Bab 78: Pertempuran Tersembunyi di Antara Para Wanita【Bagian Keempat】
“Aku tadinya masih ingin mengajak Saudara Xia duduk lebih lama di sini, tapi kalau ada urusan, lain kali kau harus datang lagi,” ujar Tuan Fan dengan tenang.
“Tentu saja,” Xia memberi salam hormat dengan kedua tangannya.
Mereka bertiga meninggalkan Kediaman Hutan Hijau. Pertarungan tadi membuat Xia menyadari kekurangannya sendiri. Memang benar bahwa A San berada di tingkat menengah kelas Kuning, tapi kemampuan bertarungnya jauh lebih kuat daripada pembunuh tingkat dua itu.
Pembunuh tingkat dua itu menguasai teknik membunuh diam-diam dan berbagai senjata api, tidak pandai bertarung secara frontal, sehingga Xia dengan mudah bisa mengalahkannya. Namun A San berbeda, kekuatannya benar-benar nyata. Xia sama sekali tak punya kesempatan melawan A San hanya dengan tenaga dalam tingkat pertama jurus Kebangkitan Langit.
Baru setelah dia menaikkan tenaga dalamnya ke tingkat kedua jurus itu, dia berhasil mengalahkan A San. Saat itu, kekuatannya sudah mencapai tingkat akhir kelas Kuning.
Mengalahkan orang di tingkat menengah dengan kekuatan tingkat akhir bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, apalagi jurus Langkah Dewa Awan dan Satu Sentuhan Rohani yang ia kuasai merupakan ilmu bela diri tingkat tinggi.
Setelah Pak Xu mengantarnya ke kedai kopi, ia pun pergi bersama Xiao Fei.
“Aku di sini,” kata Lin Bingbing yang sejak tadi memperhatikan pintu masuk dan melambaikan tangan ketika melihat Xia masuk.
Para pria di kedai kopi itu memandang Xia dengan iri. Tadi, saat Lin Bingbing duduk sendirian, sudah ada beberapa orang yang mencoba mengajaknya bicara, namun Lin Bingbing sama sekali tak menunjukkan wajah ramah.
Begitu Xia masuk, ia langsung merasakan aura permusuhan dari orang-orang di sekitarnya.
“Kau memanggilku pagi-pagi begini, apa kau kangen padaku?” Pandangan Xia menyapu tubuh Lin Bingbing tanpa malu-malu.
“Lihat apa, dasar mesum,” Lin Bingbing melotot ke arahnya.
“Kau cantik, memangnya aku tak boleh melihat?” Xia berkata polos.
“Ayo bicara yang penting. Hari ini rencanamu apa? Apa kita harus bersiap lebih awal? Lawan kita sangat waspada,” Lin Bingbing cemas kalau sampai terjadi kesalahan dalam tugas mereka. Ia baru saja bergabung di Divisi Tindakan Khusus, ia tak boleh berbuat salah.
“Tugasmukan cuma membuntutinya dan melihat dengan siapa dia berhubungan, itu terlalu gampang,” jawab Xia santai.
“Gampang?” Lin Bingbing tidak senang melihat sikap seolah acuh Xia. “Apa kau tahu, kemampuan lawan menghindari pengintaian itu sangat hebat.”
“Lalu kenapa? Ikut saja denganku, semuanya beres,” Xia tersenyum tipis.
Karena malam nanti ada urusan, Xia merasa perlu memberitahu Ye Qingxue.
“Halo, Kakak Sepupu.”
“Ada apa?”
“Malam ini mungkin aku pulang agak telat.”
“Kau ini kenapa tiap hari sibuk saja? Aku peringatkan, kalau kau berani tak pulang lagi, bakal kuberi pelajaran!”
“Tenang saja, malam ini pasti pulang.”
“Hm, jangan sering-sering keluyuran.”
Setelah menutup telepon, Xia melihat Lin Bingbing menatapnya dengan pandangan aneh.
“Kau tinggal bersama kakak sepupumu?” tanya Lin Bingbing.
“Bisa dibilang begitu,” Xia mengangguk.
“Sudah menikah?” tanya Lin Bingbing kepo.
“Kau bicara apa sih? Dia itu kakak sepupuku,” Xia menjelaskan.
“Ya sudah, toh tinggal bersama juga, tak masalah nikah atau tidak,” Lin Bingbing mengangguk.
“Apa-apaan, rumahku besar, ada dua kamar,” Xia jadi serba salah.
