Bab 49 Semuanya Mati Sia-sia
Hujan deras turun tanpa henti selama tiga hari.
Banjir melanda kota kecil itu, dan hampir semua toko kecil di pinggir jalan terendam air.
Hanya toko alat tulis kecil milik An Xia yang baik-baik saja dan aman.
Semua ini berkat Gu Mingyu.
Setelah An Xia sembuh dari sakitnya, hal pertama yang ada di dalam benaknya adalah bagaimana cara berterima kasih kepada Gu Mingyu.
Selama waktu ini, Gu Mingyu selalu memasak untuknya, melindugi tokonya dari banjir, dan merurwatnya saat dia sakit.
Dalam sekejap, An Xia merasa dirinya sudah berhutang banyak budi kepada Gu Mingyu.
Dia paling tidak suka berhutang pada orang lain.
Setelah berpikir panjang, An Xia memutuskan untuk turun tangan sendiri ke dapur dan khusus membuat beberapa hidangan istimewa untuk Gu Mingyu.
Dia membeli daging babi, ayam, dan sapi yang segar.
An Xia telah menyusun menu sebelumnya, berencana membuat daging sapi masak merah, ayam kung pao, ditambah babi asam manis.
Dia bahkan sengaja membeli sebuah buku resep dari toko buku, bersiap untuk mengikuti langkah-langkah yang ada di dalam buku tersebut.
Bagaimanapun, An Xia sebenarnya tidak pandai memasak.
Di kehidupan sebelumnya, karena pola makannya yang sembarangan, makan tidak teratur, dia sangat disayangkan menderita kanker lambung.
Jika saja dia tahu cara memasak untuk dirinya sendiri dan merawat dirinya dengan baik, dia tidak akan jatuh sakit seperti itu.
"Pertama-tama lumuri ayam dengan tepung, lalu goreng di wajan."
An Xia memegang buku itu dan mengikuti langkah-langkah di atasnya dengan patuh dan teliti.
Suara dentingan terdengar dari dapur, dan tak lama kemudian, aroma harum mulai tercium.
"Sudah kubilang, aku ini sebenarnya cukup pintar."
"Sekali belajar langsung bisa."
An Xia melihat saus menggugah selera yang membalut daging babi asam manis itu, hingga mau tidak mau dia menelan air liurnya.
Gu Mingyu benar-benar beruntung hari ini.
Kebetulan hari ini Kakak Sulung dan Ipar Sulung membawa Ibu Gu ke kota kabupaten untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada luka di kepalanya guna melihat seberapa baik pemulihannya.
Makanan ini pun menjadi jamuan makan khusus untuk mengucapkan terima kasih kepada Gu Mingyu.
Dengan penuh percaya diri, An Xia menyajikan hidangan tersebut satu per satu dari wajan, menatanya dengan indah di atas piring, lalu membawanya ke meja makan.
"Gu Mingyu, ayo makan!"
An Xia membuka pintu, dan Gu Mingyu sedang membelah kayu bakar di luar.
Mendengar panggilan An Xia, dia meletakkan kapak di tangannya, masuk ke dalam, mencuci tangannya, dan bersiap untuk makan.
"Hari ini begitu mewah?"
Gu Mingyu melirik meja makan dengan sedikit terkejut.
"Ini khusus untuk berterima kasih padamu. Kalau bukan karena kamu, toko kecilku pasti sudah terendam banjir sekarang."
An Xia mengubah sikap dinginnya yang biasa, dengan ramah mengambil sepotong daging dan menaruhnya ke dalam mangkuk Gu Mingyu.
Gu Mingyu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, ekspresi itu jelas-jelas mengatakan: Untung kau masih punya hati nurani.
"Babi asam manis, ayam kung pao, lalu yang itu, daging sapi masak merah?"
Tanpa diduga, Gu Mingyu berhasil menebut nama setiap hidangan satu persatu.
An Xia mengangguk seperti mematuk padi.
"Benar!"
Tampaknya masakannya benar-benar memiliki penampilan, aroma, and rasa yang menggugah selera, sampai-sampai Gu Mingyu langsung mengenalinya hanya dengan sekali pandang!
"Rasanya seperti menyambut Tahun Baru."
"Biar kucoba."
Gu Mingyu tersenyum tipis, mengambil sumpitnya, dan langsung memasukkan sepotong daging itu ke dalam mulutnya.
An Xia menatapnya dengan seksama.
Dia awalnya berharap Gu Mingyu akan mengacungkan jempol padanya, memuji makanannya sangat enak sampai-sampai membuatnya merasa berbunga-bunga dalam kebahagiaan.
Namun, Gu Mingyu mengunyah beberapa kali, ekspresinya sama sekali tidak berubah, dan dia hanya berkata dengan datar, "Enak."
Hati An Xia langsung jatuh ke titik terendah. Apakah Gu Mingyu ini memang berwajah kaku sejak lahir?
Atau si bodoh kecil yang dulu justru lebih menggemaskan.
Jika An Xia memasakkan makanan seperti ini untuknya di masa lalu, dia pasti akan melompat kegirangan, bertepuk tangan, lalu memuji istrinya karena masakannya yang enak!
"Kalau enak, habiskan sana."
"Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih."
Sikap An Xia juga ikut mendingin, dan dia berkata dengan ketus.
"Kamu tidak makan?"
Gu Mingyu balik bertanya padanya sambil mengambil lauk.
"Tidak mau."
"Tidak ada nafsu makan."
Setelah berkata demikian, An Xia masuk ke dalam kamar dengan sedikit perasaan kesal.
