Jilid Pertama Bab 3: Keluar, Bahan Didapat dari Menebang
Setelah membaca keterangan mengenai pondok jerami tersebut, Lin Jiang terdiam seribu bahasa.
Tanpa banyak memedulikan hal itu, ia membuka pintu pondok dan melangkah keluar perlahan. Ia tidak berani melangkah terlalu jauh; saat berjarak satu atau dua meter dari ambang pintu, Lin Jiang segera menghentikan langkahnya. Ia takut jika melangkah lebih jauh lagi, ia tidak akan bisa menemukan jalan kembali.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan yang tampak hanyalah kegelapan pekat. Hanya dalam radius tiga meter di sekitarnya penglihatan masih cukup jelas. Selebihnya, tertutup oleh kegelapan dan kabut yang tampak buram, menyerupai kualitas video 360p yang penuh dengan piksel. Efek visualnya benar-benar samar, perpaduan antara kegelapan dan kabut.
Sambil menenteng lampu pengusir kabut, Lin Jiang tidak berani asal melangkah. Ia hanya berkeliling di sekitar pondok jerami. Ia merasa cukup terkejut dan senang. Rupanya, keberuntungannya kali ini benar-benar bagus. Tepat di belakang pondok jerami terdapat sebuah hutan! Jaraknya sangat dekat, bahkan bisa dijangkau dengan tangan!
[Pohon]
[Kualitas: Biasa]
[Keterangan: Perlu ditebang dengan kapak. Setelah tumbang, hanya akan menjatuhkan satu unit kayu biasa atau bibit pohon.]
Lalu, ada pula beberapa rumput liar yang tumbuh di tanah.
[Rumput Liar]
[Kualitas: Biasa]
[Keterangan: Bisa dipetik dengan tangan kosong. Ada peluang menjatuhkan jerami atau serat.]
Selain itu, tidak ada sumber daya lain yang terlihat dalam radius tiga meter. Hanya ada dua pilihan: pohon atau rumput liar. Lin Jiang tanpa ragu memilih yang pertama. Bercanda, ia memegang kapak yang luar biasa hebat, mana mungkin ia menyia-nyiakannya hanya untuk memetik rumput liar dengan tangan kosong? Itu namanya benar-benar bodoh.
Adapun jerami yang diperlukan untuk memperbaiki pondok, ia bisa menukarnya dengan kayu nanti. Rumput liar ada di mana-mana dan siapa pun bisa memetiknya. Namun, kayu berbeda; mendapatkan kayu jauh lebih sulit.
Buk!
Lin Jiang menenteng lampu pengusir kabut di tangan kiri dan memegang kapak luar biasa di tangan kanan, lalu menebas pohon itu.
[Anda mendapatkan Kayu x1]
"Ini nyata?!"
"Lagipula pohonnya belum menghilang! Yang paling penting, tidak terlalu melelahkan. Rasanya dengan kapak ini, menebang pohon jadi sangat mudah..."
Hati Lin Jiang membuncah gembira. Ayunan kapak pun berlanjut!
Buk! Buk! Buk!
[Anda mendapatkan Kayu x1]
[Anda mendapatkan Kayu x1]
[Anda mendapatkan...]
[...]
[Anda mendapatkan Bibit Pohon x1]
Setelah sembilan tebasan lagi, pohon besar di hadapannya mengeluarkan bunyi "krak" dan tumbang tepat di tengah, lalu jatuh ke tanah. Segera setelah itu, seluruh pohon menghilang dari pandangan mata.
Lin Jiang membuka tasnya dan melihat tumpukan kayu sebanyak sembilan unit serta satu bibit pohon. Perasaannya begitu puas.
"Hasil tebanganku benar-benar sepuluh kali lipat dari orang lain!"
Ia pernah membaca di saluran obrolan bahwa orang lain hanya mendapatkan satu unit kayu setelah menebang satu pohon sampai roboh. Sementara dirinya, setiap kali menebas, ia mendapatkan satu unit, dan yang terpenting, tidak terasa melelahkan. Perlu diketahui, menebang pohon bukanlah pekerjaan ringan; setidaknya dibutuhkan belasan menit untuk merobohkan satu batang pohon. Saat ini, kapak yang dimiliki orang lain hanyalah kapak batu biasa yang tidak tajam, membuat tangan lecet, dan setiap ayunan akan menimbulkan getaran balik yang menyakitkan. Sungguh perjuangan yang berat!
Bisa merobohkan pohon dalam waktu belasan menit dengan kapak batu berarti orang tersebut memiliki teknik menebang pohon yang profesional. Lin Jiang menatap kapak di tangannya, semakin lama semakin ia menyukainya, lalu menciumnya dengan gemas.
"Cup!"
"Tidak salah lagi, ini memang produk hasil sistem, benar-benar hebat!"
"Mungkin menukarnya dengan delapan poin keberuntungan memang tidak merugi..."
Selanjutnya, ia menoleh ke arah pondok jerami. Melihat pondok itu belum menghilang, ia merasa sedikit lega. Ini adalah tempat perlindungan yang menjadi sandaran jiwanya. Meskipun agak reyot, jika sampai hilang... Lin Jiang merasa kewarasannya akan terenggut!
Ia tidak berani meninggalkan area sekitar pondok jerami. Pandangannya beralih ke pohon lain di dekatnya, dan ia pun kembali menebas. Ia harus terus menebang pohon. Ia ingat, waktu perlindungan hanya tersisa tiga hari. Jika dalam tiga hari ini ia tidak segera mengumpulkan bahan dan sumber daya untuk berkembang, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah tiga hari berlalu.