“Lalu kamar yang satu lagi untuk apa?” tanya Lin Bingbing lagi.
“Untuk apa?” Xia akhirnya sadar, ternyata polisi cantik Lin Bingbing sedang menggodanya. Begitu menyadari itu, Xia tersenyum tipis, “Kakak Polisi, apa kau cemburu?”
“Eh?” Lin Bingbing tak menyangka Xia akan membalas secepat itu. “Menuruku, aku tak terlihat seperti orang cemburu, kan? Dasar bocah, malas bicara denganmu.”
“Kau sudah jadi salah satu calon istri mudaku, wajar saja kalau sedikit cemburu,” Xia mengangguk-angguk.
“Pergi sana!” Lin Bingbing menatap Xia dengan kesal.
Sore harinya, Xia mengajak Lin Bingbing berdandan lagi. Kali ini, ia juga mendandani dirinya sendiri. Walaupun bukan memakai merek terkenal, setidaknya tidak tampak seperti baju murahan yang dijual di pinggir jalan.
Kali ini, Xia tidak lagi menjelekkan penampilan Lin Bingbing, malah memberinya sebuah gaun. Setelah mengenakan gaun itu, Lin Bingbing benar-benar terlihat sangat menawan.
Gaunnya memang tidak mahal, tetapi ketika dikenakan olehnya, hasilnya sungguh sempurna.
“Kau memang lebih cocok memakai gaun,” puji Xia sambil menatap Lin Bingbing dari ujung kepala hingga kaki.
“Jangan banyak bicara,” jawab Lin Bingbing tidak nyaman. Ia memang merasa sangat tidak nyaman, seumur hidup belum pernah memakai gaun atau sepatu hak tinggi. Hari ini adalah pertama kalinya, sehingga jalannya jadi kaku.
Ia terus berusaha agar kakinya tidak terkilir, kalau tidak bagaimana bisa membuntuti orang nanti?
“Aku ajak kau jalan-jalan dulu, biar terbiasa,” Xia membawa Lin Bingbing ke kawasan bar.
Tempat karaoke Matahari Terik juga ada di jalan ini, namun Xia tidak menuju ke sana, melainkan masuk ke sebuah bar.
Begitu Lin Bingbing masuk, semua mata pria langsung tertuju padanya. Seketika, puluhan pasang mata menatap Xia dengan penuh kebencian. Jika tatapan bisa membunuh, Xia sudah mati berkali-kali.
“Ngapain ke sini?” Lin Bingbing sedikit mengernyit, ia merasa kurang nyaman.
“Biar kau terbiasa dengan suasana lampu dan lingkungan seperti ini, supaya nanti tidak ketahuan,” Xia tersenyum tipis.
Mereka menuju bar.
“David, buatkan dua gelas andalanmu,” kata Xia.
“Aku masih ada tugas, tidak boleh minum,” bisik Lin Bingbing.
“Tak masalah, keahlian David memang luar biasa,” jawab Xia santai.
“Aku tidak mau minum,” Lin Bingbing tetap menolak.
“Pacarmu cantik sekali,” puji David, lalu menyiapkan dua gelas minuman yang sama persis seperti kemarin.
“Terima kasih,” Xia tidak membantah.
Melihat Xia tidak membantah, Lin Bingbing pun mencubit pinggang Xia dengan keras.
“Kenapa hari ini datang lebih awal?” Seorang wanita cantik berjalan pelan ke arah mereka.
“Kak Hong, rasanya setiap hari kau selalu ada di sini,” Xia memang bertemu Kak Hong hampir tiap hari belakangan ini.
“Ini kan bar milikku, tentu saja aku di sini,” Kak Hong tersenyum tipis.
“Oh, ternyata Kak Hong pemiliknya. Pas sekali, David baru saja membuat dua gelas minuman ini, satu untukmu,” Xia menyerahkan satu gelas pada Kak Hong.
“Hei, itu minumanku!” protes Lin Bingbing yang tidak terima minumannya diberikan ke orang lain.
“Tadi kau bilang tidak mau minum, kan?” Xia menatap Lin Bingbing dengan bingung.
“Siapa bilang aku tidak mau? Berikan ke aku!” Lin Bingbing merebut gelas dari tangan Xia dan langsung menenggaknya.
Begitu minuman masuk ke perut, Lin Bingbing hampir tersedak dan menangis. Rasanya persis seperti yang ia bayangkan, sangat tidak enak. Tapi siapa suruh dia memang tidak pernah minum alkohol?