Bab 141 Berhenti
Adegan selanjutnya membuat seluruh siswa terbelalak, memasang ekspresi tak percaya, sama sekali tidak menyangka adegan seperti itu akan terjadi.
Tumbang!
Zhong Jian benar-benar berhasil dijatuhkan oleh Lin Tian dengan mudah!
Zhong Jian bahkan sama sekali tidak sempat bereaksi.
Cepat!
Kecepatan Lin Tian sangat cepat!
Bahkan sebelum Zhong Jian sempat sadar kembali, ia sudah disapu jatuh ke tanah oleh tendangan Lin Tian.
"Hore!" Setelah tertegun sejenak, seruan kaget terdengar di lokasi kejadian.
Zhong Jian terbaring di tanah dengan tatapan kosong, masih belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya.
Setelah beberapa saat tertegun, Zhong Jian tersadar, langsung melakukan gerakan melenting seperti ikan mas untuk bangkit berdiri. Setelah berdiri, Zhong Jian menatap Lin Tian sejenak, lalu berkata, "Tadi itu tidak dihitung, kita ulangi sekali lagi."
"Hei, Pelatih! Mana boleh berbuat curang seperti itu!"
"Betul sekali, betul!" Mendengar perkataan Zhong Jian, para siswa merasa tidak puas.
"Tidak apa-apa!" Lin Tian melambaikan tangannya, menghentikan teriakan para siswa, lalu menatap Zhong Jian dengan ekspresi tenang: "Menghadapinya hanya butuh waktu beberapa menit saja!"
Tertegun!
Mendengar perkataan Lin Tian, seluruh siswa tertegun.
Ucapan Lin Tian ini terdengar sangat mendominasi!
Namun, Feng Jiabao dan beberapa orang di belakang merasa kesal. Sambil menatap Lin Tian, mereka bergumam pelan, "Lagi-lagi pamer!"
"Benar, benar! Kenapa tidak biarkan aku saja yang pamer!" Melihat penampilan Lin Tian, Guo Rong juga merasa kesal. Ia menatap Lin Tian dengan mata yang hampir memancarkan cahaya hijau.
Mendengar ucapan Lin Tian, Zhong Jian turut tertegun, lalu secercah kemarahan melintas di dalam hatinya!
Sombong!
Bocah ini sangat sombong!
Zhong Jian tidak merasa bahwa dirinya kalah dari Lin Tian, ia hanya mengira tadi dirinya terlalu ceroboh sehingga memberi kesempatan kepada Lin Tian.
Sambil mengguncang bahunya dan memutar lehernya, Zhong Jian menatap Lin Tian dengan serius: "Aku ingin lihat bagaimana caramu menghabisiku dalam beberapa menit!"
Menarik napas dalam-dalam, Lin Tian memberi gestur memanggil dengan jarinya: "Ayo!"
Menyipitkan matanya, Zhong Jian seketika melangkah maju, berteriak kencang, lalu melayangkan sebuah pukulan!
Wus!
Pukulan Zhong Jian ini sangat cepat dan bertenaga, mengarah langsung ke perut Lin Tian!
Pukulan Zhong Jian ini bisa dikatakan sangat kuat dan berbobot. Terkait pukulan ini, Zhong Jian sangat percaya diri, ini adalah pukulan maksimal dari segenap kekuatannya.
Bahkan jika diulang sekali lagi, ia mungkin tidak akan bisa mengeluarkan pukulan sehebat ini.
Plak!
Suara renyah terdengar, lalu Zhong Jian terdiam.
Ia menunduk menatap tinjunya sendiri dengan rasa tidak percaya.
Tertahan!
Pukulan Zhong Jian yang tampak begitu ganas itu justru berhasil ditahan dengan mudah oleh telapak tangan Lin Tian.
Yang paling penting adalah pukulan itu sama sekali tidak membuat tubuh Lin Tian bergeser sedikit pun!
Ini, bagaimana mungkin!
Zhong Jian membelalakkan matanya dengan ekspresi tidak percaya.
"Heh!" Saat Zhong Jian sedang terpaku, Lin Tian tiba-tiba melangkah maju dengan lebar, seketika mendekati tubuh Zhong Jian, lalu mengguncang bahunya.
