Bab 13: Hadiah Paling Romantis
Ketika tetesan darah menyentuh gelang itu, seketika gelang tersebut memancarkan cahaya merah darah yang menyilaukan. Setiap manik-maniknya menjadi begitu bening dan transparan, seutas demi seutas urat darah mengalir di dalamnya laksana pembuluh darah manusia, seolah-olah yang menghubungkan manik-manik itu bukanlah seutas benang merah, melainkan darah yang berdenyut-denyut.
"Gelang batu giok merah... bagaimana mungkin? Di seluruh keluarga, hanya kakekku yang memiliki satu," ujar Wang Nianlin dengan nada terkejut, menatap gelang di pergelangan tangan Ye Qingxue. Meski sebelumnya gelang itu tampak seperti barang murahan yang dijual di pinggir jalan, kini ia berubah menjadi benda tak ternilai harganya.
Harga batu giok merah sendiri memang tidak terlalu tinggi, dengan kekayaan keluarganya, membeli beberapa saja tidak akan sulit. Namun, yang membuat batu giok merah begitu berharga adalah kelangkaannya. Begitu batu giok merah muncul di pasaran, pasti langsung dibeli orang, tidak pernah berpindah tangan ke orang lain. Sebab, batu ini sangat bermanfaat bagi kesehatan. Jika dipakai wanita, dapat mempercantik dan membuang racun dalam tubuh. Jika dipakai orang lanjut usia, bisa memperlambat penuaan dan memperkuat fisik.
Karena khasiat luar biasa inilah, batu giok merah menjadi benda yang sangat langka. Mendengar penjelasan Wang Nianlin, semua orang di tempat itu mulai menebak-nebak apa benda tersebut. Walau belum pernah mendengar namanya, mereka bisa melihat sendiri cahaya merah darah yang dipancarkan gelang itu.
Jelas sekali itu barang berharga. Ditambah lagi penjelasan Wang Nianlin tadi, semua orang pun paham kalau itu adalah harta karun.
"Indah sekali gelang itu," ujar Bing Xin dengan nada kagum, menatap gelang merah darah di tangan Ye Qingxue. Ia pernah mendengar Ye Qingxue bercerita tentang Xia Tian, namun sulit membayangkan dari mana Xia Tian mendapatkan gelang itu.
Baru saja ia membanggakan hadiah yang diberikannya mahal, menganggap hadiah dari Xia Tian tidak ada nilainya. Namun kini semua berubah. Bagaimana cincin berlian bisa dibandingkan dengan gelang batu giok merah?
Semua sorot mata tertuju pada hadiah Xia Tian. Semua hadiah lain di pesta itu seolah tertutup oleh hadiah yang Xia Tian berikan. Ye Qingxue sendiri benar-benar tercengang. Ia paling tahu tentang Xia Tian; Xia Tian selalu menolak menerima uang dari ibunya dan selalu bekerja sambil kuliah. Dari mana sebenarnya hadiah itu ia dapatkan?
Meski menyukai hadiah tersebut, Ye Qingxue lebih khawatir Xia Tian mungkin melakukan sesuatu yang melanggar hukum.
Hadiah Wang Nianlin pun kehilangan pesonanya. Satu-satunya yang masih menonjol darinya hanyalah bunga di tangannya.
"Ini hari ulang tahunmu, mana mungkin aku tak memberimu bunga," Xia Tian tersenyum tipis, sudah memahami kegusaran Ye Qingxue. Tapi sekarang bukan saatnya menjelaskan, sebab pesan dari Tuan Xu sudah masuk ke ponselnya.
Tiba-tiba, dari pintu balai pesta masuk lebih dari sepuluh orang, masing-masing membawa rangkaian bunga besar. Mereka menyusun bunga-bunga itu di lantai membentuk sebuah hati raksasa, mengelilingi Xia Tian dan Ye Qingxue dengan lautan bunga.
Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan kuntum mawar. Baru saja Wang Nianlin mengejek Xia Tian yang tak mampu membawa setangkai bunga, kini begitu banyak orang datang membawakan bunga untuknya. Ia hanya menghadiahkan sembilan puluh sembilan, sedangkan Xia Tian mengirimkan hampir sepuluh ribu.
Tak seorang pun kini berani meremehkan Xia Tian. Awalnya mereka memandang rendah Xia Tian karena pakaian sederhananya, hingga satu per satu mencemoohnya. Dalam pandangan mereka, Xia Tian hanyalah pemuda miskin. Tapi sekarang mereka sadar, Xia Tian ternyata hanya berpura-pura lemah.
