Bab 43 Check-in di Hotel dengan Pria yang Berbeda-beda
Penampilan Lin Nanyin sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan kesan tradisional.
Hanya saja kata "tradisional" itu diucapkan oleh Lin Nanyin sendiri, yang saat berpacaran bahkan tidak mengizinkan sentuhan fisik dengan alasan harus menunggu sampai menikah.
Wajah Lin Nanyin sempat diliputi rasa terkejut, otaknya seolah tidak bisa berproses dengan benar, dan ia sama sekali tidak ingat pernah mengucapkan perkataan seperti itu.
Secara refleks ia menyangkal, "Aku yang mengatakannya? Aku pasti tidak pernah mengatakan hal seperti itu!"
Fu Jinmo menariknya turun dari pangkuannya, membuat Lin Nanyin terduduk di sisi kursi dan nyaris membenturkan kepalanya.
"Kejadian beberapa tahun lalu, wajar jika kau tidak ingat!"
Fu Jinmo dengan gestur sopan mengulurkan tangan untuk melindungi kepala wanita itu, sementara nada bicaranya terdengar dingin dan datar.
Lin Nanyin secara naluriah meraih lengan pria itu, sengaja menekan-nekan kelembutan dadanya pada lengan tersebut untuk mengggodanya.
"Karena itu urusan beberapa tahun lalu, sebaiknya kau tidak perlu memasukkannya ke dalam hati. Semuanya adalah awal yang baru, bukan begitu?"
Fu Jinmo menarik kembali tangannya, lalu tersenyum dengan tatapan yang sulit ditebak. "Awal yang baru? Lalu apa? Begitu tidak sabar ingin aku tiduri?"
Meskipun terlihat ramah, sikapnya justru memancarkan hawa dingin, dan kata-katanya menyiratkan cemoohan terselubung.
Lin Nanyin merasa panik. "Kau masih marah padaku, kan?"
Ekspresi Fu Jinmo tetap tidak berubah. "Tidak."
Lin Nanyin menatap dengan mata berkaca-kaca. "Aku tahu kau marah padaku, marah karena aku meninggalkanmu selama tiga tahun, tetapi bukankah aku sudah kembali sekarang? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi!"
Suaranya terdengar seperti hendak menangis, meski air matanya tidak benar-benar tulus keluar. Ia bukanlah tipe gadis yang rapuh dan tidak bisa memasang ekspresi kasihan yang menyayat hati.
Aktingnya terlalu mendominasi sehingga terlihat dibuat-buat dan menggelikan.
Fu Jinmo tidak membongkar kepura-puraannya, tetapi ia juga merasa terlalu lelah untuk meladeninya. Ia tetap membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan tidak sudi meliriknya sekilas.
Lin Nanyin kehilangan semangat, bagaikan memukul kapas dengan tinju, dan ia pun berhenti merendahkan diri untuk memohon.
Seorang wanita memang boleh memohon kepada pria, tetapi harus memiliki batasan harga diri agar tidak membuat pria merasa risih sekaligus menjaga martabat diri sendiri.
……
Hari Senin saat masuk kerja, Xiao Qiao mendapati papan pengumuman digital perusahaan dipenuhi rumor tentang Shen Zhirei.
Shen Zhirei tidak terlalu memedulikan rubrik tersebut, tempat di mana orang-orang sengaja menghabiskan waktu luang dengan mengunggah postingan tak berfaedah demi mencari hiburan semata.
Namun, ia sama sekali tidak menyangka namanya akan muncul di rubrik itu dan bahkan meroket menjadi topik nomor satu yang paling banyak dibicarakan.
Xiao Qiao merasa sangat geram. "Kenapa orang-orang ini begitu jahat, setiap hari selalu menyebarkan gosip murahan tentang wanita."
Shen Zhirei tinggal di hotel selama dua hari terakhir, alasan yang belum sempat ia ceritakan kepada Xiao Qiao, namun Xiao Qiao tetap mempercayainya tanpa syarat.
Postingan tersebut menyertakan foto-foto dirinya bersama Gu Yanqing, Yang Hao, dan bahkan Fu Jinmo, saat keluar masuk hotel dengan pria-pria yang berbeda.
Seorang pria dan wanita keluar masuk hotel tentu saja mudah memicu imajinasi liar, dan jika dikaitkan dengan tiga pria berbeda, itu benar-benar menjadi topik yang sangat menggemparkan.
