Bab 95 Pria Tampan Kaya Raya【Bagian Pertama】
Suasana saat itu benar-benar seperti duel penentuan di masa lampau, dua pria berdiri berhadapan, bertarung dengan kekuatan batin masing-masing.
“Ehem, aku kenalkan ya, dia ini pacarnya Bing Xin, namanya Xia Tian,” kata Ye Qingxue yang melangkah di antara keduanya. “Dan ini Gao Fushuai, sahabat masa kecil Bing Xin, teman baik.”
“Oh, sahabat masa kecil rupanya. Senang bertemu denganmu,” Xia Tian menyambut ramah sambil mengulurkan tangan kanannya.
Gao Fushuai pun menjabat tangan itu, matanya dengan teliti mengamati Xia Tian. “Sebagai pria, aku penasaran... apakah kau cukup punya kemampuan?”
Saat kedua tangan saling menggenggam, Xia Tian segera merasakan tekanan dari genggaman Gao Fushuai yang semakin kuat.
“Mau bermain-main denganku? Baik, aku layani.” Xia Tian tersenyum tipis lalu menambah kekuatan genggamannya. Begitu Xia Tian menambah tekanan, raut wajah Gao Fushuai langsung berubah tegang. Ia benar-benar tak menyangka Xia Tian punya tenaga sebesar itu, sampai-sampai ia merasa tangannya hampir remuk.
Namun ia tetap menahan diri, tak mengeluarkan suara sedikit pun.
“Aduh, sakit sekali!” Xia Tian tiba-tiba menarik tangannya dan berteriak dengan sangat dramatis.
“Gao Fushuai, apa yang kau lakukan?” Bing Xin buru-buru berlari mendekat, mengulurkan tangannya yang halus untuk memijat tangan Xia Tian.
Xia Tian mengeluh dengan nada kasihan, “Tak apa, Gao hanya ingin mencoba kekuatan tanganku. Mungkin dia tak sengaja pakai tenaga berlebihan.”
“Gao Fushuai, aku peringatkan, jika kau berani melukai Xia Tian, aku tak akan memaafkanmu!” Bing Xin menatap Gao Fushuai dengan marah.
“Aku...” Gao Fushuai benar-benar merasa terjepit saat ini. Padahal yang sakit dirinya, tapi Xia Tian justru pura-pura jadi korban. Salah sendiri, kenapa harus iseng mencoba kekuatan tangan orang?
“Kau lebih baik pulang saja. Aku sudah janji akan menonton pertandingamu, jadi pasti aku datang,” Bing Xin langsung mengusirnya dengan tegas.
“Baiklah...” Gao Fushuai berbalik dengan lesu dan keluar ruangan.
Melihat punggung Gao Fushuai meninggalkan ruang kesenian, Ye Qingxue tersenyum penuh kemenangan, lalu menatap tangan Xia Tian dan Bing Xin yang masih saling menggenggam. “Sudah, lepaskan. Kalian berdua belum puas juga, ya?”
Bing Xin buru-buru menarik tangannya.
“Xia Tian, bagus sekali aktingmu. Sayang kamu nggak jadi aktor,” puji Ye Qingxue. Ia sudah tahu kemampuan Xia Tian, tak mungkin Xia Tian bisa kalah begitu saja.
Tapi barusan, aktingnya memang terlihat sangat meyakinkan.
“Jadi tadi kau cuma pura-pura?” Bing Xin baru sadar, tadi ia benar-benar mengira Xia Tian terluka sungguhan, makanya ia sempat begitu marah.
“Kau tidak menyadarinya? Benar kata pepatah, orang yang sedang terlibat memang mudah tertipu,” Ye Qingxue menghela napas.
Setelah meninggalkan ruang kesenian, suasana hati Gao Fushuai sangat buruk. Tadi ia memang ingin memberi pelajaran pada Xia Tian, tapi malah gagal total. Tangannya sendiri yang sakit, sementara Xia Tian justru tampak begitu menyedihkan dan menjadi pusat perhatian. “Sungguh licik! Aku harus membuka kedoknya, agar Bing Xin tahu siapa dia sebenarnya!”
Klub Taekwondo adalah salah satu organisasi paling terkenal di Universitas Jianghai, setara dengan klub basket, dan juga rutin mengadakan pertandingan.
Hari itu, ada laga persahabatan antara Universitas Jianghai dan Universitas Dongfang.
Ye Qingxue, Xia Tian, dan Bing Xin bertiga masuk ke arena untuk menonton. Ini berkat hak istimewa dari Gao Fushuai, jagoan utama Klub Taekwondo, yang bisa membawa beberapa orang ke dalam arena.
“Jadi dia jago Taekwondo,” ujar Xia Tian sambil melirik Gao Fushuai.
“Iya, dan dia memang hebat,” Bing Xin mengangguk.