Bum!
Seketika, kekuatan besar merasuk ke dalam tubuh Zhong Jian, membuat tubuhnya langsung terpental ke udara.
Bbruk!
Tubuh Zhong Jian jatuh tersungkur di tanah, benturan hebat membuatnya kesulitan bernapas untuk beberapa saat.
Setelah tertegun sejenak, sorak-sorai antusias langsung meledak di lokasi kejadian.
Terutama para gadis, semuanya menatap Lin Tian dengan mata yang berbinar-binar.
Bukan hanya kaum pria yang suka melihat perempuan berpostur bagus, wanita juga menyukai pria berpostur bagus. Postur tubuh Lin Tian tanpa ragu sangat sempurna, dan yang paling penting adalah Lin Tian juga jago berkelahi.
Sangat tampan!
Banyak gadis mulai melihat bintang-bintang di mata mereka saat menatap Lin Tian.
Melirik sekilas ke arah Zhong Jian yang terjatuh, Lin Tian melangkah maju, membungkuk, dan mengulurkan tangannya.
Pada saat ini Zhong Jian sudah pulih kembali. Melihat tangan yang diulurkan Lin Tian, ia pun meraih dan menjabatnya dengan erat.
Kemudian Zhong Jian bangkit berdiri dengan bantuan tangan Lin Tian.
"Kau kalah, Pelatih!" Lin Tian tersenyum ceria menatap Zhong Jian.
"Bagus, Nak, kemampuan bertarungmu lumayan juga!" Sambil menepuk bahu Lin Tian, Zhong Jian menatapnya dengan ekspresi kagum.
"Biasa saja!" Lin Tian tersenyum tipis dan mengangguk kecil, lalu berbalik membungkuk untuk memungut pakaiannya yang ada di lantai, dan mengenakannya kembali.
Melirik sekilas ke arah Lin Tian, Zhong Jian kemudian menoleh ke arah para siswa sekelas dan berkata dengan suara lantang: "Kalah adalah kalah, aku sudah menyerah, berikan waktu istirahat setengah jam bagi kalian!"
"Hore!" Seruan gembira terdengar di lokasi kejadian.
Mendengar suara yang datang dari arah sini, para siswa dari kelas lain di kejauhan tampak penasaran dan menoleh ke arah ini, tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Lin Tian, tubuhmu bagus sekali, bagaimana caramu berolahraga?" Begitu waktu istirahat tiba, banyak siswi langsung mengerumuninya sambil menatap Lin Tian dengan penuh antusias.
"Biasa saja, aku hanya berolahraga sesekali!" Lin Tian menatap para gadis yang mengelilinginya sambil tersenyum tipis. Dulu ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Tentu saja, sengaja melepas baju tadi adalah niatnya untuk pamer.
"A-aku boleh menyentuh ototmu?" Tanya seorang gadis dengan sedikit malu-malu sambil menatap Lin Tian. Sambil berkata demikian, wajahnya seketika memerah, nyaris tidak berani menatap Lin Tian.
Mendengar pertanyaan itu, Lin Tian pun tertegun. Gadis ini cukup berani rupanya.
Namun setelah tertegun sejenak, Lin Tian tersenyum dan berkata: "Boleh saja, menyentuh boleh, tapi hanya menyentuh ya!"
Lin Tian tidak keberatan, bahkan ia sedikit menikmatinya. Dikelilingi oleh para wanita dulunya adalah impiannya.
Mendengar persetujuan Lin Tian, gadis itu memberanikan diri, mengulurkan tangannya menembus pakaian dan dengan rasa penasaran meraba otot di tubuh Lin Tian.
Terasa padat dan keras...
"Keras sekali!" Seketika gadis itu berseru takjub dengan ekspresi penuh antusias di wajahnya.
"Benarkah, aku juga ingin meraba!" Melihat ada yang memelopori, gadis-gadis lain menjadi jauh lebih berani, lalu seorang gadis lainnya turut mengulurkan tangan.
"Aku juga mau meraba!" Disusul kemudian oleh gadis-gadis lain yang ikut mendekat.
