Bab Empat Belas: Kenangan
"Adik kecil, di mana rumahmu? Malam sudah gelap, duduk sendirian di sini tidak aman. Biar aku antar kamu pulang, ya." Seorang anak laki-laki berwajah manis, sekitar sepuluh tahun, kebetulan lewat dan melihat seorang gadis kecil duduk mematung di sudut jalan dengan tatapan pilu. Gadis itu tampak berusia lima atau enam tahun.
Lampu jalan yang temaram menyinari jalanan yang tenggelam dalam gelap, memantulkan cahaya samar yang berpadu dengan bayangan kesendirian gadis kecil itu, menciptakan suasana penuh kesedihan.
Gadis kecil itu meringkuk dalam dunianya sendiri, memeluk lutut di sudut jalan, mengenakan pakaian tipis dan lusuh yang membuatnya tampak seperti pengemis kecil. Namun, anak laki-laki itu tidak percaya ia benar-benar seorang pengemis; dari caranya yang dingin dan anggun, sudah cukup untuk membedakan.
Saat gadis itu mendengar seseorang bertanya, wajahnya yang dingin perlahan berbalik. Sepasang mata hitam berkilau seperti bintang menatap anak laki-laki itu penuh ketidakpedulian, tanpa sepatah kata pun.
Anak laki-laki itu tertegun melihat wajah gadis itu yang begitu sempurna tanpa cela. Namun keterpakuannya segera sirna, digantikan senyum cerah bak sinar mentari, ia berkata pada gadis kecil itu,
"Adik kecil, namaku Xiaoyichen. Kalau kamu siapa?" Suaranya lembut seperti angin malam.
Gadis itu menatapnya lekat-lekat, sejenak tampak ragu, kemudian kembali bersikap dingin. Ia memalingkan wajah, larut dalam dunianya sendiri, seolah benar-benar mengabaikan kehadiran Xiaoyichen.
Xiaoyichen tidak marah meski diabaikan. Ia kembali berkata, "Udara makin dingin, kamu pakai baju tipis begini nanti masuk angin. Biar aku antar kamu pulang, ya?"
Sunyi, tak ada suara...
Xiaoyichen melihat gadis itu tetap tak bergeming, ia pun tak berkata apa-apa lagi. Ia berdiri di belakangnya, menatapnya beberapa saat, lalu berjalan pergi.
Langkah kakinya yang berlari terdengar jelas di keheningan malam. Jalanan kembali hanya tersisa gadis kecil itu seorang diri...
Setelah Xiaoyichen pergi cukup jauh, beberapa menit kemudian, gadis itu menoleh. Ia memandangi bayangan hitam yang perlahan menghilang, matanya yang dingin kini tampak jelas menyimpan kesedihan.
"Ibu, benarkah Ibu sebenci itu padaku?" Suaranya serak mengandung pilu.
Ia kembali menunduk, berdiri dengan ragu, bersiap untuk pergi. Namun tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang, disusul suara napas terengah-engah.
"Adik kecil, aku tadi pulang dulu mengambilkan baju untukmu, takut kamu kedinginan. Kalau kamu belum mau pulang, izinkan aku menemanimu di sini, ya?"
Wajah Xiaoyichen yang tampan bercucuran keringat, memerah karena napas yang masih memburu, jelas ia berlari sekuat tenaga. Saat pergi suara langkahnya keras terdengar, namun saat kembali seperti hantu, tiba-tiba sudah di sini. Rumahnya yang mana, pikir gadis kecil itu.
Mendengar ucapan itu, tubuhnya sedikit kaku. Perlahan ia menoleh, menatapnya dengan dingin, "Kenapa kamu mau menemaniku? Aku kan tidak mengenalmu."
Xiaoyichen sedikit terkejut mendengar jawaban itu, "Aku lihat kamu pakai baju tipis di malam yang dingin, jadi aku bawakan baju. Aku menemanimu karena aku takut kamu kesepian."
"Kesepian?" Gadis itu merasa hatinya perih mendengar kata itu, ia menundukkan kepala dalam-dalam ke lututnya, merasa tertekan. Xiaoyichen dengan lembut menyelimuti gadis itu dengan baju yang dibawanya.
Gadis itu merasakan perhatiannya, tubuhnya kaku, ia menatap anak laki-laki itu dengan wajah polos penuh tanda tanya. Ia tak mengerti, mengapa ibunya yang seharusnya paling dekat sering memarahinya dan memukulnya, sementara orang asing ini begitu baik padanya. Ia benar-benar tak mengerti, sekarang dirinya terasa sangat rapuh dan sangat butuh kasih sayang.
