, beberapa masalah itu sangat krusial, nilainya setara dengan sistem ini. Kami... kami bukan tipe orang yang mau untung sendiri.”
Meski Sun Ming terlihat kikuk, yang ia katakan memang benar. Beberapa celah dan masalah yang ada dalam sistem itu ia pilih dengan teliti. Jika tidak dipecahkan, sistem itu sama sekali tidak bisa dipakai. Tapi jika masalah itu teratasi lalu dijual ke perusahaan besar, bukan tidak mungkin negeri Z akan lebih awal memasuki era robot, dan robot akan hadir di setiap rumah, di sawah dan ladang.
Zhang Chengbao tidak berkeras lagi. Siapa pun tak akan menolak uang. Ia berkata, “Baiklah, serahkan saja barang ini padaku, aku janji akan menjaganya dengan baik. Kalian tinggalkan kontak, setelah aku bereskan masalahnya, aku hubungi kalian, lalu kita ajukan perlindungan hak kekayaan intelektual bersama!”
Ketiganya pun tersenyum dan berjanji dengan Pak Zhang. Setelah itu mereka meninggalkan kampus. Ling Xiao mengedip pada Xiao Yi, “Katanya kamu tidak pandai berbohong, tapi kok kalau bohong tidak kelihatan malu, jantung tak berdegup kencang, mata pun tak berkedip?”
Xiao Yi tertawa, “Kebohongan demi kebaikan, masa itu disebut menipu? Itu namanya berdusta kecil secukupnya.”
“Ehem, ehem!” Sun Ming tak tahan tertawa, lalu terbatuk-batuk karena tersedak air liurnya sendiri.
Xiao Yi pun melirik waktu, “Baik, sekarang kita antar Sun Ming ke Restoran Lai Fu, setelah itu langsung kembali ke kota H.”
Xiao Yi menyetir mobil bersama Sun Ming sampai di depan Restoran Lai Fu. Agar tidak ribet, Xiao Yi tidak turun dari mobil. Ia hanya membuka kaca dan berpesan pada Sun Ming, “Hati-hati di dalam, tetap waspada. Kalau merasa ada yang aneh, langsung pergi saja.”
Sun Ming adalah anggota tim yang sangat berharga dalam riset, tapi ia tidak punya kekuatan bertarung, jadi tak boleh sampai terjadi sesuatu padanya.
Sun Ming mengangguk, lalu dengan sedikit gugup berjalan menuju pintu restoran. Restoran itu sangat luas, bertingkat tiga, dan hari ini tampaknya disewa khusus oleh seseorang. Ini mengingatkan Xiao Yi pada cerita kakaknya kemarin, katanya ketua kelas Sun Ming ini selain muda juga kaya, dan sangat cerdas.
Setelah Sun Ming turun, Xiao Yi dan Ling Xiao pergi. Saat itulah Sun Ming baru menyadari ada sepasang pria dan wanita berdiri di depan pintu restoran. Pria itu begitu melihat Sun Ming langsung mendekat, “Sun Ming, hebat juga kamu! Baru beberapa tahun tak bertemu, sudah datang naik mobil seperti itu. Mobil itu pasti minimal dua juta, kan?”
Sun Ming tergagap, “Bukan... bukan mobilku, itu mobil teman.”
Ketua kelas menggeleng, “Kenapa tidak ajak dia turun biar kami kenalan?”
Sun Ming menggaruk kepala, “Hehe~”
Bersikap bodoh adalah salah satu keahliannya.
Tapi saat itu, seorang gadis tiba-tiba berseru, “Eh, bukankah itu Xiao Yi?”
Beberapa gadis di sebelahnya bertanya, “Bibi kecilmu, bibi kecilmu yang mana?”
Gadis itu menjawab, “Itu, yang baru saja mengemudi pergi itu.”
Beberapa gadis itu pun langsung terkejut, “Apa? Bibi kecilmu laki-laki?”
Gadis yang mengenali Xiao Yi langsung bingung, “Kalian ngomong apa sih?” Setelah beberapa saat ia baru sadar, lalu menjelaskan, “Yang kumaksud Xiao Yi, adik dari Xiao Rumo yang tadi kuceritakan.”
Baru selesai ia bicara, Xiao Rumo yang hari ini piket sudah sampai naik bus. Begitu turun, sekelompok gadis langsung mengerubunginya. Beberapa bahkan dengan wajah memerah memberikan buket bunga lili yang segar.
Di dalam mobil, Ling Xiao yang duduk memperhatikan lewat kaca spion. Ia bertanya, “Di kota C, gadis memberi bunga pada gadis lain itu biasa ya?”
Xiao Yi menjawab, “Tidak, itu tidak biasa... kamu pikir kota C ini tempat apa? Negeri bunga lili?”
Ling Xiao menatap kakak perempuan Xiao Yi, lalu berkata, “Jujur saja, aku juga merasa kakakmu sangat menarik. Kalau saja dia terlahir sebagai laki-laki, mungkin sudah jadi rebutan para gadis cantik.”
Xiao Yi melirik Ling Xiao sekilas, Ling Xiao langsung menjulurkan lidah, memilih diam.
Xiao Yi mencari tempat sepi dan luas untuk memarkirkan mobil, lalu mereka duduk berdua dalam mobil menunggu. Tak ada yang bicara, kadang Xiao Yi tanpa sadar mengusap keningnya.
Melihat itu, Ling Xiao bertanya, “Jangan-jangan kamu juga bisa membuka mata ketiga? Apakah keluargamu memang semua bisa begitu?”
Xiao Yi berpikir sejenak, “Mungkin tidak, tapi aku sendiri belum tahu pasti.”
Saat Xiao Yi berbicara, tiba-tiba muncul cahaya terang di langit. Ling Xiao langsung berseru, “Itu bintang jatuh, ayo cepat berdoa!”
Tak lama, beberapa cahaya hijau muncul di langit dan makin lama makin terang, makin besar.
Xiao Yi akhirnya mengerti mengapa ia merasa tidak enak sejak tadi. Ia melihat Ling Xiao masih menunduk berdoa, langsung menariknya keluar dari mobil, “Berdoa apa lagi? Cepat lari!”
Ling Xiao pun langsung sadar, “Serangan maut, ya?”
Beberapa cahaya hijau itu makin membesar, samar-samar terdengar suara angin kencang. Itu adalah beberapa meteor yang menghujam ke arah mereka!