Bab 169 Aku memang hendak pergi ke Sekte Menembus Awan untuk pamer
“Bangsa naga! Dia ternyata memiliki anak buah dari bangsa naga!” Wajah Lu Ting dipenuhi keterkejutan.
“Tidak benar. Sepertinya itu bukan naga biasa. Belum pernah kulihat naga yang ekornya mengeluarkan api!” Guru Yue menggeleng.
“Dia hewan peliharaanku, namanya Naga Api Kecil. Oh, ya, dia baru saja lahir belum lama ini. Chen Feng, kalau kau bisa mengalahkannya, aku akan bersujud dan meminta maaf kepadamu!” kata Lin Xiu.
“Lin Xiu, kau sendiri yang mengatakannya!” sahut Chen Feng.
Kalau itu naga sungguhan, dia tak akan bertarung melawan Naga Api Kecil. Namun, jika naga itu baru lahir, ceritanya berbeda. Menurut Chen Feng, sekalipun baru lahir, naga itu belum menguasai teknik bertarung, belum dewasa, dan belum mendapat bimbingan dari naga lain. Kekuatannya tentu terbatas.
Chen Feng sama sekali tak tahu bahwa sejak lahir, Naga Api Kecil sudah memiliki kekuatan binatang iblis tingkat tiga. Ia hanya berpikir bahwa dengan kekuatannya saat ini, ia tak perlu takut menghadapi seekor naga kecil. Inilah kesempatan bagus baginya untuk memulihkan harga dirinya!
“Mulailah,” kata Lin Xiu.
Chen Feng menusukkan tombaknya, mengarah tepat ke Naga Api Kecil. Serangannya sungguh kejam; ujung tombak itu langsung membidik tenggorokan si naga kecil, berniat membunuhnya dalam satu serangan!
“Kakak Chen Feng keterlaluan! Naga sekecil dan selucu itu, dia tega menyerangnya sekejam itu!” Cui’er mengernyit.
“Sepertinya naga kecil itu tidak lemah,” kata Guru Yue.
Lemah? Mustahil!
Lin Xiu berteriak, “Naga Api Kecil, gunakan semburan api!”
Begitu Naga Api Kecil membuka mulut, semburan api melesat keluar dan menyembur ke arah Chen Feng yang berdiri di depannya.
Chen Feng sama sekali tak menyangka semburan Naga Api Kecil akan berubah menjadi pilar api. Kobaran itu menelan tubuhnya sepenuhnya. Ia tak mungkin menghindar dan hanya bisa menerimanya dengan paksa.
Duar!
Chen Feng terpaksa mundur. Kini pakaiannya habis terbakar, hanya menyisakan celana pendek. Kulitnya pun menghitam legam. Ia memuntahkan darah. Kalau bukan karena tombaknya yang tertancap di tanah dan menopang tubuhnya, ia pasti sudah terjatuh.
“Chen Feng, bahkan hewan peliharaanku saja tak bisa kau kalahkan. Dengan kemampuanmu, kau mau mengajariku?” Lin Xiu berkata dengan raut meremehkan.
“A-aku belum kalah!” teriak Chen Feng.
“Kalau begitu, makan satu semburan api lagi!” Wajah Lin Xiu menyeringai jahil. “Naga Api Kecil, bakar celana pendeknya!”
Apa?
Chen Feng tadinya masih ingin berpura-pura gagah. Banyak orang sedang menyaksikan, dan ia mengira Lin Xiu tak mungkin membunuhnya. Namun, begitu mendengar ucapan Lin Xiu, ia langsung ambruk.
Benar, Lin Xiu mungkin tidak akan membunuhnya. Tapi ia bisa membuatnya tak lagi menjadi laki-laki!
“Lin Xiu, ja-jangan! Aku kalah, aku kalah! Kumohon, ampuni aku!” Chen Feng buru-buru memohon.
Melihat sikap Chen Feng, Lin Xiu tertegun. Orang-orang lainnya pun nyaris tak percaya bahwa itu benar-benar Chen Feng.
Bukankah Chen Feng yang dulu begitu congkak dan tinggi hati? Bagaimana bisa sekarang menjadi seperti ini?
Benar-benar di luar dugaan!
Menghadapi kematian, mungkin tak banyak orang yang tetap tak gentar. Terlebih lagi, Chen Feng yang satu ini memang pengecut. Tadi ia mengira Lin Xiu tak akan membunuhnya, sehingga berani berpura-pura gagah.
Namun sekarang, Lin Xiu hendak mempermalukannya dengan cara yang begitu hina. Mana mungkin ia masih berani bersikap seolah tak takut mati?
“Jenius Gerbang Pedang Langit? Tak seberapa. Pergi sana! Jangan sampai aku melihatmu lagi. Kalau tidak—setiap kali bertemu, akan kuhajar. Paham?” Lin Xiu bersikap seperti berandal.
