Jam tangan mewah bernilai jutaan
Rolls-Royce Phantom itu melaju menuju Bandara Kota Qin. Sepanjang perjalanan, mobil mewah itu tak terelakkan menjadi pusat perhatian banyak pasang mata.
Di antara tatapan penuh kekaguman dan iri dari kerumunan, ada pula rasa penasaran yang membuncah. Orang macam apa yang bisa mengendarai mobil seperti ini...
Saat mobil itu berhenti di tempat parkir, banyak orang yang sedang mengantar atau menjemput kerabat di bandara segera mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar.
Saat Shen Yue keluar dari mobil mewah itu dengan setelan rok pendek kelas atas, keramaian pun semakin menjadi. Tak sedikit pula wanita yang menatapnya dengan cemburu—dengan dandanan seperti itu, tubuh menggoda layaknya rubah betina, pasti semacam simpanan atau mungkin benar-benar seorang pelakor yang sedang naik daun.
Orang biasa seumur hidup pun belum tentu mampu membayar cicilan terakhir mobil seperti ini...
Karena itulah, semakin banyak orang penasaran, siapa sebenarnya yang duduk di kursi penumpang depan atau di bangku belakang mobil tersebut.
“Pasti seorang bos besar, mungkin CEO sebuah grup besar...”
Beberapa wanita pun saling berbisik, tak bisa menahan rasa penasaran.
Sementara itu, Shen Yue tampak sangat menikmati sorotan dan pujian yang tertuju padanya.
Dengan lincah, ia segera menuju pintu penumpang depan, saat itu Wang Qi sedang melepas sabuk pengaman dan ia pun segera mendekat.
“Wang Shao, biar aku saja.”
Tanpa menunggu Wang Qi bicara, Shen Yue sudah menempel di tubuhnya, lengannya melingkar di pinggang Wang Qi...
Hmm.
Wang Qi pun tidak menolak, toh meskipun jelas perempuan itu sedang berusaha mengambil hati, dengan tubuh dan wajah secantik itu, pinggang ramping dan kaki jenjang, sebagai lelaki...
Saat Shen Yue membungkuk, lekuk pinggang dan pinggulnya yang sempurna langsung terpampang di depan umum, para pria pun berdecak kagum, sementara para wanita menatap dengan pandangan rumit, tidak sedikit yang menatap sinis.
Melihat cara Shen Yue menempel penuh perhatian, makin jelas saja ia telah mendapatkan “pemasok dana”.
“Huh, pasti anak orang kaya raya. Aku sudah bisa menebak; pakaian custom mahal dari Italia, tinggi sekitar satu delapan puluh, mungkin tak terlalu tampan, tapi auranya pasti bukan orang biasa...”
Sekelompok wanita yang menjemput keluarga, serta belasan penggemar perempuan yang seperti sudah janjian datang bersama, saling berdiskusi penuh harap.
Mereka menantikan kemunculan sang pangeran kaya, bahkan seorang pemimpin fans khusus mengarahkan kamera profesional ke mobil mewah itu.
Di bawah tatapan ratusan pasang mata, Wang Qi keluar dari mobil.
Beberapa orang terbelalak, lalu keramaian kembali pecah.
“Serius? Penampilannya sederhana sekali? Kok lebih mirip pemuda kere ya...”
“Jangan-jangan cuma nebeng mobil? Aku tak lihat sedikit pun aura anak orang kaya dari pria itu...”
Para wanita tampak kecewa, kemunculan Wang Qi benar-benar jauh dari bayangan mereka.
Tapi tak banyak juga yang lantas menatap rendah, toh meski nebeng mobil, setidaknya dekat dengan pemilik mobil mewah itu, pasti ada latar belakang juga.
Para pria cuma menggeleng dan menghela napas.
Pria seperti ini saja bisa didampingi wanita secantik itu, bahkan naik Rolls-Royce Phantom, rasanya hidup mereka sia-sia saja.
“Wang Shao, tunggu sebentar ya, aku masih menunggu sahabatku. Kebetulan hari ini Bu Guru Liu memberiku izin, jadi aku janjian dengan sahabatku, sekalian mau jalan-jalan di duty free bandara...”
Shen Yue sama sekali tak peduli dengan tatapan orang, ia tersenyum manis, lalu memasang ekspresi memohon yang sangat menggemaskan.
Tentu saja ia tahu, kalau Wang Qi tak mau menunggu, atau langsung pergi membawa hadiah dari Su Wen, ia pun tak bisa menahan. Kalau begitu, rencananya akan gagal total.
