Apakah sudah ditemukan?
Di ujung jalan...
“Lin Mohan, kau membohongiku! Kenapa kau mencelakai ayahku? Apa dendamnya kepadamu?” Mata Mo Qianxia memerah saat ia menjerit. Kebencian di matanya begitu nyata, seolah-olah ia ingin mencabik-cabik Lin Mohan.
Lin Mohan menatap Mo Qianxia dengan sedih. Ia ingin menjelaskan sesuatu, tetapi tak mengucapkan sepatah kata pun.
“Tidak mau bicara? Merasa bersalah? Lin Mohan, kau memang tak punya hati! Padahal keluargaku sudah begitu baik kepadamu.” Mo Qianxia memukulinya dengan kalap. Ia hanya berdiri diam dan membiarkan perempuan itu menghajarnya, bak raksasa tangguh yang tak tergoyahkan. Hari itu, wajahnya tercakar Mo Qianxia dan pakaiannya pun terkoyak olehnya.
“Hahaha! Teriaklah! Kenapa diam saja? Aku membayar enam juta untuk semalam bersamamu, tapi kau berani menggigitku? Kubunuh kau!”
Noda-noda darah di tubuh Mo Qianxia tampak mengerikan.
Saat Lin Mohan mendorong pintu terbuka dan melihat keadaan Mo Qianxia yang babak belur, wajahnya menggelap seperti iblis.
Di sebuah ruangan sempit dan gelap, tiga orang berlutut di lantai dengan kepala berdarah.
“Ampuni kami, Kak! Kami tidak tahu dia perempuanmu. Tolong lepaskan kami bertiga!”
Lin Mohan tersenyum dingin, lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Dari dalam terdengar jeritan memilukan seperti babi disembelih.
“Ah!”
“Lin Mohan, memangnya apa gunanya kau menaklukkan seluruh dunia? Pada akhirnya, kau tetap kehilangan dia. Akulah pemenang sesungguhnya. Dia akan mati dan meninggalkanmu selamanya!” Su Tian tertawa mengejek dengan pongah.
Lin Mohan berlari sekuat tenaga.
“Mohan, kenapa tubuhku makin lemah? Apa aku benar-benar hanya terlalu lelah?”
Mo Qianxia berbaring di ranjang, sementara Lin Mohan memeluknya.
“Beberapa hari lagi kau akan membaik. Jangan berpikir macam-macam.”
“Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu sering bermimpi buruk. Mohan, aku perlu tidur sebentar.”
Mo Qianxia yang lemah belum selesai bicara ketika ia terlelap pulas. Lin Mohan menatap wajahnya yang pucat. Mata sedingin esnya berkilat penuh kesedihan. Ia memeluknya lebih erat, seolah hanya dengan begitu ia bisa merasakan bahwa Mo Qianxia benar-benar ada di sana.
Adegan berganti. Sebuah vila terbakar.
“Qianxia!”
Wajah Lin Mohan yang biasanya tak menunjukkan perasaan berubah drastis saat melihat vila dilalap api. Ia berusaha menerobos masuk dengan kalap.
“Tahan dia! Apinya terlalu besar, masuk ke sana berbahaya!”
Seluruh tubuh Lin Mohan basah kuyup setelah disiram air.
“Ah!”
Ia berjuang menerobos guyuran air dan menerjang masuk ke vila yang terkepung api.
“Qianxia, kau di mana?”
Api berkobar hebat. Pada akhirnya, sebuah tiang menimpanya hingga ia pingsan.
“Dia sudah mati. Jenazahnya sudah ditemukan!”
Tokoh penting di sebelah utara tak lain adalah Lin Mohan. Peristiwa yang terjadi di dalam negeri membuatnya begitu berduka hingga ia meninggalkan Jiangzhou dan pindah ke Tianze untuk mengembangkan usahanya. Kantor pusat perusahaannya berada di Inggris. Kali ini ia datang ke acara makan bersama karena diundang oleh seorang kenalan dekat, jadi sulit baginya untuk menolak.
Memikirkan Jiangzhou, tempat yang menyisakan begitu banyak luka, ia benar-benar telah pergi dari sana. Setelah mengetahui kebenaran tentang pembunuhan Mo Qianxia, ia pergi tanpa menyisakan sedikit pun rasa enggan.
Gadis itu... Saat pertama melihatnya, kenangan masa lalu Lin Mohan pun terungkit. Tinggi badan, pakaian, dan auranya, semuanya mirip sekali dengan Mo Qianxia. Namun wajahnya... bukan wajah Mo Qianxia yang begitu cantik hingga mampu memikat seluruh negeri.