Dia dengan baik hati memasakkan tiga hidangan istimewa untuknya, tetapi dia hanya dibalas dengan kata "enak"? Begitu saja?
Kecewa tetaplah kecewa, tetapi di dalam hatinya An Xia tahu bahwa Gu Mingyu mungkin hanya tidak pandai mengekspresikan diri.
Mendengar suara Gu Mingyu sedang membereskan mangkuk dan sumpit di luar, An Xia buru-buru berlari keluar.
"Kamu sudah kenyang?"
"Hmm."
Gu Mingyu menjawab dengan tenang.
"Biar aku saja yang membereskannya." An Xia buru-buru mengambil mangkuk dan sumpit dari tangannya.
Ketika dia melihat ke bawah, ketiga hidangan itu hampir dihabiskan oleh Gu Mingyu, masing-masing hanya menyisakan sekitar sepertiganya saja.
"Kalau begitu aku pergi membelah kayu bakar dulu."
Gu Mingyu mengenakan sarung tangannya dan berjalan keluar lagi.
Sambil membereskan mangkuk dan sumpit, An Xia tergoda oleh aroma makanannya dan tanpa sadar merasa sedikit lapar.
"Baunya harum sekali, masakan ini kelihatan sangat enak."
Pada akhirnya, dia tidak bisa menahan godaan, mengambil sumpit, dan memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
Belum sempat dikunyah dua kali, rasa pahit yang pekat langsung menyerbu masuk ke kepala An Xia!
"Huek, huek, huek!"
"Rasanya tidak enak sekali!"
"Ya ampun, aku, sepertinya aku lupa memasukkan garam!"
An Xia merasa terkejut di dalam hatinya, dan buru-buru mengambil sumpit untuk mencicipi dua hidangan lainnya.
Benar saja, semuanya tidak diberi garam!
Dengan masakan seperti ini, An Xia bahkan tidak bisa menelan satu gigit pun, tetapi Gu Mingyu tadi bilang enak? Dan bahkan menghabiskan sampai dua pertiganya?
Sekarang dia merasa bahwa kata "enak" yang diucapkan Gu Mingyu sungguh sebuah penderitaan baginya!
"Daging sapi, ayam, dan babi ini benar-benar mati sia-sia."
An Xia menghela napas dalam-dalam. Dia pernah mendengar bahwa garam harus dimasukkan di akhir proses memasak. Mungkin karena dia terlalu bersemangat saat membuatnya, dia jadi lupa total!
Dia berniat ingin berterima kasih kepada Gu Mingyu dengan baik, tetapi sekarang dia justru semakin berhutang budi padanya.
Sore harinya, Kakak Sulung dan Ipar Sulung kembali bersama Ibu Gu, dan begitu memasuki pintu rumah, mereka langsung mencium aroma harum.
"Aduh, Xia Kecil, memasak apa yang enak sekali ini?"
Gu Mingyang mengendus-ngendus hidungnya, jelas-jelas mencium bau daging.
"Kakak Sulung, aku membuat beberapa hidangan untuk berterima kasih atas bantuan Mingyu selama ini."
"Itu..."
An Xia ingin menjelaskan dan mencoba membujuk Kakak Sulung agar tidak mencari kesusahan sendiri, tetapi mata Gu Mingyang yang berbinar-binar dengan jelas menunjukkan bahwa dia tidak akan berhenti sebelum bisa mencicipinya.
"Mumpung kami tidak ada, kalian berdua makan sembunyi-sembunyi?"
"Kakak juga ingin mencicipinya."
Gu Mingyang benar-benar langsung ingin memakannya.
An Xia bahkan tidak sempat menghentikannya.
Begitu sepotong daging masuk ke dalam mulut Gu Mingyang, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis.
"Kakak, apakah enak?"
An Xia ingin tertawa di dalam hatinya, tetapi juga merasa sedikit tidak enak pada Kakak Sulung.
Gu Mingyang meregangkan lehernya, mengerahkan seluruh tenaga dalam hidupnya untuk menelan paksa sepotong daging itu. Dia mungkin tidak pernah menyangka seumur hidupnya bahwa daging bisa terasa begitu tidak enak.
"Ena-, enak."
"Hanya saja, Kakak dan Iparmu sudah kenyang makan di kota tadi, jadi sekarang tidak lapar, tidak lapar..."
Setelah mengatakan itu, Gu Mingyang meletakkan sumpitnya dengan patuh dan tidak berani lagi memikirkan makanan itu sedikit pun.
"Barusan bicara apa dengan Xia Kecil? Kenapa rumah ini harum sekali?"
"Aku juga lapar, kebetulan mau makan sedikit."
Dari kejauhan, An Xia mendengar Ipar Sulung berkata begitu kepada Kakak Sulung.
Kakak Sulung langsung menghentikan Ipar Sulung dan berbisik-bisik, seolah-olah sedang membujuknya agar tidak mencari kesusahan sendiri.
Namun, Ipar Sulung justru merasa tidak senang.
"Kamu ini ya, Xia Kecil kan memang tidak pandai memasak, bagaimana bisa kamu bicara begitu?"
"Kita harus lebih banyak memberinya dorongan."
Bisikan-bisikan suami istri itu semuanya didengar oleh An Xia.
Untuk sesaat, dia bahkan merasa terharu. Orang-orang dari keluarga Gu memperlakukannya dengan sangat baik. Meskipun dia membuat hidangan gagal yang menghancurkan semua bahan makanan, keluarga Gu tidak pernah mengatakan sepatah kata pun untuk menyalahkannya.