Bab Tiga: Fengshui
Begitu masuk ke dalam, perasaan Dong Gendut sangat kesal sejak pagi karena dimarahi nyonya pemilik, dan kebetulan ia melihat Li San. Ia bersiap memaki Li San untuk melampiaskan kekesalannya, bahkan tak melihat siapa yang masuk bersama Li San, langsung mulai memarahi.
"Li San, kamu hebat juga ya, sok keren pakai kacamata hitam, pura-pura jadi bujangan keren!"
"Siapa yang suruh kamu masuk sambil mengisap rokok!"
Dong Gendut langsung menepiskan rokok mewah yang baru saja dinyalakan Li San ke lantai. Pria botak yang berdiri di samping Li San langsung memasang wajah gelap, meraih kerah baju Dong Gendut.
"Kamu berani-beraninya ngomong begitu ke Kakak San!"
Dong Gendut hampir gila. Sejak kapan Li San jadi Kakak San? Baru sadar yang menarik kerahnya adalah Ma Dahay, pengembang properti terbesar di kota ini. Sebagai manajer lobi, mana mungkin ia berani macam-macam? Ia buru-buru minta maaf,
"Wah, ternyata Bang Ma! Maaf ya, saya tak tahu abang ada di sini. Orang besar seperti abang pasti pemaaf, perut abang luas seperti pelabuhan, makanya orang-orang menjuluki abang sebagai Perdana Menteri Ma! Perut abang memang luas, bisa menampung kapal!"
Li San hampir tersedak mendengar itu. Untung saja Dong Gendut tak bilang dia anak buah Ma.
Ma Dahay melepaskan kerah Dong Gendut, lalu mengajak Li San langsung ke kantor nyonya pemilik Red Romance. Ia membuka pintu, nyonya pemilik sedang duduk di kursi eksekutif, mengenakan gaun sutra bertali, sepasang stoking hitam dan sepatu hak tinggi merah, rambutnya bergelombang tebal membuat orang ingin mendekat dan mencium aromanya.
Begitu melihat Ma Dahay, ia sedikit mengernyitkan alis. Bukankah kemarin sudah menyuruhnya pergi, kenapa hari ini datang lagi? Namun ia melihat ada seseorang di belakang Ma Dahay, lalu bertanya,
"Apa angin yang membawa Bos Ma ke sini lagi hari ini?"
Sambil berkata begitu, ia menyalakan sebatang rokok wanita, gayanya benar-benar berkelas.
Ma Dahay berkata pada nyonya pemilik, "Liu Na, hari ini aku ada perlu dengan adik kecil kalian ini, pinjam satu hari ya, gajinya biar aku yang bayar, bagaimana?"
Liu Na melirik Li San, "Kupikir ada urusan apa, kalau Bos Ma yang bicara, tentu boleh."
Ma Dahay mengucapkan terima kasih, lalu menepuk punggung Li San dan mengajaknya pergi. Setelah naik mobil, Ma Dahay membawanya ke vila pribadinya.
Begitu masuk, Li San langsung terkesima melihat kemewahan di dalam rumah. Apa bedanya dengan istana? Dirinya tinggal di kamar kontrakan lima meter persegi, orang lain tinggal di vila sebesar ini.
Setelah masuk, Ma Dahay mempersilakan Li San duduk sembarangan, sementara ia sendiri membuatkan teh. Duduk di sofa, Li San tanpa sadar merinding, merasa ada sesuatu yang memperhatikannya.
Tak lama, Ma Dahay kembali membawa secangkir teh Longjing dan meletakkannya di depan Li San. Li San lalu bertanya,
"Bos Ma, ada keperluan apa, bisa langsung bicara sekarang."
Ma Dahay berkata, "Kamu bisa lihat aku sedang kena masalah besar, pasti paham sedikit soal fengshui. Akhir-akhir ini nasibku kurang bagus, rumah ini juga terasa aneh, sering terluka tanpa sebab, tidur pun tak nyenyak. Coba kamu lihat, bisa dibantu?"