“Kalian sudah saling kenal sejak kecil?” Xia Tian bertanya pada Bing Xin.
“Kami tumbuh di kompleks yang sama. Sejak kecil dia sudah pandai berkelahi, bahkan jadi pemimpin anak-anak di angkatan kami,” jelas Bing Xin.
“Kita hanya menonton dari sini?” tanya Xia Tian lagi.
“Hanya menonton saja. Jangan sampai kamu cari gara-gara dengannya. Latar belakangnya tidak sembarangan,” Bing Xin mengingatkan.
“Aku tidak bilang mau menantangnya,” Xia Tian berkilah dengan nada agak kesal.
“Baik, baik, salahku sudah menuduhmu,” Bing Xin menenangkan Xia Tian yang tampak sedikit tersinggung.
“Hmph!” Gao Fushuai hanya bisa mendengus kesal melihat kemesraan Bing Xin dan Xia Tian.
“Namanya saja sudah tinggi hati, orangnya pasti lebih sombong lagi,” Xia Tian dalam hati tertawa geli saat pertama kali mendengar nama Gao Fushuai. Entah apa yang ada di pikiran keluarganya hingga memberi nama seaneh itu.
“Hoi, jangan ngomongin orang di belakang!” tegur Gao Fushuai yang menatap Xia Tian dengan marah.
“Jangan marah, aku hanya ngobrol santai dengan pacarku,” Xia Tian tersenyum, lalu memeluk Bing Xin.
Melihat itu, Gao Fushuai semakin geram, langsung memalingkan wajahnya, tak sudi melihat kemesraan mereka. Ia hampir saja meledak karena Xia Tian.
“Gao Fushuai, siap-siap naik ring!” pelatih Klub Taekwondo memanggil.
Gao Fushuai langsung mengenakan seragam tandingnya.
Universitas Dongfang pun mengirimkan jagoan mereka.
“Haiyak!”
Satu tendangan, Gao Fushuai langsung menjatuhkan lawannya ke lantai.
“Hebat sekali!” Ye Qingxue yang berdiri di samping tampak kagum. Tendangan tadi sangat cepat dan kuat, lawan langsung tumbang dalam satu serangan.
“Gao Fushuai, semangat!”
“Kak Gao, semangat!”
Anggota Klub Taekwondo ramai-ramai menyemangati Gao Fushuai.
Universitas Dongfang mengirimkan lawan kedua.
Kali ini lawan mundur begitu pertandingan dimulai, menghindari tendangan Gao Fushuai. Namun, Gao Fushuai langsung memutar tubuh dan menendang, sekali lagi menjatuhkan lawannya.
“Bakatnya memang luar biasa. Waktu kecil ia belajar ilmu bela diri dari para tentara di kompleks, lalu mendalami Taekwondo. Ia menggabungkan kedua ilmu itu, jadi kekuatannya makin hebat. Dasarnya sendiri memang sudah kuat,” Bing Xin menjelaskan pada kedua temannya.
Gao Fushuai sudah berhasil menyumbangkan dua poin untuk Universitas Jianghai.
Kemudian lawan ketiga, keempat, dan kelima semuanya tumbang hanya dalam beberapa tendangan saja dari Gao Fushuai.
Mahasiswa Universitas Jianghai begitu antusias, bahkan para penonton terus-menerus meneriakkan nama Gao Fushuai. Sebaliknya, tim lawan tampak sangat tertekan.
“Bing Xin, lihatlah baik-baik, inilah pria sejati,” dalam hati Gao Fushuai berkata penuh percaya diri.
Universitas Dongfang kemudian mengirimkan peserta kedelapan.
“Halo, namaku Take Shita Ichiro,” ujar lawan kedelapan itu saat naik ke atas ring, menyapa Gao Fushuai.
“Kau dari Jepang?” Gao Fushuai paling tidak suka dengan orang Jepang.
“Aku melihat Taekwondo-mu sudah menggabungkan teknik bela diri dari Tiongkok. Aku ingin mencoba kemampuan Karate-ku melawan Taekwondo-mu,” jawab Take Shita Ichiro dengan tenang.
“Suka-suka kau,” Gao Fushuai langsung melancarkan tendangan, namun Take Shita Ichiro mundur dengan cekatan, menghindar.
Kekuatan serangan Gao Fushuai justru terletak pada serangan bertubi-tubinya. Begitu serangan pertama meleset, ia langsung menyusul dengan serangan kedua, ketiga, hingga keempat.
Namun Take Shita Ichiro sama sekali tak mau meladeni pertarungan frontal, ia terus menghindar dengan lincah.
Saat Gao Fushuai memutar tubuh hendak melancarkan tendangan memutar yang indah, Take Shita Ichiro tiba-tiba menghentikan langkah mundurnya, langsung menyergap ke depan dan menabrak Gao Fushuai dengan lengannya, membuatnya terlempar keluar arena.