Bab 20: Batu yang Aneh
Wajah Susu awalnya memang pucat, karena telah terkurung dalam segel selama tiga ribu tahun, menampakkan rona kebiruan. Kini, pipinya mulai bersemu merah, seperti orang yang mabuk, dan ketika Han Xiaoma bertanya seperti itu, rona merah itu makin menebal seolah darah bisa menetes darinya.
“Anak kecil tak seharusnya menanyakan hal-hal yang tak pantas!” Ia melayang beberapa langkah ke depan, berusaha menjaga jarak dari perempuan di sampingnya.
“Kenapa tidak boleh tanya? Sebenarnya kau kenapa sih?”
“Kau ini memang seribu satu pertanyaan ya?” Susu menatapnya dengan kesal, malu sekaligus marah.
“Aku ini cuma khawatir padamu! Kenapa galak sekali?” Pengalaman barusan memang menegangkan, tapi suasana hati Han Xiaoma juga tak lebih baik, suaranya meninggi, “Dasar brengsek! Kalau bukan gara-gara masalah kecilmu itu, aku tak mungkin sampai diincar orang! Hampir saja kehormatanku rusak…”
“Kehormatanmu sudah berceceran di mana-mana, sudahlah, jangan pura-pura,” Susu teringat adegan tadi saat Han Xiaoma ditindih oleh Zheng Yan, langsung muncul amarah yang tak jelas asalnya.
Han Xiaoma membuka mulut lebar-lebar, menatap Susu. Kulit palsu yang ia kenakan sudah lama hilang, wajahnya yang kekuningan kini dihiasi semburat merah karena marah, matanya berkaca-kaca menahan air mata.
“Baik! Baik! Ini semua salahku karena terlalu peduli! Salahku mau repot-repot! Salahku juga memohon-mohon agar kau bisa kembali ke negeri penyihir itu! Aku... aku memang bodoh, kan?”
Ia berbalik, mematahkan sebatang ranting pohon dan mengacungkannya ke arah Susu, “Mulai hari ini kita putus hubungan! Kalau aku masih bilang sepatah kata baik tentang kau, dasar brengsek, aku sama saja dengan ranting ini…”
Namun, tangan Han Xiaoma tak punya tenaga, ia memandang kedua tangannya yang bengkak seperti bakpao dengan penuh kesal.
“Cukup! Jangan kekanak-kanakan! Yang paling penting sekarang, bagaimana caranya menghilangkan kejaran mereka di belakang kita!” Susu dengan lembut mengambil ranting dari tangan Han Xiaoma, lalu menggenggam tangannya yang bengkak dan menariknya ke depan.
Tangan Susu terasa dingin, namun justru membuat hati Han Xiaoma berdebar-debar. Bibirnya membentuk senyum tipis, membiarkan dirinya digenggam, melangkah di atas rumput yang empuk, di bawah langit yang bersih, di antara cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan, bersama pangeran tampan di sisinya... Ia pun memejamkan mata.
Plak!
Aduh! Siapa yang melemparku?
Han Xiaoma langsung membuka mata, melihat Susu sedang memegang kepalanya, mencari-cari sesuatu.
“Ada apa?” Ia segera mendekat.
“Maaf... Tuan...” Peri emas itu terbang sempoyongan dari tanah, “Tuan... Anda baik-baik saja?”
Susu sambil memijat kepala, mengetuk si peri dengan keras, “Bodoh! Tidak punya mata ya! Lebih bodoh dari si Ma kecil!”
“Apa lagi urusanku?” Han Xiaoma merasa jadi korban, “Eh, aku belum tanya. Bagaimana kau bisa menemukanku? Tadi aku lupa tanya.”
“Itu aku... hehe... aku yang menuntun tuan menemukanmu... Setelah kau dibawa pergi, tuan hampir saja gila... Untung saja aku kenal daerah sini... Hahaha... ah!”
“Diam! Kalau tidak, akan kuubah kau jadi air!” Susu dengan malu-malu mengambil kristal itu, “Ayo, tunjukkan ke mana kami harus lari!”
Bola kristal itu langsung jadi penurut, “Tuan memang bijak, gagah, rupawan...”
“Jangan omong kosong! Cepat bicara!” Han Xiaoma merasa bola kristal ini baik, hanya saja terlalu banyak mulut, membuat orang ingin memukulnya.
“Zheng Si sudah dilepas ikatannya...” Bola kristal mulai menyiarkan langsung, “Waduh... mereka mulai bertarung! Langsung kasih perintah! Banyak anak buah! Semuanya keren-keren...”
“Langsung ke intinya!”
“Zheng Si sendiri yang menyetir mobil, eh?” Bola kristal berputar, “Di sini banyak orang! Kenapa banyak sekali kaki-kaki?”
