Bab 12: Bertemu Harimau di Pegunungan Terpencil
Halaman 1 dari 3
Su Yan membawa sepiring daging berbumbu, lalu menatap ketua regu yang berdiri di hadapannya dengan wajah memerah karena tergesa-gesa. Ia berkedip dan berkata, “Ketua Regu, apakah ada urusan mendesak?”
Ketua Regu tersadar. Ia diam-diam menarik kembali kaki kanannya yang tadi hendak melangkah keluar, lalu seketika kembali memasang wajah tenang dan berwibawa. Setelah berdeham pelan, ia berkata, “Kau Su Yan, bukan? Cepat masuk. Kebetulan aku memang hendak mencarimu.”
Mencarinya?
Su Yan bertanya-tanya dalam hati, tetapi tetap menjelaskan, “Aku membuat sedikit daging berbumbu. Aku membawakan sebagian untuk Paman dan Bibi cicipi. Semoga kalian tidak keberatan.”
Sambil berkata demikian, ia meletakkan piring itu di atas meja makan.
Ketua Regu memiliki tiga putra. Setelah menikah, ketiganya sudah berpisah rumah dan menjalani kehidupan masing-masing, jadi kini di rumah hanya tersisa dirinya dan Lin Xiuli. Kalau para cucu juga tinggal di sana, Su Yan benar-benar khawatir makanan itu tidak akan cukup dibagi.
Tadi dia mau mengatakan apa, ya? Mengapa malah diberi makanan?
Ketua Regu memang agak lamban menangkap situasi, tetapi mulutnya secara refleks menjawab, “Kami tidak keberatan.”
Lin Xiuli segera memahami maksud Su Yan. Semburat geli melintas di matanya, tetapi ia tetap menolak, “Aku dan Paman Li sudah tua, tidak terlalu suka camilan seperti ini. Kau dan ibumu baru saja kembali, jadi jalani hidup kalian baik-baik. Jangan menghambur-hamburkan uang.”
“Tidak apa-apa. Ini hanya daging bebek dan usus babi, tidak mahal. Kalau kalian tidak menerimanya, berarti kalian tidak menyambut kepulanganku ke Kampung Lijia. Aku bisa sedih, lho.”
Su Yan menatap pasangan itu dengan wajah memelas.
Dasar anak licik.
Lin Xiuli, yang biasanya selalu berwajah sedingin gunung es, akhirnya dibuat tersenyum oleh tingkah pura-pura Su Yan. “Baiklah, kalau begitu Bibi tidak akan sungkan lagi. Bibi ambilkan piringnya.”
Daging bebek dan jeroan babi memang tidak mahal, bahkan aromanya agak amis. Menerimanya pun tidak membuat hati Lin Xiuli terbebani.
Tak lama kemudian, Su Yan pergi sambil membawa piring kosong. Sebelum beranjak, ia masih tersenyum lebar dan berkata, “Bibi Lin, Paman Li, aku pulang dulu. Daging berbumbu ini paling enak dimakan selagi hangat.”
Pintu depan tertutup dengan bunyi gedebuk.
Lin Xiuli sejak tadi sudah tergoda oleh aroma daging berbumbu. Begitu Su Yan pergi, ia langsung mengambil kepala bebek dan menggigitnya.
Pada suapan pertama, matanya seketika berbinar. Ia berseru kaget, “Kepala bebek ini ternyata harum sekali! Usus babinya sama sekali tidak amis. Anak itu memang pandai memasak!”
Melihatnya begitu, Ketua Regu ikut mendekat. Setelah mencicipi usus babi, ia tak mampu berhenti. Ia bahkan mengeluarkan arak yang disimpannya dan mulai minum dengan wajah puas.
“Bukankah kau pernah memasak usus babi ini? Dulu amis, bau, dan sulit dikunyah. Mengapa buatan anak itu sama sekali tidak berbau?” tanya Ketua Regu dengan mulut penuh makanan.
