Bab Dua Puluh Lima: Menghadiri Janji di Larut Malam
Mereka menerobos gang-gang yang berliku hingga tiba di kediaman He Ergui di ujung timur desa.
Rumah itu sudah dilalap si jago merah. Cahaya api membumbung tinggi, menjilat-jilat di langit malam dengan liar, hingga membuat udara di sekitarnya tampak bergelombang karena panas. Ye Fei dan Paman Lao Lin tanpa ragu langsung terjun untuk memadamkan api.
Mereka berjuang keras mengayunkan ember dan peralatan yang ada, berusaha mengendalikan kobaran api. Namun, api justru kian mengganas, seolah ada kekuatan tak kasatmata yang mendorongnya untuk terus mengamuk. Hawa panas dari kobaran api menerpa wajah, membuat Ye Fei sesak napas.
Setelah perjuangan sengit, api akhirnya berhasil dikendalikan. Ye Fei dan warga desa lainnya duduk di tanah dengan lelah, menatap pemandangan kacau di depan mata.
"Xiao Fei, menurutmu, apakah pengembang resor itu yang bermain di balik semua ini?"
Kerutan di wajah Paman Lao Lin tampak lebih dalam di bawah cahaya lampu yang redup. Ia menepuk bahu Ye Fei pelan dengan suara yang sangat rendah. Grup Zhou memiliki modal yang kuat; begitu perjanjian pengambilalihan ditandatangani, kompensasi tunai akan segera cair. Banyak warga yang sudah menandatangani kesepakatan telah pindah dari desa dalam dua hari terakhir. Kini, hanya tersisa beberapa keluarga yang menolak untuk menandatangani.
Mendengar ucapan Paman Lao Lin, secercah ketidakpercayaan melintas di mata Ye Fei. Meskipun Zhou Muqing selalu bertindak tegas dan tanpa ampun dalam pekerjaannya, tindakan ekstrem seperti penggusuran paksa dengan kekerasan... rasanya dia tidak akan melakukannya.
Ye Fei menggelengkan kepala, mencoba menepis keraguan di hatinya. Namun, ucapan Paman Lao Lin ibarat benih yang mulai tumbuh dan berakar di benaknya.
Isak tangis He Ergui terdengar sesekali. Selama bertahun-tahun merantau di kota, semua uang yang ia hasilkan ia gunakan untuk merenovasi rumah tersebut. Ia hanya menunggu dua tahun lagi untuk membawa seorang istri ke rumah itu, dan hidupnya akan terasa lengkap. Kini, sebelum proses penggusuran tuntas, rumahnya sudah hangus seperti ini.
Menurut standar kompensasi Grup Zhou, puing-puing di depannya itu mungkin hanya akan diganti dengan nominal kompensasi kelas terendah. Angka yang sangat kecil itu terasa begitu tidak berarti dibandingkan kerja kerasnya selama bertahun-tahun.
"Andai saja aku menandatangani lebih awal dan pergi dengan membawa uang, mungkin aku bisa memulai hidup baru..." He Ergui duduk di tanah, tangannya memukul-mukul tanah dengan lemas. Debu hitam di wajahnya bercampur dengan air mata yang mengalir turun.
Ponsel di saku Ye Fei berdering, memecah lamunannya.
"Sekarang tokomu sudah tutup, bisa kembali bersamaku, kan?"
Suara Zhou Muqing terdengar dari ujung telepon, jernih dan tenang, bagaikan aliran air di tengah malam yang dingin. Ye Fei baru menyadari sesuatu, dan hatinya mulai diliputi keraguan. Mungkinkah pelaporan terhadap tokonya juga merupakan ulah Zhou Muqing?
Angin sepoi-sepoi berembus, membawa sisa aroma hangus. Bau menyengat itu menusuk hidung Ye Fei, menyebar ke seluruh tubuhnya hingga membuat dadanya sesak.
Apakah Zhou Muqing sanggup melaporkan tokonya hanya demi memaksanya kembali? Jika demikian, kebakaran ini... mungkin juga ada campur tangannya demi menyelesaikan pembangunan resor tersebut.
Ye Fei mengatupkan gigi, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Dugaan yang meresahkan di hatinya kini seperti sumbu yang tersulut, dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya merasa yakin.
"Di mana kau?" ucapnya dingin dengan nada jijik. Setelah mendapat jawaban, ia langsung menutup telepon.
Pandangannya menyapu puing-puing bangunan yang hancur, lalu tertuju pada wajah Paman Lao Lin yang tua namun tegar. Ia segera memesan kendaraan melalui ponsel untuk membawa Paman Lao Lin dan Lin Yao kembali ke kota.
