Bab Dua Puluh Lima: Ciuman Pertama
Halaman (1/3)
Setelah selesai memasak, Mama Chen meninggalkan vila. Sejak Jing Mingzhe terluka, Xia Nanqing sudah membicarakan perubahan jadwal kedatangannya ke rumah dengan Mama Chen.
Semula, Mama Chen hanya perlu datang saat jam makan dan pada waktu-waktu tertentu untuk membersihkan rumah. Jika tidak ada keadaan khusus, ia tidak perlu menginap. Namun, karena Jing Mingzhe tinggal sendirian di rumah dan membutuhkan seseorang untuk merawatnya, Xia Nanqing akhirnya meminta Mama Chen tinggal di rumah pada siang hari.
“Menurutku, ini agak berlebihan.”
Meski berkata demikian, Jing Mingzhe sama sekali tidak tampak keberatan.
Xia Nanqing menyendokkan sepotong iga ke mangkuk Jing Mingzhe, lalu menatapnya. “Makanlah. Jangan terlalu banyak bicara.”
“Sampai pemeriksaan ulangmu selesai, aku tidak akan membiarkanmu sibuk dengan pekerjaan.”
Melihat hubungan mereka begitu baik, Mama Chen tentu saja ikut merasa senang. Dengan senyum lebar, ia melipat celemeknya dan menyimpannya di dalam lemari.
“Kalau Tuan dan Nyonya tahu Nona hidup bahagia, mereka pasti juga akan sangat senang.”
Mama Chen menggoda mereka sambil tersenyum.
Jing Mingzhe tersenyum secara alami. Saat memandang Xia Nanqing, matanya dipenuhi kasih sayang.
Sebaliknya, Xia Nanqing tampak sedikit malu. Ia mengatupkan bibir dan berkata dengan nada merajuk, “Mama Chen…”
“Baik, baik, aku tidak akan bicara lagi. Aku pulang dulu.”
Ujung bibir Mama Chen sedikit terangkat. Ia mengambil barang-barangnya, lalu meninggalkan rumah.
Jing Mingzhe menatap wajah Xia Nanqing yang memerah karena malu. Ia menyukainya, tetapi tahu bahwa jika terus berbicara, Xia Nanqing akan semakin merasa kikuk.
“...Menurutmu bagaimana?”
Suara Xia Nanqing merendah. Saat berbicara, suaranya terdengar sedikit manja.
“Apanya?”
Jing Mingzhe mengedipkan mata. Ia benar-benar tidak mengerti maksudnya dan untuk sesaat tidak tahu harus menebak ke arah mana.
“Maksudku... karena kita sudah, sudah memastikan hubungan ini, kapan kau berencana mendaftarkan pernikahan kita?”
Urusan mendaftarkan pernikahan itu justru lebih dulu diungkit oleh Xia Nanqing. Bahkan ia sendiri tidak menyangka akan mengatakannya.
Jing Mingzhe terlebih lagi tidak menyangka.
Sebenarnya, ketika masih dirawat di rumah sakit, mereka sudah sepakat untuk mendaftarkan pernikahan. Namun, setelah keluar dari rumah sakit, banyak hal terjadi dan urusan itu terus tertunda. Xia Nanqing tidak mengatakannya, tetapi saat itu ia memang belum mencintai Jing Mingzhe. Karena itu, Jing Mingzhe merasa tidak pantas mengungkitnya lebih dulu.
Bagi orang-orang dalam lingkaran mereka, lamaran ataupun pernikahan tidak harus didasari perasaan yang sangat mendalam dari kedua belah pihak, tetapi setidaknya keduanya harus sama-sama bersedia.
Jing Mingzhe tahu bahwa Xia Nanqing sebenarnya tidak punya pilihan lain dan hanya bisa memilih dirinya. Karena itu, ia tidak memaksakan diri meminta persetujuan Xia Nanqing untuk mendaftarkan pernikahan, juga tidak sengaja membicarakannya.
Di hadapan orang luar, mereka mengaku sebagai suami istri, padahal sebenarnya hubungan itu belum resmi.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Kalau kita memang sudah berpacaran... toh kita sudah sampai sejauh ini. Kalau memungkinkan, kita daftarkan saja pernikahan kita lebih dulu, supaya kebohongan ini menjadi kenyataan. Seluruh Kota Hui sedang memperhatikan kita.”
Tentu saja boleh.
...
Jika Jing Mingzhe yang sebelum hari ini mendengar hal itu, ia pasti akan sangat gembira. Lalu, mengikuti kebiasaan ketua dewan lama, ia akan membuka kalender abadi di ponselnya untuk mencari hari yang baik bagi pernikahan. Setelah menentukan tanggal, mereka akan segera mendaftarkan pernikahan.
Namun, sekarang tidak bisa.
Jing Mingzhe tak kunjung menjawab. Xia Nanqing tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Ia menggenggam sumpit di tangannya, dan tanpa sadar ikut merasa tegang.
“Ada apa?”
“Qingqing, aku memang sangat ingin menikah denganmu. Namun, mungkin kita harus menundanya sebentar karena aku harus pergi ke luar negeri.”
Hampir secara naluriah, Xia Nanqing ingin bertanya, “Kenapa?”, lalu menyusul dengan, “Itu tidak bertentangan.”
Namun, setelah melihat wajah Jing Mingzhe yang tampak telah mempertimbangkannya matang-matang, ia hanya mengatupkan bibir dan menerima keputusannya.
“Berapa lama kau akan berada di luar negeri?”
Tatapan Xia Nanqing sedikit menunduk. Ia berpura-pura seolah tidak terlalu peduli.