Satu gelang saja nilainya bisa ratusan juta, ditambah lautan bunga, semua itu bukan uang sedikit.
"Qingxue, lihatlah ke luar jendela," bisik Xia Tian seraya merangkul Ye Qingxue. Dalam pelukannya, Ye Qingxue berubah menjadi gadis manis. Ia sungguh merasakan kebahagiaan, walau sebenarnya Xia Tian adalah sepupunya sendiri.
Kembang api mulai dinyalakan di luar jendela. Ratusan letusan warna-warni membelah langit malam, memukau setiap mata yang memandang.
Bukan hanya Ye Qingxue, semua wanita yang hadir pun larut dalam keindahan itu. Jika cincin berlian dan bunga saja sudah romantis, maka lautan bunga dan kembang api benar-benar mampu melelehkan hati wanita manapun.
Mereka semua iri pada Ye Qingxue. Mengapa bukan mereka yang menjadi tokoh utama malam itu? Bing Xin yang mengetahui kisah Xia Tian dari Ye Qingxue pun turut merasa terkejut dengan apa yang ia saksikan sekarang.
Kembang api berlangsung selama sepuluh menit penuh sebelum akhirnya usai. Saat semua orang mengira segalanya telah selesai, lampu di gedung-gedung tinggi luar jendela mendadak padam, membuat sisi gedung gelap gulita.
Tak lama kemudian, di empat bangunan tinggi yang berdampingan, lampu-lampu kecil menyala membentuk tulisan: "Xue", "I", "Hati", "U". Simbol hati tepat di tengah, tidak meleset sedikit pun. Balai pesta pun bergemuruh oleh jeritan kagum para wanita, bahkan Wang Nianlin si playboy pun belum pernah membuat suasana seromantis ini.
"Teramat romantis! Andai aku bisa menikah dengannya..." seru seseorang.
"Qingxue benar-benar beruntung. Kalau aku bisa menikah dengannya, meski nanti jadi gemuk pun aku rela."
Para wanita mulai berkhayal, bahkan beberapa yang berwajah pas-pasan pun sudah terbius pesona malam itu. Adegan seperti ini, wanita manapun pasti takkan mampu menolaknya.
Lampu-lampu luar menyala kembali, namun semua orang sudah terlanjur merekam kejadian tadi dalam hati. Romantisme ini benar-benar mengalahkan segalanya. Wang Nianlin pun mundur masuk ke kerumunan, seluruh kebanggaannya tenggelam oleh sorotan Xia Tian.
Xia Tian sendiri semakin menghargai kemampuan Tuan Xu. Ternyata orang tua memang selalu punya cara. Segala kejutan malam ini benar-benar di luar dugaan Xia Tian, bahkan ia sendiri sempat tertegun saat menerima pesan dari Tuan Xu.
Ye Qingxue tanpa ragu memeluk Xia Tian. Siapa wanita yang tak ingin dimabuk cinta? Hanya saja, mereka belum pernah bertemu pria yang tepat atau mengalami momen yang menggetarkan hati. Ye Qingxue merasa dirinya wanita paling bahagia di dunia, betapa ia berharap Xia Tian bukan sepupunya.
"Sebenarnya dia juga cukup baik..." Bisik Bing Xin dalam hati. "Aduh, Bing Xin, apa yang kau pikirkan? Malu-maluin saja!"
Wajah Bing Xin memerah. Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Xia Tian. Ia yakin tak ada yang terbuka dari pakaiannya saat itu, namun Xia Tian bisa menebak motif celana dalamnya. Ditambah kejadian hari ini...
"Pasti banyak rahasia di balik dirinya. Aku harus tahu apa sebenarnya," tekad Bing Xin.
Di sisi lain, wanita berjulukan Si Bibir Api pun tak kalah terkejut. Ia tak pernah menyukai pria mana pun, bahkan tak tahu rasanya terharu. Tapi melihat apa yang dilakukan Xia Tian malam itu, ia akhirnya paham mengapa wanita suka mengejar hal-hal yang tampak sia-sia itu.
Ia bisa melihat kebahagiaan tulus terpancar dari wajah Ye Qingxue.
Pesta pun resmi dimulai. Kehadiran Xia Tian membuat semua orang yang hadir memiliki pemikiran masing-masing, karena Xia Tian benar-benar menutupi kehadiran siapa pun, termasuk Wang Nianlin yang terkenal itu.
