Bab Dua Puluh Enam: Permohonan Tolong
"Yan Xi, tidak bisakah kita tidak putus?"
Huo Xiao memohon.
Yan Xi meliriknya sekilas, lalu masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia keluar setelah membasuh wajah dan mendapati Huo Xiao masih berdiri di tempat yang sama, bahkan posisinya hampir tidak berubah.
Ia terlihat cukup menyedihkan, membuat hati Yan Xi sedikit melunak.
Yan Xi selalu menjalani setiap hubungan dengan serius. Namun, setelah periode manis di awal hubungan berlalu, kekurangan para pria itu perlahan-lahan mulai terungkap.
Ada yang berharap ia mundur dari dunia hiburan, pulang ke rumah untuk menikah, mengurus mertua, dan melahirkan anak. Ada pula yang ingin ia memperkenalkan mereka kepada keluarganya demi mencari keuntungan pribadi.
Ada saja perilaku aneh dan menjijikkan, bahkan ada yang memiliki obsesi kontrol yang ekstrem hingga ingin melakukan penyekapan.
Saat ini, Huo Xiao pun terjangkit kebiasaan buruk serupa. Bahkan ketika hubungan mereka masih dalam tahap ambigu, Huo Xiao sudah menghubungi keluarganya, termasuk sang kakek dan kakaknya.
Yan Xi sudah merasa risih sejak awal, hanya saja saat itu perasaannya sedang berkembang, sehingga detail-detail tersebut secara alami terabaikan.
Kini, hubungan mereka memburuk karena rencana Huo Xiao untuk pergi ke luar negeri. Setelah sebulan bertengkar di media sosial, yang tersisa di hati Yan Xi hanyalah rasa muak.
Selama masa ini, Huo Xiao bahkan menghubungi ibu Yan Xi dan Yan Ting untuk menjadi perantara. Yan Xi sampai tidak habis pikir, apakah Huo Xiao sedang menjalin kasih dengannya atau dengan keluarganya.
Jika ada masalah, Huo Xiao selalu bicara soal saling pengertian dan komunikasi, namun diam-diam ia justru menemui keluarga Yan Xi.
Yan Xi memahami bahwa Huo Xiao merasa tidak aman karena akan pergi ke luar negeri selama setahun, tetapi ia tidak seharusnya memanfaatkan keluarga Yan Xi untuk mengekangnya demi mencapai tujuannya sendiri.
Yan Xi adalah manusia yang hidup, bukan boneka.
"Apa yang perlu dikatakan sudah kukatakan. Jika kau ingin tinggal di sini semalaman, silakan. Jika tidak, kembalilah ke kamarmu."
Yan Xi mengambil beberapa barang bawaannya dan bersiap kembali ke penginapan.
Tempat ini berada di dekat pegunungan. Meski sedang dikembangkan sebagai destinasi wisata, ketersediaan tempat menginap sangat terbatas, terutama sejak kru film datang.
Huo Xiao ternyata belum memesan kamar. Ia melangkah hendak mengikuti Yan Xi, namun sudut matanya menangkap cangkir kelinci berwarna merah muda yang ia berikan untuk Yan Xi di atas meja rias.
Ia langsung mengambilnya. "Kalau sudah tidak mau denganku, cangkir pemberianku pun tidak kau inginkan lagi? Padahal dulu kau terlihat sangat menyukainya."
Yan Xi menoleh dan merebutnya kembali. "Aku hanya lupa. Cangkir ini cukup berguna," ucapnya sambil membuka tutupnya dan meminum isinya beberapa teguk.
Keduanya terdiam dan kembali ke kamar penginapan dalam keheningan.
"Aku akan mandi." Yan Xi malas melihat wajah murung Huo Xiao. Pria ini mungkin tidak mengerti mengapa ia ingin putus.
Huo Xiao ingin mengatakan sesuatu, namun tidak tahu bagaimana harus memulainya. Setiap kali mereka berdebat, Yan Xi selalu bersikap sangat tenang, yang membuatnya merasa seolah-olah dirinyalah yang sedang membuat keributan tanpa alasan. Di saat seperti itu, ia merasa mereka berasal dari dunia yang berbeda, padahal selisih usia mereka hanya lima tahun.
Suara gemericik air terdengar dari