Jalan-jalan bagi perempuan adalah godaan besar, apalagi di duty free bandara.
Wang Qi sedikit mengernyitkan dahi.
Tadi tak ada informasi dari Shen Yue soal kedatangan sahabatnya...
“Wang Shao, please ya...” rayu Shen Yue manja, sambil menggandeng lengan Wang Qi.
Sekilas, mereka tampak seperti sepasang kekasih.
Para pria yang melihat pun hanya bisa menggerutu dalam hati. Pria ini tampilannya biasa saja, wajah pun tak terlalu tampan, tinggi dan badan juga bukan model, tapi bisa bersama wanita seperti itu, bahkan naik Rolls-Royce Phantom...
“Baiklah,” Wang Qi akhirnya tak enak menolak.
“Makasih, Wang Shao!” Shen Yue tersenyum bahagia, memiringkan kepala dan dengan alami bersandar di bahu Wang Qi.
Selain benar-benar berterima kasih, Shen Yue tentu juga punya niat lain.
Bagaimanapun, Wang Qi adalah orang yang bahkan Bu Guru Liu lindungi. Apalagi waktu itu ia menampar Bos Xie di hadapan banyak orang, yang begitu membekas di ingatannya. Bos Xie adalah pemilik bar Nightlight, asetnya miliaran, tapi Bu Guru Liu membela Wang Qi, menampar tanpa ragu, tanpa berkedip...
Saat itu ponsel Wang Qi berdering, ternyata dari Li Chuan.
Setelah menepis Shen Yue, Shen Yue tampak sedikit kecewa, tapi ia juga ingin memberitahu sahabatnya, jadi ia tak mempermasalahkan.
“Kalau begitu, Wang Shao, aku tunggu di dalam dulu.” Shen Yue segera menelepon sahabatnya, sambil menunjuk ke arah dalam bandara.
Wang Qi hanya mengangguk, sedikit berkerut, lalu menerima panggilan.
Ia merasa aneh, meski punya nomor Li Chuan, ketua klub belajar itu biasanya merasa dirinya di atas angin, kenapa tiba-tiba menelepon?
...
“Halo, Wang Qi? Aku bersama Xiao Cui dan beberapa anggota klub belajar sekarang sedang makan di restoran Michelin. Kalau kau tak sibuk, cepatlah ke sini...”
Nada bicara Li Chuan tegas, seperti tak memberi ruang untuk menawar.
Bagi Wang Qi, sudah biasa saja, baik Li Chuan maupun wakil ketua Xiao Cui memang selalu bersikap seperti itu padanya.
“Kak Chuan, aku sedang ada urusan, mungkin tak bisa datang. Kalian makan saja dulu, kalau aku sempat, aku akan menyusul.”
Wang Qi bicara apa adanya.
Meski sekarang ia punya uang satu juta, ia tetap hidup seperti biasa, tidak suka pamer. Kecuali saat menghadapi pasangan di toko alat musik tempo hari, karena memang mereka terlalu keterlaluan...
“Wang Qi, apa-apaan sikapmu? Aku sampai meneleponmu untuk ikut makan bersama, apa kau sudah tak menghargai aku lagi? Atau kau sudah tak berharap dapat rekomendasi masuk partai? Kalau begitu, lebih baik kau keluar saja dari klub, sebagai ketua aku berhak mengeluarkanmu.”
Nada Li Chuan di seberang sudah seperti mau meledak.
Wang Qi jadi bingung, kenapa sampai begini, cuma makan malam saja, biasanya ia juga boleh ikut atau tidak, tak pernah Li Chuan sampai segitunya.
“Baik, Ketua, aku akan segera ke sana.”
Wang Qi tak mau berdebat lebih jauh, ia pikir-pikir, lebih baik datang saja.
“Nah, begitu dong. Bai Lan juga ada, beberapa temanku juga menunggumu, cepat datang, ada kejutan buatmu! Aku tutup dulu.”
Li Chuan menutup telepon, benar-benar yakin Wang Qi pasti datang.
Kejutan?
Wang Qi jadi bingung.
Jangan-jangan ini soal rekomendasi masuk partai, kalau benar, itu kabar baik juga.
Setelah sekian lama aktif di klub ini, ia tentu punya harapan. Ia tersenyum seperti seorang ayah yang bangga.
...