Tanpa sadar, air mata menetes membasahi pipinya.
"Adik kecil, kenapa kamu menangis? Kamu sedang sedih, ya?" Xiaoyichen bingung melihat gadis kecil itu tiba-tiba menangis, khawatir ucapannya tadi justru menyakitinya.
"Ibuku tidak mau mengakuiku," lirih si gadis sambil terisak, tangannya mengusap air mata, tampak sangat menyedihkan.
"Kasihan sekali kamu. Kalau begitu, mau ikut aku ke rumah dulu? Malam-malam begini duduk di sini tidak aman."
"Tapi..." Gadis kecil itu ragu, sebenarnya ia ingin ibunya datang mencarinya. Meskipun ibunya sering memarahinya, di hatinya ibu tetaplah yang terpenting—itulah ikatan darah.
"Ada apa? Sudah, ikut aku saja, nanti aku traktir makanan enak." Xiaoyichen tersenyum pada gadis itu, menampilkan lesung pipinya yang manis.
Gadis itu belum pernah bertemu anak laki-laki sekeren ini. Entah kenapa, pada orang asing ini ia merasa bisa percaya.
"Tapi aku tetap ingin menunggu ibuku. Kalau aku pergi, ibu tidak akan menemukanku."
"Tapi bukankah kamu bilang ibumu tidak mau mengakuimu?"
Gadis itu diam, hidungnya memerah dan matanya berkaca-kaca, air mata hampir jatuh tapi ia tahan, begitu menyedihkan.
Xiaoyichen melihat wajahnya yang tampak seperti anak kecil yang baru dimarahi, hatinya ikut terenyuh. "Ayo, kita makan dulu, nanti kita kembali lagi ke sini." Setelah berkata begitu, ia menarik tangan gadis itu menuju rumahnya.
Gadis kecil itu sebenarnya enggan, tapi ia memang lapar. Pulang pun belum tentu dapat makan, ibunya sering memarahinya. Ia menoleh ke tempat duduknya tadi, lalu mengikuti Xiaoyichen pergi.
"Ibu, aku pulang!" Suara Xiaoyichen sudah terdengar sebelum badannya masuk ke rumah. Ia tampak sangat gembira, mungkin karena bertemu dengan gadis kecil yang menggemaskan, hatinya jadi berdebar senang tanpa alasan.
"Yichen, baru pulang jam segini, main ke mana saja? Kamu tahu kan sekarang banyak penculik anak-anak. Mulai sekarang kalau pulang malam, siap-siap dihukum!" Suara ibunya, Zhang Lan, terdengar membentak, namun jelas ada nada khawatir yang bahkan gadis kecil itu pun bisa merasakannya.
"Iya, Bu. Lihat, aku bawa teman baru, dia belum makan. Boleh dia makan sama kita?"
"Hah?" Zhang Lan baru sadar ada gadis kecil lain di samping Xiaoyichen. Melihat baju gadis itu sangat kotor, Zhang Lan menahan rasa jijik, "Yichen, dari mana kamu bawa pulang pengemis? Cepat suruh dia pergi, jangan sembarangan bawa orang ke rumah, dengar!"
"Dia bukan pengemis, dia temanku!" Xiaoyichen langsung kesal mendengar ibunya berkata begitu.
"Kalau kamu tidak suruh dia pergi, aku yang akan usir." Zhang Lan memang orang yang sangat suka kebersihan, ia tak tahan melihat sesuatu yang kotor di rumahnya. Melihat gadis kecil itu begitu kumal, ia benar-benar tak tahan.
Mendengar sikap Zhang Lan, mata gadis itu meredup. "Kakak, ibumu tidak suka aku, lebih baik aku pergi saja." Ia pun berbalik hendak keluar.
"Ibu, ibunya saja sudah tak mau mengakuinya, dia sudah sangat malang, bagaimana bisa Ibu mengusirnya lagi? Tidak boleh, aku tidak akan biarkan dia pergi!" Xiaoyichen berdiri menghadang, tak rela membiarkan gadis itu pergi.
"Minggir! Suruh dia pergi, dengar tidak? Masih kecil saja sudah berani membantah, nanti besar bagaimana jadinya? Jangan sembarangan bawa pengemis ke rumah, rumah kita bukan panti asuhan!" Zhang Lan mulai naik pitam, satu tangan berkacak pinggang, satu lagi menunjuk wajah Xiaoyichen.
"Tidak mau!" Mereka pun akhirnya bertengkar.