Di dalam kabut kegelapan, pasti ada sesuatu yang tak diketahui. Karena, saat ia sempat mematikan lampu pengusir kabut sejenak, ia merasa kulit kepalanya seolah ingin meledak dan hawa dingin menjalar ke sekujur tubuhnya!
"Ini pasti bukan perasaan semata. Aku harus segera memperbaiki dan meningkatkan tempat perlindungan ini, begitu pula dengan lampu pengusir kabut di tanganku..."
Lin Jiang samar-samar mengerti bahwa lampu pengusir kabut adalah peralatan penting untuk bertahan hidup. Namun, ia benar-benar tidak punya petunjuk bagaimana cara meningkatkan kualitasnya.
"Sudahlah, yang penting menebang pohon dulu..."
Buk! Buk! Buk...
[Anda mendapatkan Kayu x1]
[Anda mendapatkan Kayu x1]
[Anda mendapatkan...]
[Anda mendapatkan Bibit Pohon x1]
...
Dengan suara "krak", pohon kedua tumbang ke tanah dan menghilang. Tas Lin Jiang kini bertambah lagi dengan sembilan unit kayu dan satu bibit pohon. Melihat total kayu sebanyak delapan belas unit dan dua bibit pohon di tasnya membuat Lin Jiang penuh semangat. Benda yang sama bisa ditumpuk di dalam tas. Hanya saja, Lin Jiang belum tahu berapa batas maksimal tumpukan tersebut. Bagaimanapun, ia akan terus menebang pohon dan akan segera mengetahuinya nanti.
Buk!
[Anda mendapatkan Kayu x1]
Buk!
[Anda mendapatkan Kayu x1]
Buk!
[Anda mendapatkan...]
Buk, buk, buk!
[Anda mendapatkan Bibit Pohon x1]
Suara tebasan pohon terdengar bersahut-sahutan. Notifikasi pun terus bermunculan tanpa henti.
Setelah beberapa saat, Lin Jiang merasa ketakutan di hatinya sedikit berkurang dan ia mulai terbiasa dengan suasana gelap di sekitarnya. Namun, bayangan hitam yang tampak seperti tentakel yang bergoyang tetap membuatnya merasa ngeri. Meski begitu, menebang pohon tetap ia lanjutkan. Mumpung waktu perlindungan masih ada, ia harus mengumpulkan sumber daya sebanyak mungkin. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti.
Begitulah. Lin Jiang menenteng lampu pengusir kabut di tangan kiri dan mengayunkan kapak luar biasa di tangan kanan. Ia menebang pohon satu demi satu. Begitu satu pohon tumbang, ia beralih ke pohon berikutnya. Tentu saja, ia tak lupa sesekali menoleh untuk memastikan dirinya belum keluar dari jangkauan area pondok jerami.
Setelah menebang belasan pohon, pohon yang ada di hadapannya kali ini tampak sedikit berbeda. Namun, Lin Jiang tidak terlalu memedulikan detailnya dan langsung mengayunkan kapak...
Buk!
Kapak mendarat, dan suara notifikasi pun terdengar.
[Anda mendapatkan Apel x1]
Apa ini? Apel? Bukan kayu?
Mendengar notifikasi tersebut, gerakan tangan Lin Jiang terhenti. Ia segera membuka tas untuk memeriksanya. Isi tasnya tidak banyak, sangat jelas terlihat.
Kayu x99
Kayu x27
Bibit Pohon x13
Apel x1
Empat slot sudah terisi dari total sepuluh slot yang tersedia. Sekarang Lin Jiang tahu bahwa batas maksimal tumpukan dalam satu slot adalah 99 unit.
"Kali ini yang jatuh bukan kayu, melainkan apel?"
"Coba klik untuk melihat keterangan apelnya..."
Jari Lin Jiang menekan slot apel, dan tak lama kemudian muncul beberapa informasi.
[Apel]
[Kualitas: Biasa]
[Keterangan: Salah satu buah yang tumbuh di Dunia Malam Abadi. Memakan satu buah bisa setara dengan satu kali makan orang dewasa normal. Ini adalah makanan yang sangat baik, bisa melepas dahaga dan mengenyangkan perut.]
"Barang bagus! Makan satu buah ini sudah setara satu kali makan? Melepas dahaga dan mengenyangkan, benar-benar barang bagus!"
Hal ini membuat Lin Jiang cukup bersemangat. Munculnya apel berarti sumber makanan sudah ada titik terangnya! Setelah melalui pergulatan batin, ia tetap tidak tega memakan satu-satunya apel tersebut. Walaupun setelah menebang belasan pohon ia merasa sedikit lapar dan haus, memakan apel yang setara dengan satu porsi makan saat ini tentu saja sebuah pemborosan.
"Hmm, nanti saja kalau sudah benar-benar merasa lapar, baru aku makan apel ini..."
Lin Jiang mengangguk, menelan ludah, dan dengan sigap menutup tasnya. Ia takut jika melihatnya lebih lama, ia akan tergoda untuk memakannya.
Selanjutnya, ia menatap pohon besar di hadapannya. Beberapa detik kemudian, sebuah informasi muncul.
[Pohon Apel]
[Kualitas: Biasa]
[Keterangan: Setelah ditebang akan menjatuhkan Kayu x1 atau Apel x1, ada juga kemungkinan menjatuhkan Bibit Pohon Apel x1.]
"Oh, ternyata pohon apel, pantas saja tiba-tiba muncul apel."
Hati Lin Jiang girang, ia pun kembali mengayunkan kapak dan mulai menebang lagi.
[Anda mendapatkan Kayu x1]
[Anda mendapatkan Apel x1]
[Anda mendapatkan...]