Lin Xiuli masih sibuk makan. Mendengar omong kosong itu, ia memutar bola mata dan tidak sudi meladeninya.
Makanan ini adalah hidangan paling lezat yang pernah ia santap seumur hidup.
Tadi, ketika berada di halaman, ia juga sudah mencium aromanya. Siapa sangka Su Yan tiba-tiba mengantarkan sepiring untuk mereka. Padahal sore tadi ia hanya memberi beberapa nasihat, bahkan sudah tidak memikirkannya lagi. Namun anak itu ternyata mengingat kebaikannya. Sungguh anak yang tahu membalas budi.
“Oh, ya!” Ketua Regu tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menepuk dahinya dengan keras, lalu berkata dengan tergesa-gesa, “Tadi aku belum sempat membicarakan soal universitas dengannya. Tidak bisa begini. Aku harus pergi sekarang juga—”
Lin Xiuli segera menarik suaminya. Dengan kesal ia menegur, “Memangnya sekarang jam berapa? Kalau mau bicara, tunggu besok saja. Su Yan juga tidak akan terbang!”
“...Baiklah.”
Halaman 2 dari 3
Keesokan harinya.
Begitu langit mulai terang, Su Yan sudah memanggul keranjang dan mendaki gunung.
Saat itu sebagian besar orang masih belum bangun, jadi kepergiannya ke gunung tidak akan menarik perhatian siapa pun.
Selain itu, ia tidak memberi tahu keluarganya bahwa kali ini ia hendak masuk ke bagian terdalam hutan. Kalau mereka tahu, ia pasti akan dilarang.
Semakin jauh ke dalam, pegunungan itu semakin dingin dan lembap. Jalannya terjal serta sulit dilalui. Tempat seperti ini memang menyimpan lebih banyak hasil alam yang berharga, tetapi juga jauh lebih banyak tanaman dan hewan beracun.
Semalam, Su Yan telah menumbuk beberapa tanaman obat yang dapat mengusir hewan, lalu memasukkannya ke dalam kantong wewangian dan menggantungkannya di pinggang. Di dalam keranjangnya terdapat sekilogram daging samcan berbumbu, sebilah pisau, dan cangkul kecil.
Di kehidupan sebelumnya, demi meminimalkan bahaya ketika memasuki gunung, ia bahkan menghabiskan lebih dari setahun mempelajari bahasa binatang dan berinteraksi dengan banyak hewan. Kalau tidak, ia tidak akan berani mengambil risiko sebesar ini.
Setelah berjalan selama satu jam, hari benar-benar terang, tetapi suhu di dalam hutan justru semakin rendah.
Sepanjang perjalanan, Su Yan menggali cukup banyak jamur yang akan berubah warna ketika disentuh, serta beberapa tanaman obat langka. Walaupun tidak terlalu berharga, semuanya pasti termasuk barang langka di toko obat.
Namun, benda yang dicari Tang Li belum juga ia temukan.
Setelah berjalan lebih dari dua jam, bahkan buah goji hitam pun tidak terlihat!
Lebih buruk lagi, tidak jauh dari sana, ia melihat seekor harimau sedang bertarung melawan dua ekor babi hutan!
Kedua jenis hewan itu sama-sama berukuran begitu besar sehingga satu injakan saja sudah cukup untuk mengubah tubuhnya menjadi daging cincang!
Dengan gerakan gesit, Su Yan bersembunyi di balik pohon dan mengumpat dalam hati, “Sial!”
“Grrr—”
Sebelum sempat bereaksi, kedua babi hutan itu menjerit memilukan, satu demi satu. Suara itu membelah kesunyian hutan dan membuat burung-burung beterbangan panik.
Dalam sekejap, punggung Su Yan sudah dilapisi keringat dingin. Ia bahkan dapat melihat harimau itu mencabik-cabik babi hutan dengan buas, sementara aroma darah yang pekat memenuhi udara.
