Bab 37: Berpenampilan Terlalu Mencolok
Entah sejak kapan, perhelatan batu keberuntungan telah berubah menjadi sebuah pesta mewah di kota pesisir ini, dan yang mengejutkan, lokasi acara itu diadakan di Taman Yaxu. Hal ini membuat Han Kecil dan Shen Xin sama-sama merinding, rasanya seperti diikuti oleh hantu yang tak kunjung bisa dilepaskan.
Di sebuah ruangan luas dan megah di lantai tiga, interiornya ditata layaknya kantor biasa: deretan kursi kulit, dan sebuah meja kerja oval besar bergaya kuno yang mendominasi hampir seluruh ruang. Namun di ruangan yang kosong itu hanya ada tiga orang yang duduk.
Zheng Yan duduk bersandar dengan santai, tampak seperti kucing tua yang siap menerkam kapan saja. Jin Lei tetap duduk tegak dan formal, seperti seorang pria terhormat. Sementara He Miao duduk terbalik di kursinya setelah membalik sandaran ke depan, menatap layar LCD raksasa di dinding, tangannya sibuk menekan-nekan remote untuk mengganti sembilan sudut tampilan kamera. Di layar, terlihat deretan mobil mewah memenuhi area parkir, kerumunan orang-orang glamor terus mengalir masuk ke aula samping Taman Yaxu, dan tingkat keamanan di pintu masuk telah mencapai tingkat rahasia tertinggi, sesekali terlihat juga anak buah Zheng Yan dan Jin Lei.
“Kakek Gu akan datang besok,” gumam He Miao, seolah bicara sendiri. “Hari ini biarkan saja anak-anak itu bermain, kurasa tidak akan ada barang berharga.”
“Hmph! Apa yang bisa mereka bawa? Jangan sampai menodai mata Kakek Gu. Acara di kapal pesiar itu baru layak ditonton, bukan begitu, Jin?” Zheng Yan melirik Jin Lei yang sedang termenung.
Jin Lei tidak menjawab. Jika bukan karena ada kerjasama bisnis dengan Zheng Yan, dan He Miao yang punya latar belakang bersih serta merupakan sahabat sejati si bocah ini, Jin Lei sudah pasti mengusir Zheng Yan sejak tadi. Ia pun berpaling ke layar besar, mendadak matanya membelalak seolah menemukan sesuatu yang luar biasa.
He Miao juga sudah berdiri, Zheng Yan terkekeh, “Jangan-jangan kamu lihat cewek cantik lagi? Kalian berdua sudah bukan bocah lagi, bisakah tunjukkan sedikit ketenangan?”
Keduanya tak menggubris, Zheng Yan pun melirik ke layar besar.
“Sial! Wanita itu lagi-lagi muncul?” Zheng Yan melompat ke depan layar, hampir saja menabrak Jin Lei.
Di layar tampak sebuah minibus emas yang sangat mencolok di antara mobil-mobil mewah, menjadi pusat perhatian. Pintu terbuka, beberapa orang keluar berurutan, dan sontak semua mata tertuju pada mereka.
Air Peri mengenakan gaun sifon biru langit tanpa lengan yang menjuntai hingga tanah, pita kupu-kupu di pinggang menambah kesan manis, dan renda bertingkat membentuk pola ombak alami. Rambut hitam bergelombang bersinar kebiruan di bawah sinar matahari, seperti tokoh dongeng yang muncul di dunia nyata.
Shen Xin tampil dengan jaket pendek hitam, gaun beludru hitam panjang, legging hitam, dan sepatu bot tinggi bertabur batu permata perak. Rambut yang dulu rapi kini dipotong gaya bob mengembang, matanya jernih, bibirnya agak tebal namun sensual, membuat wanita dulu yang chubby ini kini memancarkan pesona liar.
Di belakang Shen Xin berdiri seorang pria bertopeng, tampil begitu menarik. Mantel panjang putih menonjolkan tubuhnya yang gagah, celana hitam pas badan, sepatu bot Martin berhiaskan rantai emas. Rambut hitam bak batu giok diikat tinggi seperti pendeta Tao, disematkan tusuk kayu persik, seolah keluar dari zaman kuno. Topengnya unik, bergambar wajah sunyi dan misterius seperti tokoh tanpa wajah dari film animasi Miyazaki, memancarkan aura dingin dan mengintimidasi.
Han Kecil mendorong orang-orang di depannya, berdiri di barisan depan. Zheng Yan di kantor sampai loncat-loncat seperti kesetrum.