Ia hanya bisa disebut manis. Saat gadis itu muncul, Lin Mohan sempat mengira Mo Qianxia telah kembali. Namun setelah melihat wajahnya, ia mengejek dirinya sendiri. Mo Qianxia tewas terbakar, bahkan jenazahnya sudah ditemukan. Mana mungkin ia masih hidup? Sekalipun gadis itu memiliki segala hal yang mengingatkannya pada Mo Qianxia, dia tetap bukan Mo Qianxia.
Setelah mengingat hal itu, Lin Mohan menyingkirkan gejolak sesaat tadi. Dengan wajah dingin, ia kembali berbaur di antara para perempuan.
Mo Qianxia ditopang Wang Xiangsheng dan melewati Lin Mohan begitu saja...
Wang Xiangsheng membawa Mo Qianxia ke dekat Gui Sha. Saat melihat Gui Sha bercakap-cakap dengan Borus dengan akrab, Mo Qianxia yang kepalanya pusing tetapi pikirannya masih jernih berkata, “Ayah, kepalaku pusing.”
Suara Mo Qianxia membuat Gui Sha dan Borus menghentikan percakapan. Mereka melihat Wang Xiangsheng membantu Mo Qianxia duduk di kursi di samping Gui Sha, lalu berdiri di sisinya.
“Tuan Chu, Nona Chu kurang tahan minum, jadi ia kebanyakan minum. Perlukah saya mengantarnya pulang terlebih dahulu?”
Chu Tianyang mengenal Wang Xiangsheng.
Wang Xiangsheng berkata begitu untuk menenangkan Mo Qianxia, sekaligus menguji bagaimana kesan Gui Sha terhadapnya.
“Terima kasih, Tuan Wang. Karena Anda begitu berniat baik, saya titip putri saya untuk Anda antar pulang.”
Suara Gui Sha yang dalam dan mantap terdengar lantang. Ia tersenyum penuh arti kepada Wang Xiangsheng.
Mo Qianxia meminta Wang Xiangsheng menopangnya sampai ke sana demi merasa aman. Namun, kenapa ayahnya justru mendorongnya kepada orang luar? Ia sama sekali tak menyangka Gui Sha akan menyerahkannya begitu mudah.
Dulu, setiap kali ada pria yang mengejarnya atau berada di dekatnya, Gui Sha selalu menyelidiki identitas mereka. Lantas, kenapa ia begitu memercayai Wang Xiangsheng?
Wang Xiangsheng tersenyum tipis kepada Mo Qianxia. “Nona Chu, ayah Anda sudah setuju saya mengantar Anda pulang. Kalau tetap di sini, kepala Anda akan semakin pusing. Bagaimana kalau saya mengantar Anda pulang?”
“Ayah!”
“Biarkan dia mengantarmu. Baru minum sedikit saja kau sudah mabuk. Setelah pulang, berlatihlah agar lebih tahan minum.”
“Ayah!”
“Ayah dengar. Aku percaya kepada Xiangsheng. Tak ada urusan lain, jadi kalian pergi saja dulu. Aku masih perlu membicarakan beberapa hal dengan Borus.”
Dua kali Mo Qianxia dipotong oleh Gui Sha hingga hampir menangis. Wang Xiangsheng menatapnya dengan sopan, dan ia pun sungkan menolak. Akhirnya, ia pergi bersama Wang Xiangsheng.
Setelah Mo Qianxia dan Wang Xiangsheng pergi, tokoh utama dalam acara itu pun muncul.
Empat bulan sebelumnya, di Jiangzhou.
“Sudah ditemukan?”
“Kancing ini berasal dari gerai kedua merek AS, yang berarti dari usaha Anda sendiri.”
“Gerai kedua?”
“Merek AS menjual pakaian perempuan. Apa mungkin kancing ini berasal dari pakaian Nona Mo?”
“Tidak mungkin. Mo Qianxia hanya punya satu pakaian dari AS, dan pakaian itu tidak memakai kancing logam.”
Satu-satunya pakaian bermerek AS milik Mo Qianxia adalah gaun putih yang dibelikan Lin Mohan untuk ulang tahunnya.
“Kalau begitu, orang yang masuk adalah perempuan.”
Mendengar perkataan Lei Shiba, Lin Mohan menimbang-nimbangnya berulang kali. Tiba-tiba, ia seperti teringat sesuatu.
“Terima kasih, Shiba. Selama ini kau terus membantuku.”
“Tidak perlu berterima kasih. Kita kawan seperjuangan. Urusanmu juga urusanku. Dulu kau pun banyak membantuku.”
“Baik. Aku tutup dulu. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.”
“Baik!”
Lin Mohan mengakhiri panggilan. Matanya yang hitam berkilat dingin. Ia mengambil telepon lagi dan menekan sebuah nomor.
“Ada apa, Tuan Lin?”
“Bantu aku menyelidiki seseorang. Cari tahu dia sekarang berada di mana.”