Sementara itu, di Rumah Sakit Umum Pertama Kota Jianghai.
"Pasir Mengalir! Apa istimewanya bocah itu, sampai Pasir Mengalir mau turun tangan melindunginya?" tanya Xu Qinghua dengan dahi berkerut. Ia benar-benar tidak mengerti permainan apa yang sedang dimainkan Pasir Mengalir. Organisasi pembunuh itu, mana mungkin mau melindungi seseorang?
"Hampir mustahil Pasir Mengalir melindungi seseorang, kecuali orang itu sangat penting bagi mereka. Mungkin dia keturunan salah satu petinggi Pasir Mengalir, atau membawa harta yang sangat diinginkan organisasi itu," jawab A San. Xu Qinghua tidak menyalahkan A San yang mundur tanpa bertarung, bahkan sejak ia kembali, Xu Qinghua justru terus menanyakan apakah A San terluka.
Xu Qinghua sangat mengenal A San dan sepenuhnya mempercayainya. Jika A San gagal membawa seseorang, pasti memang ada masalah besar. A San adalah tangan kanannya, tak pernah ia perlakukan semena-mena, bahkan lebih baik dari saudara kandung sendiri.
"Kemungkinan pertama sangat kecil. Jadi, berarti bocah itu membawa harta yang sangat diincar Pasir Mengalir. Nampaknya kita telah meremehkan siswa SMA itu," kata Xu Qinghua. "Kau selidiki dia baik-baik nanti."
"Lalu, bagaimana dengan Tuan Muda?" tanya A San, melirik ke ranjang tempat Xu Shaocong terbaring.
"Minta bantuan Kakek Wang saja. Meski mahal, itu lebih baik daripada kehilangan nyawa," kilat tekad melintas di mata Xu Qinghua. Ia tak pernah mau rugi dalam urusan apa pun.
Pesta ulang tahun Ye Qingxue berlangsung meriah, semua orang tampak gembira. Namun sang tokoh utama, Ye Qingxue, justru tampak selalu menyimpan kegelisahan, sepanjang acara pikirannya tak pernah benar-benar hadir.
Setelah pesta usai, beberapa orang menawarkan diri mengantarkan Ye Qingxue pulang karena ia tidak membawa mobil.
"Tidak usah, terima kasih," jawab Ye Qingxue. Ia tahu mereka semua kawan-kawan Wang Nianlin. Meski selama pesta Wang Nianlin tampak muram karena Xia Tian, begitu acara selesai mereka tetap ingin mencari masalah dengan Xia Tian.
Pakaian Xia Tian sangat sederhana, jelas tak ada tempat menyimpan kunci mobil. Semua orang yakin Xia Tian pasti tidak datang dengan mobil.
"Qingxue, lebih baik naik mobilku saja," Wang Nianlin menawarkan dengan gaya seorang pria gentleman.
"Tidak perlu, terima kasih. Aku ingin pulang bersama Xia Tian," jawab Ye Qingxue, sambil menyelipkan lengannya ke lengan Xia Tian. Entah sengaja atau tidak, dadanya sesekali bergesekan dengan tangan Xia Tian.
"Tapi dia kan tidak punya mobil untuk mengantarmu," ejek Wang Nianlin, memandang Xia Tian dengan meremehkan.
Saat itu, mata Xia Tian menangkap sebuah mobil di kejauhan. Ia tersenyum dan menggandeng Ye Qingxue menuju ke sana, diikuti Bing Xin dan Si Bibir Api yang bingung namun ikut berjalan. Mereka berhenti di depan sebuah mobil BMW.
Seseorang yang mengenakan pakaian tradisional turun untuk membukakan pintu bagi mereka bertiga. Semua berlangsung begitu alami, meninggalkan Wang Nianlin dan kawan-kawannya terpaku di tempat.
Hari ini sungguh hari sial bagi Wang Nianlin. Berkali-kali Xia Tian membuatnya malu. Pertama, ia bilang Xia Tian miskin, ternyata hadiah Xia Tian jauh lebih mahal. Lalu, ia bilang Xia Tian tidak romantis, Xia Tian datang membawa sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan mawar, kembang api, dan pertunjukan lampu.
Bahkan, saat ia ingin menunjukkan dirinya lebih unggul karena punya mobil, ia pun gagal. Ternyata Xia Tian tidak membawa kunci mobil karena ia memang punya sopir pribadi.
"Sialan, aku takkan membiarkanmu begitu saja," Wang Nianlin menggeram, menatap BMW yang perlahan menjauh.