Bab 8: Batas Seorang Ibu
Kediaman Adipati.
Sosok kecil dan kurus berjalan melewati area para pelayan, membiarkan tatapan penuh ejekan dan rasa puas melihat penderitaan orang lain tertuju padanya. Semakin dekat dengan gudang kayu di belakang, detak jantung Huo Yuhao semakin tak terkendali, bahkan langkah kakinya pun ikut mempercepat.
Tak lama kemudian, dari balik tembok rendah, tampak seorang wanita tengah duduk di bangku kecil, sibuk mencuci pakaian. Sepertinya ia juga mendengar suara langkah kaki, sehingga refleks menoleh ke arah sumber suara.
Meski tampak sedikit letih, namun kecantikan wajahnya tetap tak bisa disembunyikan. Tatapan matanya memancarkan kelembutan dan keanggunan yang mengakar dalam, tetapi dalam sekejap, kedua matanya itu dipenuhi ketakutan.
“Yuhao!”
Melihat Huo Yuhao yang tubuhnya berlumuran darah dan kotoran, wanita itu menjerit ketakutan, tak lagi peduli pada pakaian yang belum selesai dicuci. Ia berlari tersaruk-saruk ke arahnya.
Melihat wajah yang begitu dikenalnya, tenggorokan Huo Yuhao tercekat. Suara parau keluar dari bibirnya.
“...Ibu.”
“Ada Ibu di sini, Yuhao jangan takut, Ibu ada di sini...”
Huo Yuner mengangkat tangannya, hendak memeriksa keadaan Huo Yuhao, namun begitu melihat darah kering dan noda kotoran itu, ia menahan gerakannya, khawatir kecerobohannya akan menyakiti anaknya.
“Yuhao, jangan takut, bagian mana yang sakit? Biar Ibu lihat...”
Dalam kepanikan, Huo Yuner hanya bisa terus menenangkan Yuhao, matanya mulai berair karena cemas.
“Ibu, aku tidak apa-apa, sungguh. Lihat saja,”
Dengan paksa Huo Yuhao tersenyum, lalu menggulung lengan bajunya, memperlihatkan lengan tanpa luka sedikit pun, kemudian mengangkat kaos bagian bawahnya dan memutar tubuh bak sedang pamer.
Huo Yuner sempat tertegun, lalu buru-buru mendekat, memeriksa tubuh Yuhao berulang kali. Setelah cukup lama, barulah ia tampak lega, kedua bahunya mengendur. Saat Huo Yuhao hendak bicara, Huo Yuner langsung memeluknya erat.
“Syukurlah... syukurlah... Barusan Ibu benar-benar takut setengah mati...”
Mendengar suara isak tangis di telinganya, Huo Yuhao mengusap hidung, matanya melunak, lalu berkata pelan menenangkan.
“Ibu, sudah aku bilang aku baik-baik saja...”
Baru setelah beberapa saat, suasana hati Huo Yuner perlahan tenang. Ia mengusap air mata, suaranya masih sedikit serak, menatap Yuhao dengan serius.
“Yuhao, ceritakan pada Ibu, apa yang terjadi?”
“Aku juga tidak mengerti sepenuhnya...”
Huo Yuhao menggeleng, lalu mulai menceritakan apa yang dialaminya.
“Tadi waktu aku bangkitkan Martial Soul dan terdeteksi punya kekuatan jiwa bawaan, aku ingin cepat pulang memberitahu Ibu. Tapi di jalan, aku bertemu seorang pria aneh berjubah hitam. Begitu melihatku, dia langsung menculikku, membawaku lewat pintu samping dan berlari ke hutan di luar kediaman Adipati.”
Mendengar itu, Huo Yuner tampak tegang. Ia buru-buru bertanya, “Lalu bagaimana?”
Huo Yuhao mengeluarkan sebilah belati putih yang masih berlumuran darah dari balik bajunya, lalu berkata dengan suara pelan.
“Saat itu aku sangat takut, dan ketika dia lengah, aku secara spontan menusukkan belati ini ke arahnya. Darah mengucur deras dari lehernya, cengkeramannya melemah, aku berhasil melepaskan diri. Kelihatannya dia masih ingin menangkapku, tapi akhirnya jatuh tak bergerak. Aku tak berani berlama-lama, jadi segera lari pulang.”