Dalam sekejap, perut Lin Tian tertutupi oleh tangan-tangan kecil para gadis.
Jangan dikira hanya pria saja yang genit, wanita sebenarnya juga genit, hanya saja biasanya tertutupi oleh sesuatu yang disebut rasa malu. Dan sekarang, melihat begitu banyak orang melakukannya, mereka tentu saja tidak ragu lagi.
Disentuh oleh begitu banyak tangan mungil adalah pengalaman yang belum pernah dirasakan oleh Lin Tian sebelumnya.
Melihat pemandangan itu, Feng Jiabao yang menganggap dirinya tampan merasa kesal, lalu ia menjerit melengking menirukan suara perempuan dengan nada manja: "Aku juga mau meraba!"
Mendengar suaranya yang aneh itu, Lin Tian langsung merinding seketika. Melihat kedua tangan Feng Jiabao yang merangsek maju, Lin Tian buru-buru menepisnya: "Pergi sana, tidak boleh meraba!"
"Kenapa mereka boleh meraba!" Feng Jiabao tidak terima!
"Mereka itu perempuan!" Lin Tian meliriknya sekilas.
"Jika biksu wanita boleh menyentuh, kenapa pertapa tua sepertiku tidak boleh!" Feng Jiabao membelalakkan matanya, lalu berbalik menatap para siswa laki-laki di belakangnya dan berteriak: "Kawan-kawan, serbu!"
Seketika beberapa siswa laki-laki datang menerkam ke arah Lin Tian, melihat pemandangan itu para siswa lainnya pun ikut bergabung meramaikan suasana.
"Sialan!" Lin Tian menjerit kencang.
Seketika, tawa dan riang gembira memenuhi tempat itu.
Begitulah, di tengah canda tawa, waktu setengah jam berlalu.
Setengah jam kemudian, latihan kembali dilanjutkan.
Satu minggu berikutnya diisi penuh dengan latihan militer yang terasa begitu membosankan. Namun setelah berjalan selama seminggu, para siswa juga telah membangun persahabatan yang mendalam dengan Zhong Jian.
Zhong Jian, meskipun sangat tegas saat latihan, sebenarnya adalah sosok yang sangat ramah di balik layar.
Pada saat yang sama, melalui satu minggu kebersamaan ini, para siswa sekelas juga saling mengenal satu sama lain, setidaknya sudah akrab secara visual.
Seminggu kemudian, latihan militer pun berakhir.
Begitu selesai, Guo Rong langsung menghela napas lega dan berteriak: "Kawan-kawan, ayo main game!"
"Bagus! Kita ke sana setelah makan!" Feng Jiabao setuju. Latihan militer seminggu ini terlalu melelahkan, membuat mereka sama sekali tidak sempat pergi ke warung internet.
"Ayo pergi, makan dulu, setelah makan langsung ke sana!" Guo Rong berteriak penuh semangat.
Ketika keempatnya selesai makan, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Kembali ke asrama untuk mengambil kartu identitas, mereka berempat langsung meluncur menuju warung internet di luar kampus.
Begitu komputer dinyalakan, keempatnya langsung memasang headset dan mulai bermain dengan penuh konsentrasi.
Wus wus!
Jari-jari Lin Tian bergerak lincah dan fokus mengendalikan tetikus.
Plak!
Dalam sekejap, Lin Tian berhasil melumpuhkan seorang penembak jitu lawan.
"Bagus!" Teriakan Guo Rong terdengar di sebelah telinganya.
Lin Tian tersenyum kecil, menggerakkan tetikusnya untuk mencari target berikutnya, ketika tiba-tiba terdengar suara dentuman keras.
Suara yang muncul secara tiba-tiba itu membuat Lin Tian tertegun, dengan ekspresi heran ia menarik lepas headset-nya dan mendongak ke depan.
Suara bising yang mendadak itu tidak hanya menarik perhatian Lin Tian, tetapi juga menyita perhatian seluruh orang di warung internet.
Lin Tian mengarahkan pandangannya ke sana, lalu melihat tujuh hingga delapan orang preman jalanan sedang menghajar seseorang.