Padahal, selain Fu Jinmo yang mengantarnya masuk ke kamar, Gu Yanqing dan Yang Hao berpisah di lobi depan hotel.
Namun, hanya karena terlihat di pintu masuk hotel, orang-orang langsung menyebarkan fitnah seolah-olah mereka ikut ke dalam kamar dan telah melakukan hubungan intim.
Setelah membaca keseluruhan postingan itu tanpa melihat kolom komentar di bawahnya, Shen Zhirei justru menenangkan Xiao Qiao.
"Mulut ada di badan mereka, biarkan saja mereka bicara. Hal semacam ini mustahil dijelaskan tuntas, jadi jangan marah dan merusak kesehatan tubuhmu sendiri."
Sikapnya begitu tenang dan santai, sementara Xiao Qiao tidak memiliki ketenangan emosi sepertinya. "Kak Shen, kalau ini terjadi padaku, aku pasti sudah mati karena marah dan mendatangi mereka untuk melabrak selama berjam-jam."
Lin Nanyin datang sambil memegang cangkir kopi, menyeruputnya pelan lalu berkata sambil tersenyum, "Tidak ada asap jika tidak ada api. Asisten Shen juga harus merenungkan masalahnya sendiri. Kalau kau tidak punya masalah, kenapa setiap kali ada gosip yang dibicarakan orang, selalu tentang dirimu!"
Ia juga telah melihat postingan tersebut dan mengenali siapa saja orang yang ada di dalam foto.
Begitu teringat bahwa wanita yang bersama Fu Jinmo malam sebelum kemarin adalah Shen Zhirei, ia merasa ingin melenyapkan Shen Zhirei detik itu juga.
Shen Zhirei menoleh ke arahnya, tersenyum dengan tenang dan santai. "Mungkin tahun ini keberuntunganku sedang buruk, menyinggung orang licik, jadi aku terus-menerus dijebak!"
Lin Nanyin berbalas tatapan dengannya dari kejauhan, seolah ada percikan api di udara, namun raut wajahnya tetap tenang dengan senyuman penuh racun tersembunyi. "Seseorang menargetkanmu, mungkin karena kau telah berbuat jahat!"
Xiao Qiao tidak memahami ketegangan di antara mereka berdua. "Keburukan apa yang bisa dilakukan Kak Shen? Menurutku dia hanya cantik dan kapabel sehingga membuat orang lain iri."
Lin Nanyin menanggapinya dengan nada meremehkan. "Banyak orang yang cantik dan kapabel di luar sana, kenapa mereka tidak menargetkan orang lain melainkan dirinya? Itu membuktikan bahwa memang ada masalah dengan kepribadiannya."
Xiao Qiao yang berjiwa polos dan lugu hanya tersenyum lebar. "Nona Lin, kau baru saja datang ke sini, mungkin belum begitu mengenal Kak Shen. Orang seperti Kak Shen ini aslinya sangat baik."
Lin Nanyin tersenyum. "Orang baik atau orang jahat tidak akan menempelkan label di dahi mereka. Kau ini, jangan terlalu polos!"
Kata-kata itu tampak diucapkan untuk Xiao Qiao, tetapi sebenarnya ditujukan langsung kepada Shen Zhirei.
Shen Zhirei pura-pura tidak mendengar dan dengan tenang melanjutkan pekerjaannya, membawa berkas-berkas yang perlu diserahkan ke ruang kerja Fu Jinmo.
Di dalam ruangan, Fu Jinmo sedang membaca laporan keuangan kuartal terbaru, meliriknya sekilas sebelum kembali menatap layar komputer.
Shen Zhirei meletakkan dokumen itu tanpa langsung beranjak pergi. "Direktur Fu, ada satu hal yang ingin saya sampaikan."
Fu Jinmo menyandarkan punggungnya, menatap wanita itu dengan sikap profesional yang serius dan kaku. "Ada apa?"
Shen Zhirei langsung mengutarakan maksudnya tanpa basa-basi. "Ada postingan di papan pengumuman situs web perusahaan yang memfitnah saya menginap di hotel dengan pria-pria berbeda, dan salah satu pria itu adalah Anda."
Fu Jinmo terdiam, "..."
Shen Zhirei melanjutkan, "Sekarang mungkin belum ada yang mengenali Anda, atau mereka tidak berani berpikir ke arah sana. Tapi saya rasa, dengan tingkat keakraban Nona Lin dengan Anda, dia pasti mengenali Anda."