“Bodoh! Cepat lari!” Susu yang masih heran, langsung memasukkan bola kristal ke dalam lengan bajunya, berubah jadi selembar kertas dan dengan lincah terbang ke dalam bra Han Xiaoma, “Cepat lari! Ada orang di belakangmu!!”
“Apa?” Han Xiaoma merasa sejak bersama Susu, hidupnya seperti dipenuhi pelarian, seolah setiap saat harus kabur.
“Susu! Pakai sihir!!”
“Sudah habis! Semalam aku tak tidur, barusan juga bantu kau hajar si brengsek itu, tak bisa lagi... urus sendiri!!”
“Kenapa lagi-lagi aku yang harus cari akal?” Han Xiaoma menengadah, berteriak, lalu lari sekuat tenaga. Untung dulu waktu kuliah pernah ikut tim basket wanita, jadi larinya masih tak masalah. Suara langkah di belakang makin ramai, ia terpaksa memilih jalan-jalan sulit untuk berlari.
“Cepat... peri, tunjukkan jalan!”
Susu mengeluarkan peri itu. Dalam kondisi genting seperti ini, si peri akhirnya menunjukkan kecerdasannya, menuntun Han Xiaoma yang terengah-engah melewati hutan pohon wutong sampai ke sudut tembok sunyi yang penuh semak belukar.
“Merunduk!!” teriak bola kristal, seolah sedang menyerbu ke medan perang.
“Mau apa?” Otak Han Xiaoma kosong, hanya bisa menuruti perintah, lalu ia pun merunduk di balik semak. Ia mendapati di depannya ada seberkas cahaya, sebuah lubang kecil bundar terhampar di hadapannya.
“Merangkak ke sana!!” Peri itu dengan lincah masuk ke lubang kecil itu, seolah sudah sering lewat.
“Aduh! Lubang anjing!!” Han Xiaoma menelan ludah.
“Cepat merangkak!!” perintah Susu.
“Sialan kau!” Han Xiaoma merasa harga dirinya benar-benar habis, namun dengan tekad bulat, ia pun merangkak ke lubang itu. Untung saja sudah kembali ke wujud semula, kalau masih bertubuh montok seperti tadi, bagian dada saja takkan bisa lolos.
Suara langkah di belakang tak kunjung reda, Han Xiaoma terengah-engah, hampir merasakan tanah bergetar. Tiba-tiba, gerakan merangkaknya terhenti.
“Susu! Aku nyangkut!”
Susu menjerit frustasi, hidup tiga ribu tahun baru kali ini melihat kebodohan seperti itu.
“Panda itu matinya gimana?”
“Astagfirullah! Aku nyangkut! Kenapa kau malah tanya panda segala?!”
“Panda itu mati karena kebodohannya!” Susu mengerahkan sedikit sihir, menyelimuti tubuh Han Xiaoma, “Mantra Menghilang!”
Dua kaki Han Xiaoma lenyap, tapi pantatnya yang tersangkut di lubang belum sepenuhnya hilang. Sihir Susu memang suka setengah-setengah, rok kulit cokelat yang membungkus pantatnya menyatu di semak, tampak seperti batu jelek.
“Eh, orangnya ke mana?”
“Iya, barusan larinya masih kelihatan di sini.”
“Iya, kok bisa tiba-tiba hilang?”
“Kira-kira kali ini bos bakal apain perempuan nekat itu?”
“Paling-paling seperti biasa, dilempar ke laut dengan pemberat! Tapi sebelum itu, kita bisa coba rasakan dulu kecantikan perempuan itu...”
“Cihihi...”
Darah Han Xiaoma langsung membeku, tak berani bergerak, dalam hati berdoa, “Tak kelihatan! Tak kelihatan...”
“Hei! Lihat tuh batu, aneh bentuknya!” suara pemuda terdengar.
“Jangan main-main! Kalau gagal tangkap perempuan itu, kita bisa habis dibikin bos!”
“Cihihi! Kenapa mirip pantat sih? Pengen tendang deh!”
Seketika, rasa sakit menusuk datang, Han Xiaoma menggigit tangannya kuat-kuat agar tak menjerit. Suara langkah menjauh perlahan.
“Ma kecil, kau baik-baik saja?” tanya Susu pelan.
“Susu... kumohon... lain kali kalau pakai sihir, bisa lebih tepat sasaran nggak?” Han Xiaoma menahan air mata, sakitnya luar biasa. Tendangan barusan memang membuatnya terdorong keluar dari lubang, tapi dengan efek samping yang tak mengenakkan. Ia bangkit tertatih, memandang sekeliling. Kompleks vila mewah tersembunyi di antara pepohonan wutong, tiap sudut atapnya terukir totem emas, menyerupai makhluk bersayap, dengan jendela kaca berwarna emas dan dinding krem. Dari sudut mana pun, terlihat megah dan mewah.
“Di mana ini?” Han Xiaoma dan Susu bertanya bersamaan.
“Sepertinya... sepertinya ini rumah Jin Lei...” Peri itu berputar-putar.