Setelah mendengar penjelasan Yuhao, Huo Yuner sedikit tenang, merasa bersyukur sudah membiarkan anaknya membawa belati putih itu saat kebangkitan Martial Soul. Lalu seolah menyadari sesuatu, ia bertanya lagi.
“Yuhao, orang aneh itu, selain berjubah hitam, adakah ciri lain yang menonjol?”
“Ada.”
Yuhao mengangguk segera, sambil mengingat-ingat, ia melanjutkan. Dalam hati ia merasa lega, karena ia memang berniat menceritakan semuanya, dan kini justru Ibunya yang bertanya lebih dulu.
“Saat orang itu berlari, aku melihat ia mengenakan zirah putih di bawah jubahnya. Ketika aku menebas jubahnya secara acak, aku melihat ada gambar kepala harimau di bagian bahu zirah putih itu...”
Begitu mendengar tentang zirah putih, firasat buruk pun muncul di hati Huo Yuner. Dan ketika Yuhao menyebutkan gambar kepala harimau di bahu, ia serasa tersambar petir, bahkan napasnya sempat terhenti sejenak.
“Pengawal Harimau Putih...”
Semula ia mengira ini ulah istri Adipati, tak disangka justru pengawal pribadi Adipati Harimau Putih yang melakukannya—pengawal yang hanya setia pada Adipati Harimau Putih!
Kini fakta sudah di depan mata, ia tak bisa tidak mempercayainya.
Terakhir kali Pengawal Harimau Putih muncul di kediaman Adipati adalah sebelum Yuhao lahir, dan apa yang dideskripsikan Yuhao persis seperti yang pernah dilihatnya. Kalau bukan menyaksikan sendiri, tak mungkin bisa menggambarkan sedetail itu.
“Ibu, apa itu Pengawal Harimau Putih...”
Huo Yuner menggigit bibir, menatap Yuhao dengan sedih sembari mengelus kepalanya.
“Bukan apa-apa, Ibu salah sebut...”
Bagaimana ia harus mengatakannya? Bahwa itu adalah pengawal ayahmu? Bahwa orang yang baru saja menculik dan nyaris membunuhmu adalah bawahan ayahmu sendiri?
Selama ini ia yakin bahwa Dai Hao telah dibutakan oleh istrinya sehingga tak tahu apa yang terjadi. Karena itulah, meski ditekan dan menderita, ia tetap berharap suatu hari Dai Hao akan menyadari kebenarannya. Ia tidak meninggalkan tempat itu bukan karena tak rela melepaskan kemewahan, melainkan demi kesempatan anaknya mendapatkan hidup yang lebih baik. Ia percaya, selama Dai Hao tahu masih punya seorang putra, setidaknya Yuhao akan hidup berkecukupan, lebih baik daripada harus berjuang sendirian di luar sana.
Namun kini, kenyataan bahwa Pengawal Harimau Putih telah mengincar anaknya menghancurkan harapan terakhirnya. Dai Hao mungkin sejak awal tahu keberadaan Yuhao, tapi membiarkan istri Adipati menindas mereka, bahkan setelah mengetahui bakat Yuhao tak tinggi, justru ingin melenyapkannya.
Mungkin saja ini ulah istri Adipati yang menyamar sebagai pengawal, mencoba memaksanya menyerah. Namun ia tak bisa mempertaruhkan nyawa anaknya. Membuat atau mencuri zirah Pengawal Harimau Putih adalah kejahatan berat, dan istrinya tak akan berani mengambil risiko kemarahan Dai Hao demi melakukan itu.
Jika ini memang kehendak Dai Hao, maka bencana besar menanti Yuhao.
Ia bisa bertahan demi kehidupan anaknya, bahkan rela mati, tapi kini mereka bahkan ingin mengambil nyawa anaknya—ini sudah melewati batas seorang ibu.
Huo Yuner menarik napas dalam, matanya perlahan menjadi tegas. Ia menatap Yuhao, memaksakan senyum di wajahnya.
“Yuhao, kita tinggalkan kediaman Adipati, ya? Tak perlu menunggu ayahmu kembali, kita cari tempat baru, mulai hidup baru.”
“Kemana pun Ibu pergi, aku pun ikut.”
Suara jernih remaja itu terdengar mantap. Ia mengangkat tangan, menggenggam erat telapak Ibunya yang kurus. Wajah mudanya seketika tampak jauh lebih dewasa, ia berkata penuh kesungguhan.
“Mulai sekarang, giliran aku yang melindungi Ibu.”