Su Yan menarik napas dalam-dalam, lalu mundur perlahan dan berhati-hati. Ia berniat mencari jalan dari arah lain.
Sialan! Harimau ini dua kali lebih besar daripada harimau yang pernah ia dekati. Ia pun tidak berani menjamin bisa menjinakkan harimau liar sebesar ini!
Krek!
Suara renyah terdengar dari bawah kakinya, lalu menggema berkali-kali dalam kesunyian hutan.
Su Yan memejamkan mata. Perasaannya benar-benar kacau.
Benar saja.
Halaman 3 dari 3
Harimau yang tadi sedang mencabik-cabik babi hutan telah berbalik dan menatap ke arahnya. Taringnya terlihat dari mulut yang berlumuran darah, sementara sepasang mata hitamnya memancarkan hawa dingin dan keganasan. Seolah-olah detik berikutnya ia akan berlari menerkam dan memakannya.
Su Yan menelan ludah. Sambil terus mundur, ia mengeluarkan sekilogram daging samcan berbumbu dari dalam keranjang dan menggenggamnya erat. Matanya tak lepas dari harimau itu.
Harimau tersebut melangkah mendekat sedikit demi sedikit. Gerakannya semakin cepat, hingga akhirnya ia menerjang dengan kecepatan seperti embusan angin kencang.
Wajah Su Yan seketika pucat pasi. Ia jatuh terduduk karena ketakutan.
Ketika harimau itu semakin dekat, ia memejamkan mata rapat-rapat, mengulurkan tangan yang memegang daging, lalu berteriak, “Tunggu! Aku... aku punya makanan enak! Semuanya untukmu!”
Ia hanya merasakan embusan angin kencang menerpa di samping tubuhnya, begitu tajam hingga kulitnya terasa perih.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik berlalu, tetapi rasa sakit yang ditunggunya tak kunjung datang.
Setelah mempersiapkan diri secara mental, Su Yan perlahan membuka mata. Yang pertama kali dilihatnya adalah mulut harimau yang berlumuran darah!
Su Yan: “!!!”
Setelah menahan selama beberapa detik, akhirnya ia tidak mampu lagi menahan diri. Ia memalingkan kepala dan muntah hebat, sementara tubuhnya masih mempertahankan posisi semula.
“Grrr!”
Harimau itu menggeram pelan dan mundur selangkah. Matanya dipenuhi rasa jijik.
Setelah muntah selama dua menit, Su Yan akhirnya berhasil menekan rasa mual di perutnya. Melihat harimau itu tidak berniat menyerang, ia menguatkan hati, berpegangan pada pohon, lalu bangkit berdiri. Setelah itu, ia melemparkan daging di tangannya ke dekat kaki harimau.
“Aku sudah memberimu makanan enak. Jadi, kau tidak boleh menyakitiku lagi.”
Sambil berbicara, ia juga menggunakan gerakan tangan yang dapat dipahami binatang.
Aroma daging berbumbu langsung memenuhi udara. Harimau itu tanpa ragu menunduk dan menelannya dalam sekali lahap, bahkan tanpa mengunyah. Setelahnya, ia mengangkat kepala dan mengeluarkan suara dengkuran rendah ke arah Su Yan. Rasa tidak puas di matanya tampak begitu jelas.
“Kau masih mau? Sudah tidak ada lagi.”
Su Yan tahu harimau itu telah menyukai daging samcan berbumbu, sehingga tidak akan menyakitinya. Ia pun merasa lega dan tersenyum.
“Aku hanya membawa sebanyak itu. Lagi pula, aku tidak punya cukup uang untuk membeli banyak daging. Kalau kau ingin makan lagi, kau harus membantuku. Bagaimana kalau lain kali aku membawa lebih banyak?”
“Grr?”
Harimau itu memiringkan kepalanya, seolah-olah memahami perkataannya dan mengajukan pertanyaan.
Ia hanyalah seekor harimau biasa. Bantuan apa yang bisa diberikannya kepada manusia berkaki dua ini?