“Perempuan ini, penampilannya mau cari mati apa?” Gaun bajak laut ungu bertabur kristal benar-benar luar biasa, rambut kuda yang sudah terurai dibiarkan mengembang di bahu, legging merah ketat, sepatu bot tinggi, dan ikat pinggang kulit hitam bertabur kristal menutupi bentuk badannya yang dulu biasa saja. Di pundaknya bukan lagi burung hantu, melainkan hiasan peri gendut realistis yang tampak seperti peri sungguhan, benar-benar detail. Tapi itu memang peri emas, yang kini sedang tidur pulas setelah kenyang. Yang paling mencolok tentu saja penutup mata hitam di wajah Han Kecil yang membuat orang-orang di sekitarnya refleks mengecek kantong uang mereka.
Han Kecil seolah merasakan tatapan dari Zheng Yan, ia pun menoleh ke kamera dan tersenyum lebar, membuat He Miao di kantor mundur sambil memegangi dadanya.
Jin Lei tersenyum tipis, “Tahun ini acara batu keberuntungan pasti ramai!”
Zheng Yan menyeringai, “Sudah saatnya meriah, sudah lama aku tidak seramai ini. Penasaran kejutan apa yang akan dibawa wanita sialan itu.”
“Kejuatan? Jangan-jangan malah jadi bencana!” Jin Lei menoleh ke He Miao, “Terlalu mencolok, kamu yang atur. Ini wilayahmu, kamu yang berkuasa!”
He Miao hanya menatap layar dan tertawa lebar. Tahun ini memang menarik.
Di luar aula, orang-orang mulai mengeluarkan kartu undangan, berbaris rapi masuk ke arena. Han Kecil menatap kerumunan itu, baru sadar ternyata tempat yang sebelumnya pernah mereka datangi ini masih memiliki area sebesar itu. Ia menarik lengan Su Su, “Mau masuk nggak?”
“Tentu saja!” Su Su, meski tak bisa melihat sekeliling, punya naluri yang sangat tajam. Ototnya menegang, pelajaran pahit selama tiga ribu tahun membuatnya tak boleh lengah sedikit pun.
“Han, gimana kita masuk? Kayaknya mereka harus punya kartu kecil itu!” Shen Xin sedikit bingung, rasanya lebih sulit daripada jualan bakpao, keringat dingin mulai membasahi dahi.
“Diam!” Han Kecil menoleh kiri kanan, “Kita harus kalem! Menyelinap pelan-pelan!”
Air Peri mendorong orang di depan, mengangkat dagu dan berkata dingin, “Kalem apanya! Kita malah jadi tontonan!”
Han Kecil hanya bisa mengelus dada, anak perempuan ini ternyata cerdas juga, baru menetas sudah pintar bicara kasar dan menyindir. Tak ada pilihan lain, Han Kecil pun nekat ikut Air Peri menerobos masuk, namun seorang pria kekar bersetelan jas menghadang di pintu.
“Maaf, boleh lihat kartu undangannya?”
Han Kecil merogoh saku, menatap polos pada petugas, membalik-balik sakunya lagi, lalu berbalik dan membentak Su Su, “Kartu mana?”
Su Su pun diam, menoleh ke Shen Xin, “Kartu mana, perempuan bodoh! Kan tadi suruh pegang kartu, kemana kartunya?”
Shen Xin menunjuk dirinya sendiri, mulutnya menganga lebar seperti ikan kehabisan nafas, menoleh ke Air Peri yang tampak dingin, lalu kembali merogoh tas, “Nggak ada! Kayaknya lupa bawa!”
“Eh, kalau kalian nggak bawa kartu, minggir dong!” Orang di belakang mulai kesal karena antrian macet.
“Maaf, mohon minggir!” Petugas keamanan dengan sopan mengulurkan tangan.
“Apa-apaan, masa nggak bisa gantian?!” Han Kecil berkacak pinggang menatap petugas dengan sebelah mata. Ternyata pakai satu mata susah juga, ia jadi harus memicingkan mata untuk fokus.
“Maaf, kalian tidak boleh masuk!” Acara batu keberuntungan seperti ini tidak akan membiarkan orang tanpa undangan masuk. Para undangan adalah pebisnis perhiasan dari seluruh dunia, sedangkan gelagat Han Kecil dan kawan-kawannya terlalu mencurigakan, sehingga nada petugas makin tegas.
Han Kecil tak menyangka peraturannya seketat ini. Di klub malam saja bisa masuk, tapi di sini malah ditahan. Lalu bagaimana dengan Su Su? Setelah merebut kembali tongkat pusaka, Su Su mencoba masuk ke dalamnya, tapi gagal. Bukan hanya tidak pulih kekuatannya, wajahnya yang semula putih bersih malah jadi hitam legam, makin dibersihkan makin parah, benar-benar tak layak tampil. Tapi, ya wajar, sudah tiga ribu tahun, pasti sudah sangat kotor. Kalau tak segera menemukan pusaka lain untuk memulihkan diri, Su Su pasti bakal depresi hingga mati.
Air Peri mendekat ke Han Kecil dan berbisik, “Perlu aku pakai ilmu arus balik? Biar semuanya tenggelam?”
“Ha?!” Han Kecil terkejut bukan main.