Selama kepulangannya ke tanah air, Jing Mingzhe belum pernah sekali pun mengatakan ingin pergi. Bahkan ketika masih bersekolah di luar negeri, ia sebisa mungkin menghindari meninggalkan Xia Nanqing. Mengapa tiba-tiba ia berubah?
“Sekitar dua minggu. Ada beberapa urusan pekerjaan sebelumnya, dan aku juga perlu bertemu beberapa teman di dunia bisnis.”
Jing Mingzhe menjawab dengan samar.
Tatapan Xia Nanqing jatuh pada bibir Jing Mingzhe yang tampak tenang, tetapi ia tidak berusaha menyelidiki pekerjaannya.
Sebagai seorang direktur utama, Xia Nanqing juga tahu bahwa ketika Jing Mingzhe menjabat di perusahaan lain, ia pasti menghadapi berbagai macam batasan dan masalah. Ada begitu banyak hal yang bahkan tidak bisa diceritakan sepenuhnya kepada orang terdekat. Xia Nanqing tidak ingin membuatnya berada dalam kesulitan, maka ia memaksakan senyum.
“Kapan kau berangkat?”
“Mungkin dalam satu atau dua hari ini.”
“Dalam satu atau dua hari?” Xia Nanqing terkejut. “Dalam waktu dekat kau harus menjalani pemeriksaan ulang.”
Melihat Xia Nanqing begitu terkejut dan tampak hendak menolak, Jing Mingzhe buru-buru menggenggam tangan kirinya.
“Itu tidak akan mengganggu pemeriksaan ulang. Aku berjanji akan berangkat dalam keadaan sehat dan pulang dengan selamat, ya?”
Xia Nanqing membalas genggaman tangannya dan memaksakan senyum.
Malam pun segera tiba. Xia Nanqing melarang Jing Mingzhe bekerja, sehingga ia hanya bisa memeluk album foto Xia Nanqing ketika masih kecil sambil menunggu Xia Nanqing menyelesaikan pekerjaannya.
“Kau bilang akan memberitahuku kapan kau mulai menyukaiku.”
Kata-kata itu datang begitu tiba-tiba. Sepertinya Xia Nanqing sudah selesai bekerja, dan suaranya terdengar agak pelan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Jing Mingzhe mengangkat pandangan ke arah Xia Nanqing. Setelah merenung sejenak, ia mengangguk.
“Kapan?”
Mata Xia Nanqing dipenuhi rasa ingin tahu. Ia menatap mata Jing Mingzhe, tak lagi mampu menahan keingintahuannya.
Ia tampak seperti anak kucing yang sedang berlatih berburu. Jing Mingzhe balas menatap matanya yang besar, tetapi tidak segera menjawab. Sebaliknya, ia memiringkan kepala dan terus menatap Xia Nanqing.
Ia belum mendapatkan apa yang diinginkannya.
Xia Nanqing memahami maksudnya. Ia menghindari tatapan Jing Mingzhe, lalu bangkit dari sisi meja. Kedua matanya menatap lurus ke depan. Seluruh tubuhnya menegang seperti sedang berbaris tegap, dan ia berjalan meninggalkan hadapan Jing Mingzhe tanpa menoleh sedikit pun.
“Kita bicara di kamar.”
Setelah mengatakan itu, ia pergi.
Jing Mingzhe teringat film-film Eropa dan Amerika yang menampilkan gaun-gaun indah. Dalam dunia yang dipenuhi perempuan muda nan anggun itu, setiap gadis bangsawan menggenggam kipas berenda untuk menutupi bagian bawah wajahnya. Kemudian, setelah mendekat dengan hati-hati, mereka buru-buru menjatuhkan sapu tangan kepada pria tampan yang mereka sukai.
Menunggu sang kesatria muda terpancing.
Ya, Jing Mingzhe terpancing.
Adegan serupa kembali terulang.
Dengan tenggorokan kering, Jing Mingzhe menatap mata Xia Nanqing. Ia jelas tahu apa yang sedang dipikirkan Xia Nanqing, tetapi tetap memasang wajah polos, seolah-olah tidak memahami isi hati Xia Nanqing dan dirinya sendiri juga tidak sedang memikirkan apa pun.
Benar-benar pandai berpura-pura.
Setelah memahami akal bulusnya, Xia Nanqing duduk mengangkangi paha Jing Mingzhe. Jemarinya meluncur dari dada ke atas, hingga mencapai bahu Jing Mingzhe.
Padahal ia belum melakukan apa-apa, tetapi ia sudah mendengar napas Jing Mingzhe yang berat.
Tatapan Xia Nanqing terangkat sedikit, seolah sedang menguji reaksinya.
Kedua tangannya saling bertaut di belakang leher Jing Mingzhe. Tanpa sadar, Jing Mingzhe mendongakkan kepala agar dapat melihat wajah Xia Nanqing dengan jelas.
Wajah Xia Nanqing sangat merah. Ia sendiri dapat merasakan betapa panas wajahnya. Rambut panjangnya jatuh di sisi wajah, seolah-olah menutupi pipinya dengan selimut, membuatnya merasa seperti sedang berada di dalam kukusan.
Seluruh tubuhnya terasa panas dari kepala hingga kaki.
Tanpa sadar, Xia Nanqing mengangkat tangan kanannya. Dengan jari tengah dan jari manis, ia menjepit rambut yang jatuh di sisi wajahnya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga, sekaligus menyingkap separuh lehernya.
Tenggorokan Jing Mingzhe menegang. Tangan kanannya yang menggenggam pinggang ramping Xia Nanqing tanpa sadar mengerat.
“Kau suka saat aku menyelipkan rambut ke belakang telinga, ya...”