Li San mendengar itu lalu bertanya, "Boleh aku lihat-lihat ke sekeliling?"
Ma Dahay langsung mengiyakan, "Silakan, lihat saja sesukamu."
Li San berdiri dan mulai memeriksa sekeliling. Ia menemukan banyak barang antik, porselen, dan lukisan di rumah Ma Dahay. Setelah mengamati sekeliling, ketika sampai di pintu masuk, ia merasakan hawa dingin yang semakin kuat. Ia mundur beberapa langkah, lalu membentuk mudra dengan tangan kanan menutupi mata kanan. Begitu dilihat, ia terkejut luar biasa: di atas pot bunga di dekat pintu tergantung seorang anak kecil, yang sesekali melambaikan tangan ke arah Li San.
Li San menurunkan tangannya dan bertanya pada Ma Dahay apakah ia punya cinnabar dan kuas kaligrafi. Meski pendidikan Ma Dahay tak seberapa, tapi barang-barang seperti itu tetap tersedia di rumahnya, dan ia segera mengambilkannya.
Li San mencelupkan kuas ke cinnabar, lalu berjalan ke pot bunga di pintu. Ia menulis serangkaian simbol di pot itu, lalu bertanya kapan pot bunga itu dikirim.
Ma Dahay berpikir sejenak, "Sepertinya dua bulan lalu, dikasih teman istriku."
Li San bertanya lagi, "Bukankah kamu merasa sial mulai dua bulan lalu juga?"
Ma Dahay menepuk dahinya, "Setelah kamu bilang, benar juga! Apa jangan-jangan pot bunga ini bermasalah?"
Li San belum mengungkap semuanya, hanya berkata, "Letak rumahmu sebenarnya sangat baik, tapi sebaiknya segala barang antik dan lukisan di rumah ini singkirkan saja, aku tak tanya asal-usulnya, tapi kebanyakan pasti barang kuburan, tak pantas dipajang di rumah. Selain itu, pot bunga di pintu itu, suruh orang pindahkan lalu laporkan ke polisi, kemungkinan besar di dasar pot ada mayat bayi."
Mendengar itu, Ma Dahay langsung berkeringat dingin.
"Mayat... mayat bayi?"
Li San berkata, "Urusan keluargamu aku tak ingin ikut campur, tapi sebaiknya waspada pada teman istrimu itu, mungkin dia berniat jahat padamu. Kalau bisa, belilah ornamen giok baru untuk dipajang di rumah, untuk mengusir bala dan melindungi diri, harus giok baru. Selain itu, bawa anak dalam pot bunga itu ke vihara atau kuil untuk didoakan, anak itu sepertinya tidak bermaksud jahat. Sudah, aku tak mau mengganggu lagi."
Ma Dahay sepenuhnya percaya pada ucapan Li San, segera mengantarnya keluar. Saat keluar rumah, ia sengaja memutar menghindari pot bunga, takut pot itu tiba-tiba menyerangnya dari belakang.
Setelah mengantar Li San kembali ke Red Romance, Ma Dahay memberinya sebuah amplop coklat tebal lalu pulang untuk mengurus pot bunga dan barang-barang antik itu.
Li San membuka amplop itu, ternyata isinya setumpuk uang baru yang tebal, diperkirakan sekitar tujuh atau delapan puluh ribu. Ia segera pergi ke bank terdekat untuk menyimpan uang, ternyata totalnya seratus ribu yuan.
Li San benar-benar girang bukan main, buru-buru membuka ponsel untuk mengecek saldo. Ada pemberitahuan masuk: "Saldo bertambah 100.000 yuan, saldo tersedia 105.360 yuan." Ia langsung punya penghasilan besar, hatinya berbunga-bunga. Kini ia bisa keluar bersenang-senang mengajak gadis cantik. Sambil bersenandung kecil, ia kembali bekerja di Red Romance.