“Baik, Tuan Lin. Siapa orangnya?”
“Cai Binger!”
Nomor itu milik tim intelijen pribadi Lin Mohan. Tim intelijen yang selama ini dikenal telah diawasi Zhang Lei. Namun, tim yang satu ini ia bentuk diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun.
Efisiensi tim Lin Mohan bahkan lebih tinggi daripada tim sebelumnya. Ia tetap di rumah, tidak pergi ke mana-mana. Jika tidak bisa menemukan pembunuh Mo Qianxia, ia merasa akan terus gelisah sepanjang hidup dan tak akan mampu memusatkan pikiran pada pekerjaan.
Pembunuhnya harus ditemukan!
Tangan kiri Lin Mohan mengepal erat.
Beberapa jam kemudian, teleponnya berdering. Lin Mohan duduk di sofa, sendirian. Dulu, Mo Qianxia menemaninya menonton televisi atau, saat mereka belum berdamai, mereka bertengkar. Kini tak ada siapa pun. Hatinya terasa begitu hampa.
Seolah separuh jiwanya telah direnggut. Semakin ia merindukan Mo Qianxia, semakin dalam kebenciannya kepada orang yang membunuhnya.
Lin Mohan menekan tombol jawab. Suara anggota tim intelijennya terdengar dari seberang.
“Tuan Lin, orang itu sudah pergi ke luar negeri. Wilayah pencarian kita kini jauh lebih luas.”
“Ke luar negeri? Dia pergi ke negara mana?”
Lin Mohan tak menyangka Cai Binger pergi ke luar negeri. Namun, kepergiannya justru memperkuat dugaan Lin Mohan.
“Tujuannya Kanada.”
“Hubungi jaringan intelijen internasional. Teruskan pencarian.”
“Baik, Tuan Lin.”
Setelah berkata demikian, orang itu mengakhiri panggilan. Sepertinya ia buru-buru menghubungi anggota tim lainnya. Lin Mohan meletakkan ponselnya di atas meja dan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat pandangan ke dinding di hadapannya.
Di dinding itu tergantung gambar seorang gadis manis yang berlari di padang rumput dengan matahari di belakangnya. Usianya tampak sekitar sebelas atau dua belas tahun. Wajahnya manis, polos, dan murni. Gadis itu adalah Cai Binger!
Saat menatap gambar itu, pikiran Lin Mohan bergejolak, lalu ia paksa untuk tenggelam kembali. Seolah-olah ia masih bisa mendengar kata-kata Cai Yanran menjelang kematiannya.
“Kak Mohan, aku tak bisa bersamamu, dan aku juga tak bisa lagi merawat adikku. Dia masih begitu kecil. Kalau aku mati, bagaimana nasibnya? Kumohon, maukah kau merawatnya untukku?”
“Tidak! Kau tidak akan mati. Aku tak akan membiarkanmu mati!”
Wajah Lin Mohan yang masih belia dipenuhi urat-urat merah di matanya. Ia memeluk Cai Yanran yang tubuhnya bersimbah darah.
Darah masih membasahi sudut bibir Cai Yanran. Darah mengucur deras dari dadanya. Ia berusaha tersenyum, tetapi senyumnya lebih menyedihkan daripada tangis.
“Kak Mohan, aku juga tidak ingin mati.”
Cai Yanran mengangkat tangan hendak membelai wajah Lin Mohan. Tangannya terangkat setengah, lalu jatuh lemas.
“Yanran!”
Lin Mohan menjerit memilukan. Saat itu, ia kehilangan cinta pertamanya, Cai Yanran, yang mati setelah melindunginya dari peluru. Ketika itu, Lin Mohan mengira ia tak akan pernah mencintai siapa pun lagi.
Namun, takdir menghadirkan Mo Qianxia dalam hidupnya. Ia mengira itu karena langit mengasihaninya atau tersentuh oleh dirinya. Tak disangka, itulah awal dari penderitaan. Ikatan rumit di antara dirinya dan Mo Qianxia semakin erat dan menyakitkan, tetapi betapa pun sakitnya, ia tetap tak rela melepaskannya.
Lin Mohan selalu tahu Cai Binger menyukainya. Namun, setiap kali teringat bahwa Cai Yanran mati demi dirinya dan Cai Binger adalah adiknya, hatinya dipenuhi kepedihan. Ketika seseorang telah bersemayam di dalam hati, bahkan kerabat sedarah pun tak dapat menggantikannya.
Cai Binger bukan Cai Yanran. Lin Mohan tak mampu mencintainya dan hanya bisa memberinya kasih sayang layaknya seorang kakak. Namun, ia sendiri tak mampu membedakan rasa suka dan cinta. Setelah serangkaian perubahan terjadi, sifat Cai Binger pun semakin mengerikan karena dirinya.