Fu Jinmo berkata dengan nada penuh ketertarikan, "Lalu?"
Shen Zhirei merasa sedikit kesal karena dicecar, lalu berkata dengan wajah datar, "Dia mungkin tidak akan berbuat macam-macam pada Anda, tapi dia pasti akan melampiaskan balas dendamnya kepada saya."
Fu Jinmo menampilkan ekspresi seolah sangat sabar. "Itu memang kenyataan. Apa yang ingin kau kulakukan?"
Shen Zhirei mengerutkan kening. "Sikap acuh tak acuhmu ini, apakah benar-benar tidak takut Nona Lin salah paham?"
Lagi pula, Lin Nanyin hanya akan melampiaskan amarah padanya, apa lagi yang bisa wanita itu perbuat pada Fu Jinmo? Membatalkan pertunangan?
Fu Jinmo menarik sudut bibirnya. "Bukankah kau sendiri bilang dia sudah tahu sejak awal? Kalau dia sudah tahu, tidak ada yang perlu diherankan lagi saat melihat hal-hal ini sekarang."
Shen Zhirei hampir dibuat kehabisan akal oleh pria itu, lalu menarik napas panjang. "Jika dia berani berulah, saya juga tidak akan tinggal diam."
Ia bukanlah boneka empuk yang bisa diremas semaunya dan terus-menerus menelan ludah kesal. Padahal kesalahan terbesar terletak pada Fu Jinmo, kenapa harus dirinya yang selalu dijadikan sasaran.
Fu Jinmo tidak langsung menjawab, melainkan melontarkan pertanyaan, "Kenapa kemarin tidak mengangkat teleponku?"
Shen Zhirei mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan dingin dan acuh tak acuh. "Tidak mengangkat telepon artinya saya sedang tidak ingin meladeni Anda! Apakah hal seperti itu masih perlu ditanyakan?"
Fu Jinmo terdiam, "..."
Saat mengatakannya, Shen Zhirei sebenarnya sempat khawatir pria itu akan murka, tetapi di luar dugaan, reaksi Fu Jinmo justru jauh lebih tenang dari perkiraannya.
Ia menggigit bibirnya tipis-tipis. "Direktur Fu, tolong tanda tangani dokumen ini, nanti saya akan segera menyerahkannya ke bagian keuangan."
Fu Jinmo mendengus sinis. "Bagus sekali."
Shen Zhirei terdiam, "..."
Sikap tenang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan yang meledak-ledak, terutama saat pria itu mengucapkan dua kata "bagus sekali".
Ia mengabaikan pria itu karena kesal setelah pria tersebut selesai mengurus urusan pribadinya lalu langsung pergi menemui Lin Nanyin.
Wanita mana yang bisa menerima diperlakukan seperti barang habis pakai yang langsung dibuang begitu selesai dimanfaatkan, rasanya mirip seperti penggunaan alat kontrasepsi sekali pakai.
Fu Jinmo menandatangani berkas tersebut, dan ketika Shen Zhirei mengulurkan tangan untuk mengambilnya, pria itu justru menindih dokumen tersebut dengan telapak tangannya sambil menatap tajam ke arahnya.
"Kau tidak mau repot-repot mencari apartemen, jadi aku yang mencarikannya untukmu. Pulang kerja nanti, segera urus checkout dari hotel dan pindah ke sana."
Shen Zhirei menolak secara mentah-mentah. "Saya tidak mau."
Kemarin ia sebenarnya sempat melihat-lihat beberapa unit apartemen, hanya saja belum ada yang sesuai dengan seleranya dan berencana mencarinya lagi di lain waktu.
Fu Jinmo sama sekali tidak terkejut, lalu berkata dengan suara rendah, "Mau terus tinggal di hotel dan tidak takut terusik gunjingan orang?"
Shen Zhirei menjawab dengan tenang, "Direktur Fu, seseorang sedang mengawasi saya, mengambil foto secara diam-diam, bahkan berhasil memotret Anda dan menyandingkan foto kita di situs web perusahaan. Masalah ini bukan lagi sekadar menyasar saya, jejak langkah Anda pun sudah tidak aman lagi."
Fu Jinmo menarik tangannya, lalu mengangkat alis dan tersenyum tipis. "Ingin aku turun tangan membantumu, tapi masih harus mencari alasan yang terdengar begitu mulia. Shen Zhirei, kau benar-benar cerdik."