Lin Xiu memang tak pernah menyukai Gerbang Pedang Langit, apalagi Chen Feng ini.
Sombong boleh, pongah pun silakan. Tapi berani pamer di hadapannya?
Jangan bercanda. Tuan Muda ini rajanya pamer. Siapa pun yang berani pamer di hadapannya, pantas dihajar!
Chen Feng segera kabur. Ia tak berani tinggal lebih lama lagi. Melihatnya nyaris melarikan diri dengan pantat telanjang, ekspresi semua orang berubah-ubah.
Naga Api Kecil memang terlahir sebagai binatang iblis tingkat tiga. Tak diragukan pula bahwa kekuatannya lebih besar daripada para petarung lain di tingkat pertama Alam Wuxu.
“Pengganggu itu akhirnya pergi. Guru Yue, Yuru, kita akan bertemu lagi!” Lin Xiu tertawa.
“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!” Cui’er berkata kesal.
“Semoga selamat, Tuan Muda Lin Xiu.” Guru Yue membungkuk sedikit.
“Menurutku, lebih baik kita tidak bertemu lagi!” Yuru melotot tajam kepada Lin Xiu.
Meski gurunya pernah menyerang Lin Zhentian, Lin Xiu telah membalasnya dua kali lipat. Dalam hal ini, tak ada yang berutang kepada siapa pun. Lagipula, Lin Xiu bahkan telah membunuh Fang Yang. Hal itu membuat Yuru semakin tidak menyukainya.
Tentu saja, Lin Xiu tidak peduli. Tujuannya kali ini memang Sekte Lingyun. Ia terkekeh. “Yuru, jangan khawatir. Kita pasti bertemu lagi, dan tidak lama lagi!”
“Huh. Guru, ayo pergi. Jangan pedulikan dia!” kata Yuru.
Lu Ting melirik Lin Xiu, lalu menghela napas dalam hati. Ia sudah tak berniat membalas dendam. Kekuatan dan wibawa yang ditunjukkan Lin Xiu terlalu mengerikan. Ia merasa kalau bertarung lagi dengannya, dirinya tetap tak akan mendapat keuntungan.
Lu Ting bersiul. Seekor elang raksasa segera muncul dan terbang ke arahnya. Rombongan Sekte Lingyun naik ke punggungnya. Elang itu pun mengepakkan sayap dan bersiap lepas landas.
“Tunggu!” tiba-tiba Lin Xiu berseru.
“Apa lagi yang ingin kau lakukan?” Yuru memandang Lin Xiu dengan waspada.
“Kenapa kau memandangku begitu? Memangnya apa lagi yang akan kulakukan? Aku ini anak muda yang baik dan jujur, pemuda rupawan yang tak pernah mengambil barang temuan, pahlawan tiada tanding dan kesatria sejati—dan seterusnya, masih ada sepuluh ribu kata lagi...” Lin Xiu mulai bicara.
“Cukup!” Yuru buru-buru menyela. “Bisa bicara singkat saja?”
Dasar menyebalkan. Bualannya kelewat panjang. Yuru sudah beberapa kali mendengar Lin Xiu bicara seperti itu. Ia tak mau membuang setengah jam hanya untuk mendengarkannya.
“Baik. Sebenarnya aku ingin menumpang kendaraan—eh, maksudku, menumpang burung!” Lin Xiu melirik elang raksasa itu.
“Kau mau menunggangi Elang Sisik Raksasa? Memangnya kau pikir bisa? Selain guruku, siapa pun yang berani naik ke punggungnya pasti akan dilempar jatuh!” kata Yuru.
“Tidak masalah. Aku yakin dia tidak akan menolak.” Lin Xiu berjalan menghampiri Elang Sisik Raksasa itu.
Elang tersebut tadinya hendak mengepakkan sayap untuk mengusir Lin Xiu. Namun, detik berikutnya, bayangan naga muncul di belakang Lin Xiu. Elang itu langsung menunduk ke tanah dan tak berani melawan lagi.
Yuru tak bisa berkata-kata!
Guru Yue juga tak bisa berkata-kata!
Lu Ting menghela napas.
Sial, benar-benar tak tahu malu! Ia memakai wibawa naga untuk menakut-nakuti Elang Sisik Raksasa. Mana mungkin elang itu berani melawan?
“Tunggu. Kalaupun Elang Sisik Raksasa membiarkanmu naik, apa kau tahu kami akan pergi ke mana?” tanya Yuru lagi.
“Tentu saja. Bukankah kalian akan kembali ke Sekte Lingyun? Aku memang mau ke Sekte Lingyun untuk pamer—eh, maksudku, bergabung dengan Sekte Lingyun!” jawab Lin Xiu seolah itu sudah jelas.