Melirik sekilas ke arah orang itu, melihat wajah mudanya yang masih belia, Lin Tian langsung memastikan identitas orang itu sebagai seorang pelajar.
Orang ini seharusnya adalah mahasiswa Universitas Wu'an.
"Sialan! Masih berani merebut pacar kut, kubunuh kau!" Salah satu pemuda yang memiliki tato naga biru di lengannya menendang pelajar itu dengan kejam!
Ia menendang sang pelajar hingga terjatuh ke tanah!
Bum bum!
Beberapa orang lainnya turut mengayunkan kaki dan menendang dengan beringas!
Bum!
Tiba-tiba, salah satu dari mereka mengangkat kursi warung internet dan menghantamkannya dengan keras ke tubuh sang pelajar.
Pelajar itu tadinya ingin bangkit untuk melawan, namun langsung dihantam hingga jatuh kembali.
Bum bum, pukulan dan tendangan terus mendarat bertubi-tubi. Hanya dalam belasan detik, Lin Tian melihat darah segar mulai mengalir di lantai. Jelas sekali pelajar itu mengalami luka yang cukup parah.
"Jangan pukul! Jangan dipukuli lagi!" Setelah tertegun sejenak, seorang gadis tiba-tiba berlari menghampiri.
Melirik sekilas ke arah gadis itu, Lin Tian tertegun.
Lin Tian mengenali gadis ini, ia adalah kasir di warung internet ini, kenapa dia malah berlari ke sini saat situasi seperti ini?
"Hajar dia, kalau tidak diberi pelajaran, bocah ini tidak akan tahu rasa!" Namun sama sekali tidak ada yang memedulikan gadis itu.
Melihat pemuda itu terbaring di lantai hingga berdarah-darah, Wang Fangfang menjadi sangat panik, ia berteriak kepada para pengeroyok: "Jangan dipukuli lagi, kalau kalian pukul lagi aku akan melapor polisi!"
"Lapor polisi, lapor nenek moyangmu!" Mendengar ucapan itu, pemuda yang sedang tersulut emosi langsung melayangkan tamparan.
Plak!
Seiring dengan suara tamparan itu, sebuah bekas cetakan tangan merah langsung muncul di wajah Wang Fangfang.
Dengan tatapan dingin ia mendongak dan menyapu pandangan ke arah orang-orang yang menonton di sekitar, pemuda itu berkata dengan nada dingin: "Siapa yang ikut campur akan kubunuh!"
Melihat tatapan dingin orang tersebut, semua orang merasa terkejut.
Tidak ada yang berani!
Sama sekali tidak ada yang berani ikut campur urusan orang lain!
Sekilas pihak lawan bukanlah orang baik-baik, lagipula jumlah mereka sangat banyak. Kalau maju ke sana sama saja mencari pukulan dan mengantar nyawa, bahkan jika terluka mungkin biaya berobat harus ditanggung sendiri.
Tidak ada yang mau mengurus masalah ini!
Menutupi pipinya yang terasa panas membakar, Wang Fangfang hampir menangis karena panik.
Merasa tidak adil!
Seumur hidupnya belum pernah ada orang yang menampar wajahnya!
Begitu memikirkan hal itu, ia merasa sangat dirugikan. Pada saat yang sama, di dalam hatinya ia sangat berharap ada seseorang yang mau maju membela dan mengalahkan sekumpulan orang ini dalam sekejap.
Seperti apa yang digambarkan di dalam film!
Namun, ia tahu betul bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin!
Film tetaplah film, di dunia nyata hal seperti itu sama sekali tidak mungkin terjadi!
Merasa dirugikan, ia hanya bisa menutupi pipinya sambil menahan tangis karena sedih.
Dan tepat pada saat itu, ekspresi Lin Tian berubah tertegun, seketika sebuah suara sintetis elektronik terdengar di dalam benaknya: "Misi: Bantu Wang Fangfang memberi pelajaran kepada para preman. Hadiah Misi: Satu Poin Kemampuan Super."
Seiring dengan suara misi tersebut, Lin Tian seketika melihat cahaya merah memancar di tubuh Wang Fangfang.
Itulah kilau dari sebuah misi.