“Wah, Xiao Yue, serius? Siapa yang bisa sampai segitunya, jam tangan Langge ‘Gentleman’ ini? Itu kan merek kelas dunia!”
Saat itu, di samping Shen Yue sudah ada seorang gadis.
Usianya sekitar dua puluhan, memakai kacamata hitam besar, dagu berbentuk V, bibir penuh dan seksi, alis tebal, mengenakan gaun panjang belahan dada V-neck, dibalut jaket kulit hitam, gaya macam selebgram. Pakaian yang dipakai jelas mahal, minimal belasan juta.
Gaunnya berbelah di satu sisi, menampilkan kaki jenjang putih yang membuat banyak pria melirik.
“Xiao Jun, heboh amat, bukan aku yang kasih kok, ini temannya Bu Guru Liu, katanya atasan juga, aku belum pernah lihat... Mungkin harganya sekitar sepuluh jutaan.”
Gaji yang diterima Shen Yue dari Liu Shaoqing hanya sedikit di atas sepuluh juta, jadi ia menaksir harga jam tangan itu sekitar segitu.
“Selamat siang, Nona. Boleh tahu di mana Tuan Wang sekarang? Jam tangan sudah kami siapkan, hanya pemilik nama yang bisa mengambilnya.” Petugas di konter melayani dengan ramah, bahkan menyaingi pramugari dalam hal penampilan.
“Sebentar lagi, sepertinya,” jawab Shen Yue sambil melirik keluar.
“Oh ya, Nona, jam tangan ini harganya satu miliar dua ratus juta rupiah, dan Nona Su sudah membayar lunas...” Petugas konter tersenyum.
“Apa?!” suara nyaring langsung menarik perhatian banyak orang di aula bandara. Gadis berkacamata hitam itu buru-buru menutup mulut, melepas kacamata, dan menatap Shen Yue dengan penuh rasa terkejut.
Shen Yue hanya menjulurkan lidah, jelas sangat terkejut.
Astaga!
Ia tak pernah tahu berapa banyak uang yang Liu Shaoqing berikan pada Wang Qi, hanya tahu sikap Liu Shaoqing pada Wang Qi sungguh istimewa, dalam hal menyenangkan Wang Qi pun ia masih menahan diri.
Tak pernah terpikir bahwa Nona Su akan mengeluarkan uang sebesar itu. Kini, status Wang Qi jelas jauh lebih tinggi dari dugaannya!
“Xiao Jun, aku ke toilet dulu,”
Mata Shen Yue berkilat, ia buru-buru keluar dari toko Langge, katanya mau ke toilet, padahal hanya untuk merias diri.
Merias, tentu saja supaya bisa tampil lebih cantik di depan Wang Qi, siapa tahu bisa merebut hatinya, kalau berhasil, hidupnya pasti...
Semakin dipikir, makin bahagia rasanya.
Tak lama setelah Shen Yue pergi, Wang Qi masuk ke aula bandara. Ia berkeliling sebentar, lalu masuk ke flagship store Langge.
Tak menemukan Shen Yue, ia ingin menelepon, tapi saat itu petugas konter sedang asyik mengobrol dengan Xiao Jun, tentu saja topiknya soal Tuan Wang.
Ia pun berpikir, mumpung sudah tiba, kenapa tidak sekalian membeli jam tangan untuk Lin Xiuxiu, sekaligus membelikan untuk Ketua Asrama Li Long dan lainnya. Toh ia bisa beralasan dapat undian hadiah, lagian mereka semua orang-orang baik padanya.
“Halo, ada jam tangan yang cocok untuk anak muda? Teman-temanku mahasiswa, tolong rekomendasikan.”
Xiao Jun yang sedang asyik mengobrol merasa terganggu, ia menilai sekilas, penampilan Wang Qi seperti anak kampung, mana mungkin mampu beli. Kesan pertamanya langsung buruk.
“Dik, yakin nggak salah tempat? Ini flagship store Langge asli, bukan barang palsu, satu saja harganya sudah belasan juta, yakin kamu sanggup beli?”
Nada bicara Xiao Jun jelas tidak ramah, meski ucapannya tidak sepenuhnya salah.
Wang Qi hanya mengernyit, tak meladeni gadis itu.
Ia menghitung dengan jari, kalau ditambah Wang Yi, pas lima orang.
“Nona, beli lima, tiga cowok dua cewek, tolong rekomendasikan yang cocok.”
Ia langsung menuju konter, mengabaikan gadis berkacamata itu seolah tak ada.
Gadis itu langsung cemberut...