Di dalam lift, suasana terasa begitu menyesakkan hingga hampir membuat napas terhenti. Pintu logam perlahan menutup dengan suara dengungan rendah, seolah merespons beban berat yang ada di hati mereka.
Ye Fei membaringkan Paman Lao Lin di kamar tidurnya dan menutup pintu dengan pelan. Saat berbalik, ia sudah menggenggam kunci di tangannya, bersiap untuk pergi lagi. Suara Lin Yao terdengar, ia berdiri diam di tengah ruang tamu.
"Kak Ye Fei, mau ke mana?"
Lampu temaram yang menyorot dari atas menyelimuti wajahnya dalam bayang-bayang, hanya menyisakan sepasang mata yang cerah namun tampak sedikit redup.
"Aku... aku ada urusan, kalian tidurlah duluan."
Suara Ye Fei terdengar berat. Ucapannya menggema di udara, lalu ia berbalik tanpa ragu dan melangkah pergi, meninggalkan punggungnya yang terburu-buru.
...
Pusat Kota Lanxi tidaklah luas, Ye Fei segera tiba di hotel tempat Zhou Muqing menginap. Resepsionis sepertinya mengenalinya, ia menyambutnya dengan hangat dan bahkan membantu menempelkan kartu akses lift sebelum Ye Fei sempat bicara.
Ye Fei melangkah masuk ke dalam lift panoramik; dinding kaca transparan memperlihatkan pemandangan kota di malam hari. Ia menatap lampu-lampu yang berkelap-kelip di luar jendela. Namun, pemandangan indah itu tak mampu menenangkan gejolak di hatinya.
Kemunculan Zhou Muqing kali ini telah mengacaukan seluruh hidupnya yang damai. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan wanita itu. Apakah hanya untuk menyiksanya karena tidak mau bercerai? Ia tidak habis pikir, ia hanya ingin segera berpisah sepenuhnya dari wanita ini.
Ia melangkah perlahan di atas karpet yang empuk, setiap langkahnya terasa membawa beban pikiran yang berat.
Berdiri di depan pintu kayu ganda, ia mengetuk bel, suara dentingnya yang jernih menggema di malam yang sunyi. Ye Fei sedikit mengernyit, kecemasan yang tak terjelaskan muncul di hatinya.
Ia meraih ponsel, ingin menelepon Zhou Muqing. Namun, waktu yang tertera di layar membuatnya terpaku—sudah pukul tiga pagi. Memikirkan bahwa Zhou Muqing mungkin sudah tidur, Ye Fei mengepalkan tangan dan menghantamkannya ke dinding di samping pintu.
Sekilas, ia melihat kartu kamar terjatuh tepat di bawah pintu. Ia membungkuk, memungutnya, dan menempelkannya pada kunci sensor. Dengan suara "bip" yang pelan, pintu pun terbuka perlahan.
Ye Fei menarik napas dalam-dalam lalu melangkah masuk. Begitu masuk, aroma familiar menyambutnya—paduan aroma kayu dan kulit. Rasanya seperti kembali ke rumah di Kota Jing. Ia mengernyitkan dahi.
Ia berjalan di dalam ruang suite dengan langkah yang ringan namun terasa berat. Pandangannya tertuju pada tempat tidur, di mana sesosok tubuh ramping sedang terlelap dalam mimpi yang dalam. Ia tidak lupa akan tujuan kedatangannya, ia hendak mengulurkan tangan untuk membangunkannya.
Namun, tepat saat ia hendak menyentuhnya, bayangan wajah wanita itu yang tampak lusuh beberapa hari lalu muncul di benaknya bagaikan air bah. Entah mengapa, tangannya terhenti di udara, lalu perlahan ia tarik kembali.
Setelah menghela napas panjang, ia berbalik meninggalkan kamar tidur kecil itu dan menutup pintunya perlahan. Ia duduk sendirian di sofa ruang tamu, merasa pikirannya begitu kacau.
Ia mengeluarkan rokok dari sakunya, nyala api berwarna jingga menerangi sekeliling. Asap rokok perlahan membubung di udara, membawa aroma tembakau yang samar, memenuhi seluruh ruangan.
Ia menoleh ke arah jendela, langit malam tampak seperti tinta hitam. Di balik lapisan tipis tirai, terhampar pemandangan utuh Kota Lanxi. Ia menatap kota yang samar itu, sementara pikiran-pikiran yang tak terlukiskan terus bergejolak di hatinya.
Di asbak di depannya, puntung rokok sudah menumpuk seperti gunung, namun ia seolah tidak menyadarinya. Ia hanya duduk diam, membiarkan pikirannya melayang di tengah malam.
Kegelapan malam di luar jendela perlahan memudar, seiring cahaya pagi yang menembus tirai tipis dan menyinari ruangan. Tiba-tiba, terdengar suara keributan dari arah belakang.